Istri Pilihan Sang Duda

Istri Pilihan Sang Duda
Mencari Informasi


__ADS_3

Di rumah Bu Indira


Petang itu, setelah keberangkatan Rahman ke Jogja, Fatimah pun tiba dengan suami dan kedua anaknya. Suasana rumah pun jadi begitu ramai setelah kedatangan mereka.


"Mas Rahman kemana Bu?" Tanya Fatimah kepada Bu Indira.


"Ke Jogja sma Pak Jefry." Jawab Bu Indira sembari bermain dengan Rindi, anak kedua Fatimah.


"Ngapain Bu'? Urusan pribadi apa kerjaan Bu'?" Tanya Fatimah yang tiba-tiba antusias.


"Dua-duanya Rahman bilang. Gak tau juga kok Jefry ngajak Rahman." Ucap Bu Indira yang menoleh ke arah Fatimah.


"Apa Mas Rahman mau dikenalin sama temennya pak Jefry Bu', orang Jogja. Siapa tahu bisa jadi jodohnya Mas Rahman." ucap Fatimah sambil cekikikan.


"Ngomong-ngomong soal jodoh, tadi Ibu' ketemu sama perempuan. Nggak tahu kenapa Ibu' tu tertarik dan kepikiran terus dari tadi setelah ketemu. Kayaknya orangnya juga baik. Sederhana, tapi manis. Dan senyumnya itu lho, gimana gitu pokoknya." Ucap Bu Indira sambil tersenyum lebar.


"Dimana Ibu' ketemunya?" Sahut Ali, suami Fatimah.


"Di minimarket tadi, waktu beli cemilan buat Riko sama Rindi. Ibu' kepikiran buat kenalin dia sama Rahman. Namanya Nurul." Bu Indira diam sejenak.


"Eh, tapi dia sudah menikah belum ya? Duh, kenapa tadi Ibu nggak tanya sekalian ya." Ucap Bu Indira sambil


Di rumah Bu Indira


Petang itu, setelah keberangkatan Rahman ke Jogja, Fatimah pun tiba dengan suami dan kedua anaknya. Suasana rumah pun jadi begitu ramai setelah kedatangan mereka.


"Mas Rahman kemana Bu?" Tanya Fatimah kepada Bu Indira.


"Ke Jogja sma Pak Jefry." Jawab Bu Indira sembari bermain dengan Rindi, anak kedua Fatimah.


"Ngapain Bu'? Urusan pribadi apa kerjaan Bu'?" Tanya Fatimah yang tiba-tiba antusias.


"Dua-duanya Rahman bilang. Gak tau juga kok Jefry ngajak Rahman." Ucap Bu Indira yang menoleh ke arah Fatimah.


"Apa Mas Rahman mau dikenalin sama temennya pak Jefry Bu', orang Jogja. Siapa tahu bisa jadi jodohnya Mas Rahman." ucap Fatimah sambil cekikikan.


"Ngomong-ngomong soal jodoh, tadi Ibu' ketemu sama perempuan. Nggak tahu kenapa Ibu' tu tertarik dan kepikiran terus dari tadi setelah ketemu. Kayaknya orangnya juga baik. Sederhana, tapi manis. Dan senyumnya itu lho, gimana gitu pokoknya." Ucap Bu Indira sambil tersenyum lebar.


"Dimana Ibu' ketemunya?" Sahut Ali, suami Fatimah.


"Di minimarket tadi, waktu beli cemilan buat Riko sama Rindi. Ibu' kepikiran buat kenalin dia sama Rahman. Namanya Nurul." Bu Indira diam sejenak.


"Eh, tapi dia sudah menikah belum ya? Duh, kenapa tadi Ibu nggak tanya sekalian ya." Ucap Bu Indira sambil menepuk pelan jidatnya.


"Ya besok minta tolong Mas Burhan Bu' buat cari informasi lengkapnya." Usul Fatimah dengan antusias.


"Jangan. No pokoknya. Nanti Burhan laporan ke Rahman, repot jadinya." Bu Indira membuang nafasnya kasar.


"Ibu' maunya Rahman gak tau soal dia. Ibu' udah kasih waktu kakakmu itu 1 bulan lagi buat bawa calon mantu buat Ibu'. Tapi kalau nggak bisa, dia harus terima pilihan Ibu'."


"Oke Bu'. Kami mendukungmu!" Ucap Fatimah yang saling pandang dengan Ali disertai anggukan kepala. Bu Indira pun tersenyum.


...****************...


Hari berganti. Membawa kebaikan tersendiri bagi setiap yang ada dimuka bumi, meski langit nampak sedikit gelap. Semangat diri menyambut hari baru pun dirasakan oleh seorang wanita paruh baya dan seisi rumahnya.


"Nduk, nanti temani Ibu' ya ke tempat kerjanya Nurul!" Kata Bu Indira setelah selesai sarapan bersama anak dan cucunya.


