
"Bundaa," ucap Al sembari keluar dari kamarnya. Ia bertemu Rahman di ruang keluarga. "Bunda di mana Yah?" tanya Al.
"Bunda sedang mandi. Sini duduk sama Ayah!"
"Bunda nggak kenapa-kenapa kan Yah?"
"Enggak sayang, memangnya kenapa?" jawab Rahman menenangkan.
"Al seperti denger Bunda minta tolong," jawab Al. Rahman pun menoleh sejenak ke arah kamarnya.
"Mas Rahman, mbak Nurul mana?" tanya Fatimah dari ujung tangga di lantai dua.
"Masih di kamar, baru mandi," jawab Rahman dari bawah.
Fatimah pun berjalan menuju kamar Nurul. Tok, tok, tok,,, "Mbak Nurul, mbak,," panggil Fatimah dari depan pintu.
"Apa mbak Nurul belum selesai? Mbak,,". Fatimah masih terus memanggil Nurul dari depan pintu. "Mbak, Fatimah masuk yaa,,"
Fatimah pun mengintip ke dalam kamar, sepi tidak ada siapapun di sana. Pandangannya beralih ke arah pintu walk-in closet dan pintu kamar mandi yang nampak terbuka. "Pintu kamar mandi udah kebuka, mbak Nurul berarti udah selesai mandi. Tapi mana mbak Nurul?" Fatimah bergumam sambil melangkahkan kakinya ke dalam.
Baru saja ia masuk, ia melihat Nurul tengah tergeletak tepat di tengah pintu walk-in closet. Fatimah segera menghampiri Nurul yang tak sadarkan diri. "Mbak Nurul, mbak, mbak," Fatimah membalikkan tubuh Nurul dan menggoyangkannya. Tak ada respon sama sekali dari Nurul. Wajahnya juga sangat pucat.
"Mas Rahman, mass," Fatimah berteriak sekencangnya memanggil Rahman. "Mas Rahman,,".
Fatimah akhirnya berlari keluar dari kamar. "Mas Rahman, mas," ia melongok di tepi pembatas lantai dua.
"Nggak usah teriak-teriak dek, kenapa?" jawab Rahman santai dari bawah.
"Mbak Nurul pingsan mas," teriak Fatimah.
Rahman langsung berdiri dan berlari ke kamarnya. Ia mengingat wajah pucat istrinya sesaat sebelum ia keluar kamar. Ali yang baru saja keluar dari kamar juga berlari ke arah kamar Nurul setelah mendengar teriakan Fatimah.
Rahman segera menghampiri tubuh istrinya yang tak sadarkan diri. Diangkatnya sedikit kepala Nurul, "Dek, dek, bangun dek,!" Rahman menepuk-nepuk pipi Nurul perlahan. Tak ada respon sama sekali.
"Mas, darah!" Fatimah menunjuk ke arah rok panjang yang dikenakan Nurul. Ada bercak darah cukup banyak di sana. Rahman pun mengikuti arah tangan Fatimah.
Rahman segera menatap ke arah pintu. Ada Ali yang berdiri di sana. "Li, siapin mobil!" perintah Rahman. Ali mengangguk dan bergegas ke bawah.
Rahman segera mengangkat tubuh Nurul. "Dek, kamu ikut ke rumah sakit!" perintah Rahman pada Fatimah. Fatimah mengangguk. Rahman membawa Nurul perlahan menuruni tangga.
"Bundaaa,,!" Al berlari ke arah bundanya yang tengah di gendong Rahman.
"Al di rumah dulu ya!" ucap Rahman sembari menatap putranya yang cemas.
"Nurul kenapa Man?" bu Dira berlari ke arah Rahman. Ia pun ikut panik ketika mendengar teriakan Fatimah.
"Rahman juga kurang tahu bu', Rahman bawa ke rumah sakit dulu," jawab Rahman yang lantas meninggalkan bu Dira.
"Ada bercak darah banyak bu' di rok mbak Nurul, nggak tahu kenapa," imbuh Fatimah.
"Dek, ayo cepat!" teriak Rahman dari luar. Fatimah segera berlari keluar.
"Omaa, Bundaaa,,!" Al mulai menangis.
"Udah sayang, Al jangan nangis! Nanti kita susul bunda ya!" bu Dira mencoba menenangkan Al. "Mbok Tum, tolong siapkan beberapa baju Nurul, nanti biar aku bawa ke rumah sakit!" perintah bu Dira.
"Baik bu'. Sebenarnya bu', mbak Nurul sudah dari tadi siang kesakitan. Perutnya sakit katanya," cerita mbok Tum.
