
"Sudah ada yang ke VVIP 7?" tanya Arum yang baru saja sampai di ruang jaga perawat ruangan VVIP.
"Belum Dok, kenapa? Nggak ada panggilan Dok," jawab seorang perawat.
"Apa? Rahman sialan! Banyak perawat di sini masih juga telfon aku," Arum menggerutu kesal. "Ayo ikut ke VVIP 7 untuk melihat pasien, katanya sudah sadar,"
"Sabar Dok, namanya juga yang punya rumah sakit," hibur perawat lain. Mereka tahu bahwa pasien yang baru saja menempati ruang VVIP adalah menantu dari pemilik rumah sakit. Jadi mereka tidaklah terkejut jika ada permintaan yang berbeda dari pasien lain.
Arum dan dua orang perawat berjalan menyusuri lorong menuju ruangan dimana Nurul dirawat.
Di dalam ruangan Rahman tengah membantu Nurul untuk minum. "Mau minum dek?" Rahman melihat Nurul melirik gelas di atas nakas.
Nurul mengangguk. Rahman lalu mengambilkannya dan membantunya minum. Ceklek,, pintu ruangan terbuka.
"Ah, pas banget aku datang yaaa,," ejek Arum yang melihat Rahman tengah membantu Nurul minum.
"Lama banget baru datang?" ketus Rahman.
"Kamu yang nyebelin Man! Ada perawat jaga malah nelfon aku yang lebih jauh," gerutu Arum.
Rahman meletakkan kembali gelas ke atas nakas. Arum dan dua perawat lain mendekati Nurul. "Sebentar ya bu, saya periksa dulu kondisinya," ucap seorang perawat.
Nurul hanya mengangguk. Badannya masih lemah. Tak lama, perawat telah selesai memeriksa kondisi Nurul. "Kalian kembali lebih dulu!" ucap Arum pada dua perawat itu. Mereka lalu meninggalkan ruangan.
"Hai, nyonya Rahman, saya Dokter Arum, yang menanganimu tadi," sapa Arum.
"Iya Dokter," jawab Nurul pelan.
"Apa ada yang sakit? Perutnya masih sakit?" tanya Arum. Nurul hanya menggeleng.
"Pusing?" Nurul mengangguk.
"Tak apa, nanti perlahan hilang. Kamu jangan kelelahan lagi yaa! Sekarang harus istirahat total, oke?" pesan Arum.
"Saya kenapa Dokter? Kenapa harus rawat inap?"
"Eemm, apa kamu akhir-akhir ini nggak merasa ada yang lain sama tubuh kamu?"
Nurul diam sejenak dan berfikir. "Ada dokter,"
"Kamu udah pernah punya babykan?"
"Iya dokter, anak saya sudah berusia delapan tahun,"
"Okey, berarti kamu hanya tidak menyadarinya," Nurul masih bingung dengan ucapan Arum.
"Oh iya Nyah, kapan kalian menikah? Aku bahkan tak tahu Rahman udah nikah lagi. Bahkan kamu sekarang sedang hamil anak Rahman," Arum tiba-tiba duduk di samping Nurul.
"Apa Dokter? Hamil?" Nurul menoleh ke arah Rahman. Tatapannya penuh keterkejutan dan kebingungan.
"Iya, kamu hamil. Usia kandunganmu empat minggu. Jadi, kapan kalian menikah?" Rahman hanya diam menunggu reaksi Nurul.
"Tapi,, " Nurul tidak menyelesaikan kalimatnya. Fikiran Nurul mulai melayang kemana-mana. Dia memikirkan hal yang tak semestinya. Ketakutannya kembali mempengaruhinya. Wajahnya yang masih sedikit pucat mulai terlihat panik. Arum dan Rahman mulai panik melihat Nurul.
"Kamu kenapa Nyah? Nyonyah?" Arum mencoba tetap menjaga kesadaran Nurul. Tapi sayang, Nurul kembali pingsan.
"Kamu ini gimana Rum? Kenapa Nurul pingsan lagi?" marah Rahman.
"Ya mana aku tahu dia bakal pingsan lagi," gerutu Arum. Arum segera memeriksa kondisi Nurul. Memberikan pertolongan agar Nurul sadar kembali.
Tak butuh waktu lama, Nurul kembali sadar. Ia masih belum sepenuhnya sadar saat dua orang dihadapannya memandanginya. "Alhamdulillah. Kamu kenapa Nyah?" tanya Arum.
__ADS_1
Nurul mencoba mengingat apa yang sebelumnya terjadi. Tiba-tiba ia menangis menatap Rahman. "Kenapa kamu nangis dek?" tanya Rahman sembari mengusap air mata yang jatuh di pipi Nurul.
