Istri Pilihan Sang Duda

Istri Pilihan Sang Duda
Salah Do'a


__ADS_3

" Ayo nduk kita ngobrol di gazebo belakang saja,Al biar sama Rahman." ajak bu Indira pada Nurul setelah memasuki rumahnya. " Eh,kalian sudah sarapan belum,,?? Kalau belum biar dimasakin sama mbok Tum."


" Sudah bu' tadi pagi." jawab Nurul singkat. " Dan ini ada kue sedikit bu'." ucap Nurul sembari menyerahkan tas plastik berisi kue yang ia bawa dari rumah. Bu Indira menerima kue pemberian Nurul dan membawanya ke meja makan.


" Mbok Tum,tolong bawakan minum buat Rahman sama Al di depan tv ya! Sama ini kue juga ditaruh piring sekalian. Saya mau ke gazebo belakang dulu!" ucap bu Indira pada seorang wanita paruh baya yang bekerja menjadi asisten rumah tangganya.


" Baik bu',," jawab mbok Tum.


Tak menunggu waktu lama,Al dan Rahman ternyata sudah asyik dengan obrolan mereka. Rahman mengajak Al untuk bermain di ruang keluarga. Membongkar container plastik berukuran besar berisikan mainan. " Sejak kapan mereka akrab begitu ya,,?? Apa mereka pernah bertemu tanpa ku ketahui?" Nurul terlihat kebingungan meliihat keakraban Al dan Rahman.


Nurul dan bu Indira telah sampai di halaman belakang. Mereka lantas duduk di gazebo yang ada disebelah kolam renang. Nurul mengamati halaman belakang rumah yang cukup luas. Dengan kolam renang yang besar berada di tengah. Ada beberapa tanaman hias yang tertata rapi dan terawat dengan baik. Bahkan beberapa ada yang tengah berbunga dengan cantik.


Tak lama mbok Tum datang membawa nampan berisi minuman dan camilan. Lalu meletakkan nampan itu di gazebo dan meninggalkannya. " Ayo nduk,diminum. Sama dimakan ini kuenya!" tawar bu Indira.


" Iya bu' terima kasih."


" Nduk,apa ada yang ingin kamu tanyakan??" bu Indira bertanya pada Nurul. " Ibu tahu nduk,ini semua pasti sangat mengejutkan bagimu. Apalagi kamu juga baru beberapa hari bertemu dengan Rahman. Tapi memang ibu nggak mau lama-lama nduk. Memang sejak awal ibu mendekatimu untuk menjadikanmu menantuku,itu jika kamu mau. Mungkin ibu terlalu memaksa,tapi ibu hanya ingin melihat Rahman berumah tangga lagi dan bahagia dengan keluarganya seperti Fatimah dan orang lain. Ibu mana yang nggak ingin melihat anaknya bahagia,," bu Indira berhenti sejenak. " Entah apa yang membuatku yakin padamu sejak aku bertemu denganmu hari itu. Tapi dari semua perempuan yang pernah kukenalkan pada Rahman,ibu yakin kamu pantas untuk Rahman."


" Apa ibu tidak masalah memiliki menantu seorang janda,,? Apalagi Nurul hanya dari keluarga biasa,? Apa kata orang lain bu Dira,,?? Nurul tidak ingin menjadi aib bagi keluarga bu Dira kedepannya."


" Ibu tidak peduli nduk apa kata orang. Mereka hanya menilai dari apa yang terlihat dan itu hak mereka untuk menilai,mereka tidak tahu apa yang tidak terlihat."


Nurul sungguh tidak tahu lagi harus berkata apa. Ia hanya terdiam memikirkan apa yang baru saja ia dengar. " Ya Allah,Yang Maha Mengetahui. Sungguh Engkau mengetahui apa yang tidak hamba ketahui. Jika memang mas Rahman dan keluarga ini baik untuk hamba dan Al Fatih,berikan petunjukmu dan dekatkan kami. Tapi jika memang tidak,sungguh Engkau akan meberikan jalan terbaik untuk kami. Aamiin."


Kedua wanita itu masih mengobrol hingga cukup lama. " Maaf bu',untuk makan siang mau dimasakkan apa?" tanya mbok Tum yang muncul dari dalam rumah.