"Kenapa katanya?" tanya bu Dira.
__ADS_1
"Mbak Nurul bilang mau menstruasi, jadi perutnya sakit, wajahnya juga pucat tadi siang," imbuh mbok Tum. Perasaan bu Dira semakin cemas.
Sedang di depan rumah, Rahman telah meletakkan Nurul di kursi belakang mobil. Ia pun bergegas masuk mobil yang juga diikuti Fatimah.
Ali yang menyetir. Kemampuan menyetir Ali memang lebih baik dari Rahman. Dan keadaannya kini lebih stabil dari Rahman, yang memang tengah panik karena keadaan Nurul.
Butuh dua puluh menit untuk Ali berkendara hingga sampai di rumah sakit. Rahman segera menggendong Nurul kembali. Nurul yang belum sadarkan diri langsung di bawa ke IGD oleh Rahman. Beberapa perawat dan dokter jaga langsung membantunya.
"Kenapa ini Pak?" tanya salah seorang dokter.
"Kurang tahu dokter, tiba-tiba pingsan dan ada darah yang keluar,," jelas Rahman panik.
"Baik Pak, biar kami periksa dulu," jawab dokter yang lantas meninggalkan Rahman dan Fatimah.
Beberapa perawat mulai sibuk menangani Nurul. "Panggil dokter Arum, jam prakteknya baru saja selesai!" ucap dokter yang tadi bicara dengan Rahman.
"Dokter Arum? Nurul kenapa?" Rahman bergumam dalam hati.
Tak lama seorang dokter perempuan datang dengan setengah berlari bersama seorang perawat. "Rahman?" sapa dokter itu, yang tak lain adalah Arum, teman kuliah Rahman yang juga merupakan direktur perasional di rumah sakit itu.
"Arum? Nurul kenapa Rum?" tanya Rahman mencegat Arum.
"Aku periksa dulu ya,,!" jawab Arum sambil memasuki bilik perawatan Nurul. Arum adalah dokter kandungan terbaik di kota ini. Rahman berhasil merayunya lima tahun yang lalu agar mau menjadi direktur di rumah sakit yang didirikan oleh ayahnya sebelum beliau meninggal.
Rahman, Fatimah dan Ali masih belum tenang. Para perawat dan dokter masih sibuk menangani Nurul. "Man,," sapa Arum yang baru saja selesai menangani Nurul.
"Rum, Nurul gimana?" tanya Rahman panik.
"Diaa,,??"
"Istriku."
"Biar Ali yang daftarin mas," Ali segera pergi ke bagian administrasi.
"Fatimah boleh nemuin mbak Nurul Dok?" tanya Fatimah.
"Boleh, kamu temani dia dulu, aku akan bicara sama Rahman!" jawab Arum. Fatimah langsung masuk ke bilik perawatan Nurul. Rahman mengikuti Arum ke sisi lain ruang IGD. Dia duduk di kursi di depan sebuah meja. Arum duduk tepat di depannya.
"Dia istrimu?" tanya Arum.
"Iya Rum. Gimana keadaannya? Dia nggak kenapa-kenapa kan?"
"Kalian kapan menikah? Kamu kenapa nggak ngabarin kalau menikah, hah?" Arum masih santai.
"Nurul gimana Rum?" bentak Rahman.
"Sabar Pak CEO, sabar. Sekarang, aku mau tanya dulu. Apa dia kelelahan akhir-akhir ini?"
"Tadi ada tasyakuran di rumah,"
"Lain kali jangan sampai kelelahan lagi. Alhamdulillah dia cepat dibawa ke rumah sakit, jadi janinnya masih bisa diselamatkan,"
"Janin?" Rahman terkejut mendengar ucapan Arum.
"Iya, istrimu hamil, usianya sekitar empat minggu. Besok kita USG untuk memastikan kondisinya,"
"Kamu nggak bercandakan Rum?" Rahman masih belum percaya apa yang baru saja didengarnya.
"Kamu meragukan kemampuanku? Dan lagi, bukankah kamu beberapa bulan terakhir ini sering menemui dokter Pram? Apa tak ada kemajuan kondisimu?"
__ADS_1
"Mas Rahman, ini untuk rawat inap mbak Nurul," Ali datang menyerahkan selembar kertas. Rahman pun menerimanya lalu memberikannya pada Arum.
"Rum, kamu nggak boleh pulang sebelum Nurul sadar!" ucap Rahman sambil berdiri.
Arum yang belum selesai berbicara pada perawat pun langsung mengalihkan pandangannya pada Rahman. "Eh Man, enak aja kamu!"
