Istri Pilihan Sang Duda

Istri Pilihan Sang Duda
Curhat


__ADS_3

Jalanan begitu ramai,tapi suasana terasa sangat hening di dalam sebuah mobil. Suasana canggung sangat terasa memenuhi atmosfer dalam mobil. Seorang anak kecil yang duduk di bangku belakang sudah tertidur lelap menjelajahi alam mimpinya. Sedang di bangku depan,dua orang dewasa menatap lurus ke depan tengah sibuk dengan fikiran masing-masing.


" Maaf mas Rahman,jadi merepotkan mas Rahman harus mengantar saya dan Al pulang." ucap Nurul mencoba mencairkan kecanggungan.


" Tak apa. Aku juga sedang tidak ada kerjaan." Rahman sedikit menoleh ke arah Nurul.


" Terima kasih mas." Nurul menoleh ke arah Rahman.


" Iya sama-sama." Rahman sedikit tersenyum dibalik kemudinya.


" Apa iya mas Rahman bisa menerima pernikahan ini dan juga menerimaku yang jauh dari kata sempurna ini? Dia begitu baik,sedangkan aku,,,??? Lalu bagaimana dengan Al,,?? Entahlah,,aku harus benar-benar minta petunjuk pada Allah. Bantu hamba-Mu ini ya Allah." Nurul bergumam dalam hatinya.


" Allahu Akbar,,kenapa dia diam lagi? Apa ada yang salah? Bicaralah. Sungguh,aku senang mendengar suaramu." Rahman kembali melirik ke arah Nurul. Sedangkan Nurul,menatap kosong ke arah jendela di sampingnya.


Keheningan pun kembali. Mobil masih terus melaju diantara keramaian kota. Hingga sampailah di tempat tujuan dan mobil mulai menepi. Rahman dan Nurul lantas keluar. Nurul segera membuka pintu di belakangnya. " Al,ayo bangun! Udah sampai deket rumah. Ayo bangun!" Nurul menggoyang-goyangkan tubuh Al perlahan. " Aaall,,Al Fatih!" tapi Al benar-benar terlelap dan tak terusik sedikit pun.


" Biar aku bantu gendong dia sampai rumah." sela Rahman.


" Nggak papa mas,Nurul bisa kok gendong Al sendiri." tolak Nurul.


" Al biar aku yang gendong,kamu bawa oleh-oleh yang dari ibu' tadi!" saran Rahman. " Udah,,nggak papa. Santai saja. Apa kamu juga mau kugendong sampai rumah?" Rahman berhasil menggoda Nurul.


" Eh!! Tidak mas." Nurul akhirnya mengalah. Rahman lantas meraih kedua tangan Al dan meletakkannya di bahunya. Ia sandarkan kepala Al ke dada bidangnya dan mengangkat tubuh anak laki-laki itu dengan hati-hati agar tak terbangun. Rahman menggendong Al sampai di rumah kontrakan Nurul. Tak ada rasa keberatan dalam raut muka Rahman. Ia menggendongnya sembari memeluknya erat. Nurul hendak mengambil Al dari tangan Rahman ketika mereka sampai depan rumah dan Nurul sudah membuka kunci pintu.


" Kamar Al di mana?? Biar sekalian aku antar ke kamarnya." tanya Rahman ketika Nurul selesai membuka kunci pintu.


" Biar Nurul saja mas. Maaf sudah merepotkan!" tolak Nurul.


" Sudahlah,,kasihan Al. Biar dia segera lebih nyaman jika tidur di tempat tidurnya!" Rahman memaksa. Nurul akhirnya mempersilahkan Rahman masuk dan menunjukkan kamar Al. Tak lupa Nurul membantu membukakan pintu kamar Al untuk Rahman.


