
" Mas Al mau buat apa itu legonya,??" tanya Riko antusias.
" Kita buat tank saja ya,nanti buat perang-perangan ceritanya. Tembak-tembakan dor,,dor,,dor." jawab Al.
" Oke mas" jawab Riko dan Rindi.
Rahman berdiri bersandar di tiang gazebo. Melihat ketiga anak kecil yang sedang asyik bermain. " Mari kita mulai jagoan!" gumam Rahman.
" Al Fatih!" Al lantas menoleh ke arah sumber suara.
" Iya Om!"
" Om bisa ngobrol sebentar nggak sama kamu. Berdua!" ucap Rahman yang telah duduk disamping Al.
" Boleh Om! Dek Riko sebentar ya,aku mau ngobrol dulu sama om Rahman." Riko dan Rindi pun mengangguk. Al pun lalu turun dari gazebo.
" Pakdhe pinjem mas Fatih bentar ya. Nanti main lagi." ucap Rahman pada Riko dan Rindi. Lantas berjalan berdua menuju ruang makan yang memang tak jauh dari pintu halaman belakang. Mereka pun duduk berhadapan dengan memutar kursi.
Rahman menuangkan air putih ke dalam gelas dan memberikannya pada Al. " Om Rahman,om kan yang waktu itu sholat jama'ah bertiga di masjid yang besar itu kan?" tanya Al setelah meminum sedikit air putih.
" Kamu masih inget sama Om? Om kira kamu lupa." Al hanya mengangguk.
" Waktu ketemu Om di depan waktu itu,Fatih bilang sama bunda,kalau Om imam yang waktu di masjid itu. Tapi kata bunda,mungkin cuma mirip. Yaudah,Fatih diem aja."
" Kan bunda juga nggak ketemu Om waktu itu. Jadi bunda mungkin nggak tahu. Oh iya,Om boleh tanya nggak? Kalau boleh,nanti jawabnya harus jujur ya!"
" Siap Om!"
" Fatih mau nggak punya ayah lagi,,??"
" Kenapa Om tanya gitu? Emang ada yang mau jadi ayahnya Al?"
" Ada pastinya. Kata bunda tadi,udah pernah ada yang mau jadi ayahnya Al,tapi nggak jadi. Kenapa hayooo??"
" Al nggak tahu Om,bunda nggak pernah bilang kenapa. Memangnya siapa Om yang mau jadi ayahnya Al?"
" Kalau om Rahman,boleh nggak??"
" Om memang mau jadi ayahnya Al? Berarti Om juga mau jadi suaminya bunda? Bunda itu sakit lho Om. Om bisa terima bunda apa adanya?"
" Memang bunda sakit apa Al?"
" Bunda itu kalau marah atau tertekan perasaannya bisa diluar kendali om. Bahkan bisa melukai orang lain atau diri bunda sendiri. Ya walaupun udah lama nggak kambuh,tapi Al nggak tahu apa bunda udah sembuh atau belum." jawab Al sedih mengingat kondisi sang ibu.
" Al pernah dilukai bunda?" Rahman mulai khawatir.
" Belum Om. Uti pernah bilang ke Al,kalau bunda diluar kendali,Al disuruh ngunciin bunda di kamar. Di kamar bunda,pokoknya nggak boleh ada barang tajam. Al nanti nunggu bunda lebih tenang,baru buka pintunya."
__ADS_1
" Terakhir bunda kayak gitu kapan Al?"
" Kapan ya Om,udah agak lama sih. Gara-gara bunda dicap 'Janda Gatel' sama ibu-ibu sekitar rumah. Padahal bunda nggak pernah ngelakuin yang mereka bilang. Untung ada budhe Tika yang membela bunda,bunda jadi berani ngelawan. Tapi habis itu,bundaaa,,,"
" Iya udah,Om paham. Bundamu butuh ditenangin. Kamu hebat!" Rahman menunjukkan kedua ibu jarinya." Kamu pernah nggak Al,minta dicariin ayah baru sama bunda?"