Rahman kemudian pergi meninggalkan Arum yang kesal karena ucapannya. Ia menghampiri Nurul yang masih belum sadarkan diri.
"Mbak Nurul gimana mas?" tanya Fatimah.
"Iya mas, mbak Nurul gimana?" Ali pun ikut menanyakan kondisi Nurul setelah sampai di samping Fatimah.
"Diaa,," belum sempat Rahman menyelesaikan kalimatnya, datang seorang perawat yang akan memindahkan Nurul ke kamar perawatan.
"Maaf pak bu', pasien kita pindahkan ke ruang perawatan dulu ya," ucap seorang perawat.
"Suster, mbakku kenapa?" tanya Fatimah pada perawat.
"Pasien kelelahan dan sekarang sudah stabil, hanya tinggal menunggu sadar saja," jawab si perawat.
Perawat mulai mendorong brangkar yang ditempati, Nurul. Ia membawanya keluar IGD. Ketika hendak keluar, bu Dira juga telah sampai. "Fatimah," panggil bu Dira.
Fatimah menoleh. Ia menghampiri ibunya bersama Al, Riko dan Rindi. "Bundaaa, hiks, hiks, " Al memanggil ibunya.
Al berlari mengejar ibunya. Rahman mengangkat tubuh Al. Menggendong dan menenangkannya. "Bunda nggak papa sayang, kamu jangan nangis yaa," mereka lalu masuk ke dalam lift bersama Nurul dan perawat.
"Nurul gimana? Nurul kenapa?" bu Dira masih panik.
"Kata perawat tadi, mbak Nurul kelelahan bu'," jawab Fatimah sambil terus berjalan. Mereka tertinggal lift untuk pasien. "Mas Ali, tadi diruang mana?" tanya Fatimah.
"VVIP 7 lantai empat," jawab Ali sambil menggendong Rindi.
Mereka pun menyusul Nurul melalui lift umum. Tak lama mereka telah sampai. Nurul juga telah di ruangan. Ia hendak dipindahkan ke brangkar rawat inap. "Al turun dulu ya, ayah mau pindahin bunda," ucap Rahman sembari menurunkan Al dari gendongannya
"Biar saya yang pindahin suster! Suster tolong bantu pegang infusnya!" ucap Rahman. Ia lantas mengangkat tubuh Nurul dan memindahkannya ke brangkar rawat inap. Suster memperbaiki letak infus dan selang oksigen yang terpasang pada tubuh Nurul.
"Makasih suster," ucap Rahman.
"Nanti kalau ibu sudah sadar, tolong panggil kami ya Pak, nanti biar kami periksa kondisinya!" pesan perawat.
"Iya suster," jawab Rahman.
Suster pun meninggalkan ruangan. Bu Dira mendekati Rahman. "Gimana Man?" tanya bu Dira sambil mengelus wajah Nurul yang masih belum sadar.
"Nggak papa bu'. Arum bilang dia kelelahan," jawab Rahman.
"Kelelahan?" ulang bu Dira.
"Bundaa, Al di sini bunda. Bunda, bangun bunda!" ucap Al sambil memegangi tangan Nurul.
Rahman dan bu Dira menoleh pada Al. "Al! Nggak papa sayang, bunda kelelahan. Bunda biar istirahat dulu ya," ucap Rahman kembali menenangkan Al.
Al kembali menangis karena sang bunda masih belum sadar. Mereka akhirnya menenangkan Al bersama. Tak tega melihat Al yang masih sedih, Rahman akhirnya meminta bu Dira untuk membawa pulang Al bersama Ali dan Fatimah. Mereka pun setuju. Hanya Rahman yang tinggal di rumah sakit menemani Nurul.
Rahman hendak mengambil ponselnya untuk menelfon Burhan. Ia melihat Nurul mulai sadar. Matanya perlahan mulai terbuka. "Kamu sudah sadar sayang?" tanya Rahman.
Nurul masih belum sadar sempurna. Ia melihat sekeliling. Ia melihat infus yang tergantung di sampingnya. "Di mana ini mas?" tanya Nurul.
"Di rumah sakit. Kamu tadi pingsan dan pendarahan, jadi aku bawa kamu ke rumah sakit. Bentar ya, aku panggil dokter dulu!" Rahman segera mengambil ponselnya dan menelfon Arum. Ia meminta Arum untuk datang ke ruang rawat Nurul.
__ADS_1
Belum ada yang tahu jika Nurul tengah hamil. Rahman sengaja belum memberi tahu mereka, karena ingin memastikan terlebih dahulu. Ia tidak ingin mengecewakan keluarganya, terlebih ibunya sendiri. Ia berencana memberi tahu mereka setelah USG esok hari.