Istri Pilihan Sang Duda

Istri Pilihan Sang Duda
Agresif


__ADS_3

Bulan dan bintang telah menghiasi langit. Menjadi penerang dalam gelapnya malam. Menjadi penghias langit nan luas terbentang.


"Maass,," sapa Nurul ketika mereka sedang bersantai di kursi gantung di balkon kamarnya selepas sholat isya.


"Heemm,," Rahman memeluk mesra tubuh Nurul dengan satu tangan sembari menatap laut luas.


"Maass,," panggil Nurul lagi.


"Iya sayang,," Rahman mengecup puncak kepala Nurul.


"Aku rasanya masih tak percaya akan ceritamu tadi Mas. Seperti mimpi bagiku,"


"Mimpi?"


"Iya, itu seperti cerita dongeng."


"Kau tak percaya padaku Sayang?" Rahman menegakkan tubuhnya yang tadi saling bersandar dengan tubuh Nurul.


"Aku percaya padamu Mas." Nurul mengecup bibir Rahman. " Hanya saja, itu seperti cerita dongeng bagiku."


Nurul menarik tubuh Rahman dalam pelukannya. "Aku seperti tokoh dalam dongeng. Seorang wanita biasa, dicintai oleh seorang pangeran tampan. Bukankan itu seperti mimpi?"


"Ini bukan mimpi Sayang! Bukankan kau juga menikmatinya semalam? Kau bahkan sangat lincah pagi ini," goda Rahman.


"Ah Mas, kenapa jadi sampai sana sih? Mesum." Nurul bersungut manja.


"Hhihi, iya Sayang. Mesum sama kamu kan boleh. Apa kamu mau aku mesum sama wanita lain?"


"Sana mesum sana sama wanita lain. Aku pulang sekarang!" Nurul langsung beranjak dari kursinya. Ia kesal sendiri.


Rahman segera menarik tangan istrinya hingga terduduk di pangkuannya membelakanginya. Memeluknya intens dan hangat. Ia melingkarkan tangannya di perut Nurul dan menciumi punggung Nurul.


Nurul mencoba berontak, tapi tubuhnya serasa menolak untuk berontak. Ia menikmati pelukan Rahman dan akhirnya diam di pangkuan Rahman.


"Iya Sayang, aku tahu perasaanmu." Ucap Rahman lirih.


Nurul lalu memutar tubuhnya kesamping. Mengalungkan tangannya ke leher Rahman.


"Maaf, aku tak menyadari keberadaanmu waktu itu di masjid." Ucap Nurul.


"Betapa kasihan diriku? Calon istriku, tak menyadari keberadaanku saat itu." Goda Rahman dengan wajah pura-pura sedih.


"Aaahh, jangan seperti itu Mas! Aku benar-benar tak memikirkan laki-laki saat itu. Bahkan untuk menikah lagi pun aku tak begitu terfikirkan. Aku hanya ingin membahagiakan Al dan ibu saat itu." Rayu Nurul manja.


"Lalu, setelah bertemu denganku?"


"Setelah bertemu denganmu, aku sedih."


"Kenapa sedih?"


"Aku tahu diri Mas. Duniaku dan duniamu sangat berbeda. Meskipun aku belum tahu siapa dirimu sepenuhnya saat itu, tapi satu yang pasti, kau terlalu mustahil untuk kuraih."


"Kenapa sayang?"


"Kau begitu tampan dan kaya. Sedangkan aku, hanyalah seorang janda bodoh yang tak memiliki kebaikan apapun. Aku bagaikan punguk merindukan bulan jika aku mengharapkanmu saat itu."


"Kita sama-sama jatuh hati pada pandangan pertama."


"Iya, aku jatuh hati padamu saat pandangan pertama. Aku berusaha menghilangkan bayangan wajahmu setelah kita bertemu saat itu, tapi bayangmu semakin nyata dibenakku. Oh sungguh, aku kebingungan saat itu." Nurul mengadu manja.


"Tapi sekarang, aku milikmu seutuhnya Sayang. Hanya milikmu." Rahman segera ******* bibir Nurul dengan lembut. Memainkan lidahnya di dalam rongga mulut Nurul. Nurul pun menyambutnya dengan senang hati.


Tangan Rahman mulai nakal mer*mas payudara Nurul. Rahman merasakan seusatu yang keras dan Nurul pun memekik.


"Aaww,, sakit Mas!" Nurul melepaskan ciumannya.

__ADS_1


"Maaf Sayang, aku tak tahu!" jawab Rahman sambil mengusap pipi Nurul lembut.


"Aku pompa dulu ya Mas!"


Rahman mengangguk paham. Nurul pun segera masuk ke kamar dan memompa asinya. Setelah Nurul selesai, Rahman meminta pengawal mengantar asi yang sudah di pompa ke vila.


"Mas mandi dulu ya! Nurul belakangan." Pinta Nurul setelah Rahman kembali ke kamar.


