
Kendaraan-kendaraan bermotor melaju dengan arah dan tujuan masing-masing. Membelah keramaian kota dan hiruk pikuk manusia dengan segala kesibukannya.
Sebuah mobil sedan putih pun mulai keluar dari kebisingan suasana malam akhir pekan. Memasuki sebuah kompleks perumahan dengan deretan rumah-rumah mewah. Hingga mobil itu menepi dan masuk ke sebuah gerbang rumah yang memiliki halaman luas. Halaman yang dipenuhi berbagai tanaman hias yang tertata sangat rapi. Dengan sebuah gazebo di sudut halaman beserta sebuah ayunan bercat merah di sebelahnya.
Mobil pun berhenti tepat di depan pintu rumah. Rumah dengan dua pilar besar di depannya. Menambah kesan megah pada rumah itu. Pak Harto lantas turun dan membukakan pintu mobil untuk Nurul. Nurul dan Al masih terlihat takjub dengan apa yang mereka lihat. Setelah mereka turun, Pak Harto lantas memencet bel rumah.
"Kok sepi Pak?" Tanya Nurul penasaran. Pak Harto hanya tersenyum.
Tak lama pintu rumah pun terbuka.
"Aaakhirnya kamu sampai di sini *N*duk. Alhamdulillah. Udah yuk, masuk!" Ucap Bu Indira.
Nurul dan Al tak lupa menyalami dan mencium tangan kanan Bu Indira. Lantas Bu Indira menggandeng tangan kiri Nurul dan menuntunnya masuk ke dalam rumah. Nurul pun merangkul pundak Al dengan tangan kanannya ( biar nggak ilang 😁).
"Kompak banget Nduk!" Puji Bu Indira yang dibalas senyuman oleh Nurul dan Al.
"Ayo duduk dulu! Al juga duduk sini deket Oma!" Ucap Bu Indira setelah mereka sampai di sebuah ruang tamu yang besar. Dan mereka duduk bertiga di sebuah kursi panjang dengan Bu Indira berada ditengah.
"Halo assalamu'alaikum Mbak. Kenalin, aku Fatimah. Adeknya Mas Rahman yang paling cantik." Ucap Fatimah tiba setelah berlarian kecil menuju ruang tamu dan langsung mengulurkan tangannya.
Nurul pun lantas berdiri dan menyambut uluran tangan Fatimah.
"Wa'alaikumussalam, saya Nurul."
"Mbak Nurul, kenapa maskernya nggak dilepas? Dan ituuu?" Fatimah menoleh ke arah Al.
"Eh! Maaf, maaf Mbak. Terbiasa seperti ini kalau ke luar rumah. Itu anak saya, namanya Fatih."
Nurul pun perlahan melepas masker yang ia kenakan. Hingga nampaklah wajahnya keseluruhan. Dengan polesan make up tipis natural di wajahnya, menambah kesan lebih manis di wajah sang janda yang berhidung mancung itu.
"Haadduuhh Mbak, aku kelihatan tua banget ya Mbak. Kok panggilnya 'mbak' ke Fatimah? Padahal umur Fatimah lebih muda dari Mbak Nurul." jawab Fatimah agak cemberut.
"Mbak Nurul manis banget sih wajahnya. Pas banget, nggak lebay semuanya. Mbak hidungnya tukeran boleh nggak mbak? Hidung aku kan mancungnya ke dalam, nggak kayak punya mbak Nurul, mancung ke depan." Ucap Fatimah setelah melihat wajah Nurul dengan seksama.
Nurul pun bingung menanggapi ucapan Fatimah. Lantas mereka tertawa kecil.
Dari belakang Fatimah, ada dua anak kecil sedang bermain kejar-kejaran. Bruk. Dua anak kecil itu bersamaan menubruk Fatimah dan memeluknya.
"Ini bocil-bocilku Mbak. Riko dan Rindi. Ayo salim sama Budhe Nurul dulu!" Perintah Fatimah pada kedua putra-putrinya. Riko dan Rindi pun menyalami dan mencium punggung tangan Nurul. Nurul pun tersenyum.
