
Bintang dan bulan telah menunjukkan sinarnya. Menemani gelapnya malam yang mulai menyapa dunia. Di salah satu sudut kota Jogja, seorang laki-laki tampan nan gagah tengah menatap jauh suasana kota Jogja malam hari dari jendela.
Rahman masih menunggu Nurul yang belum sadarkan diri. Nita dan Yudi telah pulang setelah Nurul di pindahkan ke ruang rawat inap. Ia berdiri di dekat jendela dan menatap suasana malam kota.
"Eeemmm,," sebuah suara yang familiar di telinga Rahman mengalihkan pandangannya. Ia membalikkan badannya menatap perempuan yang pelan-pelan membuka matanya. Ia segera menghampiri perempuan itu, yang tak lain adalah Nurul.
"Kamu sudah sadar sayang?" Sapa Rahman sembari duduk di tepi ranjang tidur Nurul.
"Mas,," sapa Nurul lirih.
Nurul mengedarkan pandangannya. Melihat seisi ruangan yang asing baginya. "Ini dimana Mas?"
"Di rumah sakit sayang. Kamu tadi pingsan waktu di makam ibu." Rahman mengusap puncak kepala Nurul penuh perhatian.
"Kalau cuma pingsan, kenapa harus dibawa ke rumah sakit Mas? Pulang kan lebih dekat," ucap Nurul dengan sedikit terbata-bata dan lirih.
"Air ketubanmu tadi merembes sayang, jadi aku langsung membawamu ke rumah sakit," jawab Rahman yang langsung mengecup kening Nurul.
"Sebentar aku panggilkan perawat untuk memeriksamu," Rahman lalu beranjak dari duduknya.
Nurul hanya menatap kemana langkah suaminya yang hendak menuju telfon yang ada di kamar itu. Ia lantas mengalihkan pandangannya ke arah jendela kamar yang gordennya tadi dibuka oleh Rahman. Nampak suasana diluar yang gelap karena malam telab tiba.
"Apa ada yang sakit sayang?" tanya Rahman yang kembali duduk di tepi ranjang Nurul.
Nurul menatap wajah suaminya lalu tersenyum kecil. Tiba-tiba air matanya menetes perlahan. Rahman pun segera mengusapnya.
"Jangan menangis sayang! Katakanlah, apa yang kamu rasakan? Bagian mana yang sakit?" Nurul hanya diam lalu menggelengkan kepalanya.
"Bayi kita bagaimana Mas?"
"Dia tidak apa-apa. Dia kuat sepertimu." Rahman tersenyum pada Nurul.
Ketukan di pintu mengalihkan percakapan mereka. Dua orang perawat masuk lantas masuk. Mereka lalu memeriksa kondisi Nurul. Setelah memastikan kondisi Nurul stabil, mereka meninggalkan ruang rawat Nurul.
"Kamu mau minum?" tanya Rahman.
Nurul hanya menganggukkan kepalanya. Ia merasakan tenggorokannya kering. Rahman lalu mengambilkan air minum dan membantu Nurul minum.
"Mau makan sesuatu? Tadi Mbak Nita bawain makanan. Mau aku ambilkan?"
"Mbak Nita mana?"
"Mbak Nita udah pulang setelah kamu dipindahkan ke sini. Lisa merengek minta pulang, jadi dia langsung pulang dengan Mas Yudi."
Rahman beranjak dari duduknya. Ia mengambil bekal yang dibawakan oleh Nita lalu menunjukkannya pada Nurul.
"Mas sudah makan?"
"Belum. Nungguin kamu,"
"Mas Rahman makan dulu ya, Nurul belum ingin makan,"
"Atau mau makan brownis?"
__ADS_1
Nurul menganggukan kepalanya pelan. Rahman lantas mengambilkan sepotong kue brownis yang tadi ia minta belikan Bagas. Ia ingat, Nurul sangat menyukai kue brownis. Jadi dia sengaja membelikan kue itu untuk Nurul.
Rahman pun menyuapkan kue itu perlahan. Nurul menghabiskan dua potong kecil kue brownis.
"Mas Rahman makan dulu! Mau Nurul suapi?"
"Kamu istirahat saja, aku makan sendiri!" Nurul mengangguk patuh. Badannya memang masih terasa lemas. Kepalanya juga sedikit pusing. Tapi ia juga tak ingin melihat Rahman sampai sakit.