"Nurul siapa Bu'?" Tanya Fatimah bingung.


"Perempuan yang kemarin Ibu ceritain. Namanya Nurul Almira." Jawab Bu Indira.


"Ali nggak bisa nemenin ya Bu'. Nanti mas Burhan sama mas Shodiq mau kesini ngobrolin kerjaan." Sahut Ali.

__ADS_1


"Iya Li, nggak papa." Jawab Nu Indira.


Semua pun kembali hanyut dalam obrolan dan canda tawa. Melepas rindu sembari berbagi cerita. Menambah semangat di pagi yang sedikit mendung di kota kecil itu.


Bisnis keluarga Rahman di bidang perhotelan memang berkembang pesat di bawah kepemimpinan Rahman 10 tahun terakhir.


Bahkan dalam 5 tahun terakhir, Rahman melebarkan bisnisnya ke bidang kuliner. Dengan beberapa restoran yang telah sukses di kota kelahirannya. Dan bahkan merambah ke berbagai kota besar di Indonesia,tak terkecuali ibu kota.


Rahman dibantu oleh sang adik ipar, Ali, dalam mengurus bisnisnya. Meski begitu, Rahman tetap tinggal di kota D**** bersama sang ibu. Tak lain karena permintaan Bu Indira itu sendiri.


Matahari yang mulai bersinar cerah, menandakan bahwa gumpalan awan hitam yang tadi menaungi langit kota D**** itu, telah pergi menjauh. Membawa kehangatan dihati setiap insan.


"Mas Riko, Rindi! Umma sama Oma mau pergi sebentar. Kalian mau ikut atau dirumah sama Abi?" Tanya Fatimah kepada kedua anaknya yang sedang asyik menonton film kartun.


"Di rumah saja Umma. Tapi Umma nggak lama kan perginya?" Jawab Riko yang mulai mengalihkan perhatiannya kepada sang ibu.


"In shaa Allah enggak. Kalau udah selesai urusannya ya langsung pulang."


"Oke Umma. Riko di rumah saja sama Abi sama Rindi. Ya kan Dek?" Tanya Riko sambil mencolek bahu adiknya yang masih saja fokus pada layar datar berukuran 43".


"Hem? Kenapa Mas?" Tanya gadis kecil yang belum genap berusia 5 tahun itu.


Fatimah hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Yaudah, jangan nakal ya di rumah sama Abi. Nanti ada Paman Shodiq sma Paman Burhan datang. Jangan diganggu ya kalau Abi baru ngobrol sama paman berdua. Abi sma paman mau ngurusin kerjaan."


"Siap nyonya boss!!" Jawab Riko dan Rindi bersamaan. Begitulah mereka terkadang memanggil sang ibu. Fatimah pun tertawa dan mencium kening mereka bergantian.


"Ayo *N*duk, mumpung Shodiq sama Burhan belum datang."


Fatimah pun langsung berdiri dan berjalan bersama Bu Indira. Tak lupa Fatimah berpamitan dulu pada sang suami dan berpesan agar tidak membocorkan rencana Bu Indira pada Shodiq dan Burhan.


...----------------...


Di Iz Mart


Sebuah mobil menepi didepan minimarket. Dari luar, nampak sedang ramai pengunjung berbelanja di minimarket tersebut.


"Ini Bu' tokonya?" Tanya Fatimah yang masih melihat-lihat keadaan sekitar.


"Iya. Ini tokonya." Jawab Bu Indira yang masih mencoba mengingat-ingat tempatnya kemarin berbelanja.


"Ibu' kemarin lupa nggak inget-inget alamatnya. Tapi tempatnya ya disini. Lha itu, kemarin kasirnya yang ngelayanin Ibu'." Sambil menunjuk seorang karyawan yang sedang memperbaiki beberapa display berantakan. Mata Fatimah pun langsung mengikuti kemana arah tangan Bu Indira menunjuk.


"Bukan yang itu. Nurul itu pakai jilbab agak besar. Kulitnya sawo matang dan lebih dewasa. Itu temannya yang kemarin, agak kekanak-kanakan sifatnya." Jelas Bu Indira yang disambut dengan anggukan kepala Fatimah.


"Yaudah *N*duk, kita turun! Kita coba cari kedalam!"


Bu Indira dan Fatimah pun turun dari mobil dan masuk ke minimarket. Mereka pura-pura berbelanja sambil mencari keberadaan Nurul. Tapi setelah berkeliling dan celingukan kesana-kemari, mereka tidak menemukan yang mereke cari.


"Silahkan Bu', ada yang bisa saya bantu?" Suara seorang laki-laki mengejutkan dua perempuan beda generasi tersebut. Tak lain adalah Azka.


"Oh iya Masss,,, Azka." Jawab Fatimah sambil membaca nama laki-laki tersebut dari tanda pengenalnya.