" Nggak pernah Om. Kasihan bunda."
" Kenapa?"
" Bunda udah capek kerja buat nyukupin kebutuhan Al sama bunda sendirian. Apalagi,bunda harus terima dicap yang nggak pernah bunda perbuat,Al nggak tega kalau lihat bunda harus mikirin cari ayah baru buat Al. Al nggak mau bunda terlalu berat fikirannya." Rahman terkejut mendengar penuturan anak laki-laki delapan tahun itu.
" Bukannya ada laki-laki yang deketin bunda buat dijadiin istrinya? Kan nanti juga jadi ayah kamu?"
" Mereka selalu cuek sama Al. Paling beliin mainan atau makanan buat Al,udah. Al nggak mau. Apalagi ketika mereka tahu bunda sakit,,," jawab Al sedih.
" Kalau om Rahman jadi ayahnya Al yang baru,,Al mau nggak?"
" Kenapa Om mau jadi ayahnya Al? Dan kenapa mau jadi suaminya bunda?"
" Karena Al dan bunda istimewa. Kalian hebat,makanya Om mau nikah sama bunda dan jadi ayahmu. Kamu mau?" Al hanya tersenyum mendengar ucapan Rahman.
" Om nggak menyesal nanti?" Al berusaha meyakinkan.
" Apa yang harus disesali?"
Rahman pun membalasnya dengan berbisik di telinga kanan Al, " Makasih ya jagoan!". Al mengangguk dengan sangat kencang. Al senang karena ada orang yang mau jadi ayahnya. " Semoga Al nggak salah pilih ya Allah."
Di sisi lain,ada sepasang mata yang diam-diam melirik ke arah dua laki-laki yang sedang mengobrol itu. Nurul memperhatikan sang putra yang entah kenapa bisa begitu santai mengobrol dengan Rahman. Dia sangat tahu,bahwa Al bukanlah tipe anak yang mudah dirayu. Apa lagi dengan orang asing. " Kenapa mereka ngobrol santai sekali ya?"
" Mbak kenapa diem aja?" suara Fatimah menyadarkan lamunan Nurul.
" Nggak papa."
" Nggak usah khawatir mbak,Al nggak diapa-apain kok sama mas Rahman. Mas Rahman itu sebenarnya suka sama anak kecil,tapi karena kondisinya,dia tidak dikaruniai momongan sama Allah dari pernikahannya yang dulu." jelas Fatimah. " Mas Rahman itu pasti seneng banget kalau Riko sama Rindi dateng ke sini. Di rumah ini tu belum ada anak kecilnya,tapi mainan anak-anak banyak banget mbak. Yang terakhir,mas Rahman tu beliin PS 5 buat mereka,biar mereka betah main di rumah." Nurul tersenyum mendengar perkataan Fatimah.
Waktu terus bergulir. Semua sibuk dengan obrolan masing-masing. Al pun sudah kembali berkutat dengan Riko dan Rindi yang sudah berpindah tempat main ke ruang keluarga.
" Maaf bu Dira,sudah malam. Nurul dan Al mau permisi pulang dulu." Nurul lalu mengambil ponselnya hendak memesan taksi online.
" Fatimah panggilin Al dulu ya mbak." Nurul pu mengangguk ke arah Fatimah. Fatimah lantas berdiri meninggalkan Nurul dan bu Dira.
" Biar diantar Rahman ya nduk pulangnya." jawab bu Indira membuat Nurul menghentikan aktivitasnya. "Man,ini Nurul sama Al anterin pulang yaa!" Rahman lantas berdiri dari kursi tempatnya dan Al tadi mengobrol.
" Eh,nggak usah repot-repot bu'. Nurul bisa pulang pakai taksi online." tolak Nurul hati-hati.
" Nggak repot kok nduk,kan cuma deket. Ya kan Man?Atau kamu mau nginep sini aja? Kalian juga bisa ngobrol nanti di mobil,biar saling kenal lagi." goda bu Indira.