"Kamu mau Dek aku suapi? Ini tahu guling yang tadi dibeliin Mas Yudi," tawar Rahman.
"Mas nggak papa makan itu?"
"Emangnya kenapa Dek? Kata Mbak Nita, kuahnya udah dipanasin tadi, jadi nggak basi."
"Maaasss,,"
"Kamu tahu sendiri Dek, aku bukan tipe pemilih makanan. Kan kita harus bersyukur dengan apa yang ada," Rahman mengusap pelan wajah Nurul yang sendu. "Jadi nggak usah khawatir! Oke?"
Nurul menarik sedikit sudut bibirnya. Rahman pun lantas memakan tahu guling yang dibawakan Nita. Ia tetap duduk di tepi ranjang Nurul.
"Mas,,"
"Ya sayang. Kamu mau? Atau butuh sesuatu?"
"Boleh Nurul pinjam ponselmu?"
"Tentu boleh sayang," Rahman segera mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas meja kabinet. Lalu menyerahkannya ke Nurul. Rahman pun lantas melanjutkan makannya.
Nurul menyalakan layar ponsel Rahman dan membuka kunci layarnya. Ada sebuah foto di sana sebagai wallpaper. Foto tatkala Rahman mencium keningnya untuk pertama kali. Nurul menyunggingkan senyum kecilnya.
Hingga ia sampai pada galeri video. Dia melihat sesuatu yang familiar. Dia memutar video itu tanpa suara. Dadanya mulai sesak. Matanya mulai terasa panas. Sekuat tenaga ia menahan isakannya agar tak keluar dari mulutnya. Tubuhnya sedikit bergetar menahan isakannya.
"Mas Rahman benar-benar melakukannya dengan Mbak Dinda?" batin Nurul sembari menatap suaminya yang sedang merapikan tempat bekal makannya.
Ya. Nurul menemukan video yang pernah Dinda kirimkan. Video bukti bahwa Rahman telah berhubungan intim dengannya. Air matanya akhirnya meluncur lepas tanpa bisa ditahannya lagi. Isakannya pun telah keluar dari mulutnya. Rahman pun menoleh karena suara isakan Nurul. Ia segera menghampiri istrinya itu.
"Kamu kenapa sayang? Ada yang sakit? Aku panggilkan perawat sebentar!" tanya Rahman sembari mengusap air mata yang membasahi pipi Nurul. Ia hendak beranjak untuk memanggil perawat, tapi tangannya ditahan oleh Nurul.
"Nggak ada yang sakit Mas" Nurul berusaha tersenyum menatap Rahman. Ponsel yang dipegangnya tadi ia letakkan di samping tubuhnya.
"Lalu kenapa kamu menangis? Katakanlah padaku, apapun itu. Jangan kamu simpan sendiri! Ada aku di sini, berbagilah denganku!"
"Boleh aku tanya sesuatu Mas? Aku harap, Mas menjawabnya dengan jujur."
"Tentu saja sayang."
"Apa Mas benar-benar melakukannya dengan Mbak Dinda?" air mata Nurul telah memenuhi kelopak matanya ketika pertanyaan itu keluar dari mulut Nurul.
"Bisakah kita tak usah membahas itu sekarang? Kamu harus banyak istirahat!" Rahman berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
"Maass, aku hanya butuh kejujuranmu."
"Dan aku butuh kepercayaanmu. Apa kamu percaya padaku?" Rahman menggenggam erat kedua tangan Nurul.
__ADS_1
Nurul masih berusaha menahan air matanya. Ia juga berusaha tersenyum pada Rahman. Tanpa berkata apapun, Nurul langsung memeluk tubuh Rahman sangat erat. Menumpahkan air matanya yang tak bisa lagi dibendungnya.
"Apa aku boleh egois Mas? Egois untuk tak membagimu dengan wanita lain? Egois untuk memilikimu seutuhnya untukku sendiri? Egois untuk tak mengizinkamu menikahi Mbak Dinda ataupun wanita manapun?" ucap Nurul sembari terisak dipelukan Rahman. Rahman hanya diam. Dia hanya memeluk tubuh kecil istrinya.
