
Flashback On
Seorang pria terlihat memasuki pintu masuk hotel. Ia langsung duduk di salah satu kursi yang ada di restoran hotel itu. Ia lantas memesan makanan.
"Bisakah aku minta tolong padamu?" tanya pria itu pada pelayan hotel yang telah mencatat pesanannya.
"Iya Pak?" jawab pelayan itu.
"Nanti ada seseorang yang akan datang dan menemuiku di sini. Tolong campurkan ini, ke minuman pesanannya," ia menyerahkan sebuah botol kecil berisi cairan bening.
"Maaf, tapi ini apa Pak?"
"Hanya obat penenang. Karena orang itu punya masalah dengan pengendalian emosinya. Aku akan memberikan kabar kurang bagus padanya, jadi untuk berjaga-jaga agar tidak ada masalah nanti di sini."
"Maaf Pak, kami tidak berani Pak!" jawab pelayan itu sambil sedikit membungkukkan badannya.
"Ini untukmu!" Pria itu menyerahkan sebuah kertas kepada pelayan itu.
Pelayan itu lantas membaca isi kertas itu. Ia membelalakkan matanya. Sebuah cek dengan angka yang cukup besar baginya. Sepuluh juta rupiah.
"Kau hanya perlu menaruh beberapa tetes isi botol itu ke minuman laki-laki yang akan bertemu denganku nanti."
Pelayan itu sejenak berfikir. "Sebanyak ini hanya untuk menuangkan obat? Boleh juga!" batin pelayan itu.
"Baik Pak. Saya permisi!" Ucap pelayan itu yang lantas meninggalkan pria itu.
Sesaat setelah pelayan itu pergi, Rahman memasuki lobi hotel itu dan segera menuju restoran hotel. Ia mulai mengedarkan pandangannya.
"Mas Rahman!" Ucap seorang pria yang tengah duduk di salah satu kursi. Ia melambaikan tangannya, Rahman pun membalas lambaian tangannya dan langsung menghampirinya.
"Hai Bar. Gimana Kabarmu?" Ucap Rahman setelah sampai di hadapan pria itu, yang tak lain adalah Akbar.
"Baik Mas." Jawab Akbar.
"Udah lama nunggu?"
"Belum Mas. Baru sampai juga kok. Pesan dulu Mas, baru ngobrol!"
"Boleh," Rahman pun segera memanggil salah satu pelayan hotel dan segera memesan makanan dan minuman.
Rahman dan Akbar pun mengobrol sembari menunggu pesanan mereka datang. Tak lama, pesanan mereka datang. Pelayan yang mengantarkan makanan, mengedipkan sebelah matanya kepada Akbar, sebagai tanda bahwa permintaannya telah dilaksanakan.
Rahman dan Akbar pun menikmati pesanan mereka masing-masing. Obrolan tentang pekerjaan, mengisi sesi makan mereka. Akbar tak menanyakan sedikitpun tentang Nurul pada Akbar.
Ketika selesai makan, seorang wanita menghampiri mereka. "Rahman? Akbar?" sapa wanita itu.
"Hei, Mbak Dinda?" Sahut Akbar setelag menoleh pada wanita itu.
"Boleh gabung? Aku ada janji sama temanku, tapi dia belum datang." Ucap Dinda.
"Boleh Mbak, duduk Mbak!" jawab Akbar. Rahman diam saja tak mempedulikan kehadiran Dinda. Dinda pun lantas duduk di salah satu kursi kosong.
"Hai Man! Gimana kabar kamu?" tanya Dinda sembari menoleh ke arah Rahman.
"Baik." Jawab Rahman singkat.
Tiba-tiba ponsel Akbar berdering. "Maaf ya Mas, Mbak, aku terima telfon dulu."
Akbar pun segera beranjak dari kursinya. Ia sedikit menjauh dari mejanya. Tak lama ia sudah kembali.
"Maaf Mas, aku harus pergi sekarang. Ada masalah yang harus kuatasi," ucap Akbar setelah kembali ke mejanya.
"Aku juga akan pulang kalau begitu." Sambung Rahman.
"Bisa temani aku sebentar Man? Sampai temanku datang," ucap Dinda.
