Istri Pilihan Sang Duda

Istri Pilihan Sang Duda
Tangisan


__ADS_3

Tak selamanya badai itu datang. Akan selalu ada cahaya mentari yang datang setelah badai usai. Akan ada pelangi setelah hujan berhenti. Dan akan ada terang setelah gelap datang.


Setelah Rahman pulang dari rumah sakit, kondisinya membaik dengan cepat. Selama satu bulan ia tidak bekerja sama sekali. Bu Dira membiarkannya memulihkan diri sepenuhnya di rumah. Bu Dira sementara menggantikannya di kantor.


Rahman pun benar-benar menikmati waktunya bersama keluarga kecilnya di rumah. Meski luka di badannya masih terasa sakit, ia menikmatinya. Ia benar-benar bersikap manja pada Nurul. Terlebih ketika siang hari, saat Bu Dira di kantor dan Al pergi sekolah. Ia berubah jadi bayi besar yang sangat manja.


Seperti hari ini, Rahman mulai belajar menggendong Hilya, putri kecilnya. Karena selama ini, ia masih belum berani menggendong putrinya itu. Ia hanya memeluk dan menemani Hilya ketika ia berbaring di ranjangnya. Luka di bahunya belum sembuh sempurna, ia belum diizinkan untuk mengangkat sesuatu.


Rahman sangat ingin menggendong putrinya, ia lalu berkonsultasi dengan dokternya. Dan dokter mengizinkannya dengan catatan, tidak boleh terlalu lama. Rahman sangat bahagia.


"Sayang, tolong bantuin Mas gendong Hilya!" Pinta Rahman ketika Nurul selesai makan dan kembali ke kamarnya.


"Mas yakin? Lukanya gimana Mas?" Tanya Nurul khawatir.


"Udah boleh sayang. Mas tadi udah tanya sama dokter, cuma belum boleh lama-lama." Jawab Rahman penuh semangat.


Nurul pun tersenyum. Ia lalu menggendong Hilya yang tengah tertidur di box bayi. Membawanya ke sofa dan perlahan menyerahkannya ke gendongan Rahman. Rahman berusaha membuat Hilya nyaman digendongannya.


Hilya sedikit terusik tidurnya. Ia menggeliat dalam gendongan Rahman.


"Sayang, ini gimana?" Rahman sedikit kebingungan.


"Tenang Mas, biar Hilya nyaman! Sedikit di timang mas, digoyangin pelan-pelan gendongnya." saran Nurul yang telah duduk di samping Rahman.


Rahman pun melakukan apa yang dikatakan Nurul. Hilya mulai tenang kembali. Ia kembali tertidur nyenyak dalam gendongan Rahman. Rahman pun tersenyum bahagia. Nurul pun tak kalah bahagia.


"Sayang, nifasmu sudah selesai bukan?" tanya Rahman.


"Sudah Mas, kenapa?"


"Kamu mau nggak bulan madu?"


"Bulan madu?" Nurul bertanya penuh kebingungan.


"Iya sayang, kita belum pernah bulan madu semenjak kita menikah."


"Kita menikah sudah hampir satu tahun Mas, dan bahkan sudah ada Hilya sekarang."


"Memangnya kenapa Sayang?"


"Bukannya kalau bulan madu itu setelah melangsungkan pernikahan ya Mas? Kita menikah aja udah hampir satu tahun."


"Siapa yang bilang kalau bulan madu itu harus setelah melangsungkan pernikahan?" Sindir Rahman.


"Nggak ada Mas. Tapi kalau di film-film atau di novel-novel itu Mas, kalau pasangan pengantin baru aja nikah, mereka terus bulan madu." Jawab Nurul polos.


"Kamu ini Sayang, korban cerita film dan novel."


"Emang ada yang salah ya Mas?"


"Bulan madu kan tujuannya supaya kita lebih dekat, saling mengenal dan,," Rahman menghentikan kalimatnya.


"Dan apa Mas?"


Rahman berbisik di telinga Nurul. "Dan lebih intim."


Nurul mebelalakkan matanya. Ia menelan salivanya dengan susah payah. Jantungnya berdegup kencang. Darahnya berdesir deras.


"Emang, kalau bulan madu ngapain aja Mas?"


"Ngapain aja bisa. Kamu maunya ngapain?"


"Nurul nggak tahu Mas. Emang Mas mau ngapain kalau bulan madu?"


"Mau makan kamu sepuasnya." Rahman kembali berbisik di telinga Nurul dengan nada yang sangat mesra.


Bulu-bulu halus di tubuh Nurul meremang sempurna. Fikirannya melayang jauh. Ia sudah paham maksud dari ucapan Rahman tadi.

__ADS_1


"Kan di rumah bisa Mas?"


"Beda Sayang. Biar kita juga punya momen kenangan, berdua."


"Berdua? Kan ada Al sama Hilya."


"Aku pengen punya kenangan romantis berdua sama kamu Sayang."


"Lalu Al sama Hilya gimana Mas?"


