Istri Pilihan Sang Duda

Istri Pilihan Sang Duda
Anak Hebat


__ADS_3

" Assalamu'alaikum"


" Wa'alaikumussalam Dil. Yuk berangkat!" jawab Nurul.


" Bentar-bentar mbak,Dila mau tanya. Tadi pagi mama cerita,,semalam mbak Nurul sama Al dianterin pulang sama pria. Siapa Hayoooo,,???" tanya Dila penasaran.


" Temenku. Udah yuk berangkat,,nanti telat lagi."


" Yakin cuma temen mbak?" goda Dila.


" Iya temen. Al bunda berangkat kerja dulu ya. Hati-hati di rumah yaa!"


" Iya Bunda." Al segera menghampiri Nurul untuk menyalaminya.


" Assalamu'alaikum!"


" Wa'alakkumussalam!" Nurul dan Dila pun mulai meninggalkan teras rumah Nurul.


" Daaa Al,,,!!" teriak Dila sambil melambaikan tangan.


" Daaa mbak Dila,,!!" Al pun membalas lambaian tangan Dila kemudian kembali masuk rumah. " Mbak Nurul,cerita dong siapa temen cowok mbak Nurul yang semalam nganterin pulang!"


" Kepo kamu yaa,,!! Jangan bilang siapa-siapa ya!! Tolong bilang sama mamamu juga yaa,,tolong jangan bilang orang lain." Nurul berkata sambil setengah berbisik.


" Siapa sih mbak,,?? Nggak biasanya mbak Nurul sampai diantar pulang,sampai rumah pula."


" Lha gimana lagi,,Al tidur dimobilnya,,dibangunin nggak bangun-bangun pas udah nyampe depan gang sana. Akhirnya dia yang gendong Al sampe rumah."


" Cie,,cie,,cie.. Roman-romannya ada yang falling in love nih.." Dila langsung berlari meninggalkan Nurul yang masih berjalan pelan karena khawatir mendapat serangan tak terduga dari Nurul. Nurul hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol Dila.


Di kediaman Rahman.


" Mas Rahman! Mas,,mas Rahman!!" teriak Fatimah sembari menuruni tangga hingga suaranya menggema di seisi rumah.


" Kamu jangan teriak-teriak Fatimah. Semua orang pendengarannya masih normal." tegur bu Indira yang duduk di ruang keluarga sendirian.


" Maaf bu',,hhihihi. Mas Rahman di mana bu'??"


" Itu di berenanh sama Riko sama Rindi. Kenapa??"


" Oke bu',,makasih. Fatimah mau tanya mas Rahman,gimana semalam nganterin mbak Nurul pulang,,hhihihi. Mas Rahman pernah bilang sesuatu nggak bu' tentang mbak Nurul?" Fatimah langsung duduk di samping ibunya.


" Belum pernah sih. Iya ya! Gimana pendapat Rahman tentang Nurul? Ibu terlalu bersemangat buat kenalin mereka,,sampai lupa tanya pendapat Rahman."


" Ayo bu',,kita interogasi mas Rahman. Hhihihi.." Fatimah sangat antusias dengan idenya. Kedua ibu dan anak itu pun langsung menuju ke kolam renang yang berada di halaman belakang rumah.

__ADS_1


" Mas Rahman nggak ikut berenang?" tanya Fatimah ketika sampai di dekat kolam renang mendapati sang kakak hanya duduk di gazebo.


" Nggak dek,,ngawasin mereka aja. Lagi nggak pengen berenang. Ali mana?"


" Masih di kamar mas,baru mandi tadi." Fatimah langsung duduk di samping kanan Rahman,di ikuti bu Indira di samping kirinya. " Mas,gimana semalam?"


" Ģimana apanya?"


" Ya gimana waktu kamu nganterin Nurul pulang?" bu Indira ikut penasaran.


" Nggak gimana-gimana bu',biasa aja." cuek Rahman. Rahman mulai teringat saat dia satu mobil dengan Nurul.


" Masak nggak gimana-gimana? Mbak Nurul cantik nggak mas menurut mas Rahman,,??"


