
Flashback On
"Makasih ya Mas, sudah dibantu. Maaf, ngrepotin Mas Rahman juga jadinya." Ucap seorang polisi wanita cantik dengan seragam lengkapnya. Nadia, adik perempuan Jefry yang bertugas di Kantor Polres Bantul.
"Wooo, yang direpotin cuma Pak Rahman berarti ya?" sindir Jefry.
"Kan Mas Jefry sendiri kemarin yang nawarin bantuan. Nadia nggak tahu kalau bakal sama Mas Rahman juga kesini." sungut Nadia dengan nada manja pada kakaknya.
"Iya, iya. Ya kamu tahu sendiri, Mas tuh seringnya sama Pak Rahman. Kamu ada teman nggak buat dikenalin sama Rahman?" Jefry melirik menggoda Rahman.
"Pak Jefry ada-ada saja." Sahut Rahman. "Nggak usah didengerin Nad kakakmu! Modus dia pasti."
Rahman memang sudah lama kenal dengan Nadia. Sejak awal Rahman berkenalan dengan Jefry lima belas tahun lalu, ia sudah dikenalkan pada Nadia. Usia mereka tak jauh berbeda. Jefry pernah berniat menjodohkan Nadia dengan Rahman, tapi dua-duanya menolak dengan alasan masing-masing. Dan kini Nadia sudah bahagia dengan suaminya di Jogja.
"Sholat dulu Mas, sudah adzan dari tadi." Saran Nadia pada kakaknya.
"Mas mau sholat di Masjid Agung saja Dek. Sekalian nyantai. Kan nggak jauh juga dari sini." Jawab Jefry.
"Kan ada masjid juga Mas di kantor." Rayu Nadia.
"Pengen di Masjid Agung adekku Nadia yang manja." Jawab Jefry sambil mengusap rambut Nadia gemas.
"Ah Mas, rambutnya kan berantakan!" sungut Nadia. Nadia memang sangat manja jika dengan kakanya. Apalagi jika sang kakak mengunjunginya ke Jogja. Ia akan berusaha menahan kakaknya itu agar betah tinggal dan tak segera pulang.
"Yasudah, lain waktu Mas kesini lagi. Kasihan Pak Rahman nanti kalau kemalaman pulangnya. Bu Dira belum ada menantu yang nemenin di rumah." Jefry melirik Rahman yang sibuk dengan ponselnya.
"Kenapa sih Mas, Mas Rahman belum nikah lagi?" tanya Nadia penasaran. "Kurang apa coba Mas Rahman itu? Ganteng, sholeh, kaya, baik pula. Masak nggak ada yang mau?"
"Bukan nggak ada yang mau, dia yang belum mau. Setahu Mas, sudah banyak yang deketin Pak Rahman, tapi semuanya ditolak. Nggak tahu sampai kapan dia kayak gitu." Jawab Jefry jujur.
"Dia nggak,,??" Nadia tak meneruskan kalimatnya.
"Ngaco kamu. Dia masih normal."
"Iya Nad, aku masih normal." Sahut Rahman tiba-tiba.
"Eh, maaf ya Mas, hhehe. Lha Mas betah banget jadi duda. Nadia kira, seleranya udah berubah, hhihi." Canda Nadia sembari cekikikan.
"Do'ain aja Nad. Ibu juga udah nagih janji kemarin." Jawab Rahman.
"Janji apa Mas?" tanya Nadia penasaran.
"Janji dibawain pulang mantu." Sahut Rahman malas.
"Oohh. Ya cepet dibawain pulang to Mas."
"Kalau udah ada sih oke. Lha ini belum ada."
"Ya Nadia do'ain, nanti cepet ada. Atau siapa tahu, nanti ketemu di masjid, hhihi. Aamiin." Goda Nadia semangat.
"Yaudah, Mas ke masjid sekalian pulang ya Dek." Pamit Jefry.