"Iya Mas, kalian bisa ngobrol dulu sambil nunggu teman Mbak Dinda datang. Aku pergi dulu ya Mas, Mbak," Akbar langsung beranjak dari kursinya dan segera pergi meninggalkan mereka berdua.
"Istrimu cantik Man. Baik juga sepertinya," ucap Dinda berusaha memulai obrolan.
"Makasih." Rahman tetap tak banyak bicara.
Rahman merasa sedikit pusing. Kepalanya terasa sedikit berat. Rasa kantuk pun tiba-tiba menghampirinya. Pandangannya mulai kabur.
"Kamu nggak papa Man?" tanya Dinda sembari memegang bahu Rahman.
__ADS_1
"Aku nggak papa," jawab Rahman dengan suara lirih. Ia mengerjapkan kedua matanya. Berusaha tetap menjaga kesadarannya.
Tiba-tiba tubuh Rahman rubuh bersandar pada meja. Dinda segera memegangi tubuh Rahman agar tak jatuh ke lantai. Dinda langsung mengambil ponselnya dan menelfon seseorang.
"Sudah!" Ucapnya singkat dan langsung memutus panggilan telfonnya.
Tak lama tiga orang pria menghampirinya. Dua orang pria lantas memapah tubuh Rahman. Mereka membawa Rahman yang tak sadarkan diri ke sebuah kamar hotel yang telah di pesan sebelumnya.
Dua orang pria itu lantas meletakkan tubuh Rahman di atas ranjang. "Kalian keluarlah!" Ucap satu pria lain.
Kedua pria tadi pun lantas keluar kamar. "Lepaskan bajunya!" perintah pria itu kepada Dinda.
"Bantuin dong! Enak banget kamu nggak ngapa-ngapain," sungut Dinda.
Mereka akhirnya melepaskan semua pakaian Rahman dan menutupi tubuhnya dengan selimut. "Aku pasang kamera! Kamu cepat siap-siap!" perintah pria tadi.
Dinda pun segera pergi ke kamar mandi. Tak lama ia keluar dengan mengenakan bathrobe dan semua bajunya ia bawa di tangannya. Ia melemparkan baju-bajunya ke sembarang tempat. Begitu juga dengan baju Rahman, ia membuatnya seolah-olah baju itu dilemparkan secara tidak sadar.
"Udah cepat! Lakukan bagianmu!" pinta pria tadi sembari bersiap memotret.
Dinda pun segera melepaskan bathrobe yang ia kenakan. Tubuh putih mulus itu kini terpampang jelas. Tanpa sehelai benang pun menempel di tubuhnya. Tubuh ramping dengan rambut hitam panjang begitu terlihat menggoda. Buah dada yang berukuran cukup besar, mengg*ntung sempurna di tubuh bagian depannya. Membuat pria manapun yang melihat, pasti akan tergoda dan membangkitkan gairah kelaki-lakiannya. Ia lantas mulai naik ke ranjang dan membuka selimut yang menutupi tubuh Rahman.
"Sial! Kenapa seseksi itu?" gumam pria yang siap dengan kameranya. "Aku punya ide!"
Dinda segera memposisikan tubuhnya dengan tubuh Rahman. Sang pria pun membantu Dinda memposisikan tubuh Rahman yang tak sadarkan diri dengan Dinda, seolah-olah Rahman dan Dinda tengah bercumbu mesra.
Cekrek, cekrek, cekrek.
Beberapa foto pun berhasil diambil oleh sang pria dari sisi samping. Seolah-olah foto itu di ambil oleh Dinda sendiri. Foto Rahman dan Dinda seperti sedang bercinta pun berhasil dibuat. Sang pria lantas menghampiri Rahman. Memapah tubuhnya menuju sofa yang ada di kamar itu. Tak lupa ia telah mengaktifkan mode rekam video.
"Kamu mau apain Rahman?" tanya Dinda sembari menatap pria itu.
"Udah bantu aja cepat! Aku punya ide lain supaya buktinya lebih kuat!"
Dinda pun membantu sang pria memapah tubuh Rahman pindah ke sofa dengan tubuh polosnya. Mereka lantas menutupi tubuh Rahman dengan selimut.
