Istri Pilihan Sang Duda

Istri Pilihan Sang Duda
Kekhawatiran


__ADS_3

"Aku berangkat dulu ya Sayang! Nanti sore jam empat kita ke rumah sakit cek kandunganmu. Aku udah bikin janji sama Arum." Rahman berpamitan pagi itu pada Nurul di depan pintu. Nurul pun mencium tangan Rahman.


"Mas, hati-hati ya! Perasaan Nurul nggak enak hari ini." Nurul terlihat sangat cemas.


"In shaa Allah. Kamu jangan berfikir terlalu jauh. Mas nggak mau kamu sampai sakit kepala lagi. Dan juga hati-hati di rumah! Kalau ada apa-apa langsung telfon Mas ya!" Nurul mengangguk patuh.


"Dan adek, jangan rewel ya sama Bunda!" Rahman mengelus perut Nurul yang sudah sangat buncit karena kandungannya sudah memasuki bulan ke sembilan.


"Assalamu'alaikum,," ucap Rahman setelah mengecup kening Nurul.


"Wa'alaikumussalam Mas,," Nurul membalas salam Rahman dan melambaikan tangannya.


Perut Nurul makin hari makin membesar. Pipinya pun semakin hari semakin menggemaskan karena tubuhnya kini sedikit gemuk. Rahman pun mulai sering bekerja dari rumah. Ia ingin jadi suami siaga. Tapi hari ini dia harus berangkat ke kantor karena ada rapat dengan beberapa rekan bisnisnya.


Beberapa hari terakhir, Nurul selalu mendapat firasat buruk. Ia selalu mengatakannya pada Rahman. Rahman pun akan selalu membantu Nurul untuk berfikir positif dan tak membiarkannya terpengaruh oleh firasat buruk itu.


Sore pun menjelang. Selepas sholat ashar, Rahman bergegas pulang ke rumah. Ia akan memeriksakan kandungan Nurul. Saat sampai di rumah, Nurul telah selesai bersiap. Rahman pun segera mandi dan bersiap.


"Bunda, Al ikut ya!" pinta Al ketika Rahman dan Nurun hendak berangkat.


"Jangan Sayang! Al di rumah saja sama Oma ya! Bunda sama Ayah juga cuma sebentar." Jawab Nurul.


"Nanti, kalau Ayah sama Bunda udah pulang, kalau nggak hujan, kita jalan-jalan ya!" sambung Rahman.


"Bener ya Yah?"


"Iya. Tapi Al di rumah dulu sama Oma, ya?"


"Oke Yah. Dadah Ayah, Bunda," Al melambaikan tangannya setelah mencium tangan kedua orangtuanya.


"Hati-hati ya Man!" Ucap Bu Dira.


"In shaa Allah Bu'," jawab Rahman. Rahman dan Nurul pun bergantian mencium tangan Bu Dira.


"Assalamu'alaikum." Ucap Nurul dan Rahman bersamaan.


"Wa'alaikumussalam." Jawab Bu Dira dan Al.


"Semoga tidak terjadi apa-apa!" gumam Bu Dira sambil melihat mobil Rahman keluar dari gerbang.


Saat sampai di rumah sakit, Arum sudah sejak tadi menunggu Nurul dan Rahman. Jam praktek Arum sebenarnya hari ini pagi, tapi karena permintaan Rahman, ia harus kembali ke rumah sakit saat sore ini


Tok, tok, tok. Pintu ruangan praktek Arum diketuk. Seorang perawat pun masuk.


"Dokter, ada Pak Rahman dan istrinya." ucap perawat itu.


"Persilahkan masuk!" jawab Arum sembari sibuk membuka rekam medis Nurul di komputer.


Rahman dan Nurul pun dipersilahkan masuk oleh perawat tadi. Arum menyambutnya dengan senyuman cerah. Arum sangat senang jika dikunjungi Nurul. Baginya, Nurul itu seorang yang cukup istimewa. Bukan karena dia istri Rahman, tapi kepribadiannya yang mambuat Arum suka padanya. Ia sering mendengar cerita tentang Nurul dari Rika dan Nana yang lebih sering bertemu dengannya.


