
Flashback On
"Gimana Man, apa belum ada kabar baik dari Dinda? Kalian sudah menikah satu tahun. Apa kalian menunda momongan?" tanya Bu Dira pada Rahman ketika mereka sedang bersantai di balkon rumahnya.
"Tidak Bu', kami tidak menundanya. Mungkin memang Allah belum percaya pada kami," jawab Rahman.
"Apa kalian sudah pernah memeriksakan kondisi kesehatan kalian?"
"Belum Bu'. Rahman sedang sibuk Bu' di kantor. Pembukaan cabang baru di Jawa Timur Bu',"
"Kamu jangan kerja terus Man! Kamu sekarang sudah punya istri, jangan lupakan istrimu!"
"Iya Bu', Rahman akan luangkan waktu untuk cek kesehatan dengan Dinda besok!"
"Dinda kemana Man? Akhir-akhir ini dia sering sekali keluar rumah."
"Dia pergi dengan temannya Bu', tadi sudah pamit sama Rahman."
"Yasudah Man, Ibu masuk dulu!"
"Maaf ya Bu', Rahman belum bisa kasih Ibu cucu," ucap Rahman sambil memeluk tubuh ibunya.
"Iya nggak papa," Bu Dira membalas pelukan Rahman.
Bu Dira lantas pergi meninggalkan Rahman sendirian. Ia kembali ke kamarnya untuk istirahat.
Ke esokan paginya, Rahman mengajak Dinda untuk pergi ke rumah sakit milik keluarganya untuk memeriksakan kesehatan mereka. Dinda pun menuruti kemauan Rahman.
Setelah serangkaian tes dan pemeriksaan, akhirnya hasilnya keluar. Dan kenyataan pahit yang harus Rahman terima. Ia divonis menderita Azoospermia. Dimana tidak ada ****** sama sekali dalam air maninya. Itu berarti, dia tidak bisa memiliki keturunan.
Rahman sangat terpukul atas hal itu. Ia tahu betul, bahwa ibunya sudah sangat menginginkan cucu darinya. Tapi kini dia harus mengecewakan ibunya, karena tidak bisa memberikan cucu pada ibunya.
Dokter Pramandanu yang memeriksa Rahman dan Dinda memberikan saran untuk Rahman agar menjalani perawatan. Ada harapan untuk Rahman memiliki keturunan, tapi semua butuh waktu untuk kondisi Rahman membaik atau sembuh.
Rahman segera menyetujui saran Dokter Pram. Ia akhirnya menjalani perawatan di bawah pengawasan Dokter Pram. Ia juga mengatakan kondisinya pada sang ibu. Bu Dira mencoba menerima kenyataan itu dan menguatkan hatinya dan hati Rahman.
Selang tiga bulan setelah itu, Dinda dinyatakan hamil. Semua orang bahagia. Begitu pula Rahman. Tapi ada hal yang mengganjal hati Rahman.
"Dokter Pram bilang, kondisiku baru ada sedikit kemajuan, apa mungkin Dinda bisa hamil secepat itu? Tapi tak mungkin juga bila dia berselingkuh bukan? Ah sudahlah, mungkin ini karunia dari Allah, aku hanya perlu mensyukurinya," gumam Rahman ketika dia mendapat kabar bahwa Dinda telah hamil dua bulan.
Kabar bahagia juga datang dari Fatimah yang baru saja menikah dengan Ali. Ia juga telah berbadan dua seperti Dinda. Bu Dira sangat bahagia karena akan mendapatkan dua cucu sekaligus.
Suatu hari, ketika kehamilan Dinda telah berusia empat bulan, Rahman tidak sengaja melihat Dinda tengah bersama dengan seorang laki-laki yang tidak dia kenali. Mereka memasuki sebuah hotel yang berada tak jauh dari kantor Rahman. "Dinda dengan siapa?" gumam Rahman.
Rahman mencoba menelfon Dinda. "Assalamu'alaikum. Kamu dimana sayang?" tanya Rahman.
"Wa'alaikumussalam sayang. Aku baru pergi sama temenku, nemenin dia ketemu sama rekan bisnisnya."
"Oh, oke sayang! Hati-hati ya, jangan kecapekan ya!"
__ADS_1
"Iya sayang, daaa," dan panggilan pun terputus.
Rahman berusaha membuang fikiran buruknya. Dan kembali melanjutkan perjalanannya untuk bertemu rekan bisnisnya.
Rahman tak lagi menaruh curiga pada Dinda. Lalu siang itu, dia mendapat telfon dari Burhan ketika dia sedang diluar kota. Burhan sendiri tengah mengadakan pertemuan dengan salah satu calon rekan bisnisnya, di sebuah lobi hotel di kotanya.