"Iya Mas, hati-hati. Sekalian itu Mas Rahman, nanti tolong carikan calon istri di masjid, hhihi." Nadia masih betah menggoda Rahman.
__ADS_1
"Ya nanti Mas carikan." Sahut Jefry.
"Kalian ini! Kakak sama adek sama aja." Gerutu Rahman. "Aku pulang dulu Nad. Salam buat keluargamu." Pamit Rahman.
"Hhihi. Iya Mas." Jawab Nadia.
Jefry dan Rahman pun berjalan keluar area kantor. Nadia mengantar mereka sampai ke area parkir mobil. Rahman dan Jefry pun meninggalkan Kantor Polres Bantul.
Tak sampai sepuluh menit berkendara, mereka telah sampai disebuah komplek masjid yang cukup besar. Masjid dengan tiang-tiang besar dan kokoh menjadi penyangga. Hawa sejuk langsung menyeruak ketika memasuki area masjid.
Jefry langsung memarkirkan mobilnya. Bersamaan dengan itu, ada sebuah motor juga memasuki area parkir. Ada dua orang wanita dan seorang anak laki-laki. Mereka lalu pergi ke area wudhu masing-masing. Rahman dan Jefry pun segera pergi mengambil air wudhu.
Saat memasuki tempat wudhu, mereka bertemu seorang anak laki-laki yang baru saja selesai berwudhu.
"Maaf om, apa om mau sholat juga??" tanya anak laki-laki itu hati-hati.
"Iya." Jawab Rahman.
Anak itu pun tersenyum. "Boleh saya ikut sholat berjamaah??"
Jefry dan Rahman saling pandang setelah mendengar pertanyaan anak itu. " Tentu boleh le. Siapa nama kamu le?" Tanya Rahman lagi.
" Terima kasih om, nama saya Fatih ," jawab anak itu. Jefry dan Rahman mengangguk. Mereka lalu berwudhu kemudian melaksanakan sholat berjama'ah. Rahman yang menjadi imam sholat.
Ya, anak laki-laki itu Fatih. Maulana Al-Fatih.
Selepas sholat, Al langsung keluar dan menghampiri dua orang perempuan yang sedang asik mengobrol.
Sementara di dalam masjid, Rahman mencari Al yang telah lebih dulu keluar. "Kemana anak tadi Pak?" tanya Rahman.
"Sudah keluar." Jawab Jefry. "Kita bersantai dulu di serambi!"
Rahman mengangguk. Mereka lantas keluar dari masjid dan menikmati suasana sore. Rahman mengedarkan pandangannya sambil berdiri. Ia melihat Al sedang berbincang asik dengan dua orang wanita.
Seorang wanita tampak berusia paruh baya. Dan seorang lagi terlihat masih muda. Tak berusia jauh darinya. Perhatian Rahman teralihkan oleh wanita itu. Saat itu ia sedang bercanda dengan Al. Dan saat itu, wanita itu tersenyum ke arah Al yang posisi duduknya membelakangi Rahman yang cukup jauh darinya.
"Masya Allah,, senyum itu,," Rahman terpaku melihat senyuman wanita itu. Senyum yang begitu tulus dan sangat indah dimatanya. Senyum yang bahkan bukan untuknya.
Rahman bergegas mengambil ponsel di sakunya. Ia berniat memotret wanita itu. Tapi sayang, saat Rahman siap dengan kamera ponselnya, wanita itu telah mengenakan masker dan bersiap untuk pulang.
"Lhah, kok udah pakai masker? Mau kemana itu?" ucap Rahman panik.
"Kenapa Pak Rahman?" tanya Jefry kebingungan.
Dan saat itu juga, Bu Dira menelfonnya. Rahman kebingungan. Ia ingin mengejar wanita itu dan bertanya siapa namanya. Tapi ia juga tak bisa mengabaikan panggilan telfon ibunya.
"Itu Pak,," Rahman menunjuk ke arah Al yang sedang berjalan ke arah parkiran bersama dua orang wanita.