__ADS_1
" Nggak usah bu Dira,saya naik taksi saja." Nurul masih menolak.
" Nggak ada penolakan. Tuh Rahman udah ambil kunci mobil." tunjuk bi Dira pada Rahman yang sudah berjalan hampir sampai pintu depan.
" Bunda mau pulang sekarang?" tanya Al yang sudah berdiri di depan Nurul. Raut wajahnya sudah terlihat lelah dan mengantuk.
" Iya Al,ayo pulang udah malam. Kamu juga udah ngantuk gitu kayaknya." Al hanya mengangguk. " Yaudah,pamit dulu sama oma sama yang lain juga"
Semua sudah berkumpul di ruang tamu. " Bu Dira,mas Ali,mbak Fatimah,Riko Rindi kami permisi pulang dulu ya."
" Iya nduk,hati-hati ya. Satu minggu lagi,pas hari Minggu ibu' akan kerumahmu." bu Indira memeluk Nurul.
" In shaa Allah bu'." jawab Nurul singkat. Nurul dan Al bersalaman pada semua. Mereka mengantar Nurul sampai pintu depan. Di depan rumah,Rahman sudah menunggu di dalam mobilnya.
Dari dalam rumah tampak seorang perempuan paruh baya,sedikir berlari kecil membawa paper bag. " Ini bu',lupa yang buat mbak Nurul." ucap perempuan itu,yang tak lain adalah asisten rumah tangga bu Indira. Ia langsung menyerahkan paper bag itu pada bu Indira.
" Oh iya nduk,ini dibawa pulang ya. Buat Al. Jangan nolak pokonya!" paksa bu Indira sambil menyerahkan paper bag di tangannya.
Nurul sudah tidak ingin berdebat kecil dengan bu Indira karena menolak. Ia pun lantas menerimanya. " Terima kasih banyak bu Dira. Hanya Allah yang bisa membalas kebaikan bu Dira sekeluarga. Kalau begitu,saya permisi dulu bu Dira,semuanya. Assalamu'alaikum."
" Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh." jawab semua orang.
" Bunda Al di belakang aja ya,mau bobok." ucap ketika hendak masuk mobil.
" Nggak papa mbak,mbak Nurul yang di depan sama mas Rahman. Masak iya mas Rahman di depan sendiri,kayak sopir taksi aja. hhihihihi" bu Indira menyenggol lengan putrinya.
" Bener juga kata Fatimah. Nggak enak sama mas Rahman,udah repot-repot nganterin pulang,masak disamain kayak sopir taksi." Nurul bergumam dalam hati. Nurul hanya tersenyum. " Yaudah Al dibelakang. Tapi nanti kalau udah sampai,dibangunin Bunda harus bangun ya."
" Iya Bunda!" Al langsung masuk ke mobil SUV berwarna putih milik Rahman. Begitu pula dengan Nurul.
" Hati-hati ya Man bawa mobilnya,,nggak usah ngebut-ngebut." bu Indira menahan tawanya melihat Nurul dan Rahman yang sudah duduk berdampingan di mobil.
" Iya bu'. Assalamu'alaikum." jawab Rahman.
" Wa'alaikumussalam." semua orang saling melambaikan tangan. Rahman pun mulai melajukan mobilnya.
" Alhamdulillah." semua orang di rumah berucap syukur. Satu langkah telah terlaksana. Usaha dan do'a telah dilakukan. Hanya perlu tawakkal pada Allah. Allah pasti akan memberikan yang terbaik.
...****************...
Halo readers semua 🤗🤗
Terima kasih untuk dukungan kalian semua. Sekali lagi author minta maaf kalau cerita dan penulisannya kurang rapi. Mohon kritik dan sarannya,agar author yang masih amatir ini bisa jadi lebih baik 😊
Silahkan tinggalkan jejak,,biar author juga tambah semangat lagi update ceritanya 😁😁
Terima kasih semuanya,,love you all..😘😘😉
__ADS_1