Tanpa berbasa-basi, pria itu langsung menarik pinggang Dinda ke pelukannya. Mel*umat bibirnya dengan penuh gairah. Dinda mencoba memberontak. Akhirnya sang pria pun melepaskan ciumannya.
"Kamu apa-apaan?" tanya Dinda dengan nafas tersengal-sengal.
"Kita buat video! Supaya buktinya semakin kuat."
"Berapa yang kamu minta?"
"Bagaimana jika seratus juta satu permainan?"
"Akan kuberi dua ratus juta jika kamu bisa memuaskanku!" Ungkap pria itu dengan tangan yang sibuk melucuti pakaiannya sendiri. Melemparkannya jauh dari jangkauan kamera.
"Apa kau seorang casanova sekarang?"
"Kau baru tahu?" tangan pria itu mulai menarik kembali pinggang ramping Dinda.
Sesuatu yang keras di bawah sana menempel tepat di bagian intim Dinda. "Kamu sudah sangat ingin rupanya?" bisik Dinda sembari memainkan jarinya di dada polos sang pria.
Kedua insan itu pun langsung memulai kembali ciuman mereka. Dinda langsung mengalungkan tangannya ke leher pria itu. Sedang satu tangan sang pria dengan sangat lihai mem*inkan buah dada Dinda dan yang satu turun ke bagian intim Dinda.
Perlahan mereka berjalan menuju ranjang dan mulai bercumbu mesra. Dinda pun yang memang mengincar uangnya, dengan senang hati memenuhi hasrat pria itu.
Mereka bermain dengan penuh ga*irah. Desahan demi desahan dari bibir Dinda meluncur begitu saja memenuhi ruangan. Mereka tak melupakan video yang sedang mereka buat, hingga dengan cukup hati-hati menyembunyikan wajah sang pria dari kamera dan membuat seolah-olah Dinda dipaksa melakukan itu.
Permainan itupun mencapai klimaks. Sang pria lalu menjatuhkan tubuhnya di samping Dinda.
"Hebat juga permainanmu!" Ucap pria itu dengan suara kelelahan.
"Kau juga hebat Akbar Mahendra! Tak kusangka, kau seorang casanova. Apa orang tuamu mengetahuinya?" sahut Dinda.
"Tentu saja tidak. Aku bermain sangat rapi, hingga keluargaku tak mengetahuinya sama sekali."
"Sejak kapan kau menjadi seperti itu?"
"Sejak aku kehilangan cintaku, beberapa bulan lalu."
"Kau masih baru rupanya. Tapi, kau cukup hebat untuk seorang pemula."
"Kita kembalikan Rahman ke ranjang, sebelum ia bangun!"
__ADS_1
Mereka berdua pun kembali memapah tubuh Rahman dan membaringkannya ke ranjang. Akbar lantas memunguti pakaiannya dan bathrobe yang tadi dikenakan Dinda. Ia lantas bersembunyi di dalam almari. Dan Dinda memposisikan dirinya tidur di samping Rahman. Memeluk tubuh Rahman dengan mesra.
Dan benar, tak menunggu lama Rahman mulai sadar. Ia mulai membukan mata dan melihat sekeliling yang nampak asing baginya. Ia terkejut mendapati Dinda berada di sampingnya sedang memeluknya. Dan pakaian mereka yang tercecer di mana-mana. Ia segera bangun dan duduk. Menghempaskan kasar tangan Dinda.
"Apa yang kamu lakukan Din?" bentak Rahman.
Dinda yang berpura-pura tidur, ia seolah-olah terkejut dengan teriakan Rahman. "Kenapa berteriak Man?"
"Apa yang kamu lakukan di sini? Dan kenapa aku bisa di sini?" Rahman mulai panik dan bingung. Ia segera turun dari ranjang dan memunguti pakaiannya.
"Kamu tadi tak sadarkan diri di resto. Jadi aku meminta pelayan memapah tubuhmu ke kamar ini."
"Kenapa kau tak mengantarkan aku pulang?"
"Aku tak ingin istrimu salah paham dengan kondisimu. Aku takut dia akan berfikir macam-macam padaku."
