
Jangan melihat buku hanya dari sampulnya. Jangan menilai orang hanya dari luarnya saja. Kita tak pernah tahu apa yang ada dalam hatinya. Dan apa yang nampak dari luar, kadang tak mencerminkan hatinya.
Satu hari setelah Rahman siuman, ia dipindahkan ke ruang rawat. Nurul dan bayinya pun telah pulang ke rumah. Jika siang, Rahman akan ditemani oleh Bu Dira. Dan jika malam, akan ditemani oleh Pak Slamet dengan para pengawalnya. Nurul akan mengunjunginya saat siang. Ia akan mengantarkan makan siang untuk Bu Dira dan camilan untuk Rahman.
Ali harus kembali ke Semarang, karena harus mengurusi pekerjaannya. Sedang Fatimah masih di rumah membantu Nurul mengurusi anak-anak mereka dan memantau kondisi kakaknya. Nita pun telah kembali bersama keluarganya ke Jogja setelah Nurul pulang dari rumah sakit.
Nurul masih banyak diam. Rasa bersalah masih menguasainya. Dan tak ada yang mengetahui hal itu. Nurul berusaha bersikap biasa di depan orang lain.
Tepat satu minggu setelah kelahiran putri kecil Rahman dan Nurul, Bu Dira sudah memesankan paket aqiqah untuk cucunya. Dan siang itu Bu Dira tidak ke rumah sakit karena sedang tidak enak badan. Ia kelelahan beberapa hari di rumah sakit. Fatimah pun tak bisa ke rumah sakit karena Rindi sedang demam. Rahman hanya ditemani oleh pengawalnya.
Seperti hari sebelumnya, siang itu Nurul mengantarkan camilan untuk Rahman dan makan siang untuk pengawal yang menjaganya. Saat sampai di rumah sakit, ia berpapasan dengan dua orang pengawal Rahman.
"Selamat siang Bu'!" sapa pengawal itu dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.
"Iya siang. Mas Rahman dengan siapa?" Tanya Nurul.
"Ada Pak Burhan dan Pak Shodiq sedang berkunjung."
"Oh, yasudah. Ini makan siangnya!" Nurul menyerahkan dua kotak makan siang yang ia bawa kepada dua pengawal itu.
"Terima kasih Bu'." Jawab mereka bersamaan.
"Iya. Saya ke ruangan Mas Rahman dulu!" Pamit Nurul yang lalu diangguki oleh dua pengawal itu. Nurul pun berjalan kembali menuju ruang rawat Rahman.
Saat sampai di depan pintu, ia mendengar tiga orang sahabat itu sedang berbincang. Nurul perlahan menggeser pintu kamar. Baru sedikit ia menggeser daun pintu, ia lalu menghentikannya. Ia mendengar Rahman sedang meminta tolong pada Burhan.
"Han, tolong ajukan gugatan cerai ke pengadilan!" Pinta Rahman dengan jelas.
"Apa? Coba ulangi lagi?" Sahut Burhan terkejut.
"Aku akan menceraikan Nurul!"
"Kau gila Man! Jangan bercanda dengan perkara seperti itu!" Burhan membentak Rahman.
Mereka bertiga tidak menyadari, jika ada Nurul sedang berdiri di ambang pintu. Ia sedang mendengarkan percakapan mereka.
Dan ketika Nurul mendengar permintaan Rahman, ia menahan agar tangisnya tidak pecah. Ia menutup mulutnya sekuat tenaga agar tak ada suara yang terdengar. Perlahan ia menutup kembali pintu ruangan itu. Ia duduk di kursi yang ada di depan ruangan Rahman. Air mata itu berhasil mengalir.
Sedang di dalam, Burhan dan Shodiq masih mengintrogasi Rahman. "Kau kenapa hah? Ada masalah sama Nurul? Kalau ada masalah diselesaikan bersama, bukan langsung main cerai aja." Ucap Shodiq geram.