Jefry mengikuti arah Rahman menunjuk. Ia melihat Al yang tadi sholat bersama mereka. Ia berfikir bahwa Rahman sedang menunjukkan anak yang tadi sholat bersama mereka.
Ponsel Rahman terus saja berdering. Ia akhirnya menjawab panggilan telfon ibunya, hingga tak sempat mengejar wanita itu. Karena mereka segera meninggalkan area parkiran dan meninggalkan area masjid.
Wanita itu tak lain adalah Nurul Almira. Takdir Tuhan siapa yang tahu.
__ADS_1
"Ah sudahlah! Kenapa aku sangat penasaran dengannya? Mungkin Fatih adalah putranya. Jika benar, berarti dia sudah menikah bukan? Dia sudah menjadi milik orang lain. Aku tak boleh memikirkan atau bahkan merebut yang bukan milikku." Gumam Rahman dalam hati saat ia selesai menerima telfon ibunya.
Rahman menghela nafas panjang. Ia lalu ikut duduk bersama Jefry menikmati suasana sore. Ia juga berusaha menghilangkan bayangan senyuman wanita itu dibenaknya. Tapi ternyata itu sulit.
Rahman dan Jefry lalu mengobrol. Hingga senja menjelang dan adzan maghrib berkumandang. Mereka pun melaksanakan kewajibannya. Setelah itu, mereka sejenak menikmati suasana malam kota Jogja.
Ketika waktu menunjukkan pukul satu malam, Rahman baru saja tiba di rumahnya. Ia langsung masuk ke kamarnya untuk mandi lalu beristirahat. Dan sialnya, bayangan senyuman itu kembali menari-nari dibenaknya. Ia kesulitan untuk tidur karena itu.
Keesokan paginya, Rahman meminta Burhan mencari rekaman CCTV yang ada di masjid dan sekitarnya. Rahman benar-benar penasaran dengan wanita itu.
Burhan kebingungan dengan permintaan Rahman yang tak biasa. Rahman hanya beralasan, ia ingin mencari seorang saksi yang penting. Burhan akhirnya menuruti permintaan Rahman.
Hanya dalam waktu dua hari, Burhan mendapatkan rekaman yang diminta Rahman. Tapi takdir belum berpihak pada Rahman. Apa yang ia cari tak ia dapatkan. Rekaman itu tak bisa mendapatkan gambar jelas orang yang ia cari. Ia tak dapat apa-apa. Bahkan plat nomor kendaraannya pun tak dapat terlihat jelas.
Waktu berlalu dan hari pun berganti. Rahman masih tetap memikirkan senyuman Nurul saat itu. Hati dan otaknya tidak bekerja sejalan. Otaknya berfikir, jika Nurul mungkin sudah punya suami, jadi ia tak boleh memikirkannya. Tapi hatinya berkata, ia sungguh ingin mengetahui kebenarannya dan memiliki seutuhnya. Oh itu benar-benar melelahkan.
Pekerjaannya pun bahkan sempat terganggu. Bahkan Bu Dira sempat menyadari gelagat aneh Rahman kala itu. Tapi ia berusaha menutupi hal itu dari ibunya.
Dan hingga akhirnya, setelah dua bulan mencari dan tak ada hasil, Rahman memutuskan benar-benar melepaskannya. Dia akhirnya disibukkan dengan masalah kantor cabang. Bahkan ia harus menanganinya sendiri karena ada beberapa masalah di kantor cabangnya. Dan itu cukup berhasil mengalihkan perhatiannya dari senyuman yang mengubah dunianya.
Flashback Off
Angin pantai bertiup tiada henti. Menambah suasana senja menjadi lebih indah. Matahati pun mulai kembali ke peraduannya. Dengan sinar jingga yang memenuhi cakrawala.