" Manis." jawab Rahman singkat. Dua wanita di samping Rahman pun lalu saling pandang dan menoleh ke arah Rahman,namun wajah Rahman datar tanpa ekspresi.


Rahman yang peka terhadap sikap kedua wanita disampingnya pun lalu menghela nafas panjang. Dia pun menceritakan apa yang terjadi ketika mengantar pulang Nurul dan Al. " Udah mas gitu aja??" tanya Fatimah kecewa.


" Terus harus gimana lagi dek,,??"


" Ya mas Rahman agresif dikit gitu kek,,masak cowok dingin banget."


" Emang masmu ini buaya apa? Lagian dek,baru juga kenalaan beberapa hari,nggak tahu juga sifatnya kayak apa."


" Iya bu',Al juga bilang kemarin." jujur Rahman.


" Al bilang nggak kenapa alasannya?"


" Enggak bu'. Kenapa? Nurul juga nggak cerita?"


" Enggak. Kira-kira kenapa ya?"


" Ya lain kali tanya bu' sama Nurul. Kenapa bu'? Ibu' keberatan dengan sakitnya? Kalau keberatan,batalin aja bu' sebelum terlambat."


" Kalau bicara itu jangan aneh-aneh. Dia aja nggak masalah sama penyakitmu,kenapa juga kita harus bermasalah sama sakitnya." bela bu Indira.


" Iya,,iya bu'. Terserah ibu' saja." pasrah Rahman. " Terima kasih,kamu menerima kondisiku." Mereka bertiga pun makin hanyut dalam obrolan lain sembari mengawasi Riko dan Rindi yang sedang berenang.


...****************...


Matahari telah tergelincir ke barat,sebagai tanda bahwa senja hampir tiba dan gelap malam pun akan segera menemani. Nurul telah pulang dari bekerja. Menyelesaikan pekerjaan rumahnya yang tidak bisa diselesaikan oleh Al. Menjelang gelap ia telah menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Dia pun memebersihkan diri untuk bersantai setelah seharian berkutat dengan pekerjaannya. Hingga malam pun telah tiba.


" Al,,sini nak bunda mau tanya sama Al." Nurul menepuk lantai yang beralaskan tikar tepat disebelahnya. Al baru saja keluar dari kamarnya untuk mengaji.


" Iya bunda."

__ADS_1


" Al,,kemarin Al sama om Rahman ngobrol apa saja?" Al kebingungan menjawab sang bunda. Nurul menyadari ekspresi wajah sang putra. " Bunda nggak akan marah kalau Al jujur sama Bunda!" bujuk Nurul.


" Yakin Bunda nggak akan marah sama Al?"


" Kenapa Bunda harus marah coba? Bunda yakin,Al sudah tahu mana yang baik dan yang buruk. Jadi Al juga tahu,mana yang harus dikatakan pada orang lain dan yang tidak. Iya kan,,??" Nurul merangkul bahu Al dengan tangan kanannya.


" Iya bunda. Terima kasih Bunda percaya sama Al." Al pun memeluk erat tubuh ibunya. Lalu ia mulai bercerita tentang obrolannya dengan Rahman. Tapi dia melewatkan bahwa dia mau Rahman menjadi ayahnya.


" Yakin itu aja,,??"


" Eemmm,,Al juga bilang sama om Rahman kalau,,," Al menghentikan ucapannya demi mengumpulkan keberaniannya.


" Kalau kenapa sayang,,??"


" Kalauuuu,,,,Al,,,mauuuu,,,om Rahman jadi ayahnya Al." Al mempererat pelukannya pada sang ibu. Ia takut ibunya akan marah dan diluar kendali. Nurul terkejut mendengar peekataan putranya.


" Kenapa Al bilang begitu? Apa Bunda saja tidak cukup untuk Al,,?" tanya Nurul pelan sambil mengatur perasaannya. Ia melepaskan pelukan Al dan memutar duduknya hingga saling berhadapan. " Jujurlah sama Bunda,,yaaa!"


" Bunda jangan marah yaaa,,janji!" Al mengulurkan tangannya dengan keempat jarinya menggulung sedang jari kelingkingnya masih berdiri tegak.


