Istri Pilihan Sang Duda

Istri Pilihan Sang Duda
Lancang


__ADS_3

Dalamnya laut dapat diukur,,dalamnya hati siapa yang tahu. Dalamnya perasaan Akbar terhadap Nurul ternyata juga tidak bisa menjadi jaminan untuk bisa memiliki Nurul seutuhnya. Akbar harus ikhlas melepaskan pujaan hatinya bersanding dengan laki-laki lain. Meski berat menerima kenyataan,tapi ia harus berusaha.


Setelah cukup lama Isti menenangkan Akbar,akhirnya Akbar setuju untuk pulang. Ia mengantar Akbar kembali ke mobil lebih dulu. Ia lalu kembali memanggil Nurul untuk menemuinya di kantor.


" Ada yang bisa saya bantu bu',,?? Mas Akbar,,," tanya Nurul perlahan.


" Saya minta maaf untuk sikap Akbar tadi. Dia sudah lebih tenang. Dia akan butuh waktu untuk menerima ini." jawab Isti.


" Iya bu',,saya minta maaf untuk semuanya."


" Kamu tidak salah Rul. Perasaan memang tidak bisa dipaksakan. Dan benarkah kamu akan segera menikah?"


" Iya bu'."


" Selamat untuk pertunanganmu,,aku ikut bahagia."


" Terima kasih bu',"


" Dan tolong ini semua cukup kita yang tahu. Juga aku tidak akan mempermasalahkan ini dengan pekerjaanmu. Jadi tetaplah bekerja seperti biasa!"


" Baik bu,,terima kasih."


" Yasudah,aku harus segera mengantar Akbar pulang. Aku pergi dulu." Isti langsung beranjak dari duduknya dan kembali ke mobilnya. Ia langsung meninggalkan salah satu minimarket miliknya itu.


" Mbak,,kenapa kok bolak-balik sama bu Isti? Dan mas Akbar kenapa mbak,kok kayak sedih banget gitu?" tanya Azka setelah Nurul berada didekatnya.


" Udah nggak usah kepo masalah orang. Bu Isti tadi cuma ngomong masalah kerjaan." jawab Nurul. Mereka pun melanjutkan pekerjaan masing-masing hingga para karyawan lain pun tiba.


Dan tanpa menunggu waktu lama,kehadiran cincin di jari manis Nurul langsung diketahui semua rekannya. Semua ikut bahagia mendengar kabar itu.


...****************...


Dua hari berlalu. Pagi ini Nurul bersiap untuk berangkat ke Jogja untuk mengurusi berkas-berkas pernikahannya,seperti yang telah direncanakan saat lamaran kemarin.


" Assalamu'alaikum!" terdengar suara seorang laki-laki dari depan rumah Nurul.


" Wa'alaikumussalam!" jawab Al. Ia langsung menghampiri sumber suara. " Om Rahman! Masuk Om!" ajak Al.


" Siapa Al?" Nurul pun berjalan menuju pintu. Ia terkejut melihat calon suaminya sudah berada di rumahnya.


" Mas Rahman! Ada apa mas pagi-pagi kesini? Bukannya harus ke Jogja hari ini mas?" tanya Nurul bingung.


" Ya karena itu aku kesini. Ibu' menyuruhku menjemputmu untuk berangkat bersama ke Jogja."


" Al,cepat siap-siap berangkat sekolah. Nanti kamu terlambat! Dan ingat pesan Bunda semalam yaa!" perintah Nurul.


" Siap Bundaaa!! Om Al siap-siap dulu yaa,," pamit Al.


" Oke jagoan! Nanti Om antar ya ke sekolahnya!" ucap Rahman setelah mensejajarkan tinggi badannya dengan Al. Al mengangguk segera masuk ke kamar dan bersiap.

__ADS_1


" Eh,,nggak usah mas Rahman. Al bisa berangkat sendiri,,nggak usah repot-repot mas," tolak Nurul.


" Sekalian berangkat nanti. Jadi nggak apa. Kamu juga bersiaplah,,kita berangkat bersama pakai mobil!" ucap Rahman.


" Tapi mas,Nurul,,"


" Sudah,,tujuan kita sama. Apa salahnya jika berangkat bersama. Bersiaplah!" Nurul akhirnya menerima saran Rahman. Awalnya Nurul berniat untuk berangkat sendiri dengan motornya,tak disangka,ternyata Rahman menjemputnya untuk berangkat bersama.


