Istri Pilihan Sang Duda

Istri Pilihan Sang Duda
Mulai Terbiasa


__ADS_3

Gemuruh deru mesin kendaraan memenuhi jalanan. Memaksa setiap pengguna jalan untuk saling berbagi dengan yang lain. Menciptakan alur, yang sesungguhnya telah Allah rangkai hingga sedemikian rupa.


Mobil Rahman baru saja keluar dari parkiran warung makan yang ia singgahi. Tiba-tiba ponselnya berdering. " Nurul, bisa tolong kamu lihat siapa yang menelfon! Jalanan sedang ramai."


Nurul mengambil ponsel Rahman yang sengaja Rahman letakkan di sebelah kirinya.


Burhan is calling...


"Burhan mas," Nurul membaca nama yang tertera pada ponsel Rahman.


"Sebentar, aku akan ambil wireless earphone ku,," Rahman merogoh sesuatu di dekat tuas panel persnelingnya. Ia lalu memasangkannya di telinga sebelah kirinya dan memulai panggilannya. Nurul lalu meletakkan ponselnya kembali.


"Assalamu'alaikum. Kenapa pagi-pagi?"


"Wa'alaikumussalam. Tumben belum sampai kantor?"


"Aku nggak ke kantor hari ini. Ada urusan yang harus diselesaiin. Kamu sama Shodiq handle kayak biasa ya!"


"Kemana? Tumben mendadak?"


"Kencan! Masak iya aku kencan mesti pamitan sama kalian, kan nggak lucu juga." Nurul seketika menoleh ke arah Rahman.


"Waaahhh,, bener-bener ini duda! Minta disunat lagi ya itu juniornya biar nggak bisa macem-macem? Maen ninggalin kerjaan gitu aja nggak pamitan!"


"Diem ah, ganggu aja kalian ini! Lagian nggak ada jadwal meeting juga hari ini."


"Terserah deh!"


"Gitu dong dari tadi! Yaudah, jalanan lagi rame banget, aku lagi bawa mobil. Kalau nggak fokus repot nanti!"


"Yang bikin nggak fokus yang disebelah tuu, hhaha" dan tut,,tut,,tut. Panggilan tiba-tiba terputus. Rahman pun lantas melepas earphone nya.


"Maaf ya Rul, asisten pribadiku tadi. Emang agak nyebelin orangnya." ucap Rahman.


"Iya mas nggak papa. Tapi kalau nyebelin kenapa masih dijadiin asisten pribadi mas? Baru?" tanya Nurul yang sudah mulai hilang kegugupannya.


"Dia sebenarnya temanku sejak SMA. Aku, Burhan dan Shodiq teman dekat sejak SMA sampai sekarang. Shodiq jadi sekertarisku, Burhan jadi asisten pribadiku. Di kantor kami seperti itu, tapi diluar itu kami sahabat dekat." jelas Rahman.


"Persahabatan yang hebat." Nurul tersenyum.


Rahman melirik senyuman itu. " Kamu kenapa tadi nggak jadi makan? Kamu nghak suka soto? Kenapa nggak bilang?"


"Bukan mas, bukan itu."


"Lalu? Kamu belum makan pagi kan? Atau kamu sebenarnya sudah makan tadi di rumah?"


"Belum mas, Nurul juga belum makan tadi di rumah."


"Terus kenapa nggak makan? Kamu nggak lagi puasa kan?" Nurul terdiam.

__ADS_1


"Bohong dosa, pahala puasaku berkurang. Nggak bohong nanti langsung ketahuan. Ibadahku cukup aku dan Allah yang tahu," Nurul bergumam.


"Kenapa diem? Kamu puasa ya? Kenapa nggak bilang?" Rahman masih terus bertanya.


Nurul hanya tersenyum tak menanggapi pertanyaan Rahman. Rahman pun seperti mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.


"Kamu puasa apa? Bentar,,, ini hari Rabu. Yang pasti bukan puasa Senin-Kamis. Puasa Ayyamul bidh juga bukan,karena semalam bulan sabit." Rahman menyunggingkan senyum kecilnya dan menoleh ke arah Nurul,"Kamu puasa daud ya?"


Nurul seketika menoleh ke arah Rahman. Mata mereka saling bertaut. Seolah mereka berbicara tanpa berucap. "Sudah berapa lama?" tanya Rahman membuat Nurul tersadar.


"Ah sudahlah, dia juga akan menjadi suamiku sebentar lagi. Mau tak mau aku juga harus meminta izinnya jika ingin melanjutkannya." Nurul akhirnya mengaku. "Iya mas. Kalau ditanya sejak kapan,, sebenarnya sejak sebelum Nurul menikah. Tapi sempat berhenti karena hamil dan menyusui Al. Setelah selesai menyusui,lalu mencoba membiasakan diri lagi dengan puasa Senin-Kamis. Dan akhirnya baru memulai lagi puasa Daud."


"Kamu hebat." puji Rahman.


"Ah nggak mas. Ini semua belum ada apa-apanya jika dibandingkan dosa yang sudah Nurul lakuin dulu."


"Setiap manusia pasti pernah melakukan dosa. Selama dia akhirnya sadar dan bertaubat, pasti ada jalan kebaikan untuknya."


"Terima kasih mas."


"Oh iya, nanti dari Jogja kita ke rumah ya. Ditunggu ibu', katanya pengen ketemu sama kamu."