"Saya Ali Mbak, suaminya Fatimah." Suara seorang laki-laki dari belakang Fatimah.
__ADS_1
Nurul pun sedikit mendongak untuk melihatnya. Tangan Ali sudah terulur untuk menyalami Nurul, Nurul menyambutnya dengan mengatupkan kedua tangannya di depan dada dan memperkenalkan dirinya.
"Yang itu udah kenal kan Mbak? Mas Rahman. Mas ku yang paling ganteng, hhihihi" Ucap Fatimah pada seorang pria yang sudah duduk di kursi tepat di depan Bu Indira. Seorang pria yang beberapa hari terkahir berhasil mengalihkan perhatian Nurul. Nurul pun menoleh ke arah tangan Fatimah menunjuk.
"Subhanallah, sungguh indah ciptaan-Mu." Nurul terpaku sejenak melihat Rahman.
Dengan kaos putih dipadukan dengan blazer lengan panjang berwarna navy yang digulung hampir sebatas siku dan celana panjang berwarna hitam,membuat Rahman terlihat lebih mempesona.
"Astaghfirullah." Nurul segera menguasai dirinya.
"Bunda, Al boleh main sama Dek Riko sama Dek Rindi?" Suara Al tiba-tiba menggema ditelinga Nurul. Yang ternyata, Al sudah ditarik-tarik oleh si centil Rindi.
Belum sempat Nurul menjawab, Bu Indira sudah menjawab terlebih dahulu.
"Kita makan dulu ya! Oke. Setelah itu, kalian boleh main bareng!"
"Nggak usah repot-repot Bu'." Tolak Nurul.
"Nggak ada penolakan pokoknya! Kita makan malam dulu, baru ngobrol santai setelah itu!" Nurul hanya bisa pasrah menuruti perkataan Bu Indira.
Mereka semua lantas berpindah ke ruang makan. Ada sebuah meja persegi panjang dengan banyak hidangan telah tertata rapi di atasnya. Lengan Nurul tiba-tiba ditarik oleh Fatimah.
"Mbak Nurul duduk sini yaaa!" Pundak Nurul dipegang Fatimah dan dipaksa duduk di sebuah kursi tepat disamping kanan Rahman yang telah duduk terlebih dulu.
Fatimah memang perempuan yang ceria. Di usianya yang menginjak 29 tahun, terkadang sifatnya masih kekanak-kanakkan. Terlebih jika dengan sang kakak, Rahman. Dia akan sangat manja.
Tapi Rahman tak pernah keberatan akan hal itu. Ketika dia mendengar kabar dari ibunya bahwa Rahman mau menuruti ibunya untuk menikah lagi, Fatimah senang bukan kepalang. Dia sangat ingin tahu, siapa wanita yang bisa meluluhkan hati sang kakak hingga mau untuk kembali berumah tangga.
Hingga akhirnya dia bertemu dengan Nurul malam ini. Tapi entah kenapa, Rahman masih tetap diam tak bereaksi apapun ketika bertemu dengan Nurul tadi.
"*H*ati manusia, hanya Allah yang tahu." Gumam Fatimah melihat sikap Rahman.
Semua makan dengan tenang, tak banyak yang berbicara. Hanya sesekali ketika tuan rumah menawarkan beberapa makanan kepada dua tamunya yang nampak gugup salah satunya.
Setelah selesai makan, semua kembali ke ruang tamu. Tapi tidak bagi ketiga bocil, mereka langsung pergi ke taman belakang rumah dengan kolam renang di sampingnya.
Di ruang tamu Nurul mencoba bertanya.
"Maaf Bu', sebenarnya ada apa ya saya diundang kesini? Dan juga, kenapa tidak ada tamu yang lain?"
Bu Indira tersenyum melihat Nurul.
