Istri Pilihan Sang Duda

Istri Pilihan Sang Duda
Panas


__ADS_3

Apa yang harus terjadi pasti akan terjadi. Cepat atau lambat. Meski kita belum menghendaki, tapi jika Allah menghendaki, pasti akan terjadi.


Hampir dua minggu Rahman dan Nurul menikah. Mereka masih saling memahami satu sama lain. Akhir pekan itu Fatimah sekeluarga berkunjung ke rumah bu Dira, suasana sungguh ramai jika Fatimah datang.


Malam telah menjelang. Selepas sholat isya' semua berkumpul berbagi cerita dan tertawa bersama. Melepas rindu kepada sanak saudara. Al yang meminta pindah kamar pun, kamarnya telah dipindahkan ke kamar sebelah bu Dira. Ia akan tidur dengan Riko jika Riko datang berkunjung. Masa kecil, sungguh membahagiakan dengan teman sebayanya.


"Ummah, Rindi ngantuk," ucap Rindi yang mulai tak kuasa lagi bermain bersama dua kakaknya.


"Tidur sama Oma ya cantik, Oma kangen tidur sama kamu," Rindi hanya manganggukkan kepalanya lalu di gendong oleh bu Dira dibawa ke kamarnya. Al dan Riko pun akhirnya ikut membereskan mainannya dan pergi ke kamar Al untuk tidur bersama.


Hanya tinggal dua pasangan muda yang masih betah di depan tv. "Ada yang mau minum hangat?" tawar Fatimah.


"Boleh dek, yuk ke dapur!" jawab Nurul.


"Eh, mbak Nurul disini saja, biar Fatimah buat sendiri. Mbak Nurul mau minum apa?"


"Kalau berdua kan lebih cepat dek,"


"No, no, no! Mbak Nurul lanjutin ngobrolnya sama mas Rahman aja yaa, Okey!" Fatimah pun lantas berlari menuju dapur. Nurul hendak mengejar tapi ia dipanggil oleh Ali.


"Mbak Nurul, ngomong-ngomong mbak Nurul masih kerja?" tanya Ali.


"Eh, masih Li. Kemarin udah sempat minta mengundurkan diri sama atasan, tapi di minta mengajari anak baru dulu selama satu bulan. Alhamdulillah karyawan barunya udah ada, jadi tinggal ngajarin aja," Nurul melirik ke arah Rahman.


"Iya nggak papa, kan kemarin udah janji maksimal dua bulan," Rahman menyahut. Nurul tersenyum mendengar ucapan Rahman.


"Wah, aku jadi obat nyamuk di sini!" celetuk Ali.


"Obat nyamuk segedhe kamu, awet berapa tahun Li?" timpal Rahman.


"Seumur hidup mas, hhaha,," mereka pun tertawa bersama. Tak lama Fatimah datang dengan empat cangkir teh hangat. Ia menyajikannya satu per satu.

__ADS_1


"Silahkan diminum mas dan mbakku tersayang, hhihi" ucap Fatimah.


"Makasih ya dek," jawab Nurul yang lantas mengambil cangkir didepannya dan menyeruputnya. Semua kembali larut dalam obrolan dan canda tawa. "Kenapa aku mendadak pusing ya? Apa aku kelelahan?" gumam Nurul.


"Mbak Nurul kenapa?" tanya Fatimah yang melihat Nurul sedikit menahan sesuatu.


"Nggak papa dek, cuma agak pusing saja. Aku ke kamar dulu ya," pamit Nurul.


"Ayo mbak Fatimah temenin," Nurul mengangguk setuju. Dua wanita itu pun lantas menuju kamar Nurul.


Berselang agak lama Fatimah turun kembali. "Mas Rahman, mbak Nurul badannya panas. Kasihan di kamar sendiri." Ucap Fatimah ketika telah sampai di ruang keluarga.


"Apa?" Rahman sedikit khawatir.