" In shaa Allah yaaa,,!" Nurul pun melakukan hal sama dengan Al.


" Maafin Al ya Bunda,,Al juga pengen kayak temen Al yang lain Bunda. Ada ayah sama bunda di rumah. Ada yang nemenin Al kalau Bunda baru kerja atau kalau Bunda baru beresin rumah. Bunda juga nggak sendirian ngurusin Al. Al sebenarnya kangen sama ayah Bayu,tapi ayah Bayu sudah punya keluarganya sendiri,,dan mungkin sudah lupa sama Al." air mata anak laki-laki itu mulai menggenang.


Nurul segera memeluk tubuh putranya. Menenangkan perasaannya. Al sedikit terisak dipelukan Nurul. " Maafkan Bunda sayang,,ini semua salah Bunda. Kamu harus berpisah dari ayah kandungmu." air mata Nurul mulai mengalir deras. Merasa bersalah atas apa yang dirasakan putranya. Ia berusaha lebih kuat dihadapan putranya. Dihapusnya air mata yang telah membanjiri pipinya,lalu perlahan melepaskan pelukannya. " Kenapa Al nggak pernah bilang itu ke Bunda sayang,,??"


" Al,,Al,,Al nggak mau nambahin beban fikiran bunda. Al tahu Bunda udah capek kerja tiap hari buat nyukupin kebutuhan Al,,jadi Al nggak mau Bunda tambah capek gara-gara mikirin keinginan Al buat punya ayah lagi." ucap Al yang masih sesenggukan.


Nurul sudah tak dapat menahan tangisnya. Pertahanan yang tadi ia bangun telah runtuh oleh ucapan putranya. Rasa bersalah pada Al makin berkecamuk di hatinya. Rasa menyesal karena tidak pernah tahu keinginan hati putra semata wayangnya. Ia semakin merasa beesalah karena telah gagal menjadi seorang ibu dan juga sekaligus ayah bagi Al. Ia rengkuh kembali tubuh Al ke dalam pelukannya. Kini suara isakannya benar-benar menggema memenuhi rumah kecilnya.


" Maafin Al Bunda,,maafin Al,,hiks!" Al membalas pelukan Nurul dengan erat.


" Tidak sayang,,hiks,,hiks,,Bunda yang harusnya minta maaf sama kamu. Karena keegoisan Bunda,kamu jadi berpisah dari ayahmu. Bunda juga nggak pernah tahu apa keinginan hatimu,,hingga Bunda selalu berusaha menutup diri dari kenyataan bahwa Bunda tetaplah bunda,,sangatlah tidak mungkin untuk menjadi ayah bagimu,,hiks,,hiks,,maafin bunda sayang!!" kedua ibu dan anak itu pun saling menguatkan hingga tangis mereka mulai mereda dan saling melepaskan pelukannya.


" Al,,kenapa Al mau om Rahman jadi ayahnya Al,,??"


" Nggak tahu bunda,,suka aja sama om Rahman. Lagian selama ini,dari semua laki-laki yang berusaha deket sama bunda,,nggak ada yang kayak om Rahman. Mereka pasti ngerayu Al mau beliin mainan,padahal mainan Al udah banyak. Dan lagi,kalau Al bilang tentang Bunda sakit,pasti mereka nggak percaya. Iya kan Nda,,???" Nurul memikirkan apa yang dikatakan Al.


" Iya sayang,,Al pinter,hebat." Nurul mengusap pelan kepala Al.


" Bunda mau nikah sama om Rahman,,??"


" Belum tahu sayang,,Bunda masih memikirkannya. Makanya Bunda juga tanya sama Al,gimana pendapat Al." Nurul tersenyum pada putranya. Hingga sayup-sayup kumandang adzan isya' terdengar dari masjid. Kedua ibu dan anak itu pun akhirnya menyudahi obrolan penuh emosi tadi dan bersiap pergi ke masjid.


Dalam setiap sujudnya,Nurul tak lelah memanjatkan do'anya kepada Sang Kuasa. Memohon petunjuk akan pilihan hidup yang dihadapinya.Memohon kekuatan hati dan pilihan yang terbaik untuk dirinya,putranya dan keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2