" Sebentar mbok Tum,," bu indira menoleh pada Nurul. " Kamu ingin makan siang sama apa nduk? Atau Al biasanya suka makan apa nduk?"


" Terserah bu Dira saja. Al itu bukan tipe anak pemilih makanan." Jawab Nurul sungkan.

__ADS_1


" Yasudah. Mbok Tum,masak sayur sop sama ayam goreng dan tempe goreng. Oh iya,apa ada jamur tiram? Kalau ada buatkan tumis jamur tiram juga dan semur telur ayam juga."


" Baik bu'." Mbok Tum lantas masuk rumah lagi dan memasak sesuai permintaan majikannya.


Setelah mbok Tum masuk,ada suara langkah kaki tengah berlari dari dalam rumah. " Bunda,Al boleh ikut om Rahman ke masjid?" tanya Al setelah tiba di dekat gazebo.


" Iya boleh,," bu Indira yang menjawab pertanyaan Al. Nurul menatap bu Indira terkejut. " Nggak papa nduk,cuma deket kok masjidnya. Lagian kan sama Rahman perginya." Jelas bu Indira.


Nurul pun tersenyum dan mengangguk," Iya boleh." Al lantas masuk ke dalam dan menghampiri Rahman yang sudah menunggunya. Mereka berdua lantas pergi ke masjid menggunakan motor. Tak lama kumandang adzan dzuhur terdengar. Bu Indira dan Nurul pun lantas menunaikan kewajibannya. Setelah selesai mereka menunggu Rahman dan Al pulang dari masjid untuk makan siang bersama.


Setelah Rahman dan Al kembali,mereka lalu makan siang bersama. Tak banyak yang berbicara. Hanya sesekali bu Indira menawarkan makanan yang sudah terhidang kepada tamunya. Setelah semua selesai, " Bunda,Al boleh belajar berenang tidak sama om Rahman?" Al meminta izin dari bundanya.


" Boleh sayang,,tapi Al kan nggak bawa baju ganti. Masak iya mau belajar berenangnya nggak pakai baju. Al nggak malu??" Nurul menjelaskan perlahan pada Al.


" Oh iya om,,Al nggak bawa baju ganti," Al terlihat sedikit kecewa.


" Lain kali saja ya Al belajar berenangnya!" Nurul mencoba menghibur putranya. Al pun akhirnya menuruti ibunya meskipun kecewa.


Nurul membantu mbok Tum membereskan meja makan. Meski sudah ditolak oleh mbok Tum,Nurul tetap memaksa membantu. Ia tidak enak hati jika hanya berdiam saja. Bu Indira hanya melihat Nurul dari ruang tamu. Setelah selesai,Nurul dan bu Indira mengobrol kembali sambil menunggu Rahman dan Al yang sedang keluar.


Hampir satu jam Rahman dan Al baru kembali. Al langsung menghampiri ibunya. Ia menyerahkan segelas minuman boba kepada ibunya. Rahman pun melakukan hal yang sama pada bu Indira. " Bunda,Al dibelikan baju oleh om Rahman," ucap Al pelan,karena takut dimarahi oleh ibunya. Nurul menatap Al bingung. Karena memang Nurul melarang Al menerima pemberian dari orang yang belum dikenal. Bahkan Al pun selalu menolak ketika dulu ada orang yang mendekati ibunya dan memberikannya mainan atau apapun.


" Jangan marah padanya,aku yang memaksa membelikannya baju. Dia tadi sudah menolak,aku yang memaksa," Rahman menjelaskan pada Nurul. Nurul menoleh pada Rahman.


" Iya nggak papa. Tapi lain kali nggak lagi yaa,," jawab Nurul seraya mengusap kepala Al.


" Jadi Al boleh dong belajar berenang sama om Rahman?" tanya Al gembira. Nurul hanya mengangguk,karena tak tahu lagi harus mengatakan apa. " Ayo Om,jadi kan ngajarin Al berenang?" tanya Al memastikan.


" Om ganti baju sebentar ya. Kamu juga ganti celana pendek,biar lebih nyaman." saran Rahman. Al dan Rahman pun berganti baju. Mereka langsung pergi ke kolam renang. Rahman dengan sabar mengajari Al berenang.