"Ingin aku menjadi egois, tapi kenapa aku tak bisa?" Hati Rahman terasa perih mendengar setiap perkataan istrinya.
"Maafkan aku Mas, aku tak bisa menjadi istri yang baik bagimu!"
"Percayalah padaku sayang! Aku hanya milikmu seorang, tidak ada wanita lain. Kamu hanya akan berbagi diriku dengan anak-anak kita. Dan kamu, adalah istri terbaikku." Rahman melepaskan pelukannya dan mencium puncak kepala Nurul.
Perlahan tangis Nurul mulai mereda. Ia bisa merasakan ketulusan Rahman dalam ucapannya tadi. Tapi, video yang dilihatnya tadi masih mengganggu fikirannya.
"Mas,,"
"Heemm?" Rahman menatap lembut wajah Nurul yang sembab.
"Apa Mas benar-benar melakukannya?"
"Sayang,"
"Mas, katakanlah! Aku percaya padamu."
"Baiklah, jika itu yang kamu mau! Dan terima kasih sayang, kamu percaya padaku." Rahman kembali mendaratkan bibirnya di kening Nurul dengan lembut.
Rahman pun dengan berat hati memenuhi permintaan Nurul. "Kamu ingat sekitar satu bulan yang lalu, aku pulang sangat terlambat waktu itu?"
Nurul menyandarkan tubuhnya pada ranjangnya. Ia berusaha mengingat-ingat apa yang dikatakan Rahman. Dan ia pun menganggukkan kepalanya.
"Apa saat itu kalian melakukannya?"
"Sore itu aku baru saja menemui teman lamaku. Kami memang janjian bertemu di restoran hotel beberapa hari sebelumnya. Tak lama kami berbincang, Dinda tiba-tiba menghampiri kami. Dia pun mengenal Dinda sebagai mantan istriku. Kami akhirnya berbincang bertiga. Tapi tak berselang lama, dia lalu berpamitan karena ada urusan mendadak. Setelah itu, aku merasa pusing dan lalu tak ingat apapun. Dan ketika aku terbangun, aku berada di sebuah kamar hotel bersama Dinda." Rahman menjeda ceritanya lalu menatap manik mata Nurul seksama.
Nurul hanya menganggukkan kepalanya untuk Rahman agar dia melanjutkan ceritanya. "Ketika aku tanya kenapa kami bisa di kamar bersama, Dinda bilang, dia kasihan melihatku pusing lalu menyewakan kamar hotel untukku. Saat itulah, dia bilang aku memaksanya melakukannya."
"Berarti video itu benar Mas? Kalian melakukannya?"
"Video? Apa Dinda juga mengirimimu video?"
"Tidak. Aku melihatnya diponselmu."
Rahman menghela nafas panjang. "Kenapa aku lupa tentang video itu? Aaahh, sial!" batin Rahman.
"Burhan sedang mencari kebenaran tentang video itu."
"Tapi foto itu benar-benar dirimu Mas. Bahkan luka jahitan di bahu belakangmu saja nampak jelas dalam foto itu."
"Kamu percaya padaku bukan?"
Nurul mengangguk pelan. Ia tak mampu berkata-kata. Hatinya masih terasa perih mengingat foto dan video tentang suaminya.
Rahman segera menarik tubuh istrinya dan memeluknya kembali. Memeluknya erat dan sangat erat. Ia tahu, apa yang dikatakannya sangat menyakiti hati istrinya.
"Nikahi Mbak Dinda secepatnya Mas! Aku tak ingin kamu menjadi pria yang tak bertanggung jawab." Ucap Nurul lirih dalam pelukan Rahman.
__ADS_1
Rahman pun diam tak menjawab. Ia tak ingin lebih menyakiti hati istrinya. Mereka berpelukan sangat lama. Hingga akhirnya Nurul pun terlelap dalam pelukan Rahman. Ia terlalu lelah menghadapi kenyataan itu.
Kenyataan dari apa yang Rahman ceritakan padanya. Kenyataan bahwa Rahman telah tidur di kamar hotel bersama mantan istrinya. Ingin rasanya ia percaya sepenuhnya pada suaminya itu, tapi bukti yang ada terlalu kuat untuk diabaikan. Dan hatinya terlalu lelah untuk menerima kenyataan dari masa lalunya yang terulang kembali.