
Pagi menjelang. Awan mendung berarak menaungi langit pagi ini. Membawa suasana sendu di pagi hari.
Hingga pagi ini, Rahman dan Nurul masih belum sadarkan diri. Mereka masih berjuang dengan kondisinya masing-masing. Al yang khawatir dengan kondisi orang tuanya pun memilih untuk tidak berangkat sekolah dan menemani mereka di rumah sakit.
Pukul sepuluh pagi, Nurul mulai sadar. Perlahan ia membuka mata dan melihat sekeliling. Ia masih mencoba mengingat apa yang terjadi padanya. Ia melihat Al tengah duduk di sofa ruang rawatnya bersama Bu Dira.
"Al,," Nurul memanggil putranya dengan lirih. Al dan Bu Dira pun lantas menoleh dan menghampirinya.
"Bunda!" Al lantas menghambur memeluk ibunya.
"Apa ada yang sakit nduk?" Tanya Bu Dira. Nurul hanya menggeleng. Badannya masih terasa lemas. Bu Dira segera memanggil Arum.
"Putriku?"
"Adek di sana Bunda, baru tidur." Al menjawab sembari menunjuk sebuah box bayi yang berada tak jauh dari tempat tidur Nurul.
Nurul memperhatikan seksama bayinya yang berada di dalam box. Ia tampak tertidur tenang.
"Ayah gimana Al?" Al hendak menjawab tapi di cegah oleh Bu Dira.
"Kamu istirahat dulu saja nduk! Kondisimu masih belum pulih."
"Mas Rahman bagaimana Bu' kondisinya? Dia baik-baik saja kan Bu'?"
"Kamu jangan mikir yang macam-macam! Kamu harus menjaga kondisimu! Arum sebentar lagi datang."
"Bu', Mas Rahman bagaimana kondisinya?" Air mata itu mulai tumpah.
"Sudah nduk! Tenanglah! Kasihan Al dan putrimu jika kamu seperti ini." Bu Dira berusaha menutupi kecemasannya di hadapan Nurul.
Nurul masih terus menanyakan kondisi Rahman. Hingga akhirnya Arum datang.
"Dokter, bagaimana kondisi Mas Rahman?" Nurul langsung bertanya pada Arum yang baru saja memasuki ruangannya.
"Kamu ini Nyah! Baru juga sadar, sudah ribut saja. Tuh lihat, wajahmu saja masih pucat, badanmu juga masih lemas kan? Biar aku periksa dulu ya!" Arum berusaha mengalihkan perhatian Nurul.
Nurul akhirnya diam dan membiarkan Arum memeriksanya. Saat tangan Arum bekerja, otaknya berfikir bagaimana mengalihkan topik pembicaraan. Tak lama, Arum telah selesai memeriksa Nurul. Kondisinya sudah membaik. Hanya tinggal pemulihan.
"Kamu nggak mau peluk putrimu?" Tanya Arum.
"Dia sedang tidur Dokter." Jawab Nurul.
"Sebentar kan bisa. Kamu juga bisa menyusuinya lagi."
"Boleh Dokter?"
"Kenapa tidak?" Arum pun segera menggendong bayi kecil itu dan memberikannya pada Nurul. Nurul pun memeluk putri kecilnya di sampingnya sembari menyusui.
"Al, adeknya perempuan. Kayak yang kamu dan ayah pengen sayang." Al pun menghampiri ibunya.
"Iya Bunda, cantik." Al mencium pipi bayi kecil yang tengah sibuk menyusu itu.
Nurul tersenyum kecil dan mengusap kepala Al. Bu Dira dan Arum yang melihat itu sedikit lega, karena perhatian Nurul sejenak teralihkan dari Rahman. Mereka takut jika Nurul tahu kondisi Rahman, akan memperburuk kondisinya lagi.
Tak lama setelah itu Fatimah datang. Ia baru saja menjenguk kakaknya di ruang ICU. Fatimah lega karena akhirnya Nurul sudah sadar.
Bu Dira dan Arum pamit untuk berbincang di luar. Bu Dira ingin mengetahui kondisi Nurul seluruhnya. Ia mengajak Arum berbicara di luar ruang perawatan.
"Dek, kondisi Mas Rahman bagaimana? Mas Rahman nggak papa kan? Dia sudah sadar kan Dek?" Nurul memberondong Fatimah.
__ADS_1
"Mas Rahman,," Fatimah kebingungan mengatakannya pada Nurul.
"Dek katakan! Mas Rahman bagaimana?"
"Dia belum sadar Mbak. Kondisinya masih kritis kata dokter. Kemarin dia kehilangan banyak darah."