"Dia lebih diam setelah aku sadar. Bahkan dia hanya mengatakan maaf padaku semenjak aku sadar." Jawab Rahman muram.
"Kalian udah bicara?" tanya Shodiq.
"Dia seperti menjauhiku. Aku tak bisa bicara dengannya. Dia sepertinya sangat kecewa padaku karena kejadian itu. Aku tak bisa melindunginya."
"Lalu, kamu mau main cerai gitu aja?"
"Kondisiku juga seperti ini, dia mungkin tak mau lagi denganku. Aku akan sangat merepotkannya."
"Kau gila Man! GILA!" Burhan berteriak keras.
Burhan lantas berjalan ke arah pintu. "Mau kemana Han?" tanya Shodiq.
"Keluar. Kamu ceramahin Rahman dulu!" Ucap Burhan langsung menarik pintu dan keluar begitu saja. Saat ia menutup pintu, ia melihat ada tas bekal makan siang di kursi. Ia melihat ke sekitar dan melihat Nurul sedang berlari menuju tangga.
"Nurul? Apa dia dengar?" Burhan mulai panik. Ia segera berlari mengejar Nurul.
Di dalam kamar, Shodiq masih berusaha mencari tahu alasan pasti dibalik niat Rahman yang ingin menceraikan Nurul.
__ADS_1
"Kamu ini kenapa? Otakmu sedikit geser karena dipukuli kemarin?" tanya Shodiq sedikit mengejek.
"Kamu nyumpahin aku?"
"Lha terus? Bisa-bisanya gegabah begitu."
"Aku nggak tahu lagi harus gimana. Nurul beneran diem, nggak mau bicara. Dia cuma bicara seperlunya saja."
"Kalian itu cuma perlu bicara berdua."
"Gimana mau bicara kalau dia aja menghindariku?"
"Aku nggak percaya kalau itu."
"Kenapa enggak Diq? Ibu bilang dia baik-baik aja. Aku juga lihat dia baik-baik aja, nggak sedih sama sekali. Berusaha memperhatikanku juga enggak."
"Jangan hanya lihat dari luarnya Man."
"Tiap kesini, dia juga kelihatan baik. Kalau habis nangis, wajahnya pasti sembab. Tapi ini nggak tiap dia kesini. Wajahnya selalu ceria, dan senyumnya selalu ada. Dia sepertinya nggak simpati sama sekali dengan kondisiku."
"Bodoh kamu!"
"Sialan!"
"Ya memang, kamu BODOH."
"Kamu nggak akan ngerti Diq."
"Kamu yang nggak ngerti Man. Mungkin juga karena kamu baru sadar, jadi belum bisa berfikir jernih."
"Maksud kamu?"
"Apa? Kenapa bisa nggak sadar? Apa sakit kepalanya kambuh?"
"Tuh kan? Baru tak kasih tahu gitu aja kamu udah khawatir. Gimana bisa kamu mau lepasin dia?"
"Nurul kenapa Diq?"
"Aaahhh, kenapa Burhan malah pergi sih? Kan dia yang bawa Nurul ke rumah sakit."
"Burhan?"
"Iya. Aku sama Pak Jefry ngurusin Akbar ke kantor polisi, Burhan ngurusin kamu sama Nurul di rumah sakit."
"Apa Nurul terluka? Kenapa nggak ada yang bilang sama aku?"
"Dari cerita Burhan dan Rika yang sempet ngobrol sama Nurul, waktu lihat kamu dipukuli kemarin, bayinya tiba-tiba kontraksi. Dan saat kamu ditembak, ketubannya pecah. Saat sampai di rumah sakit, dia langsung lahiran. Dan nggak lama setelah itu, dia pendarahan hebat, dan nggak sadarkan diri semalaman, bahkan kamu belum keluar dari ruang operasi waktu itu."
"Kenapa nggak ada yang kasih tahu?"