Tak lama Nurul dan Al telah siap. Mereka pun berangkat dengan mobil milik Rahman. Tak lupa Rahman mengantar Al ke sekolah terlebih dulu. Setelah itu Nurul dan Rahman pun berangkat ke Jogja.


Berdua di dalam sebuah mobil dengan Rahman,sungguh membuat jantung Nurul berdegup kencang. Melihat Rahman datang ke rumahnya saja,dia sudah gugup. Apalagi saat ini,mereka hanya berdua di dalam mobil. Suasana canggung sangat terasa.


Tiba-tiba ponsel Rahman berdering,dia mengambil ponsel di saku celananya lalu melihat siapa yang menelfonnya.


Ibu' is calling...


Rahman menyerahkan ponselnya pada Nurul. " Tolong jawablah! Ibu yang menelfon. Beliau pasti menanyakanmu," Nurul sedikit ragu menerima ponsel Rahman. Ia kemudian menjawab panggilan dari bu Dira.


" Assalamu'alaikum bu',"


" Wa'alaikumussalam. Eh nduk,Rahman mana?"


" Mas Rahman sedang menyetir bu'."


" Yasudah,ibu mau minta tolong sama kamu. Tolong temani Rahman makan ya. Tadi dia tidak mau makan apapun sebelum berangkat. " Nurul menoleh ke arah Rahman.


" Oh,,iya bu'."


" Iya bu'."


" Assalamu'alaikum."


" Wa'alaikumussalam." Nurul lantas mengembalikan ponsel Rahman.


Suasana hening kembali. Kedua manusia saling canggung itu sibuk dengan fikiran masing-masing. Hingga,, " Kamu sudah sarapan??" tanya Rahman berusaha mencairkan suasana. Dan itu,,sungguh berhasil membuat Nurul terkejut. ( Hhaha,,awas Rul,,jantungnya dijaga biar nggak lari itu dari tempatnya 😄🤭)


" Eemm,,belum Mas." jawab Nurul singkat.


" Kita makan dulu ya!" ajak Rahman.


Nurul teringat percakapannya dengan bu Dira tadi. Ia langsung menyetujui ajakan Rahman, " Iya mas. Mas belum sarapan,?"


" Belum!" jawab Rahman singkat. "Masak iya aku bilang karena pengen makan sama kamu." gumam Rahman. " Mau makan apa,,??"


" Terserah mas Rahman saja."


" Kamu pengen makan apa? Atau suka sarapan sama apa biasanya,?"


" Terserah mas saja mau sarapan apa."

__ADS_1


" Makan soto ya! Kita ke tempat favorit ibu'!"


" Iya mas." Nurul menuruti usul Rahman. Nurul gelisah dalam hatinya. " Gimana ini? Masak iya langsung ketahuan puasaku,,??"


Sepuluh menit kemudian mobil Rahman menepi. Memasuki sebuah parkiran warung soto yang cukup padat pengunjung. Rahman mencari tempat parkir kosong. Sampai seorang juru parkir mengarahkannya untuk menunggu sebuah mobil keluar dari tempat parkir. Setelah mobil terparkir Nurul dan Rahman keluar dari mobil dan masuk ke area warung. Nurul mengikuti Rahman menghampiri seorang karyawan.


" Dua ya mas!" pesan Rahman.


" Satu saja mas!" sanggah Nurul.


" Kamu nggak makan,,?" Rahman menoleh ke arah Nurul penuh tanya.


" Enggak mas. Mas Rahman saja,Nurul temani makan yaa,!"


" Kalau kamu nggak makan,ya sudah aku nggak jadi makan saja."


" Eh,,jangan mas!"


" Yasudah,kamu makan juga ya!"


Nurul berusaha mencari ide agar bisa menolak tapi Rahman tetap harus makan. " Mas itu ada kursi kosong. Mas Rahman duduk dulu saja,Nurul pesannya agak rempong soalnya. Jadi biar Nurul pesan sendiri ya yang untuk Nurul. Mas tunggu di sana dulu! yaa,"


" Bener ya?"


" Iya mas." Nurul menganggukkan kepala untuk meyakinkan Rahman. Rahman pun menuju kursi kosong yang ditunjukkan Nurul.