__ADS_1


Sedangkan Nurul bersama bu Indira mengobrol dan menonton tv. " Nduk,ibu istirahat di kamar sebentar ya. Kamu nggak apa kan sendirian sebentar? Ibu kalau jam segini biasanya istirahat sebentar. Atau kamu ikut Al belajar berenang juga bisa," ucap bu indira.


" Iya bu' silahkan,Nurul tidak apa sendirian," Nurul mempersilahkan bu Indira untuk istirahat. Dia memilih menonton tv kembali. Dia melirik jam pada ponselnya,ternyata sudah hampir waktu sholat ashar. Nurul berniat mengingatkan Al untuk menyudahi belajar berenangnya. Ia pu lantas mematikan tv dan menuju halaman belakang. Ketika dia sampai pintu,dia berpapasan dengan Rahman yang telah selesai mengajari Al. Rahman masih basah kuyub. Dengan kaos berwarna putih dan celana boxer yang ia kenakan,tubuh tegap dengan dadanya yang bidang dan perutnya yang six packs sungguh terekspos dengan jelas dimata Nurul. Nurul segera menundukkan pandangannya " Astaghfirullah. Dilihat dosa,dibuang sayang. Allahu akbar."


" Maaf,,!!" Rahman melewati Nurul dengan sedikit berlari untuk menuju kamarnya membersihkan diri.


" Mbak,ini handuk untuk putranya," suara mbok Tum mengejutkan Nurul.


" Oh iya bu',terima kasih. Maaf bu',boleh saya minta plastik bu',untuk tempat baju Al yang basah." Nurul menerima handuk dari mbok Tum.


" Iya mbak,sebentar saya ambilkan." Tak lama mbok Tum kembali dengan dua tas plastik di tangannya,lalu menyerahkannya pada Nurul.


" Makasih ya bu',," ucap Nurul.


" Iya mbak sama-sama. Jangan panggil bu' ya mbak,panggil mbok Tum saja seperti bu Dira dan mas Rahman kalau manggil saya!" pinta mbok Tum. Nurul pun mengangguk dan tersenyum. " Kamar mandinya di sana ya mbak!" mbok Tum menunjuk ke arah kamar mandi tamu tak jauh dari mereka berdiri.


Nurul segera ke kolam renang menghampiri Al yang masih berenang. Ia sangat bahagia karena sudah bisa berenang meskipun belum mahir. " Al sudah ayo mandi dulu sana! Udah mau ashar ini" Al masih asyik berenang. " Aaallll,,,!!" Al pun segera keluar dari kolam.


" Ini handuknya dipakai. Pakaiannya dilepas biar nggak netes kemana-mana airnya. Bunda beresin di sini saja,kamu mandi di kamar mandi di sana ya." perintah Nurul. Al pun segera berlari meninggalkan Nurul sendiri di tepi kolam renang. Ia berjongkok membelakangi pintu membereskan pakaian Al yang basah ke dalam plastik. " Gimana nanti aku bilangnya ke bu Dira ya? Hadduuhhh,,pusing,,pusing,,pusing,,!!" Nurul memegangi kepalanya kebingungan.


" Kamu kenapa,,??" tanya Rahman yang sudah berdiri tepat dibelakang Nurul.


" Eh,,mas Rahman!" Nurul terkejut mendengar suara Rahman dibelakangnya. Nurul seketika berdiri dan berbalik badan hendak menjawab Rahman tapi dia tidak tahu bahwa Rahman berdiri tepat di belakangnya. " Nggak apa-apa kok mas,,!" Dia terkejut karena terlalu dekat dengan Rahman. Refleks dia mundur selangkah dari tempatnya berdiri. Tapi sayangnya,dia menginjak plastik berisi pakaian Al yang basah dan tergelincir ke arah kolam renang. " Aaaaahhhhh,,,!!"


Bruukk. Tangan kiri Rahman dengan cepat menangkap pinggang Nurul sedang tangan kanannnya memegang tangan kiri Nurul. Dan ditariknya Nurul ke dalam pelukannya.


Mata Nurul membola sempurna. Dan bertemu pandang dengan Rahman. " Ya Allah,,deket sih deket. Tapi nggak sedeket ini juga kan ya Allah. Kan belum jadi mahram." Nurul bergumam dalam hatinya


" Kamu mau belajar berenang juga seperti Al,,??" goda Rahman.

__ADS_1


cekrek,,cekrek,,cekrek


__ADS_2