Sebuah kamar yang tak begitu besar,dengan sebuah kasur busa berukuran single,sebuah almari kecil dan meja belajar sederhana. Semua barangnya tertata rapi. Siapa yang mengira,itu adalah kamar seorang anak berusai 8 tahun. Rahman segera meletakkan Al di atas kasurnya. Rahman segera keluar dari kamar Al.


" Aku pulang dulu,sudah malam. Tolong sampaikan salamku untuk Al,terima kasih." pamit Rahman.


" Iya mas,terima kasih banyak. Maaf merepotkan mas Rahman." ucap Nurul.


" Iya sama-sama. Aku permisi,assalamu'alaikum."

__ADS_1


" Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabatokatuh." Rahman lantas meninggalkan rumah kontrakan Nurul. Nurul segera masuk ke rumah dan menutup pintu rumahnya. Memikirkan atas apa yang baru saja dialaminya.


" Aku dikhitbah? Bahkan oleh keluarga sehebat itu? Apakah ini ujianmu ya Allah?" Nurul membaringkan diri di kasurmya. Menatap langit-langit kamarnya. " Astaghfirullah. Jangan banyak mikirin mas Rahman Nurul!" Nurul segera bangkit dari kasurnya. " Besok pagi saja aku telfon ibu. Tanya gimana pendapatnya." Nurul pun pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan bersiap untuk tidur.


Di jalan. Rahman terlihat lebih bahagia. " Bukankah pipinya tadi bersemu merah? Lucu sekali wajahnya ketika salah tingkah,,hhaha." Rahman mengingat kejadian ketika dia menggoda Nurul tadi. " Astaghfirullah. Sudahlah,,hamba serahkan pada- Mu ya Allah. Engkau pasti memberi yang terbaik bagi hamba-Mu. Aamiin." Rahman pun lantas melajukan mobilnya kembali ke rumah.


Malam semakin larut. Menemani setiap insan untuk beristirahat melepas lelah. Mempersiapkan diri menyambut hari esok yang masih menjadi rahasia Yang Maha Kuasa.


...****************...


Bintang dan rembulan mulai menghilang. Ditelan cahaya sang surya yang begitu terangnya. Menyapa siapa saja dengan lembaran baru.


" Bunda,maaf ya semalam bunda harus gendong Al sampai rumah." ucap Al ketika menemani sang ibu memasak.


" Bilang itu besok kalau ketemu sama om Rahman lagi. Semalam om Rahman yang gendong kamu dari mobil sampai kamar kamu. Jangan lupa bilang makasih ya!" Al terkejut mendengar ucapan sang ibu.


" Yang bener bunda? Bukan bunda yang gendong Al semalam?" tanya Al tak percaya.


" Iya bener. Om Rahman bantu gendong kamu,bunda bawain oleh-oleh yang dari oma Dira."


" Oooww,gitu."


Dia mengambil ponselnya dan mencari nomor telfon bu Lastri,lalu menelponnya. Tak butuh waktu lama,telfon pun langsung tersambung.


" Assalamu'alaikum bu'." sapa Nurul.


" Wa'alaikumussalam nduk. Gimana kabarmu,,?? Al mana?" tanya bu Lastri antusias.


" Itu bu' sedang sarapan. Alhamdulillah sehat bu'. Ibu' gimana kabarnya? Sehat kan bu'? Mbak Intan sekeluarga sehat semua kan bu',,??"


" Alhamdulillah sehat semua."


" Bu',,sebenarnya ada yang mau Nurul katakan sama ibu'. Pengennya bilang langsung ke ibu',,tapi Nurul udab habis libur kemarin jadi nggak bisa pulang. Lewat telfon aja ya bu'."


" Kenapa nduk? Kamu ada masalah nduk? "


" Semalam,,Nurul,,"

__ADS_1


" Kamu nggak kenapa-kenapa to nduk?" bu Lastri mulai khawatir.


