Istri Pilihan Sang Duda

Istri Pilihan Sang Duda
Saling Menerima


__ADS_3

Langit masih tampak cerah hingga menjelang sore. Seolah ikut merasakan kebahagiaan kedua keluarga, hingga langit pun tak ingin menampakkan awan hitamnya. Mengawal perjalanan sepasang pengantin baru hingga ke tempat mereka akan berbagi suka dan duka esok dan seterusnya. Suara kumandang adzan ashar pun terdengar di tengah barisan kendaraan yang berlalu lalang.


"Sholat dulu Li!" ucap Rahman pada Ali yang tengah menyetir.


"Iya mas, kita cari masjid dulu!" jawab Ali singkat sambil melihat tepi jalan jika ada masjid.


"Itu ada SPBU! Kita sholat di sana saja!" ajak Rahman ketika melihat sebuah SPBU cukup besar dengan sebuah kubah masjid besar di dalam area. Ali pun lalu membelokkan mobilnya menuju area SPBU. Yang diikuti oleh mobil yang bu Dira.


Nurul lalu membangunkan Al yang tengah tertidur di kursi paling belakang bersama Riko dan Rindi. "Biarin mbak, Al biar tidur sama Riko sama Rindi di mobil," ucap Fatimah.


"Nggak boleh dek, harus dibiasakan dari sekarang rajin sholatnya. Kalau tidur ya dibangunin, nggak boleh ditawar," jawab Nurul yang masih menggoyang-goyangkan tubuh Al.


"Mbak Nurul emang top deh!" puji Fatimah. Ia pun ikut membangunkan Riko dan Rindi. Akhirnya ketiga penghuni kursi paling belakang pun sudah bangun dan ikut turun dari mobil. Al langsung mengikuti Rahman dan Ali ke masjid. Riko dan Rindi masih merajuk pada Fatimah. Nurul pergi ke toilet untuk menyegarkan diri sejenak.


Seusai sholat, "Al, sini!" Rahman memanggil Al untuk duduk di sebelahnya di salah satu sudut masjid.


"Iya,,, eemmm," Al sedikit bingung.


"Kamu kenapa?" tanya Rahman.


"Eemmm,, om Rahman kan udah nikah sama Bunda. Berarti sekarang om Rahman udah jadi ayahnya Al dong?" tanya Al ragu-ragu.


Rahman tersenyum mendengar pertanyaan Al. "Iya, terus?"


"Al sekarang udah punya ayah baru kaaannn,,, eeemmm,, Al boleh nggak panggil om Rahman jadi ayah?" suara Al mengecil karena takut.


"Boleh," jawab Rahman bahagia. Mata anak laki-laki berusia delapan tahun itu langsung berbinar. Ia lantas mensejajarkan tingginya dengan Rahman, dengan posisi setengah berdiri dan merentangkan kedua tangannya.

__ADS_1


"Aaayyaaahhh!!" Al berteriak cukup keras karena bahagia dan langsung memeluk Rahman. Mendekapnya sangat erat. Rahman terkejut mendapat perlakuan dari anak itu. Mereka ditatap oleh beberapa orang yang berada di dalam masjid. Tak terkecuali Ali.


Dua laki-laki yang tengah berpelukan itu saling meluapkan rasa bahagia mereka. Air mata membasahi pipi mereka. Al, seorang anak yang merindukan sosok ayah dalam kesehariannya. Sedang Rahman, seorang laki-laki yang sangat menyayangi sosok anak kecil dan ada harapan kecil dalam hatinya agar ada yang memanggilnya dengan sebutan 'ayah' suatu saat nanti.


Dan kini, keinginan mereka terwujud. Meski mereka tak memiliki ikatan darah, tapi mereka saling menerima satu sama lain dengan sepenuh hati. "Alhamdulillah Ya Allah, sungguh indah karunia-Mu. Dan Al, ayah berjanji tak akan melupakan saat ini sampai kapanpun. Kamu yang pertama memanggilku dengan sebutan ayah nak," mereka berpelukan semakin erat. (tisu mana tisu 😥,, othor meweks nulis part ini 😭, emang dasar othornya cengeng sih tapi 😫).


