
Tak ada manusia yang sempurna. Tak ada manusia yang tak luput dari kesalahan. Begitu pula Rahman. Ia juga manusia biasa yang pasti memiliki kesalahan.
Setelah malam itu, Rahman benar-benar menepati janjinya menemani Nurul ke Jogja untuk berziarah saat akhir pekan. Mereka diantar oleh pengawal pribadinya. Bu Dira tak mengizinkan Rahman menyetir jarak jauh.
Rahman tak ingin kesalahannya terulang. Ia selalu menyempatkan waktunya sebulan sekali untuk mengantar Nurul ke Jogja. Bahkan ia membuat pengingat di ponselnya dengan alarm.
...****************...
Tiga bulan berlalu. Akhir pekan ini Rahman kembali mengajak keluarga kecilnya ke Jogja. Ia kini sudah menyetir sendiri tentunya. Kondisinya sudah pulih total. Ada beberapa rencana yang sudah Rahman siapkan untuk keluarganya. Termasuk untuk Fatimah dan keluarganya.
Hari Jum'at sore, bersamaan dengan keberangkatan Rahman ke Jogja, Bu Dira juga berangkat ke Semarang diantar oleh Pak Harto. Rahman dan keluarganya pun akan menyusul ke sana setelah dari Jogja. Mereka akan menginap satu malam di Jogja.
Sabtu pagi. Semua orang di rumah Nita sibuk dengan urusannya masing-masing. Dua keluarga kecil itu berencana akan mengunjungi mantan mertua Nurul. Nurul mendapat kabar bahwa adik mantan suaminya, baru saja melahirkan. Ia berniat menengoknya sembari menyambung tali silaturahmi. Sebelum berangkat, Nurul dan Rahman serta Al dan Hilya menyempatkan berziarah ke makam Bu Lastri.
Pukul delapan pagi, mereka berangkat menuju kediaman mantan mertua Nurul di Solo. Nita dan Yudi mengendarai motor mereka sendiri, sedangkan dua putrinya ikut mobil Rahman. Nita dan Yudi berniat mengunjungi orang tua Yudi di Sragen setelah dari Solo, jadi mereka tetap membawa motornya sendiri.
Setelah hampir dua setengah jam, mereka sampai di tujuan. Mantan mertua Nurul menyambut mereka dengan bahagia.
"Utiii, Akung," Al memanggil kakek dan neneknya dengan lantang setelah ia turun dari mobil. Sudah lama mereka tidak bertemu secara langsung. Mereka hanya saling melakukan panggilan video melalui ponsel.
"Iya sayang, cucu Utii!" Al langsung menghambur ke pelukan neneknya. Mantan mertua Nurul, Bu Marmi meneteskan airmatanya.
Nurul pun lantas turun dari mobil sembari menggendong Hilya bersama Rahman dan dua putri Nita. Nita dan Yudi sudah sampai lebih dulu sepuluh menit yang lalu.
"Lhoh, itu siapa yang sama Bunda?" Tanya Bu Marmi yang melihat Nurul menggendong bayi.
"Itu Hilya Utii, adeknya Al." Jawab Al semangat. Bu Marmi tersenyum bahagia mendengarnya. Ia lalu menghampiri Nurul.
Nurul dan Rahman pun menyalami Bu Marmi dan Pak Hari. Bu Marmi langsung menggendong Hilya.
"Ana dimana Bu'?" Nurul menanyakan keberadaan mantan adik iparnya yang baru saja melahirkan.
"Baru menyusui di dalam. Masuklah!" Jawab Bu Marmi ramah.
"Hai Man!" Sapa Bayu yang baru saja keluar dari rumahnya yang bersebelahan dengan rumah Bu Marmi.
"Oh iya, Assalamu'alaikum," Sahut Rahman.
"Wa'alaikumussalam. Hai Rul!" jawab Bayu.
"Iya Mas!" Nurul tersenyum lalu mengangguk.
"Ayah Bayu!" Al menghampiri Bayu lalu mencium tangannya. Bayu pun langsung menggendong putra pertamanya itu.
Nurul lalu masuk ke rumah Bu Marmi bersama Nita. Mereka ingin melihat sang bayi kecil dan ibunya. Meninggalkan Rahman di teras mengobrol bersama yang lain.