"Yaudah mas, sana ditemenin mbak Nurulnya!" ucap Fatimah. Rahman pun segera naik ke kamarnya guna mengecek kondisi Nurul.


Ketika Rahman masuk, ia tak mendapati Nurul di kamar. Ia mencarinya ke arah kamar mandi. Di depan pintu kamar mandi ia mendengar gemericik suara air shower menyala. Rahman coba mengetuk pintu kamar mandi dan memanggil Nurul.


Brakk,, pintu didobrak oleh Rahman. Dan seketika itu Nurul menoleh ke arah pintu. Rahman pun terkejut melihat Nurul. Ia tengah berada di bawah shower dengan masih mengenakan pakaian lengkap. Rahman berlari kearahnya.


"Kamu kenapa?" Rahman segera mematikan shower dan memegang kedua lengan Nurul.


"Panas sekali mas rasanya, makanya Nurul mandi. Mas mau pakai kamar mandi ya? Maaf, tadi Nurul nggak dengar suara mas Rahman,"


"Panas? Kamu bisa kecilin suhu AC nya kan. Kenapa sampai mandi, dan kamu masih pakai baju lengkap begini?"


"Sudah mas tadi, AC nya sudah nurul kecilin, tapi masih panas rasanya. Nurul keburu kepanasan mas, jadi langsung mandi gini aja,"


"Ada yang nggak beres kayaknya," Rahman bergumam dalam hatinya. Ia lantas menarik tangan Nurul dan mengajaknya keluar dari kamar mandi. "Ganti bajumu, agar kamu tidak sakit! Aku ke bawah sebentar," Rahman meninggalkan Nurul di walk-in closet kamarnya.


Ia hendak menemui Fatimah, tapi ketika ia hendak keluar kamar, pintu kamarnya tak bisa dibuka. Ia mencari kunci di kamarnya, tapi tidak ia temukan. Ia mencoba mencari ponselnya, dan ternyata tertinggal di ruang kerjanya. "Kenapa bisa kebetulan begini ya? Eh, Nurul kenapa belum keluar juga, apa belum selesai ganti bajunya,?" Rahman bermonolog.

__ADS_1


Rahman mencoba mengetuk pintu walk-in closet yang tadi ia tutup, tapi tak ada jawaban. Ia akhirnya membuka pintu itu dan tak menemukan Nurul di sana. Nurul ternyata sudah kembali ke kamar mandi lagi.


"Dia sudah ganti baju sepertinya, tapi kenapa ke kamar mandi lagi? Apa dia mandi lagi?" Rahman mulai cemas kembali. Ia khawatir Nurul akan masuk angin jika terus-terusan mandi. Tanpa pikir panjang Rahman membuka pintu kamar mandi dan benar ia melihat Nurul tengah berada di bawah aliran air shower. Dan mata Rahman membulat sempurna melihat kondisi Nurul sekarang.


Dengan susah payah Rahman menelan salivanya. Ia melihat istrinya dengan penampilan yang sangat berbeda. Istrinya itu kini tengah mengenakan lingerie seksi berwarna hitam yang hampir mengekspos semua lekuk tubuh rampingnya. Dengan rambut hitam panjangnya yang tergerai hingga ke pinggang dan kulitnya yang sawo matang benar-benar terlihat eksotis dibawah guyuran air shower yang masih menyala. Nurul masih saja menikmati tetesan air yang membasahi tubuhnya tanpa menghiraukan kehadiran Rahman di sana. Ia masih merasa kepanasan.


Rahman segera memalingkan wajahnya dan berjalan menuju salah satu almari miliknya. Ia mencarikan bathrobe untuk Nurul. Setelah Rahman menemukan yang ia cari, ia berniat memberikannya pada Nurul. Ketika ia berbalik, betapa terkejutnya Rahman mendapati Nurul telah berada tepat di belakangnya, dengan rambut basah yang telah ia gulung asal. Menampakkan leher jenjangnya yang selalu tertutupi jilbabnya. Sungguh godaan besar bagi seorang laki-laki. Rahman berusaha menguasai dirinya. Menekan hasratnya yang mulai muncul melihat penampilan istrinya saat ini.