"Dan saat kita bertemu di depan rumah waktu itu, aku seakan tak percaya bahwa itu dirimu. Aku kira aku bermimpi atau berhalusinasi karena kelelahan. Hingga aku melihat senyummu dan Al disampingmu lalu menyalami tanganku. Aku seakan ingin memelukmu saat itu juga. Memegang erat tanganmu dan tak membiarkanmu pergi." Ucap Rahman dengan masih mengingat kejadian satu tahun yang lalu.
Nurul masih tak percaya akan cerita Rahman. Ia mendongakkan wajahnya dan menatap wajah Rahman. Rahman pun balik menatapnya. Manik mata mereka bertemu dan saling memandang. Rahman mengecup kening Nurul.
"Sungguh aku hampir gila karena mencarimu. Hatiku yang yang membeku pada semua wanita selama tujuh tahun, akhirnya luluh hanya karena senyumanmu. Bahkan senyumanmu saat kita bertemu di depan rumah pun, dapat menghilangkan semua lelahku kala itu." Rahman masih betah bercerita.
Nurul tersenyum dan menangis haru mendengar setiap perkataan Rahman. Ia tak dapat berkata-kata, hatinya sangat bahagia mendengar itu semua.
"Ya. Hanya karena senyumanmu. Senyummu yang begitu tulus dan indah." Nurul mengeratkan pelukannya di pinggang Rahman.
"Dan aku masih ingat betul, setelah kau pulang saat itu. Ibu memintaku mencarikan semua informasi tentang dirimu. Ia sudah berusaha berbicara denganmu perlahan untuk mencari informasimu, tapi kamu terlalu tertutup, jadi ibu tak bisa banyak mendapat informasi. Ia hanya tahu kau seorang janda dan memiliki seorang putra." Rahman menjeda kalimatnya sejenak.
"Dan kau tahu betapa bahagianya hatiku saat tahu kau tidak bersuami? Bukan maksudku bahagia kau berpisah, tapi seakan aku memiliki harapan untuk memilikimu seutuhnya. Dan lagi saat ibu mengatakan ingin menjodohkanku denganmu, sungguh itu lebih membahagiakan daripada saat proyek perusahaanku berhasil diselesaikan." Imbuh Rahman.
"Apakah hingga seperti itu Mas?" Nurul masih tak percaya sebesar itu rasa cinta Rahman terhadapnya saat itu.
"Iya, itu semua benar. Aku bahkan tak tahu apakah kau akan menerimaku atau tidak saat itu. Tapi, aku sudah sangat bahagia ketika ibu mau mendekatkanku padamu. Dan aku sangat yakin, pilihan ibu tak akan salah."
"Dan saat aku menjadikanmu milikku seutuhnya, itu lebih membahagiakan dari pada pernikahanku sebelumnya. Dan itu semua benar."
Rahman meraih satu tangan Nurul lalu menciumnya. "Nurul Almira."
Manik mata mereka bertemu kembali. Rahman menatapnya dengan lembut. "Aku sudah jatuh hati padamu saat pertama kali aku melihatmu di masjid kala itu. Dan hingga saat ini, perasaan itu semakin besar dan entah akankah aku bisa mengendalikannya atau tidak. Tapi satu yang pasti, aku mencintaimu istriku. Aku sangat mencintaimu."
Air mata Nurul mengalir membasahi masker yang ia kenakan. Perlahan Rahman membuka masker yang Nurul kenakan. Ia mengusap air mata itu dengan tangannya. Nurul masih setia menatap wajah Rahman dengan penuh rasa haru. Mereka saling melempar senyum.
"Aku mencintaimu istriku, Nurul Almira." Ucap Rahman yang lalu mengecup lembut bibir Nurul
"Aku juga mencintaimu suamiku, Mas Rahman-ku." Jawab Nurul yang lalu mencium lembut bibir Rahman. Sejenak mereka berciuman, karena mereka sedang berada dipantai. Menikmati senja yang telah tiba dan akan digantikan oleh gelapnya malam.
__ADS_1