"Karena semua ingin kondisimu stabil dan cepat pulih. Aahh, kenapa aku jadi cerita sih? Bisa-bisa, dimarahin Ibu' aku." Shodiq panik sendiri.
"Dan yang aku denger dari Ali, Nurul bahkan langsung menemuimu di ICU ketika dia baru saja sadar keesokan paginya." Imbuh Shodiq.
"Apa dia sekuat itu?" Rahman tak percaya dengan ucapan Shodiq.
"Mungkin dia terlihat kuat diluar, tapi rapuh di dalam. Dia tak pernah terlihat sedih dihadapan yang lain, tapi malam hari sebelum kamu sadar, Nurul nangis dipelukan Rika lama banget. Rika bahkan sampai bingung nenanginnya gimana. Dia sangat takut kehilanganmu. Kalau kamu masih nggak percaya juga, tanya Ali sama Rika sana!" sindir Shodiq.
"Dan kalian merahasiakannya dariku?"
__ADS_1
"Demi kesembuhanmu O'ON!" umpat Shodiq kesal. "Kamu masih mau ceraiin wanita sebaik dia?"
Rahman hanya diam. Ia mencoba mengingat bagaimana perlakuan Nurul terhadapnya beberapa hari ini.
"Kalaupun yang kamu bilang tadi bener, mungkin ada sesuatu yang mengganggu fikirannya. Kamu yang lebih mengenalnya Man dari pada aku!" Saran Shodiq.
Tiba-tiba ponsel Shodiq berdering. Ia pun segera menjawab panggilan telfon yang masuk, yang ternyata dari Burhan.
"Kenapa? Aku jangan ditinggalin kalau mau pulang!" rengek Shodiq.
"Aktifkan loud speaker-nya!" Sahut Burhan dari ujung telfon.
"Apa?"
"Kamu masih sama Rahman kan? Aktifkan loud speaker telfonnya o'on!"
"Iya, iya, kenapa?"
Tak ada jawaban dari Burhan. Shodiq pun akhirnya menuruti permintaan Burhan. Ia meletakkan telfonnya di nakas samping tempat tidur Rahman.
"Rul?" Suara Burhan kembali terdengar. Rahman dan Shodiq langsung menatap ponsel yang sedang berbunyi.
"Eh Mas Burhan! Ngapain Mas disini?"
"Kamu juga ngapain disini?"
"Nurul, cuma pengen jalan-jalan Mas."
"Kamu habis nangis?"
"Enggak kok Mas."
"Terus kenapa wajahmu sembab?"
"Masak sih Mas? Enggak kok."
"Kamu tadi denger percakapan kami di ruang rawat?"
"Eh, eng, enggak Mas! Nurul nggak denger apa-apa."
"Nggak usah didengerin ucapan Rahman tadi. Dia nggak serius kok!"
"Nggak papa Mas Burhan. Nurul juga tahu diri Mas, Nurul bukan istri yang baik untuk Mas Rahman. Permisi Mas!"
"Eh Rul, Rul!"
"Kamu denger Man apa yang Nurul bilang tadi. Puas kamu? Ngrepotin aja kalian ini!". Panggilan pun terputus.
"Kamu masih mau cerai sama Nurul?" Tanya Shodiq.
"Bantu aku ke kursi roda! Cepetan!" Bentak Rahman. Shodiq pun segera membantu Rahman untuk duduk di kursi roda.
"Kamu mau kemana?"
"Cari Nurul!"
"Tadi aja ribut mau cerai, sekarang udah mulai bucinnya!" Sindir Shodiq.
"Diem kamu!" Jawab Rahman singkat.
__ADS_1
Shodiq pun segera mendorong kursi roda Rahman keluar ruangan dan mulai mencari dimana Nurul. Mereka kebingungan mencari Nurul dimana. Burhan juga belum memberi kabar. Dia juga masih kebingungan mencari Nurul setelah tadi ia sempat kehilangan jejak Nurul saat mengejarnya.