"Sial! Kenapa aku tak bisa ingat apapun?" Rahman mengumpat dirinya sendiri sembari mengenakan pakaiannya.
"Aku tak tahu kenapa kau pingsan."
"Dan kau memanfaatkan keadaanku?"
"Kau yang memaksaku Man! Aku sudah berusaha menolak, tapi tenagamu terlalu kuat, aku tak bisa melawanmu."
"Bohong!"
"Untuk apa aku berbohong padamu?"
"Dasar jalang kau!"
Rahman telah selesai memakai pakaiannya kembali. Ia lantas menyambar ponselnya yang tergeletak di atas meja. Ia langsung pergi keluar kamar dengan berlari.
Akbar yang mengetahui Rahman telah pergi, segera keluar dari persembunyiannya. Ia menyeriangai penuh kemenangan.
"Tunggu pembalasanku Man!" ucap Akbar lirih.
"Kau punya masalah apa dengan Rahman sebenarnya?" tanya Dinda yang mulai turun dari ranjang dan mulai memunguti pakaiannya.
"Kau tak perlu tahu!"
Tanpa berfikir panjang, Akbar kembali meraih tubuh polos Dinda. Hasratnya kembali tersulut melihat tubuh polos Dinda.
"Kau mau apa lagi?" tanya Dinda setelah Akbar berhasil menangkap tubuhnya, mengambil semua pakaian di tangan Dinda dan membuangnya.
"Kita bermain lagi! Aku pasti akan membayarmu!" tangan Akbar mulai memainkan pucuk dada Dinda. Dinda pun mulai mendesah karena perlakuan Akbar.
"Baiklah Akbar Mahendra!"
Permainan penuh g*irah itu pun kembali terjadi. Suara des*han dan er*ngan Akbar dan Dinda kembali memenuhi ruangan itu.
Di luar hotel, Rahman mulai panik karena malam telah menyapa. Waktu pun sudah menunjukkan pukul sembilan lebih. Saat sampai di mobil, ia mengecek ponselnya. Ada banyak pesan dan panggilan dari istrinya yang tak terjawab.
"Maafkan aku sayang!" gumam Rahman.
Ia segera melajukan mobilnya untuk pulang. Empat puluh lima menit berkendara ia sampai di rumah. Nurul yang memang belum bisa tidur, mendengar suara mobil Rahman memasuki gerbang, langsung berlari keluar kamar. Ia segera membukakan pintu untuk suaminya.
Bruk. Nurul langsung menghambur ke pelukan Rahman tepat di depan pintu rumah. Air matanya mulai menggenang. Ia sangat khawatir pada Rahman karena tak ada kabar sama sekali.
"Mas Rahman nggak papa kan?" tanya Nurul.
"Nggak papa sayang. Maaf aku lupa mengabarimu!" ucap Rahman sembari mengusap punggung Nurul.
"Kenapa Mas nggak ada kabar? Nurul baru saja mau telfon Mbak Rika. Mau tanya Mas Shodiq tentang Mas Rahman."
"Maaf sayang! Aku terlalu asik mengobrol dengan teman-teman lama, sedang ponselku dalam mode diam, aku tak tahu jika kamu menelfonku. Maafkan aku!" Rahman mengecup puncak kepala Nurul.
"Ayo masuk! Nanti kamu sakit kelamaan di luar." Ajak Rahman. Nurul pun mengangguk.
Mereka lantas masuk ke rumah setelah mengunci pintu. Fikiran Rahman jauh melayang mengingat kejadian yang menimpanya tadi. Ia merasa sangat bersalah pada Nurul.
"Maafkan aku sayang! Semoga yang Dinda katakan tidaklah benar. Dan tidak akan ada masalah kedepannya karena kecerobohanku." Gumam Rahman dalam hati.
"Maaf membuatmu khawatir," Rahman memeluk erat bahu Nurul.
"Iya Mas nggak papa. Yang penting Mas Rahman udah pulang dan baik-baik saja," Nurul tersenyum menatap wajah Rahman.
__ADS_1
Mereka pun masuk ke kamar. Rahman segera membersihkan diri dan lantas beristirahat bersama Nurul.
Flashback Off