Bu Dira, Fatimah, mbok Tum dan bu Alfi (istri pak Harto) yang melihat kejadian kecil itu ikut meneteskan air mata. Mereka tahu betul bagaimana kehidupan Rahman, yang sangat menginginkan kehadiran seorang anak dalam hidupnya. Mengingat kondisi Rahman dengan penyakitnya. Mereka tahu, Rahman pasti sangat bahagia saat ini. Ali yang berada dekat dengan Rahman lalu menepuk punggung sang kakak ipar dan memeluknya.


Di depan masjid, ada seorang perempuan yang juga tengah menyaksikan kejadian itu. Pipinya yang tertutup masker dan kerudung putih yang ia kenakan telah basah karena air mata. Ya, air mata kebahagiaan. Ia tidak tahu bagaimana mengungkapkan perasaannya. Iya, dia Nurul. Ia bahagia melihat putra semata wayangnya dengan bahagia menerima sosok ayah barunya. Dan ternyata, sang suami barunya pun bisa menerima putranya dengan sangat bahagia. "Alhamdulillah Ya Allah, sungguh indah karunia-Mu. Tak pernah hamba mengira, hari ini akan tiba. Hari ketika putra hamba bisa mendapatkan ayah baru yang menerimanya apa adanya. Semoga Engkau akan selalu memberikan kebaikan-kebaikan lain pada kami, Aamiin."


Semua telah selesai melaksanakan sholat. Dan kini bersiap melanjutkan perjalanan pulang. Mobil bu Dira telah meninggalkan SPBU terlebih dahulu.


"Mbak Nurul udah sholat?" tanya Fatimah ketika akan masuk ke mobil.


"Aku sedang datang bulan dek," jawab Nurul.


"Iya dek, tadi pas waktu mau berangkat kesini,"


"Hhahaha,,," tawa Ali mengalihkan perhatian. "Sabar ya mas,, hhaha!" Ali menepuk pelan bahu Rahman. Rahman tak menanggapi ucapan Ali. Nurul dan Fatimah masih belum paham apa maksud perkataan Ali.


"Mas, gantian ya nyetirnya!" ucap Ali pada Rahman yang bersiap membuka pintu mobil. Ia hanya diam dan beralih ke pintu bagian kemudi. Al, Riko dan Rindi telah masuk terlebih dahulu ke dalam mobil. Nurul dan Fatimah pun bersiap masuk. Tapi Ali mencegah Nurul masuk ke mobil.


"Eh mbak Nurul,," panggil Ali. Nurul mengurungkan niatnya masuk mobil dan menoleh pada Ali. "Mbak Nurul duduk di depan aja ya, aku pengen tidur mbak!" Ali sedikit merajuk pada Nurul.


"Kan di depan bisa Li?" jawab Nurul. Fatimah yang paham maksud suaminya, hanya cekikikan melihat ekspresi Nurul.


"Di depan silau mbak, enak di belakang kalau tidur. Ya mbak, ya, ya, ya! Lagian sama mas Rahman ini di depan, hhihi. Sambil ngobrol-ngobrol santai mbak," Ali beralasan.

__ADS_1


Pipi Nurul terasa panas. Jika saja kulitnya putih, pasti sudah sangat merona itu pipi mantan janda. Tanpa menunggu jawaban dari Nurul, Ali langsung membukakan pintu depan untuk Nurul dan mempersilakan Nurul untuk masuk. Nurul akhirnya mengalah pada Ali. Ia pun duduk di kursi depan di sebelah Rahman. Ali lantas duduk di kursi belakang Nurul. Mereka pun melanjutkan perjalanan kembali.


Senja telah tiba ketika mobil Rahman sampai di rumahnya. Bu Dira yang telah sampai lebih dulu, dia menunggu kedatangan anak, menantu dan cucunya tiba dengan tidak sabar. Ketika mereka tiba, bu Dira tengah membersihkan diri.


Rahman menghentikan mobilnya tepat di depan rumah. Semua turun bergantian, setelah itu Rahman lantas memarkirkan mobilnya di garasi. Ali dan keluarga kecilnya telah masuk ke rumah, Nurul menahan Al sebelum memasuki rumah. Dia mensejajarkan tingginya dengan Al, dengan bertumpu pada lututnya.