"Itu biar aku yang urus Sayang, kalau memang kamu mau."


"Hilya masih kecil Mas. Nggak mungkin ninggalin dia."


"Berarti kamu mau Sayang?"


"Kalau Mas mau, Nurul nurut saja sama Mas."


"Makasih Sayang."


"Iya Mas." Mereka saling tersenyum bahagia.


Hilya sedikit menggeliat. Rahman mulai menimangnya lagi, tapi dia terlihat akan menangis.


"Sini Mas, biar Nurul susui dulu. Mungkin Hilya lapar."


"Iya Sayang." Rahman pun menyerahkan Hilya ke Nurul. Nurul segera menyusuinya.


Rahman melihat istrinya yang sedang menyusui dengan seksama. Menatap Nurul yang tengah memperhatikan Hilya dengan kehangatan. Fikiran nakalnya muncul.


"Sayang,,"


"Iya Mas,," Nurul menoleh ke arah Rahman. Rahman tiba-tiba berdiri lalu berlutut tepat di depan Nurul.


"Hilya sayang, Ayah boleh dong minta nenennya?" ucap Rahman sembari mengelus pipi putrinya yang tengah asik menyusu.


"Sayang, Ayah minta ya! Hilya satu, Ayah satu."


"Mas ini apa-apaan sih?" Pipi Nurul mulai merona.


"Memangnya nggak boleh sayang? Boleh yaaa,," Rahman menatap Nurul dengan wajah memelas.


"Kenapa Mas wajahnya kayak gitu?"


"Boleh yaa, sekarang, dikit aja!" Rahman masih merengek.


"Mas ini ada-ada saja. Hilya baru minum ini Mas."


"Berarti kalau Hilya selesai, boleh dong?"


"Hilya sayang, Ayah nggak usah dikasih ya! Buat Hilya aja semuanya, ya Sayang?" Ucap Nurul sembari mengusap pipi Hilya. Rahman pun memperhatikan putri kecilnya yang masih sibuk menyusu pada ibunya.


Tiba-tiba Hilya mengangguk sekali. Nurul tertawa seketika. "Hhaha, pinter anak Bunda!"


"Hilya sayang, jangan pelit-pelit dong sama Ayah!" Rahman masih merengek.


"Mas Rahman ini kenapa sih?"


"Kan aku juga mau istriku sayang!"


"Mau apa?"


"Mimik *****!" Jawab Rahman dengan nada manja seperti anak kecil.


"Hhaha,, kamu kayak Al kalau baru manja minta sesuatu Mas." Nurul menertawakan sikap Rahman.


"Beneran sayang! Boleh ya?" Rahman menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


"Mas Rahman, ini penuh asi Mas, sakit Mas kalau penuh gini. Biarin diminum sama Hilya dulu."


"Yaa biar aku aja yang minum, pasti cepet abis, nanti kan nggak sakit lagi. Ya Hilya sayang, yang satu buat Ayah, boleh kan?" Tangan Rahman sudah mulai nakal menjamah dada Nurul yang satunya.


"Maaass, sakiit!" Nurul bersungut kesal karena ulah tangan Rahman yang mulai meremas buah dadanya.


"Beneran sakit sayang?" Tanya Rahman tak percaya, tapi tangannya tetap bermain di dada Nurul.


"Maaassss,," Nurul mulai marah.


"Iya Sayang, iya, hhihi. Maaf," Rahman segera menarik tangannya kembali.


Rahman lalu bangkit dari berlutut. Ia kemudian duduk kembali ke sofa bersebelahan dengan Nurul. Ia mengubah posisi duduknya menghadap Nurul dan mengangkat satu kakinya ke sofa. Lalu memutar tubuh Nurul perlahan sehingga Nurul membelakangi Rahman. Rahman lantas menarik tubuh Nurul dari belakang ke dekapannya. Nurul hanya patuh sembari masih menyusui Hilya. Mereka menikmati siang itu bersama.


...****************...


Dua bulan berlalu. Keluarga kecil Rahman benar-benar menikmati hari-hari mereka kembali. Rahman pun sudah kembali bekerja ke kantor. Selama dua bulan, ia hanya bekerja dari rumah. Dan hanya akan ke kantor jika memang ada pertemuan yang harus ia hadiri.


Rahman juga sudah mahir membantu Nurul mengurusi Hilya. Nurul tidak mau memakai jasa pengasuh, ia ingin mengurusi anaknya sendiri. Meski sempat ditawari oleh Rahman dan Bu Dira, tapi Nurul menolaknya. Ia beralasan, bahwa ia masih mampu untuk mengurusinya tanpa bantuan pengasuh. Dan itu benar ia buktikan.


Tak ada yang terlihat aneh dari biasanya. Hingga malam itu, Nurul terbangun dari tidurnya karena tangisan Hilya. Rahman pun juga demikian. Tapi karena rasa kantuknya, Rahman kembali tertidur ketika Nurul sudah menenangkan Hilya. Rahman sempat melirik jam dindingnya, dan waktu menunjukkan pukul dua belas malam.