Nurul merasa dadanya begitu sesak. Matanya mulai terasa panas. Ia mengumpulkan semua tenaganya.
"Dek, bisa tolong ambilkan minum?" Fatimah pun langsung mengambilkan minum untuk Nurul.
Setelah selesai, ia kemudian bangun dan mulai turun dari tempat tidurnya sambil menggendong putrinya.
"Mbak Nurul mau kemana?" Tanya Fatimah.
"Mau ketemu Mas Rahman Dek! Mas Rahman dimana sekarang Dek?"
"Mbak Nurul harus istirahat dulu. Nanti aja Mbak ketemu Mas Rahmannya."
"Apa bedanya Dek sekarang atau nanti? Aku juga mau ngajak putriku ketemu ayahnya."
"Mbak Nurul belum pulih!" Fatimah berusaha mencegah Nurul.
"Iya Bunda. Bunda istirahat dulu!" Al pun berusaha mencegah ibunya.
"Al! Al sudah jenguk Ayah?" Tanya Nurul sembari berusaha menyeimbangkan tubuhnya yang lemas.
"Sudah Bunda."
"Kan Al sudah jenguk Ayah, Bunda sama adek kan belum sayang. Al bisa temani Bunda ke tempat Ayah?"
"Tapi Bunda, kata Oma, Bunda masih sakit."
"Mbak, nanti saja jenguk Mas Rahmannya! Mbak baru sadar kan?" Fatimah masih gigih mencegah Nurul.
"Dek, tolong! Aku cuma mau ketemu Mas Rahman. Mau lihat kondisinya." Nurul teringat kondisi Rahman ketika ia dibawa oleh mobil ambulan.
"Tapi Mbak,,"
"Sebentar saja Dek! Nanti balik lagi kesini. Tolong Dek, jangan mencegahku!"
Fatimah menghela nafas panjang. "Yaudah Mbak. Tapi sama Fatimah dan Mbak pakai kursi roda!"
"Iya, nggak papa. Makasih ya Dek!" Fatimah mengangguk pelan.
"Bentar Mbak, aku carikan kursi roda dulu!" Fatimah langsung keluar.
Tak lama ia kembali dengan mendorong sebuah kursi roda. Nurul pun segera duduk di sana dengan menggendong putri kecilnya. Fatimah dan Al pun lantas membawa Nurul ke tempat Rahman masih di rawat.
Saat sampai di ruang ICU, hanya Nurul yang diizinkan masuk. Akhirnya putri kecilnya ia titipkan pada Fatimah. Ia lalu dibantu perawat untuk menuju ke tempat Rahman.
"Mas Rahman,," Nurul berusaha berdiri di bantu perawat.
"Bisa tolong tinggalkan kami Suster?" Pinta Nurul.
"Iya Bu'. Nanti jika butuh sesuatu bisa panggil saya di sana!" Jawab perawat itu. Nurul hanya mengangguk. Perawat itu lalu meninggalkan Rahman dan Nurul.
Nurul memperhatikan seksama tubuh Rahman yang masih terbaring tak sadarkan diri. Beberapa kabel menempel di tubuh Rahman dan terhubung pada alat yang ada di samping tempat tidurnya. Perlahan Nurul mengusap luka di tubuh Rahman yang tertutup kain kasa dan perban.
"Mas, bangunlah! Aku di sini Mas. Bangunlah Mas!" Nurul mulai meneteskan air matanya. Ia menggenggam tangan Rahman dan menciuminya.
__ADS_1
"Mas, anak kita sudah lahir. Bukankan kamu ingin anak perempuan Mas? Allah mengabulkannya Mas. Allah memberi kita seorang putri yang cantik seperti yang kamu inginkan." Nurul mengusap wajah Rahman perlahan.
"Bangunlah Mas! Apa kamu tak ingin bertemu putrimu Mas? Menggendongnya, memeluknya, menjaganya? Dia menunggumu Mas. Kamu belum mengadzaninya Mas. Bangunlah Mas, kumohon!"
"Maafkan aku membuatmu terluka sampai seperti ini. Maafkan aku Mas! Kamu boleh Mas marah denganku. Kamu boleh melakukan apapun padaku Mas, tapi bangunlah Mas! Jangan seperti ini!" Nurul menangis di lengan Rahman.
"Kau pernah bilang ingin menua bersama dan melihat anak-anak kita tumbuh dewasa. Bangunlah Mas! Maaf aku tak bisa menjadi istri yang baik untukmu Mas. Aku sungguh bukan istri yang baik Mas, maafkan aku! Bangunlah Mas!"
Nurul mulai kelelahan karena menangis. Perawat yang tadi membantu Nurul, akhirnya menghampirinya.