"Maaf mas Nurul nggak bisa. Nurul hari ini nggak ambil libur, hanya tukar shift saja. Nanti pulang dari Jogja Nurul harus masuk kerja. Tolong sampaikan maaf Nurul buat ibu'." jelas Nurul.


"Lalu Al gimana? Sendirian di rumah sampai kamu pulang kerja? Kamu pulang kerja jam berapa padahal?"


"Iya mas. Nurul pulang sekitar jam setengah sepuluh malam. Semalam Nurul sudah jelasin ke Al kok. Lagian juga Nurul nggak pernah masuk malam,pasti masuk siang biasanya."


"Eh nggak usah mas,, nanti malah ngerepotin bu Dira sama mas Rahman. Al nggak papa kok di rumah sendiri."


"Nggak papa Rul. Ibu pasti juga seneng Al bisa main ke rumah. Nanti malam biar aku antar Al pulang kalau kamu sudah pulang kerja."


"Tapi mas,,,," Nurul berusaha menolak.


"Nggak ada tapi-tapian. Kamu juga tenang kan kalau Al nggak sendirian di rumah?"


"Iya juga sih,," Nurul memikirkan apa yang diucapkan Rahman. " Kenapa pada pinter sih ngebujuk orang? huuhh,,"


"Yaudah,, nanti biar Al dijemput ibu kalau udah pulang sekolah."


"Tapi nanti biar Nurul yang jemput Al di rumah mas Rahman setelah pulang kerja,, nggak usah di antar pulang Al nya. Masak ngerepotin mas Rahman terus?


"Kamu nggak capek?"


"Enggak mas, nggak papa. Nggak nyaman rasanya ngerepotin mas Rahman terus."


"Nggak direpotin kok. Nggak papa."


"Nggak usah mas! Biar nanti pulang kerja Nurul yang jemput Al ke rumah mas Rahman."

__ADS_1


"Kita ke SPBU sebentar ya." Rahman mengalihkan pembicaraan ketika melihat SPBU di tepi jalan. Suasana sudah mulai tak terasa cangggung.


"Iya mas." Mobil Rahman pun lalu memasuki area SPBU cukup besar. Ada satu antrian mobil di depan. "Maaf mas,Nurul mau ke toilet dulu."


"Ya, silahkan. Apa perlu aku temani?" goda Rahman.


"Enggak mas. Masih siang, berani,, hhihi" Nurul cekikikan membuat Rahman terkejut. Nurul segera keluar dari mobil dan mencari toilet. Rahman pun mengisi bahan bakar mobilnya.


Ketika ia selesai, Nurul belum kembali dari toilet. Ia memilih memarkirkan mobilnya di dekat toilet. Ponselnya kembali berdering.


Ibu' is calling...


"Assalamu'alaikum bu'?"


"Wa'alaikumussalam. Kamu udah jadi makan sama Nurul?"


"Sudah bu'. Tapi Rahman cuma makan sendiri karena Nurul ternyata sedang puasa Daud."


"Apa? Dia puasa Daud?"


"Iya bu'. Dan ternyata Nurul hari ini nggak libur kerja bu'. Jadi Al akan di rumah sendirian sampai malam."


"*I*yaa,biar nanti ibu jemput Al waktu pulang sekolah."


"Iya bu'. Yasudah bu', itu Nurul sudah selesai dari toilet. Rahman lanjutin lagi bu' perjalanannya."


"Yaa. Hati-hati ya! Bilang sama Nurul nggak usah khawatirin Al, nanti ibu jemput dia!"


"Iya bu'. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam." panggilan pun berakhir tepat saat Nurul sampai di dekat Rahman.


"Sudah selesai? Ayo berangkat lagi!"


"Iya mas." mereka pun lalu masuk ke mobil dan melanjutkan perjalanan ke Jogja. Rahman sengaja tidak melibatkan asisten pribadinya dalam urusan pernikahannya kali ini. Dia tidak ingin jadi bahan bully-an kedua temannya. Hhaha,, aneh bukan alasannya. Ya karena memang seperti itulah kedekatan mereka.


"Listening music?" tanya Rahman.


"Ini mobil siapa mas?" Nurul balik bertanya pada Rahman.


"Mobil ku!" jawab Rahman heran.


"Yasudah mas! Silahkan! Ini kan mobil mas Rahman sendiri, mas nggak perlu izin ke Nurul kan? hhihi"


"Eh, hhaha. Bener juga kamu!" mereka mulai terbiasa dengan kehadiran satu sama lain. Iya harus dong! Masak mau diem-dieman kayak orang nggak saling kenal.


"Suka lagu manca atau indo?"


"Tergantung mood mas. Lagian di tempat kerja juga tiap hari pada rebutan buat play favorit masing-masing. Nurul cuma ikut aja."

__ADS_1


Rahman pun lantas mulai menghidupkan music player di mobilnya. Mereka terhanyut dengan play list milik Rahman. Yang ternyata Nurul pun juga menyukai play list milik Rahman. Bahkan mereka bisa sambil bersenandung kecil mengikuti alunan lagu yang sedang diputar.


Perlahan namun pasti. Mereka menikmati kebersamaan mereka. Meski belum lah terlalu dekat dan bisa saling terbuka dengan perasaan, tapi mereka mulai bisa merasa nyaman dengan satu sama lain. Mungkinkah ini menjadi suatu awal yang baik bagi hubungan mereka??


__ADS_2