Rahman kembali terbangun ketika mendengar suara isak tangis seorang perempuan. Ia melihat ke sebelahnya, Nurul tak ada di sana. Hanya ada putri kecilnya tertidur lelap di sana. Ia melirik jam dindingnya yang menunjukkan waktu pukul satu malam.


Rahman segera beranjak dari tempat tidurnya. Ia mencari sumber suara yang membuatnya terbangun. Ia berjalan menuju walk-in closet miliknya. Pintunya sedikit terbuka. Rahman segera membuka lebar pintunya dan melihat Nurul yang sedang duduk dilantai sambil bersandar pada salah satu almarinya. Nurul terduduk membelakangi pintu masuk.


Tubuhnya terlihat bergetar. Kepalanya tertunduk dalam. Rahman segera menghampirinya. Ia berjongkok tepat disamping Nurul. Rahman meraih tubuh Nurul dan sedikit memutarnya. Rok panjang yang ia kenakan telah basah dibagian depannya. Ponsel yang dipegang Nurul terjatuh begitu saja kelantai.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Rahman sangat panik. Rahman segera memeluk tubuh Nurul erat.


"Kamu kenapa menangis? Apa ada yang sakit?"


Nurul masih tak menjawab. Tangisnya semakin menjadi. Tubuhnya bergetar lebih kuat. Isakan itu semakin keras. Rahman semakin panik karena tangisan Nurul.


Rahman melepaskan pelukannya. "Kamu kenapa sayang? Bicaralah! Apa aku menyakitimu?"


Nurul menggelengkan kepalanya pelan. Ia masih menangis.


"Kamu kenapa sayang?" Rahman meraih dagu Nurul. Menahan wajah Nurul agar tak tertunduk. Wajahnya begitu sembab. Mata dan hidungnya benar-benar merah. Wajahnya basah oleh air mata.


Perlahan Rahman mengusap airmata yang masih mengalir. Ia kembali memeluk tubuh istrinya. Membiarkannya menumpahkan tangisnya. Hingga beberapa saat, tangisnya mulai mereda. Rahman lalu melepaskan pelukannya.


Rahman duduk dilantai bersama istrinya. Ia sandarkan tubuh istrinya di dadanya. "Kamu kenapa sayang?"


"Ibu',, hiks, hiks,"


Deg. Rahman tertegun mendengar jawaban Nurul. Ia baru ingat, sudah beberapa bulan ia tidak mengantar istrinya pulang ke Jogja dan mengunjungi pusara ibunya. Bahkan sejak Nurul masih hamil delapan bulan.


"Maaf Sayang, aku lupa mengantarmu mengunjungi pusara ibu." Rahman mengeratkan kembali pelukannya.


Nurul menggelengkan kepalanya. "Maafkan aku Sayang! Karena kondisiku, aku lupa mengantarmu berziarah ke makam ibu." Ucap Rahman penuh penyesalan.


Nurul kembali menggelengkan kepalanya. "Akhir pekan kita pergi ke Jogja bersama Al dan Hilya. Ya?"


Nurul diam tak menjawab. "Ibu',, hiks, hiks," Nurul kembali menangis.


"Maafkan aku sayang!" Rahman masih memeluk istrinya. Ia membiarkan Nurul kembali menangis dipelukannya.


Nurul benar-benar merindukan almarhumah ibunya. Ia sudah sejak dua bulan terakhir merasakan rindu kepada ibunya. Ia sebenarnya ingin berziarah, tapi ia sadar bahwa suaminya masih belum pulih total. Ia hanya bisa memendamnya. Ia tak ingin kesehatan suaminya terganggu jika harus mengantarnya ke Jogja.


Nurul selalu teringat ibunya jika melihat Hilya. Karena ia ingat betul, ibunya sangat ingin melihat cucunya itu lahir. Tapi takdir berkata lain.


Hingga tadi, Nurul terbangun karena tangisan Hilya. Ia baru saja bermimpi tentang ibunya. Itulah sebabnya ia akhirnya menangis sendiri setelah Hilya kembali tertidur. Ia memandangi foto ibunya yang ada diponselnya.


Cukup lama Nurul menangis dalam pelukan Rahman. Hingga Rahman tak mendengar tangis dan isakan istrinya. Tubuhnya pun tenang bersandar sempurna pada Rahman. Rahman sedikit mengubah posisi Nurul hingga bersandar pada salah satu lengannya.


Nurul kelelahan karena menangis, hingga akhirnya tertidur dalam pelukan suaminya. Rahman segera mengangkat tubuh Nurul dan membawanya ke tempat tidur. Meletakkannya perlahan lalu menyelimutinya.

__ADS_1


"Maafkan aku Sayang!" Rahman mengecup kening Nurul dan mengusap kepalanya. Ia pun kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Dan mulai memejamkan mata sembari memeluk tubuh istrinya dari belakang.


__ADS_2