"Maaf Bu', biarkan Pak Rahman istirahat kembali! Ibu juga harus kembali ke ruang rawat!" Saran perawat itu. Nurul menoleh ke arah perawat yang ada di sampingnya.
"Tapi Suster, saya masih ingin menemaninya."
"Anda bisa kembali lagi nanti atau esok. Kami akan menjaganya Bu'! Ibu juga masih membutuhkan perawatan."
"Baiklah Suster! Tunggu sebentar!" Nurul kembali menatap wajah Rahman dan mengusapnya perlahan.
"Mas, cepatlah bangun! Kami menunggumu. Aku kembali ke kamar dulu Mas, nanti aku akan kembali lagi! Dan saat aku kembali lagi, kamu harus sudah membuka matamu Mas, melihatku!" Nurul mencium kening Rahman.
Nurul perlahan kembali duduk ke kursi roda. Dengan dibantu perawat, ia meninggalkan ruang ICU. Di depan ruang ICU, Bu Dira dan Fatimah tengah menunggunya.
Bu Dira terlihat khawatir. Ia tadi kebingungan mencari Nurul setelah mengobrol dengan Arum. Ia sempat bertanya pada perawat jaga ruang VVIP tentang Nurul. Mereka memberitahukan bahwa Nurul tengah keluar bersama Fatimah. Ia segera menuju ruang ICU untuk mengecek apakah Nurul disana atau tidak. Dan benar saja. Ia melihat Fatimah berada di depan pintu ruang ICU sendirian.
"Bayinya mana Dek?" Tanya Nurul kebingungan karena Fatimah dan Bu Dira tidak menggendongnya.
"Sama Mas Ali dan Al Mbak."
"Kamu ini nduk! Ibu kebingungan nyariin kamu nggak ada di kamar." Tegur Bu Dira. "Kamu ini kan baru sadar, kenapa langsung keluar? Kalau kenapa-napa gimana?"
"Maaf Bu'. Nurul hanya ingin melihat kondisi Mas Rahman." Nurul kembali meneteskan air matanya mengingat kondisi suaminya.
"Sudah nduk, nggak papa! Kita hanya tinggal berdo'a pada Allah untuk kesembuhan Rahman." Bu Dira pun tak dapat menahan air matanya. Ia memeluk tubuh Nurul yang lemas itu.
"Mas Rahman Bu', Mas Rahman, hiks, hiks,"
"Iya nduk. Allah pasti memberikan yang terbaik untuk kita!" Ucap Bu Dira yang berusaha menguatkan Nurul dan dirinya sendiri.
"Kamu harus kuat nduk! Supaya Rahman juga kuat berjuang untuk kalian!"
Bu Dira sebenarnya juga sangat cemas dengan kondisi putranya. Tapi karena kondisi Nurul yang belum pulih, dan mengingat Nurul punya cedera traumatik dengan kepalanya, ia berusaha kuat di depan Nurul.
Setelah beberapa saat, mereka akhirnya kembali ke ruang rawat Nurul. Dengan Ali yang masih tetap setia menunggu kakak iparnya.
"Apa Mbak Nita sudah dikabari?" Tanya Nurul setelah sampai di kamarnya.
Bu Dira dan Fatimah saling pandang. Ia lupa belum mengabari Nita tentang Nurul yang sudah melahirkan.
"Maaf Mbak, lupa. Kemarin fokus sama kondisimu dan Mas Rahman." Jawab Fatimah.
"Iya, nggak papa Dek. Aku mengerti!"
"Bentar Mbak, biar Fatimah telfon." Fatimah segera meraih ponselnya dan ponsel Nurul. Ia segera mencari nomor Nita dan menelfonnya.
Nita yang mendengar kabar bahwa Nurul sudah melahirkan sangat senang. Tapi ia tidak mengetahui kejadian di balik kelahiran bayi kecil itu tiba-tiba.
Nita pun bersiap dengan dua putrinya untuk mengunjungi Nurul setelah suaminya pulang kerja. Mereka berniat menginap beberapa hari di sana karena memang putrinya sedang libur sekolah.
Dan betapa terkejutnya Nita ketika sampai di rumah sakit tempat Nurul dirawat. Ia mendengar semua apa yang terjadi kemarin. Ia tidak menyangka adiknya mengalami hal seperti itu. Dan bahkan kondisi adik iparnya yang masih belum sadar.
__ADS_1
Rezeki dari Allah bisa berupa apapun. Musibah dan ujian, juga adalah bentuk kasih sayang Allah pada makhluk-Nya. Kita sebagai hamba-Nya, hanya perlu bersyukur atas semuanya. Dan menerima dengan ikhlas semua pemberian-Nya.