
Detik berganti menit. Menit berganti jam. Jam pun berganti hari. Nurul masih setia dengan do'anya pada Sang Kuasa agar diberi kemantapan hati dan akan menjadi yang keputusan terbaik bagi kehidupannya.
Tak terasa satu minggu telah berlalu. Hari ini Nurul sengaja mengambil libur untuk menyiapkan sedikit makanan karena akan ada tamu datang ke rumahnya. " Al,mau ikut Bunda ke warung budhe Linda nggak,,?? Bunda mau ambil kue brownis yang dipesen kemarin,,sama beli beberapa jajan pasar." Nurul bertanya pada Al yang baru keluar dari kamarnya setelah selesai mandi.
" Iya Bunda ikut. Mau ada tamu ya Bunda,,kok beli kue banyak,,??" tanya Al penasaran,karena tak biasanya sang bunda beli banyak makanan kecuali kalau ada tamu yang mau datang ke rumah.
" Iya sayang. Oma Dira mau kesini nanti,In shaa Allah."
" Yang bener Bunda,,? Sama om Rahman nggak Bunda?"
" Kalau itu Bunda nggak tahu sayang. Yuk buruan udah jam 7,,nanti keburu jajanan di warung budhe Linda habis lagi. Ini kan hari Minggu,pasti ramai warungnya."
" Siap Bunda!!" Al pun lantas keluar rumah lebih dulu. Nurul pun lantas menutup dan mengunci pintu rumahnya. Mereka berjalan kaki menuju warung salah satu warga yang menjual beberapa macam makanan tradisional dan kue. Nurul pun membayar kue yang ia pesan kemarin,tak lupa membeli tambahan sedikit kue lainnya. Setelah selesai,mereka lantas pulang ke rumah.
Saat mereka masih asyik berbincang di jalan menuju rumah tiba-tiba ada seseorang yang memanggil " Al Fatih!" Nurul dan Al menghentikan langkah mereka dan menoleh ke arah sumber suara.
" Oma Dira!" Al dan Nurul pun tersenyum. Mereka pun menghampiri bu Indira. Bu Indira pun terlihat nampak sangat bahagia dari raut wajahnya.
" Ya Allah,,kok udah dateng tamunya. Padahal belum jadi masak akunya." Nurul kebingungan dalam hatinya. Karena dia mengira bu Indira akan datang siang atau sore hari,tidak sepagi ini.
" Assalamu'alaikum nduk!" bu Indira mengucap salam,yang langsung dijawab oleh Nurul dan Al sambil menyalami tangan perempuan paruh baya itu.
Terdengar suara pintu mobil yang tertutup dari sisi lain. Tak lama,seorang laki-laki tampan muncul dari depan mobil dengan dandanan casual. Dia lantas mengulas senyum ketika melihat dua orang yang akan dikunjunginya. " Om Rahman juga datang." sapa Al yang lebih dulu melihat sosok laki-laki itu mendekat.
" Iya sayang,kan mau ketemu sama kamu sama Bunda." jawab bu Indira.
Rahman pun lantas mengucap salam, " Assalamu'alaikum." Yang lantas dijawab oleh semua dan Al pun langsung menyalami tangan Al. Nurul pun tersenyum ke arah Rahman dan sedikit membungkukkan badannya. Rahman pun melakukan hal yang sama.
" Kalian dari mana?" bu Indira penasaran.
" Dari beli kue Oma." Al menunjukkan tas plastik yang ia bawa.
" Mari bu Dira,mas Rahman ke rumah. Ngobrolnya dilanjutkan di rumah saja!"
__ADS_1
Bu Dira lantas merangkul pundak Al dan berjalan berdampingan dan melanjutkan obrolan. Nurul dan Rahman,,jangan ditanya. Mereka di belakang bu Dira dan Al cuma berjalan biasa dan masih saling menjaga jarak dan saling diam. ( padahal disini ceritanya nggak ada Covid-19 lhooo yaa 😄)
Hingga mereka sampai di depan rumah Nurul. Nurul bersiap mengambil kunci di saku rok panjangnya,tiba -tiba bu Dira menoleh kebelakang,," Kalian nggak lagi berantem kan? Dari tadi pada diem-dieman kayak orang baru berantem aja."
Nurul dan Rahman tiba-tiba saling pandang. " Enggak kok bu'!" mereka kompak menjawab pertanyaan bu Dira. Dan saling pandang kembali setelah tidak sengaja menjawab pertanyaan dengan kompak. Mata mereka saling bertemu.
" Subhanallah,,apa mas Rahman memang setampan ini??,, Astaghfirullah,,ndak boleh Rul,ndak boleh!! Jaga mata jaga hati Rul!!"
" Masya Allah,,tatapan mata yang begitu teduh." Rahman berusaha mencairkan suasana dengan mengulas senyum di bibirnya. Nurul menganggukkan kepalanya. Senyumnya tertutup masker yang ia kenakan.
Nurul lantas membukakan pintu rumahnya setelah membuka kunci pintu terlebih dahulu. " Silahkan masuk bu Dira,mas Rahman! Maaf tempatnya tidak begitu nyaman." Bu Indira dan Rahman pun masuk ke dalam. Nurul mempersilahkan dua tamunya duduk di atas sebuah karpet tipis. Memang tak ada kursi atau sofa untuk tamu di rumah Nurul. Hanya ada sebuah karpet tipis yang biasa menjadi tempat bercengkrama Nurul dan Al atau sekedar menonton tv. Karena memang jarang ada tamu yang datang. Kalaupun ada mungkin hanya tetangga yang sekedar ngobrol santai.