"Mbak Nurul nya ada nggak ya Mas?" Tanpa basa-basi Fatimah langsung mengungkapkan pertanyaan yang dari tadi berada dikepalanya.


Azka sedikit terkejut mendengar pertanyaan Fatimah. Tapi dia mencoba bersikap biasa. Karena sebenarnya,sudah sering dia mengalami hal itu. Ditanyai tentang keberadaan rekan kerjanya, termasuk Nurul.


"Mbak Nurul sedang libur Bu' hari ini." Jawab Azka sambil tersenyum ramah.


"Apa ada pesan yang ingin disampaikan?"


Bu Indira dan Fatimah terlihat kecewa karena tidak dapat bertemu dengan Nurul saat itu. Tapi mereka kembali teringat dengan tujuan awal mereka.

__ADS_1


"Maaf Mas, Mbak Nurul itu sudah menikah belum ya? Atau mungkin sudah punya kekasih atau tunangan?" Tanya Fatimah lagi. Yang membuat Azka tersenyum kecil.


"Maaf Bu', saya tidak bisa menjawab pertanyaan Ibu'. Apa ada yang lain yang Ibu cari? Kalau tidak, saya permisi dulu!" Ucap Azka yang langsung pergi meninggalkan Bu Indira dan Fatimah.


Azka tidak ingin terlalu lama menanggapi orang-orang yang tidak berhubungan dengan pekerjaannya. Dan karena memang, Nurul sudah meminta tolong kepada semua rekannya untuk menutupi semua informasi pribadinya.


Bukan tanpa alasan Nurul menutup dirinya. Dia hanya tidak ingin mendapat masalah kembali dari status dirinya yang seorang janda. Itu cukup menyulitkan dirinya dan putranya.


"Kayaknya agak sulit Bu' dapetin info tentang Mbak Nurul." Ucap Fatimah setelah kepergian Azka.


"Atau coba besok kita ke sini lagi, ketemu langsung sama Mbak Nurul, tanya langsung ke orangnya."


"Gitu juga boleh *N*duk." Jawab Bu Indira.


"Yasudah, ayo kita bayar dulu ini belanjaannya!"


Fatimah dan bu Indira pun pergi mengantri di kasir untuk membayar belanjaan.


"Mbak Dila, tolong sampaikan salam saya buat Mbak Nurul ya Mbak! Dia libur ya hari ini?" Ucap Bu Indira.


"Oh iya Bu', In shaa Allah saya sampaikan." Jawab Dila sambil tersenyum.


"Mbak Nurul itu sudah menikah belum ya Mbak?" tanya Bu Indira lagi.


Dila hanya diam tidak mengucapkan apapun,hanya senyum kecil tersungging dibibirnya.


"Yasudah Mbak, terima kasih." Pamit Bu Indira karena memang Fatimah sudah selesai bertransaksi.


Dila dan Azka pun mengangguk dan mengucapkan terima kasih.


Setelah seperginya Bu Indira dan Fatimah, Azka masih nampak memikirkan sesuatu.


"Kamu kenal La sama ibu tadi?" Tanya Azka.


"Kenal mas, baru kemarin juga kenalan. Sama Mbak Nurul juga."


"Temannya Mbak Nurul?"


"Bukan Mas. Kayaknya juga baru ketemu kemarin sama Mbak Nurul." Kawab Dila yang lantas menceritakan kejadian kemarin saat Bu Indira datang ke toko.


"Hati-hati lho La! Pokoknya jangan sampai kejadian dulu terulang lagi sama Mbak Nurul. Kasihan Mbak Nurul sama Al." Ucap Azka.


"Iya mas, kasihan Mbak Nurul. Eh tapi Mas, kalau ibu tadi niatnya baik gimana?"


"Ya kita serahin aja hasilnya sama Allah La, yang penting kita usaha dan berdo'a." Nasehat Azka.


"Iya ya Mas. Semoga Allah kasih yang terbaik buat Mbak Nurul. Biar hidupnya lebih baik." Ucap Dila dengan tulus. Mereka pun melanjutkan pekerjaan masing-masing.


Sedangkan di dalam mobil, Bu Indira dan Fatimah kecewa karena harus pulang dengan tangan kosong. Tak mendapatkan informasi pribadi tentang Nurul sama sekali.


...****************...


Hai gaessπŸ€—πŸ€—,,sekali lagi author minta maaf kalau ceritanya membosankan dan banyak typo dimana-mana. πŸ™πŸ™


Authornya masih belajar. 😁😁


Mohon dukungannya ya semua,,semoga author bisa menjadi lebih baik lagi. Dan ceritanya bisa lebih baik juga. πŸ˜‰πŸ˜‰


Kalau ada kritik dan saran boleh banget kok gaess,,πŸ˜‰


ditunggu yaa 😊😊


Terima kasih semuanya πŸ₯°πŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2