"Oh Tuhan, aku berasa jadi obat nyamuk di sini," gerutu Arum. "Yasudah, Nyonyah istirahat dulu saja. Besok saya periksa lagi,"
"Tunggu dokter," ucap Nurul.
"Iya,?"
"Apakah mungkin itu bukan janin Dokter? Mungkin itu mioma uteri," tanya Nurul.
"Apa kamu pernah mengalaminya?" tanya Arum lagi. Nurul menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, aku periksa lagi boleh?"
"Boleh Dokter," jawab Nurul.
Arum segera menurunkan sedikit selimut Nurul. Menaikkan sedikit bajunya, lalu kembali memeriksa perut bagian bawah Nurul. Ia sedikit menekannya.
"Ini janin. Kalau masih tidak yakin, besok kita USG. Aku akan praktek pagi besok," ucap Arum sembari memperbaiki baju dan selimut Nurul.
Nurul menatap Rahman. Rahman tersenyum dan menganggukan kepalanya. "Udah sana pulang!" usir Rahman.
"Sialan kamu Man! Kamu tadi yang ngelarang aku pulang sebelum istrimu sadar, sekarang kamu ngusir aku gitu aja? Awas ya kamu!" gerutu Arum.
Nurul bergantian menatap dua orang disampingnya yang saling bersitatap. "Lihat tuh, nyonyahmu kebingungan lihatin kita," ucap Arum sambil memajukan dagunya.
Nurul tersenyum kaku ditatap Rahman dan Arum. "Aku pulang dulu ya Nyonyah, suami sama anakku udah nungguin di rumah. Kalau nggak gara-gara ini suamimu, aku udah pulang dari tadi," pamit Arum.
"Terima kasih dokter," jawab Nurul.
"Iya sama-sama. Dan kamu Man, kamu harus jujur sama nyonyahmu ini. Dari ekspresinya tadi, aku yakin, kamu belum jujur sama dia tentang kondisimu," pesan Arum pada Rahman. "Jangan kira aku nggak tahu ya kondisi kamu! Aku udah cek rekam medis kamu, tadi sebelum kesini. Jangan sampai pasienku pingsan lagi, awas kamu!" Arum lalu berjalan meninggalkan Nurul dan Rahman.
"Enggak mas! Dan mas Rahman,," mata Nurul mulai berkaca-kaca.
"Kamu kenapa nangis lagi dek? Apa ada yang sakit? Aku panggilin Arum lagi yaa,," Rahman panik kembali.
"Maafin Nurul mas, Nurul nggak pernah berselingkuh dari mas Rahman," ucap Nurul sambil terisak.
Rahman menutupkan tangan kanannya ke mulut Nurul. "Aku tahu, kamu bukan perempuan seperti itu. Dan aku percaya itu,"
Nurul menarik tangan Rahman perlahan. Jantungnya berdegup kencang. "Tapi janinnya,," Nurul menghentikan kalimatnya.
"Itu anak kita,," Rahman mengusap kepala Nurul.
"Tapi kan mas Rahman,,"
"Maaf aku belum jujur padamu. Bahkan ibu juga tak tahu tentang ini,," Rahman menggenggam tangan Nurul.
"Dulu setelah aku divonis azoospermia, aku sempat menjalani pengobatan selama beberapa bulan. Kondisiku sudah jauh membaik. Tapi karena suatu hal, aku tak ingin lagi melanjutkan pengobatan. Sampai beberapa bulan lalu aku bertemu denganmu,," Rahman menjeda kalimatnya sembari menatap wajah Nurul yang sedikit bingung.
"Aku kembali ingin melanjutkan pengobatanku yang belum selesai. Dan sekarang, kondisiku sudah sangat baik. Meskipun kemungkinan untuk memiliki keturunan tidak seperti pria yang sehat seutuhnya, tapi kemungkinan itu kini semakin besar,"
"Mas Rahman tidak sedang menghibur Nurul bukan, supaya Nurul nggak pingsan lagi?"
"Tentu saja tidak. Ini kejujuranku. Jika kamu tak percaya, kamu bisa menemui dokter Pram, dia yang menanganiku sejak dulu,"
"Jadii,,"
"Jadii,, ini anak kita,," Rahman tersenyum dan mengelus perut Nurul yang masih rata.
Nurul tak bisa lagi menahan kebahagiaannya. Ia langsung bangun dan memeluk Rahman. Ia menumpahkan tangis bahagianya dalam pelukan Rahman.