"Aahh, Nyonyahku! Bagaimana kabarnya Nyonyah?" Sapa Arum dengan wajah cerianya.


"Baik Dokter. Dokter Arum bagaimana kabarnya?"


"Sebel sama Rahman." Arum mengadu pada Nurul.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Nurul bingung.


"Mentang-mentang pemilik rumah sakit, bikin janji ketemu dokter seenak jidatnya. Hari ini kan aku praktek pagi. Eh, dia bikin janjinya mau kesini sore. Kan nyebelin!"


Nurul langsung mengerutkan dahinya menatap Rahman. "Aku tadi pagi ada rapat Rum di kantor, baru selesai tadi sebelum ke sini." Jawab Rahman sedikit ketus.


"Kalau bukan karena Nyonyah yang mau periksa, ogah aku mah!"


"Maaf ya Dokter, malah merepotkan!" Ucap Nurul sendu.


"No, no, no Nyonyah! Jangan minta maaf, Nyonyah nggak salah! Itu tuh yang salah!" Arum sedikit memajukan dagunya ke arah Rahman.


"Udah cepetan periksa!" Perintah Rahman.


"Iya, iya!" Arum segera berdiri dari kursinya. "Silahkan Nyah, tiduran dulu! Kita lihat baby kecilnya." Ucap Arum semangat.


Nurul pun segera merebahkan tubuhnya di ranjang periksa. Arum pun menyelimuti tubuh bagian bawah Nurul dan menaikkan sedikit gamisnya hingga ke perut. Ia mulai mengoleskan gel ke perut besar Nurul.


"Kalian nggak pengen tahu jenis kelamin babynya?" tanya Arum saat mulai menggerakkan alat di perut Nurul.


"No!" Jawab Rahman dan Nurul bersamaan membuat Arum terkejut.


"Kalian ini! Ngagetin aja!" sungut Arum. Nurul cekikikan melihat ekspresi Arum.


"Biar jadi kejutan Dokter nanti setelah lahir. Mau laki-laki atau perempuan, yang penting sehat." Sahut Nurul.


"Oke Nyonyah! Tuh lihat, adek kecilnya sehat." Ucap Arum sembari menunjuk ke arah monitor.


Rahman dan Nurul pun mengamati dengan seksama gambar yang ada di monitor. Seorang bayi kecil terlihat meringkuk di sana.


"Enggak Dokter." Jawab Nurul sembari merapikan bajunya. Ia masih betah duduk di ranjang periksa.


"HPL (Hari Perkiraan Lahir) kan masih dua minggu lagi, tapi ada baiknya disiapkan semua keperluan untuk melahirkan dari sekarang. Nyonyah kan udah pernah melahirkan, jadi udah paham kan Nyah?"


"Iya Dokter. Sudah saya siapkan."


"Oke. Kita bertemu satu minggu lagi. Karena sudah memasuki minggu ke tiga puluh enam, periksanya satu minggu sekali sampai bayinya lahir. Ya?"


"Iya Dokter. Terima kasih." Ucap Nurul sembari turun dari ranjanh periksa.


"Kamu nggak makasih Man?" sindir Arum.


"Iya, makasih Dokter Arum." Rahman menekankan kalimatnya.


"Sialan kamu Man!"


Nurul tertawa kecil melihat dua orang itu. Arum pun memberikan beberapa nasehat kepada Nurul dan Rahman. Setelah itu, Nurul dan Rahman pun berpamitan pulang.


Di dalam mobil, mereka mengobrol banyak hal. Tidak jauh dari rumah sakit, ada kemacetan panjang di jalan karena kecelakaan. Rahman memilih membelokkan mobilnya menuju jalan alternatif. Jalanan ini tidak begitu ramai.


Tiba-tiba mobil Rahman dicegat oleh sebuah mobil dan diblokir oleh mobil lain di belakangnya.