"Assalamu'alaikum Man,," sapa Burhan dari sebrang telfon.
"Wa'alaikumussalam, kenapa? Ada masalah?"
"Aku kirimin kamu foto dan video, buka dan lihat sendiri!"
"Foto, video apa?"
"Lihat aja sendiri, nanti juga tahu!" Burhan langsung menutup sambungan telfonnya.
Rahman segera mengecek pesan yang dikirim Burhan. Ada beberapa foto dan sebuah video berdurasi sekitar dua menit. Ia membuka satu per satu foto dan video itu.
Mata Rahman membulat sempurna. Rahangnya mengeras. Tangannya terkepal menahan amarah. Bagaimana tidak? Ia melihat foto sang istri yang tengah dipeluk mesra oleh lelaki yang sama yang pernah ia lihat dua bulan lalu. Serta video ketika sang istri mencium pipi dan mengecup bibir pria itu.
Belum reda amarah Rahman, sebuah pesan suara dari Burhan menambah amarahnya semakin bertambah. Pesan suara percakapan antara Burhan dan resepsionis hotel, yang mengatakan bahwa Dinda bersama laki-laki itu telah memesan kamar untuk satu malam dan lengkap dengan layanan kamar untuk pengantin baru.
Bagaikan disambar petir di siang bolong, Rahman ternyata ditipu mentah-mentah oleh Dinda. Ia diselingkuhi oleh istrinya sendiri. Rahman lantas berfikir tentang bayi yang ada dalam kandungan Dinda. "Apa mungkin dia bukan anakku?" gumam Rahman disela lamunannya.
Ia mencoba mencari tahu apa yang Dinda lakukan dibelakangnya. Dan mencari tahu siapa lelaki yang bersama istrinya itu. Ia berpura-pura tak ada masalah dengan Dinda. Rahman tak ingin gegabah dan menyakiti perasaan ibunya.
Akhirnya Rahman tahu, bahwa Dinda telah menjalin hubungan dengan laki-laki itu selama sepuluh bulan terakhir, tepat saat usia kandungan Dinda memasuki bulan ke tujuh. Pemikiran bahwa anak di kandungan Dinda bukanlah anaknya semakin kuat. Ia mulai merasa kecewa. Tapi, Rahman tetap memperlakukan Dinda seperti biasa demi menutupi kecurigaannya yang belum terbukti.
Hingga hari yang di nanti tiba. Dinda melahirkan bayi laki-laki yang tampan. Semua orang bahagia, terlebih bu Dira. Rahman diam-diam melakukan tes DNA pada bayi itu. Dan kenyataan pahit kembali yang harus ia terima. Bayi itu bukanlah anak kandungnya.
Rahman benar-benar terpukul. Dunia seakan hancur baginya. Harapan kebahagiaan dengan keluarga kecilnya seketika lenyap. Istri yang dicintainya telah berselingkuh hingga dia hamil anak dari pria lain. Rahman tak bisa lagi menutupi kesedihan dan kekecewaannya.
Tanpa menunggu lama, sehari setelah kepulangan Dinda dari rumah sakit, Rahman langsung menjatuhkan talak tiga dan memberinya surat gugatan cerai. Semua orang terkejut dengan yang Rahman lakukan. Hingga Rahman memberikan hasil tes DNA bayi itu. Semua orang terkejut, bahkan Bu Dira sampai pingsan dan harus dilarikan ke rumah sakit.
Tak ada kata maaf bagi Dinda dari Rahman. Rahman segera mengembalikan Dinda pada orang tuanya. Dinda berusaha menolaknya. Dia tidak ingin berpisah dari Rahman.
"Sayang, aku tak mau bercerai denganmu. Maafkan aku sayang, aku khilaf!" bujuk Dinda.
"Khilaf katamu? Kau sampai hamil anak dari selingkuhanmu kau bilang itu khilaf?" teriak Rahman disela amarahnya.
"Kau juga bersalah dalam hal ini sayang, tidak serta merta salahku sendiri! Kalau saja kau tidak sibuk dengan pekerjaanmu dan lebih memperhatikan aku, aku tak akan berselingkuh," bela Dinda.
"Aku sibuk bekerja untuk mencukupi kehidupanmu, menafkahimu. Bukan hanya untuk kesenanganku saja! Dan kalau memang itu masalahnya, kau bisa membicarakannya denganku bukan malah selingkuh!"
"Aku tahu aku salah sayang, aku khilaf! Tolong maafkan aku! Aku tak ingin bercerai denganmu, aku mencintaimu sayang. Tolong maafkan aku! Aku tak akan mengulanginya lagi!"