__ADS_1
Rahman yang juga tengah bahagia pun membalas pelukan Nurul dengan erat. Tak ada yang berbicara. Hanya menikmati pelukan bahagia satu sama lain. Suasana haru bahagia pecah memenuhi atmosfer ruangan.
Nurul sadar akan perbuatannya. Ia melepaskan pelukannya tiba-tiba. Pipinya mulai merona. Ia malu karena telah memeluk Rahman tiba-tiba. Rahman yang merasakan pelukan Nurul terlepas, ia pun melepaskan pelukannya. Nurul tertunduk malu.
"Maaf mas Rahman, Nurul tidak sengaja,"
"Sengaja juga nggak papa kok," Rahman lantas mengecup kening Nurul.
Nurul memejamkan matanya. Merasakan sengatan listrik kecil yang menjalar keseluruh tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang. Darahnya berdesir deras. Air mata itupun kembali mengalir di pipinya.
"Jangan nangis lagi, yaa!" ucap Rahman sembari menatap Nurul yang masih memejamkan matanya. Ia usap air mata yang meluncur jatuh tanpa diperintah.
"Al?"
"Tadi Al udah dari sini, tapi kamu belum sadar. Dia nangis terus, jadi aku minta dia pulang sama ibu',"
"Oh iya, ibu' udah tahu kan mas?"
"Belum, aku belum kasih tahu ibu! Aku masih belum yakin tadi, jadi aku belum kasih tahu ibu. Ibu dan yang lain hanya tahu kamu kelelahan. Besok kita beri tahu ibu setelah USG, yaa?"
"Iya mas,"
"Kamu pengen sesuatu?"
"Pengen video call sama Al mas, boleh?"
"Boleh, sebentar. Sekalian kasih kabar, kalau kamu sudah sadar," Rahman lantas mengambil ponselnya dan melakukan panggilan video ke nomer ibunya.
Semua orang lega karena Nurul telah sadar. Fatimah dan Ali juga masih menunggu kabar dari Rahman. Al terlihat sedikit tembam wajahnya karena menangis. Nurul berusaha menghiburnya melalui panggilan video. Tapi semua kini lega, karena Nurul sudah tidak apa-apa.
"Nduk, tadi ada darah di rok kamu, kamu kenapa? Apa ada masalah?" tanya bu Dira yang sedari tadi masih terfikirkan hal itu.
Nurul menoleh ke arah Rahman di sampingnya. "Belum tahu bu', besok baru akan diperiksa lebih lanjut. Tapi untuk sekarang, nggak ada masalah yang mengkhawatirkan kok bu'," jawab Rahman.
"Alhamdulillah kalau kamu baik-baik saja," ucap bu Dira lega.
Setelah puas melakukan panggilan dan memastikan Al sudah baik-baik saja, Rahman mengakhiri panggilannya. Perut Nurul tiba-tiba berbunyi cukup keras. "Uuppss,," Nurul menutupi perutnya dengan kedua tangan.
"Kamu lapar? Kenapa nggak bilang?" tanya Rahman. "Mau makan apa?"
"Brownis coklat,"
"Sebentar, aku lihat dikotak bekal yang dibawa ibu tadi yaa," Rahman pun membuka kotak bekal yang dibawakan bu Dira dari rumah.
"Ini ada, aku suapi yaa! Aaaa,," Rahman menyuapi Nurul perlahan.
"Mas Rahman nggak makan?"
"Kamu makan dulu, nanti aku baru makan setelah kamu selesai,"
Nurul mengambil potongan kue di tangan Rahman. Menyuapkannya pada Rahman. Rahman pun menyambut suapan Nurul. "Kita makan bareng ya mas," ajak Nurul. Rahman tersenyum melihat tingkah Nurul.
"Kamu itu ya dek, kadang malu-malu, tapi kadang,, hhihi,"
"Kenapa mas? Kok nggak dilanjutin?"
"Udah makan aja, nanti malah nggak jadi makan kamu," goda Rahman.
Pasangan suami istri itupun hanyut dalam obrolan ringan mereka. Tanpa mereka sadari, kedekatan mereka semakin bertambah. Ruangan rumah sakit itu menjadi saksi bagaimana rasa sayang diantara mereka semakin bertumbuh dan berkembang.
Biarlah mereka menikmati kebahagiaan yang baru saja mereka dapatkan. Karena mungkin, akan ada badai besar yang menerpa setelah datangnya mentari cerah. Tapi apakah akan ada pelangi setelah badai datang? Biarlah menjadi misteri hingga saat itu tiba.
__ADS_1