"Al, kita akan tinggal di sini mulai sekarang. Tapi inget ya, ini bukan rumah Al. Ini rumah oma dan ayah. Jadi Al nggak boleh nakal ya! Tetep jadi anak baik ya nak!" Nurul memeluk Al sejenak. "Masuk dengan kaki kanan dan jangan lupa berdo'a yaa,,!!" pesan Nurul. Al mengangguk patuh lalu meninggalkan Nurul sendiri di depan rumah.


Rahman yang baru selesai memarkirkan mobilnya melihat kejadian kecil itu lalu tersenyum. "Ya Allah, apakah benar dia bidadari yang Kau kirimkan untuk hamba? Sungguh besar kuasa-Mu Ya Allah," gumam Rahman sembari berjalan perlahan mendekati istrinya.


Nurul telah berdiri kembali. Ditatapnya rumah dua lantai dihadapannya. Rumah yang baru satu bulan lalu ia sambangi tanpa ia rencanakan. Satu bulan lalu pula ia datang hanya sebagai tamu di rumah itu, tapi kini bahkan dia akan tinggal di rumah itu sebagai menantu, istri dan ibu. "Ya Allah, sungguh besar kuasa-Mu. Yang terjadi pada hamba hingga saat ini pun, semua atas kehendak-Mu. Limpahkanlah selalu keberkahan-Mu pada setiap orang yang hamba sayangi. Berkahi pula pernikahan hamba kali ini Ya Allah. Jadikanlah hamba menantu yang baik bagi bu Dira, dan istri yang baik untuk mas Rahman, Aamiin."


"Kamu kenapa?" tanya Rahman tepat disamping wajah Nurul ketika tiba disampingnya. Nurul pun langsung menoleh ke arah Rahman karena terkejut. Rahman yang masih mensejajarkan wajahnya dengan wajah Nurul, tak sempat menghindari Nurul yang menoleh tiba-tiba. Kedua hidung mancung suami istri itu pun bertemu tanpa diminta. Keduanya terkejut. Rahman lantas menegakkan kembali kepalanya. Dia berusaha menutupi ekspresi keterkejutannya.


"Kenapa nggak masuk? Apa ada yang tertinggal di mobil?" tanya Rahman.


"Eng-enggak mas," jawab Nurul terbata-bata karena masih gugup.


"Mulai sekarang kamu akan tinggal disini, jadi rumah ini juga rumahmu. Masuklah!" ucap Rahman yang hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Nurul.


Nurul berdo'a dalam hatinya. Ketika ia akan melangkahkan kaki kanannya, ia melihat tangan Rahman memegangi tuxedonya. "Maaf mas, biar jasnya Nurul yang bawa," Nurul mengulurkan tangan kanannya.


Rahman menoleh dan sedikit membungkukkan badannya. "Ini biar aku bawa sendiri. Atauuu,, kamu yang bawakan, dan aku akan 'bawa' kamu masuk rumah?" Rahman menggoda Nurul dengan tangan yang bersiap menggendongnya ala bridal style. Bola mata Nurul membola sempurna.


"Ehem,, ehem,," suara deheman seseorang yang sangat familiar bagi sepasang pengantin baru itu mengalihkan perhatian mereka. Mereka langsung menoleh ke arah sumber suara. Nampak seorang wanita paruh baya tengah bersandar pada pintu rumahnya dengan kedua tangan terlipat di dada sambil memperhatikan tingkah sepasang pengantin baru itu. Bu Dira pastinya. Rahman pun langsung menegakkan kembali posisi badannya.


"Kalian ini yaa,, kayak baru sekali menikah aja! Kalau mau romantisan di dalam sana, jangan di sini! Ada anak kecil juga, inget!" sungut bu Dira sambil menahan tawa. "Ayo nduk masuk! Tas kamu sudah dibawa masuk pak Slamet," ajak bu Dira sambil menghampiri Nurul.

__ADS_1


Bu Dira langsung menggandeng lengan Nurul dan mengajaknya masuk ke rumah. Rahman mengikuti mereka di belakang. Mereka telah ditunggu oleh yang lain di ruang keluarga. Sejenak melepas penat dengan canda tawa bersama seisi rumah.


__ADS_2