"Mbak Nurul, Mbak Nita! Masuk Mbak!" Jawab Ana sembari menyusui anaknya didampingi oleh sang suami.
"Assalamu'alaikum Na." Ucap Nurul.
"Wa'alaikumussalam Mbak!" Jawab Ana dan suaminya bersamaan.
"Waahh, selamat ya Naa, udah resmi jadi ibu." Ucap Nurul sembari melihat bayi perempuan kecil yang sedang sibuk menyusu.
"Makasih Mbak. Alhamdulillah. Duduk Mbak!" Jawab Ana bahagia. Nurul dan Nita pun duduk di kasur yang ada di kamar Ana.
"Iya nduk, buah kesabaran setelah enam tahun." Imbuh Nita. Ana menjawab dengan anggukan.
__ADS_1
"Nduk, ini adiknya Al kayaknya lapar. Siapa ya tadi namanya?" Ucap Bu Marmi saat memasuki kamar Ana sambil menggendong Hilya.
"Oh iya Bu'!" Nurul segera berdiri menggendong putrinya. "Hilya Bu' namanya."
"Eh, itu siapa Mbak?" Tanya Ana penasaran saat Nurul telah menggendong Hilya.
"Halo Tante, kenalin, namaku Hilya. Aku adiknya Mas Al, hhihi." Sahut Nurul cekikikan.
"Kok nggak ada kabar Mbak kalau habis lahiran?" Tanya Ana sedih. Suami Ana pun keluar kamar agar dua ibu bayi bisa menyusui lebih leluasa.
"Ada sesuatu Na waktu itu, jadi nggak kepikiran buat ngabarin. Maaf ya!" Jawab Nurul sembari sibuk menyusui Hilya.
"Ada apa nduk?" Tanya Bu Marmi penasaran.
"Eemm, Mas Rahman kecelakaan Bu'. Jadi Nurul fokus sama kondisinya Mas Rahman. Bahkan, Mbak Nita aja telat ngabarinnya."
"Kecelakaan kenapa nduk?" Tanya Bu Marmi.
"Kecelakaan mobil Bu'. Tapi Alhamdulillah, sudah pulih sekarang."
"Alhamdulillah." Sahut Ana. "Hilya sayang, kamu sudah berapa bulan jadinya?"
"Enam bulan Tante." Jawab Nurul sembari memainkan tangan Hilya yang masih asik menyusu.
"Aku ambil kado di mobil dulu ya!" Pamit Nita.
"Oh iya Mbak. Sekalian tolong punya Nurul, minta Mas Rahman bawa kesini sekalian!" sahut Nurul.
"Oke!" Nita pun beranjak dari duduknya lantas keluar kamar.
"Mbak Ika mana Bu'?" Tanya Nurul.
Tak lama, Nita masuk bersama Rahman membawa kado yang telah disiapkan. Bersamaan dengan Ika yang masuk melalui pintu samping bersama Bu Marmi. Rahman kembali keluar setelah menyerahkan kado yang disiapkan Nurul.
"Assalamu'alaikum Mbak Ika." Sapa Nurul sambil mengulurkan tangannya untuk menjabat Ika.
"Wa'alaikumussalam." Jawab Ika singkat. Ia lalu menyalami Nurul dan Nita. Ika memang tidak menyukai Nurul dan Nita. Terlebih Nurul. Karena statusnya sebagai mantan istri Bayu. Bagi Ika, Nurul telah merebut Bayu darinya. Ia yang lebih dulu kenal dan suka terhadap Bayu, tapi Bayu malah menikah dengan Nurul. Aneh memang, tapi begitulah adanya.
"Ini Na, sedikit dariku." Ucap Nita sembari meletakkan sebuah kado yang dibungkus rapi dengan kertas kado di dekat Ana yang masih memangku bayinya.
"Repot-repot Mbak Nita tu! Makasih Mbak tapi." Jawab Ana bahagia.
Hilya telah selesai menyusu. Nurul sejenak menitipkan Hilya pada Nita. Ia mengambil hadiah yang sudah ia siapkan.