" Mas satu saja ya! Dan biar saya saja yang bawa pesanannya ke meja. Dan teh hangatnya satu juga mas!"


" Iya bu'." Jawab sang karyawan. Tak lama pesanan Nurul siap. Dia membawa nampan berisi satu mangkok soto ke meja yang ditempati Rahman.


" Kok cuma satu? Kamu nggak jadi makan? Ya sudah ayo jalan lagi!" ajak Rahman.


" Eh mas,ini belum dimakan. Mubadzir." Rahman sudah hendak berdiri. Tiba-tiba seorang laki-laki menghampiri mereka dengan membawa satu gelas teh hangat pesanan Nurul. " Tuh mas,minumnya juga sudah siap. Ayo dimakan dulu! Mubadzir mas kalau nggak dimakan. Sini Nurul bantuin kasih pelengkap. Mas Rahman suka banyak kecap nggak? hem,,?" Nurul berusaha merayu Rahman agar tidak beranjak dari duduknya. Rahman akhirnya membenarkan posisi duduknya setelah melihat tingkah Nurul.


" Enggak,aku nggak suka." Nurul lantas menuangkan sedikit kecap ke mangkok Rahman. Ia menambahkan sedikit sambal juga.


" Sambalnya sedikit saja pagi-pagi." Nurul lalu sedikit mengaduk soto di dalam mangkok dihadapannya. " Silahkan mas Rahman!" Nurul sedikit menyodorkan mangkok soto itu ke arah Rahman.


Nurul yang tadinya hanya ingin merayu Rahman agar tetap mau makan,ia malah terbawa suasana. Dengan santainya ia mengobrol berhadapan dengan Rahman. Bahkan sangat dekat. " Udah ayo jalan lagi! Kan kamu nggak makan,aku juga nggak jadi makan."


" Tapi mas sayang ini makanannya. Atau mau Nurul suapi? Sini,sini,,!" dengan cepat Nurul mengambil mangkok dan sendok dihadapannya. Menyendokkan satu suapan dan menyuapkan ke mulut Rahman. " Ini mas,,ayo aaaa,,,bismillahirrohmanirrokhiim,,," Rahman yang terbawa suasana pun langsung membuka mulutnya dan menerima suapan dari Nurul. Sejenak pandangan mereka saling bertemu.


" Astaghfirullah,," Nurul tersadar akan sikapnya pada Rahman. " Maaf mas Rahman,Nurul lancang!" Nurul segera meletakkan sendok dan menundukkan pandangannya. Kedua manusia itu pun saling salah tingkah seketika.


" Maaf mas,silahkan dilanjutkan makannya. Mubadzir jika tidak dimakan. Nurul akan berjalan-jalan sebentar di sekitar sini." Nurul segera beranjak dari kursinya. Meninggalkan Rahman yang masih terpaku dengan apa yang baru saja terjadi. Nurul berjalan-jalan disekitar mobil Rahman terparkir. " Lancang banget sih kamu tangan,pakai acara nyuapin segala,,huuhh! Ini juga jantung,kenapa kenceng banget sih berdetaknya,kayak mau lompat aja." Nurul bergumam dalam hatinya.


Sedang Rahman yang tersadar segera mengambil teh hangat di dekatnya lalu meneguknya." Nurul tadi kesambet apa ya? Dia nyuapin aku?" senyum kecil terbit dibibirnya. Ia berusaha menguasai perasaannya dan akhirnya melanjutkan makannya. Tak lama ia pun selesai dan membayar makanannya. Ia melihat Nurul sedang bersandar pada mobilnya dan langsung menghampirinya.


Nurul masih merasa gugup dengan Rahman. Begitupun sebaliknya. Mereka akhirnya masuk mobil dan kembali melanjutkan perjalanan. Masih saling diam. Tak ada yang berbicara. Semua masih sibuk dengan perasaannya masing-masing.

__ADS_1


Apakah itu tanda cinta sudah hadir diantara mereka? Hingga saling malu untuk mengakuinya. Lalu bagaimana mereka akan melewati perjalanan ini? Hanya berdua dalam satu mobil,dalam waktu yang tidaklah sebentar. Biarkan takdir yang menjawabnya.


__ADS_2