Rahman pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Nurul menutup semua gorden kamarnya dan tak lupa mengunci pintu dan jendela. Ia teringat sesuatu yang Bu Dira berikan tadi pagi. Ia mencarinya. Setelah ketemu, ia mengikuti saran yang sudah Bu Dira katakan melalui pesan singkat.


"Semoga Mas Rahman tak marah aku melakukan ini!" gumam Nurul.


Nurul segera mencari air putih, dan mencampurkan sesuatu ke dalamnya. Ia segera menenggak habis air itu sebelum Rahman selesai mandi. Ia kembali menyembunyikan sisanya ke dalam pouch make up.


Dan saat Rahman selesai, Nurul segera masuk ke kamar mandi. Rahman pun segera mengenakan celana boxernya dan menyiapkan baju untuk Nurul. Ia memandangi beberapa baju yang ia siapkan di almari. Pilihannya jatuh pada baju berwarna hitam. Sebuah gaun malam transparan dengan model babydoll. Hanya ada gaun dan g-str*ng, tanpa ada b*a sebagai pelengkapnya.


Rahman tersenyum nakal melihat gaun itu di tangannya. Ia meletakkan gaun itu di atas ranjang, lalu menyandarkan tubuhnya di sisi lain ranjang sembari bermain ponsel.


Tak lama Nurul telah selesai mandi. Ia segera keluar dan mengambil baju yang telah Rahman siapkan. Ia mulai terbiasa dengan apa yang Rahman inginkan. Nurul pun kembali lagi ke kamar mandi untuk memakainya dan sedikit berdandan.


Saat Nurul keluar, aroma wangi parfum yang Nurul kenakan menyeruak ke seluruh ruangan. Menggelitik indera penciuman Rahman yang tengah bersantai. Tiba-tiba Nurul mematikan lampu kamarnya. Rahman terkejut.


Rahman menatap Nurul yang sedang berjalan ke arahnya. Matanya tak berkedip ketika cahaya lilin di kamarnya menerangi tubuh Nurul yang mengenakan lingerie berwarna hitam. Ia segera meletakkan ponselnya. Nurul menjatuhkan kepalanya dipangkuan Rahman. Rahman tersenyum padanya. Mereka pun kembali mengobrol hingga beberapa saat.


"Mas,," panggil Nurul sembari bangun dari posisinya dan duduk disamping Rahman. Ia menyandarkan kepalanya di dada Rahman.


"Heemm,," Rahman memeluk Nurul dengan sebelah tangan.


"Maass,," panggil Nurul lagi dengan tangan yang mulai nakal bermain di dada Rahman.


"Kamu kenapa Sayang?" tanya Rahman lembut.


"I want you baby!" ucap Nurul dengan sedikit mendesah.


"Of course baby, I'm yours!" jawab Rahman yang dengan cepat menyambar bibir Nurul dan mulai mengger*yangi tubuh istrinya penuh gairah.


Lalu dengan cepat melepaskan pakaian Nurul dan celananya sendiri. Mereka pun kembali melakukan penyatuan dan pelepasan di kamar itu. Dan malam itu, Nurul sungguh sangat agresif. Akibat dari pengaruh obat yang ia minum.


Rahman sempat merasa aneh dengan sikap Nurul yang agresif, tapi ia senang karena itu. Oh Bu Dira, kau sungguh sangat memahami putramu. Dan karena obat itu, Nurul tak hentinya meminta Rahman melakukannya lagi dan lagi, hingga pagi menjelang. Bahkan Rahman harus memaksa Nurul memompa asi terlebih dahulu saat Nurul memintanya lagi. Malam yang panjang bagi mereka berdua.


Akhirnya, Rahman dan Nurul terlelap setelah sholat subuh. Hingga kedatangan Hilya dan Fatimah yang membangunkan mereka. Sungguh Nurul masih kelelahan, tapi ia juga rindu pada putrinya. Nurul memilih bermain dengan putrinya terlebih dulu.


Dan saat Hilya kembali ke vila, Nurul benar-benar melanjutkan tidurnya. Rahman membiarkannya tertidur, hingga sore tiba.


...****************...


Dua hari berlalu. Rahman dan Nurul telah menyelesaikan bulan madu mereka. Dan sore ini Rahman dan Nurul telah kembali ke vila. Al sangat senang dengan kepulangan mereka. Al langsung menghambur memeluk kedua orang tuanya itu. Ia sangat merindukan ayah dan ibunya.


Malam harinya, Al merengek pada Rahman untuk tidur bersama kedua orang tuanya. Rahman yang paham sifat putranya, tentu saja mengizinkannya. Keluarga kecil itupun tidur bersama dalam satu tempat tidur.


Keesokan paginya, semua bersiap untuk mengunjungi tempat-tempat wisata. Rahman juga telah menyiapkan paket wisata untuk semuanya selama liburan ini. Mereka mengunjungi banyak tempat wisata selama beberapa hari.


...****************...


Dan hari ini hari terakhir mereka di vila. Mereka memilih menghabiskan waktu seharian di vila bersama. Berbagi cerita dan bercanda.