"Ini Na dari Al! Al sendiri yang milih lhoo!" Ucap Nurul sambil menyerahkan sebuah kotak berbungkus kertas kado dan sebuah kereta dorong bayi.
"Ya Allah Mbak, banyak banget!" Jawab Ana terkejut.
"Sombong!" gerutu Ika. Ana melirik tajam pada Ika.
"Enggak kok Na, itu cuma Al yang minta. Katanya buat adiknya Tante Ana, biar adiknya seneng." Jujur Nurul.
"Oalah! Makasih ya Mbak." Jawab Ana hangat.
"Iya Na, sama-sama." Sahut Nurul sembari kembalu memangku putri kecilnya.
Para wanita itu pun hanyut dalam obrolan banyak hal. Mereka tak mempermasalahkan sikap Ika yang kurang akrab.
__ADS_1
Hingga pukul satu siang, Nita dan Nurul beserta keluarganya pamit pulang. Nita dan Yudi akan ke Sragen. Sedang Nurul dan Rahman akan ke Semarang untuk berlibur selama beberapa hari.
Mereka berpamitan kepada semua. Semua seakan tak ingin ditinggal pergi oleh Nurul dan Al. Tapi semua sudah berbeda. Nurul dan Al harus pergi bersama Rahman. Nita dan Nurul akhirnya berpisah di depan rumah dan saling melambaikan tangan.
...****************...
Dua jam berkendara, Rahman dan Nurul tiba di rumah Fatimah. Al langsung bermain bersama Riko dan Rindi. Hilya? Ia langsung digendong oleh Fatimah. Rahman dan Nurul memilih beristirahat di kamarnya.
"Maass,," panggil Nurul saat mereka sedang berbaring di tempat tidur.
"Iya sayang,," Jawab Rahman sambil mengubah posisi tidurnya menghadap Nurul. "Kamu balik hadap sana sayang! Aku peluk kamu dari belakang!"
Nurul pun membalikkan tubuhnya hingga membelakangi Rahman. Ia tiduran berbantal lengan kiri Rahman. Rahman pun langsung memeluk pinggang Nurul dan mengusap perut Nurul yang telah rata kembali.
"Besok kita jadi liburan Mas?"
"Jadi dong sayang!" Jawab Rahman dengan tangan kanan yang sibuk melepaskan jilbab instan yang Nurul kenakan.
"Berapa hari Mas?"
"Sepuluh hari. Aku sudah siapkan semuanya! Kita tinggal berangkat besok pagi."
"Mas nggak kerja?"
"Aku cuti tiga hari. Lainnya, aku pantau kerjaan dari sana!" Rahman mulai meletakkan dagunya ke ceruk leher istrinya.
"Maass, gelii!" Nurul sedikit menggeliat.
"Kamu pernah naik kapal sayang?"
"Belum Mas. Besok pertama kali."
"Naik pesawat juga belum?"
"Belum Mas Rahman Sayang!" Nurul meraih tangan kanan Rahman dan mendekapnya di dada lalu mengecupnya.
"Kamu mabuk laut nggak Sayang?"
"Nggak tahu Mas, kan belum pernah."
"Besok naik kapal dulu ya! Lain kali, in shaa Allah, aku ajak naik pesawat!"
Nurul mengangguk. "Mas, Karimun Jawa itu seperti apa? Mas pernah kesana sebelumnya?"
"Pernah beberapa kali."
"Apa tempatnya indah?"
"Pasti indah Sayang, karena itu ciptaan Allah. Seperti kamu ini, salah satu ciptaan Allah paling indah." Rahman mengecup ceruk leher Nurul.
"GOMBAL!"
"Hhaha.. Aku nggak pinter kalau suruh nggombalin perempuan Sayang. Jadi, itu tadi jujur!"
"Udah ah Mas, Nurul mau tidur bentar. Nanti tolong dibangunin ya Mas! Sebentar saja!!"
"Iya, tidurlah!"
__ADS_1
Nurul pun langsung terlelap dalam pelukan Rahman. Tangan kanan Rahman masih di dekap Nurul. Ia tak bisa banyak bergerak. Akhirnya, Rahman pun ikut tertidur bersama Nurul.