"Kalau kau memang mencintaiku, kau tak akan berselingkuh. Aku sudah menjatuhkan talak tiga padamu, itu tak akan bisa dicabut. Aku akan mengantarmu pulang ke rumah orang tuamu!" Rahman lantas meninggalkan Dinda yang telah bersimpuh di kaki Rahman.
Rahman mengantar pulang Dinda ke rumah orang tuanya secara baik-baik. Ayah Dinda sangat terkejut hingga mendapat serangan jantung. Dan selang dua hari menghembuskan nafas terkhirnya.
__ADS_1
Rahman sangat terpuruk. Perusahaannya bahkan terlantar. Selama satu bulan dia tidak pernah ke kantor. Hanya Burhan dan Shodiq yang menanganinya. Mereka harus membagi waktu untuk Rahman dan perusahaannya.
Bu Dira juga perlahan membaik kondisinya. Karena kelahiran putra pertama Fatimah. Rahman butuh waktu lebih dari setengah tahun untuk bisa menerima kenyataan itu. Psikisnya benar-benar terguncang. Tapi perlahan ia bisa menerima kenyataan pahit itu.
Satu tahun setelah kejadian itu, Rahman mulai kembali ke perusahaannya. Ia sangat menyibukkan dirinya dengan pekerjaan. Perusahaannya berkembang pesat. Selama dia terpuruk, Bu Dira dan dua sahabatnya yang mengurusi perusahaan.
Setelah kembalinya Rahman ke perusahaan, Bu Dira mulai memperkenalkan Rahman kepada beberapa wanita. Ia berharap, Rahman bisa melupakan kenangan pahitnya dan memulai kehidupan baru membina keluarga. Tapi semua di tolak oleh Rahman. Rahman masih belum ingin membina rumah tangga kembali. Ia meminta waktu pada Bu Dira untuk mencari sendiri calon istrinya jika nanti sudah siap.
Flasback Off
"Itulah masa laluku dengan Dinda. Kami dulu saling mencintai sejak kami kuliah. Hingga aku memutuskan menikahinya. Aku kira ikatan cinta kami cukup kuat, ternyata tidak," ucap Rahman dengan tatapan menerawang jauh.
"Ungkapan cinta tak menjamin seberapa besar kekuatan cinta itu sendiri. Hingga ujianlah yang dapat membuktikannya," sahut Nurul.
"Are you okay baby?" tanya Rahman menatap lekat Nurul yang terlihat sedih.
"Yes, I'm fine," Nurul tersenyum pada Rahman.
"Kamu cemburu? Maaf jika aku membuatmu sedih,"
"Iya Mas, aku cemburu!"
"Maafkan aku!" Rahman meraih tangan Nurul dan menggenggamnya.
"Aku cemburu karena besarnya cintamu pada Mbak Dinda. Hingga kau begitu terpuruk karena sikapnya. Apakah jika suatu saat aku pergi, kau akan seperti itu Mas?"
"Kamu ini bicara apa?"
"Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti. Jika nanti suatu saat aku harus pergi lebih dulu, aku mohon padamu, jaga Al untukku. Tetaplah sayangi dia seperti janjimu padaku,"
"Kamu tak akan pergi kemana-mana. Kita akan melihat anak-anak kita tumbuh dewasa dan kita menua bersama," Rahman mendaratkan kecupan di kening Nurul.
"Aamiin."
"Kenapa kamu bertanya tentang masa laluku Dek?"
"Aku hanya ingin lebih mengenalmu Mas. Dengan cerita masa lalumu, aku akan tahu, apa yang begitu menyakitimu di masa lalu. Dan maaf, jika aku membuka kembali luka lamamu,"
"Aku juga ingin berbagi cerita padamu, itu tak masalah bagiku. Apa kamu mau mebagi kisah masa lalumu padaku?"
"Apa Mas tak akan cemburu jika aku menceritakan laki-laki lain?"
"Aku juga ingin lebih mengenalmu. Aku ingin tahu, apa penyebab kamu bisa kehilangan kendali emosimu."
"Mas?"
"Ya.. Tak usah diceritakan jika itu terlalu berat bagimu!" Rahman meraih bahu Nurul, dan merengkuhnya dalam pelukan.
Nurul menghela nafas panjang. "Aku akan berbagi denganmu Mas," jawab Nurul dengan senyuman kecil diwajahnya.
__ADS_1
"Kamu yakin?"
Nurul hanya mengangguk dalam pelukan Rahman. "Jika kamu bisa berbagi denganku, kenapa aku tak bisa berbagi denganmu Mas, terima kasih!" jawab Nurul. "Kuatkan hatiku untuk bercerita ya Allah," do'a Nurul dalam hati. Rahman mengecup pucuk kepala Nurul.