"Kamu nggak papa Dek?" Tanya Rahman khawatir karena ia harus mengerem mobilnya mendadak.


"Nggak papa Mas. Itu siapa Mas?" Nurul mulai cemas.

__ADS_1


Terlihat beberapa orang pria berpakaian serba hitam turun dari mobil yang mencegat mereka. Dari kaca spion pun, terlihat beberapa orang juga turun dari mobil yang di belakang. Mereka terlihat seperti pengawal pribadi.


Agak jauh di belakang, mobil pengawal pribadi Rahman juga telah dicegat. Tiga orang pengawal pribadi Rahman mencoba melawan dan berusaha menyelamatkan tuannya, tapi mereka kalah jumlah. Jadi mereka kalah.


Karena jalan alternatif yang relatif sepi, tak banyak orang di sekitar lokasi. Hanya beberapa warga sekitar. Mereka tak berani mendekat karena ada seseorang yang membawa senjata api dan senjata tajam.


"Itu kan mobil Akbar?" Gumam Rahman dalam hati ketika melihat plat nomor mobil yang mencegat.


Seorang pria mengetuk kaca mobil Rahman dan menyuruhnya turun. Nurul mulai panik. Rahman hanya mengangguk kepada pria itu.


"Kamu tenang ya Sayang! Biar aku bicara sama mereka! Kamu tolong telfon Burhan pakai ponselku, minta dia telfon Pak Jefry dan anak buahnya untuk minta bantuan! Dan apapun yang terjadi, kamu nggak boleh keluar dari mobil! Oke?" Pinta Rahman berusaha menenangkan Nurul.


"Tapi Mas,,"


"Aku akan baik-baik saja. Aku akan bicara baik-baik sama mereka. Kamu jangan keluar ya!" Rahman mengusap pipi Nurul dan mencium keningnya.


"Hati-hati Mas!" Nurul sangat khawatir. Badannya mulai gemetar.


Rahman pun segera keluar dari mobil dan menghampiri pria berpakaian hitam itu.


"Ada apa ini? Siapa kalian?" Tanya Rahman.


"Kami hanya menjalankan perintah untuk menghabisimu." Jawab salah satu pria.


"Mana Akbar? Aku tahu pasti dia yang mengirim kalian. Apa dia di mobil? Panggil dia!"


Salah satu pria pun kembali ke mobil dan memanggil seseorang.


Sedang di dalam mobil, Nurul tengah berusaha mencari nomor Burhan di ponsel Rahman. Tangannya gemetar, hingga kesulitan menemukan nomornya. Setelah menemukannya, ia langsung melakukan panggilan.


"Assalamu'alaikum,,"


"Wa'alaikumusaam,, kamu,,"


"Mas tolong Mas Rahman! Tolong telfon Pak Jefry dan anak buahnya minta bantuan!"


"Kalian di mana?"


"Di, di, di,," Nurul menoleh kesana kemari. "Aku nggak tahu Mas ini dimana, jalannya sepi."


"Rahman mana?"


"Mas Rahman udah keluar mobil. Diaaa,," Nurul menatap kedepan mobil. "Mas Akbar?" Ia terkejut melihat Akbar keluar dari mobil di depannya.


"Ada Akbar di sana?"


"Iya Mas. Mas Burhan tolong!" Suara Nurul mulai bercampur dengan isakan.


"Aku kesana! Kamu tenang ya!"


"Mas tolong cepat!" Nurul menatap Rahman yang sedang berbicara dengan Akbar di luar.


"Mas Rahmaaannn!" Nurul tiba-tiba berteriak sangat keras. Ponsel ditangannya terlepas begitu saja.


"Nurul? Nurul? Rahman kenapa? Nurul" Suara Burhan berteriak dalam panggilan tak dihiraukan Nurul. Nurul langsung membuka pintu mobil dan berlari keluar. Ia melupakan permintaan Rahman untuk tidak keluar dari mobil. Air matanya mengalir semakin deras.

__ADS_1


__ADS_2