Nurul sedang menidurkan Hilya di tempat tidur siang itu ketika Rahman masuk ke kamar.


"Dek, kamu bawa pemotong kuku?" tanya Rahman setelah ia menutup pintu kamarnya perlahan.


"Ada Mas, di pouch make up-ku," jawab Nurul lirih sembari bangun dari posisinya.


Rahman pun segera mencari pemotong kuku di pouch make up milik istrinya. Belum dia menemukan apa yang dicari, perhatiannya teralihkan oleh sebuah botol yang nampak asing. Ia mengambilnya dan mengamatinya.


"Ini apa Dek?" tanya Rahman seraya mengangkat botol itu menunjukkannya ke arah Nurul.

__ADS_1


Nurul yang baru saja selesai merapikan bajunya setelah menyusui, langsung terkejut melihat Rahman memegang botol itu. Nurul langsung berdiri dan merebut botol itu dari Rahman. Ia menyembunyikannya di saku gamisnya dan berjalan menjauhi Rahman.


"Itu apa Sayang?" tanya Rahman kebingungan karena sikap Nurul.


"Bukan apa-apa Mas." Jawab Nurul sedikit ketakutan.


Rahman berjalan perlahan mendekati istrinya. Menyudutkan tubuh istrinya hingga ke tembok. Menguncinya dengan kedua tangannya di kiri dan kanan.


"Katakan padaku Sayang, apa itu?" tanya Rahman dengan tatapan tajam.


Nurul terkejut melihat ekspresi wajah Rahman tepat dihadapannya. Ia telan salivanya dengan susah payah. Jantungnya berdegup kencang. Tangannya terasa dingin.


"Itu, itu, itu obat Mas." Nurul sedikit gelagapan.


"Obat apa? Kamu sakit?" tanya Rahman dengan nada datar.


Nurul menundukkan kepalanya dan menggeleng cepat.


"Lalu?"


Nurul masih diam. Dia kebingungan menjawab pertanyaan Rahman. Ia takut jika suaminya tahu obat itu, dia akan marah. Dan itu sungguh tidak Nurul harapkan.


"Aku percaya padamu sayang, kau tak akan bohong padaku! Kau akan mengatakan apapun padaku." Ucap Rahman lebih lembut.


Nurul memandangi wajah Rahman. Tatapan itu kini lebih lembut. Nurul memberanikan diri untuk mengatakannya.


"Ini obat dari ibu Mas." Jawab Nurul sembari menunjukkan botol yang tadi ia rebut.


"Obat apa sayang?" tanya Rahman sedikit khawatir.


"Tapi Mas Rahman jangan marah padaku!" Nurul memegangi tepi kanan dan kiri baju Rahman.


"Katakanlah!" ucap Rahman lembut.


"Obat, obat buat bikin Mas Rahman senang,," jawab Nurul lirih dengan menundukkan kepalanya.


"Apa sayang?" Rahman tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Obat buat,, aahh Mas aahh,, Mas Rahman udah denger kan?" Nurul bergelayut manja di dada Rahman. Ia langsung memeluk Rahman dan menyembunyikan wajahnya di dada Rahman.


Rahman tersenyum melihat sikap manja istrinya. "Kapan ibu kasih ke kamu Sayang?" tanya Rahman sembari memeluk erat tubuh ramping Nurul.


"Saat ibu berkunjung dengan Hilya ke resort siang itu." Jawab Nurul masih dengan posisi memeluk Rahman.


Rahman sedikit mengingat kejadian beberapa hari lalu. Otaknya langsung bisa menemukan jawaban yang mengganggu fikirannya beberapa hari.


"Jadi malam itu kau meminumnya tanpa sepengetahuanku?" bisik Rahman di telinga Nurul.


"Maaf Mas,," jawab Nurul lirih sembari mengeratkan pelukannya.


"Tak apa Sayang, aku tak marah." Rahman mengusap punggung Nurul.


"Maaf,,"


"Sudahlah! Berikan itu padaku, aku akan menyimpannya. Aku akan memberikannya padamu, jika aku menginginkannya." Jawab Rahman lembut.


Nurul pun memberikan botol itu pada Rahman. Rahman lantas menerima lalu menyimpannya di saku celananya.


"Aku tak akan melupakan malam itu Sayang! Kau sangat agresif, aku suka!" Rahman berbisik mesra di telinga Nurul yang masih setia memeluknya.


Nurul mendongakkan wajahnya menatap Rahman. Seringai nakal nampak jelas di wajahnya. Pipi Nurul sangat merona.


"Aahh Mas aahh,," Nurul memukul manja dada suaminya. Rahman sangat suka sikap manja Nurul itu. Ia tertawa bahagia. Nurul pun tersenyum di pelukan Rahman.


Cinta. Rasa yang indah jika kita benar-benar memahaminya. Rasa yang begitu besar dan tak ada batasnya. Menyelimuti setiap sudut alam semesta, hingga membuat semua terasa lebih indah.

__ADS_1


__ADS_2