__ADS_1
"Sebentar ya! Man, mana berkas yang kemarin ibu minta kamu siapin?" Ucap Bu Indira yang langsung menoleh pada Rahman.
"Di meja kerja Rahman Bu'. Sebentar Rahman ambil!"
"Nggak usah Mas, biar Ali yang ambilin! Mas Rahman di sini saja!" Potong Ali.
Ali pun segera beranjak dari duduknya dan berjalan ke ruang kerja Rahman yang berada tak jauh dari ruang tamu. Tak lama dia pun kembali dengan sebuah amplop coklat ditangannya. Ia lantas menyerahkan amplop itu pada ibu mertuanya.
"Ini *N*duk, bukalah! Bacalah pelan-pelan!" Nurul menerima amplop itu dan membukanya. Ada beberapa lembar kertas didalamnya.
"Ini kan biodataku dan iniii,, Mas Rahman,,??" Nurul perlahan membaca semua tulisan dalam kertas di dalam amplop itu.
"*I*ni benar-benar lengkap data-dataku." Nurul menutup mulutnya karena terkejut. Setelah selesai membaca, ia menatap Bu Indira.
"Ini maksudnya gimana ya Bu',??"
"Maaf ya *N*duk sebelumnya! Maaf Ibu' lancang mencari informasi pribadimu. Sebenarnya Ibu' pengen tahu langsung darimu, tapi kamu begitu tertutup dengan orang lain. Jadi Ibu' minta Rahman buat cari semua informasi pribadimu lewat orang lain." Jawab Bu Indira sambil menggenggam tangan kanan Nurul, sedang tangan kiri Nurul masih memegang kertas-kertas berisi biodatanya dan Rahman.
Nurul hanya tersenyum tulus, " Tidak apa-apa Bu'. Tapi ini maksudnya gimana ya? Kenapa ada biodata Mas Rahman juga?"
"Kamu mau nggak *N*duk jadi anakku?"
Nurul semakin tidak mengerti dengan maksud perkataan bu Indira.
"Tapi Bu Dira, ibu kandung saya masih sehat. Dan bahkan saya sendiri sudah punya seorang putra. Saya juga masih sanggup untuk menghidupi diri saya sendiri dan putra saya."
"Hhihihi, bukan itu Mbak maksudnya Ibu'. Mbak Nurul pinter ngelawak ya ternyata. Maksud Ibu' itu, jadi anak menantunya Ibu'." Jawab Fatimah sambil menahan tawanya.
Nurul pun langsung menoleh pada Fatimah dengan tatapan masih bingung. Ia lalu mengalihkan pandangannya pada dua orang laki-laki yang duduk bersebrangan dengannya.
"Eh, bukan Mas Ali mb. Yang itu sudah sold out, cuma milik Fatimah seorang." Kata Fatimah menyela ketika ia melihat Nurul menoleh ke arah Ali.
"Mbak Nurul yang itu, Mas Rahman." Ucap Fatimah sambil sedikit memutar tubuh Nurul menghadap ke arah di mana Rahman duduk.
Deg. "Allahu Akbar!".
Seketika itu kertas yang Nurul pegang lepas begitu saja dari tangannya. Menghambur ke lantai dan sedikit berserakan. Nurul membeku seketika. Serasa ada sambaran petir tepat mengenainya. Badannya terasa sangat dingin.
Nurul menatap Rahman sebentar. Tapi Rahman tetap diam seperti tak terjadi apapun. Nurul mencoba menguasai dirinya kembali. Mengatur detak jantungnya yang sempat berdetak sangat cepat.
"Saya???" Ucap Nurul yang sudah mulai tenang.
__ADS_1
"Kenapa saya Bu'? Di luar sana, banyak wanita yang jauh, jauuh lebih baik daripada saya, yang lebih pantas menjadi istri Mas Rahman." Ucap Nurul mencoba menolak dan menerima kenyataan sambil menggenggam tangan Bu Indira.
"Maaf Bu', saya tidak bisa." Ucap Nurul tiba-tiba.