Nurul pun lantas menuju dapur untuk menyiapkan minum dan camilan untuk tamunya,tak lupa ia melepaskan masker yang tadi ia kenakan ketika keluar rumah. Tak lama,Nurul sudah membawa nampan berisi tiga gelas minuman dan dua piring kue. " Silahkan bu Dira,mas Rahman!". Setelah Nurul mengembalikan nampan ke dapur,dia ikut duduk bersama kedua tamu dan putranya. " Wahai jantungku,,berdegupnya santai saja,,jangan kenceng-kenceng. Nanti kalau sampai lepas kan bahaya!!" Nurul benar-benar gugup saat ini.
" Kamu libur nduk,,??" tanya bu Dira setelah menyicip teh hangat yang disediakan Nurul.
" Iya bu',,libur hari ini. Lagi pula,Nurul juga nggak tahu bu Dira mau ke sini jam berapa,takutnya kalau Nurul nggak libur,kan cuma ada Al di rumah kalau bu Dira datang." Obrolan pun berlanjut. Bu Dira menanyakan beberapa hal tentang rumah kontrakan yang ditempati Nurul dan tentang sekolah Al.
" Nduk,,!!"
" Gimana nduk jawabanmu,,??"
Deg. Nurul kebingungan hendak menjawab pertanyaan bu Dira. Sungguh ia pun belum yakin dengan hatinya. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Nurul hanya terdiam.
" Apa kamu belum yakin nduk dengan jawabanmu,,??" tanya bu Dira kembali ketika melihat Nurul hanya terdiam. " Apa ada yang mengganjal fikiranmu yang ingin kamu tanyakan dulu,,??"
" Sayaaaa,,"
" Atau begini saja,,karena kamu libur hari ini,,bagaimana kalau kalian datang ke rumah lagi? Ada yang ingin ibu tunjukkan padamu."
" Eemm,,tapi bu',,"
" Al mau nggak main lagi ke tempat Oma lagi,,??" bu Dira bertanya pada Al.
__ADS_1
" Apa ada dek Riko sama dek Rindi juga Oma,,??"
" Nggak ada sayang! Dek Riko sama dek Rindi nggak datang hari ini."
" Memang rumahnya dek Riko sama dek Rindi dimana Oma?" Al penasaran.
" Jauh sayang,,di Semarang." Al hanya menganggukkan kepala. Karena dua sendiri belum tahu dimana Semarang itu.
" Al nanti main sama om Rahman aja,,mau nggak,,??" Rahman tiba-tiba menimpali.
" Om mau main sama Al,,??"
" Kenapa nggak mau,,?? Nanti kita bisa main kayak kamu main sama dek Riko kemarin,,atau kamu mau jalan-jalan sama Om,,?? Juga boleh kok,,!!" jawab Rahman lebih antusias.
" Boleh Bunda,,??" Al meminta izin pada ibunya.
" Nggak papa nduk,lagian kan kamu juga libur hari ini. Yuk ke rumah Ibu' lagi!!" ajak bu Indira.
" Ya Bunda,,boleh yaaa!!" Al tiba-tiba merengek.
" Kenapa kamu jadi merengek gini Al?? Hadduuhh!! Mesti gimana lagi ini,,??" Nurul pun menghela nafas pelan. " Yaudah,,iya boleh.!" Nurul akhirnya menerima ajakan bu Indira dan permintaan Al. " Tapi janji,,nggak boleh nakal ya sama om Rahman. Dan main di rumah aja,nggak usah jalan-jalan!!"
" Siap Bunda." jawab Al senang.
" Yaudah,Al ganti baju dulu ya!" perintah Nurul. Al langsung berdiri dan berlari menuju kamarnya untuk berganti baju. Tak lama Al sudah keluar dari kamarnya dan sudah berganti pakaian.
" Bunda nggak ganti baju,,??" tanya Al.
" Iya sebentar. Bunda nungguin kamu ganti baju dulu. Kamu di sini nemenin oma Dira sama om Rahman dulu ya!" Al mengangguk lalu duduk kembali menemani bu Indira dan Rahman. Mereka bertiga mengobrol lagi setelah Nurul berpamitan untuk ganti baju.
Setelah Nurul berganti baju,semua beranjak dari duduknya dan bersiap pergi ke rumah bu Indira. Nurul mengambil kue yang sudah ia persiapkan untuk diberikan pada bu Indira. Lalu mereka meninggalkan rumah kontrakan sederhana itu. Ada beberapa pasang mata yang memperhatikan ketika mereka berjalan menuju mobil yang terparkir di depan gang. Nurul tidak enak hati oleh bu Indira dan Rahman atas tatapan beberapa orang pada mereka. Tapi sepertinya bu Indira dan Rahman tidak merasa terganggu dengan itu. Nurul berusaha menenangkan hatinya. Hingga mereka telah sampai di tempat Rahman memarkirkan mobilnya.
" Nduk kamu temenin Rahman di depan ya! Ibu' di belakang sama Al." perintah bu Indira.
__ADS_1
" Tapi bu',," Nurul berusaha menolak.
" Ayo Al,,kita duduk di belakang ya!" ajak bu Indira pada Al. Al pun mengangguk dan langsung masuk ke mobil. Akhirnya Nurul pun hanya bisa pasrah dan duduk di kursi depan di samping Rahman yang mengemudi. Hingga mobil pun mulai melaju menuju Komplek Perumahan X.