" Semalam ada yang melamar Nurul bu'. Namanya mas Rahman. Nurul juga belum lama ketemu sama mas Rahman,tapi kalau sama ibunya mas Rahman sudah kenal lebih dulu. Mas Rahman duda bu',udah 7 tahun. Keluarga mas Rahman itu jauh bu' dari kita. Mereka punya beberapa usaha dibeberapa kota. Menurut ibu' gimana,,??"


" Nduk,,apa kamu suka sama Rahman itu? Terus,Al gimana? Rahman dan keluarganya bisa menerima Al atau tidak?"


" Sukaa,,?? Iya bu',mas Rahman baik orangnya,siapa yang tidak suka sama orang baik. In shaa Allah sholeh. Semua keluarganya juga baik,bahkan sama Al."


" Coba minta petunjuk sama Allah nduk. Ibu' pasti mendukung keputusanmu. Ibu' udah nggak mau lagi memaksamu memilih harus yang seperti apa suamimu. Maaf untuk masa lalumu nduk."


" Sudah bu',,yang sudah berlalu ya sudah. Niat ibu' kan baik sebenarnya. Nurul yang tidak bisa menjaga rumah tangga Nurul dengan baik."


" Iya nduk. Maka dari itu,sekarang ibu' akan dukung apapun keputusanmu. Kamu minta petunjuk sama Allah,ibu juga pasti bantu do'a yang terbaik buat kamu sama Al."


" Begini bu',,kata bu Dira semalam,,ibunya mas rahman,,Nurul diberi waktu satu minggu buat ambil keputusan. Kalau memang Nurul menerimanya,seminggu kemudian,keluarga bu Dira akan ke Jogja buat lamar Nurul ke ibu'. Dan akad nikahnya dua minggu kemudian."


" Cepet banget nduk. Kamu nggak aneh-aneh kan nduk sama Rahman?"


" Ibu' tu yaaa,,memangnya Nurul 'Janda Gatel' apa? Ketemu sama mas rahman aja baru dua kali semalam."


" Alhamdulillah. Berarti memang niatnya bagus itu nduk,,nggak mau ada hal yang kurang diinginkan. Kamu juga bilang tentang sakitmu?"


" Nurul juga berfikir begitu bu'. Bilang lah bu'. Nurul berusaha menolak semalam bu',tapi nggak diterima sama bu Dira. Bahkan waktu Nurul bilang tentang sakitnya Nurul,mereka nggak masalah."


" Mereka benar-benar nerima kamu nduk. Keputusan ada ditanganmu. Ibu pasti dukung apapun keputusanmu. Jangan terburu-buru ambil keputusan,biar nggak menyesal."


" Iya bu'. Makasih bu' sarannya. Kalau begitu,mungkin minggu ini Nurul nggak pulang Jogja dulu ya bu'. Libur berikutnya mungkin baru pulang. Mau nyiapin ya cemilan kalau besok bu Dira dateng minta jawaban. Maaf ya bu'. Nggak mungkin juga kalau nyuruh Al belanja sendiri kan."


" Iya ibu' paham nduk. Ikuti kata hatimu nduk."


" Iya bu'. Yasudah bu',Nurul mau siap-siap berangkat kerja. Besok Nurul kabari kalau Nurul sudah dapat jawabannya."


" Iya nduk. Hati-hati ya nduk. Salam buat Al. Assalamu'alaikum."


" Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh bu'." sambungan telfon pun terputus.


Nurul lantas keluar dari kamarnya hendak bersiap untuk berangkat bekerja. " Al,semalam dapat salam dari om Rahman. Dan barusan dapat salam dari uti."

__ADS_1


" Oke bunda,,wa'alaikumussalam." jawab Al setelah menelan makanannya.


Nurul pun segera bersiap untuk berangkat bekerja. Karena ini hari Minggu,Al tidak bersekolah. Dia akan dirumah membantu sang bunda menyelesaikan pekerjaan rumah yang ringan. Itulah Al,selalu mengerti keadaan. Dia sudah biasa mengerjakan pekerjaan rumah untuk membantu ibunya.


__ADS_2