"Pakai ini!" Rahman menutupi tubuh Nurul dengan bathrobenya.


"Maaf mas, Nurul benar-benar kepanasan. Tadi kata Fatimah, kalau masih kepanasan coba pakai hadiah darinya, jadi Nurul coba tadi. Ternyata masih kepanasan juga." Nurul masih memiliki sedikit kesadarannya dan merasa malu atas penampilannya.


"Fatimah?" tanya Rahman. Nurul mengangguk.


Nurul merasakan sesuatu pada tubuhnya, tiba-tiba ia mengangkat wajahnya dan menatap wajah Rahman. Mata mereka saling bertemu. Nurul mendekatkan tubuhnya pada Rahman. Rahman pun refleks memundurkan tubuhnya. Tapi sayang, dia terbentur almari miliknya dan tak bisa bergerak lagi. Nurul masih tetap mendekat. Tiba-tiba Nurul mengalungkan kedua tangannya ke tengkuk Rahman. Hingga bathrobe yang tidak terpasang sempurna itupun jatuh ke lantai. Rahman terkejut karena wajahnya dan wajah Nurul semakin dekat. Nurul mulai mencondongkan tubuhnya ke tubuh Rahman hingga tubuh mereka tak berjarak sama sekali. Baju yang Rahman kenakan pun mulai basah karena tubuh Nurul yang basah.


Rahman juga hanya manusia biasa. Dia laki-laki biasa yang memiliki hasrat. Meski sudah berusaha menekan hasrat kelaki-lakiannya sejak tadi, dengan posisinya kini sungguh sulit bagi Rahman untuk bertahan. Ia mulai menatap bibir tipis milik istrinya.


Nurul perlahan mulai menaikkan tumitnya. Tanpa aba-aba atau permisi, Nurul mendekatkan wajahnya ke wajah Rahman dan mulai mencium bibir milik Rahman. Ia ******* bibir suaminya itu perlahan dengan penuh hasrat. Rahman pun membalas yang Nurul lakukan. Ia mulai membuka mulutnya dan balas ******* bibir istrinya yang telah basah. Tangan Rahman menarik pinggang kecil Nurul. Mendekapnya lebih erat. Sepasang suami istri itupun hanyut dalam ciuman pertama mereka.


Rahman mulai kehilangan kendali atas hasratnya. Ia melepaskan tali pengait lingerie yang Nurul kenakan. Pakaian itu berhasil terlepas dari sang empunya. Memperlihatkan tubuh ramping Nurul dengan sempurna. Hanya tertinggal sebuah g-str*ng yang menutupi bagian intimnya. Tangan Rahman mulai bergerilya menggerayangi tubuh istrinya. Menyentuh setiap inci dari tubuh perempuan dihadapannya. Desahan kecil terdengar dari mulut Nurul yang telah diliputi hasrat. Dengan sekali hentakan, Rahman berhasil mengangkat tubuh kecil Nurul dalam pelukannya tanpa melepaskan ciuman mereka. Rahman membawanya ke atas ranjang. Tak lupa ia mematikan lampu utama kamarnya.


Rahman merebahkan tubuh Nurul di atas ranjang. Ia mulai menyusuri leher milik istrinya dan perlahan turun hingga ke gunung kembar yang begitu menantang hasratnya. Nurul mulai mendesah dan meracau. Tangannya mulai meremas selimut dibawahnya.


Tiba-tiba Rahman menjatuhkan dirinya di samping tubuh Nurul. Nafasnya sangat tidak beraturan. "Ini nggak bener! Ini nggak boleh terjadi! Kamu dibawah pengaruh obat, aku nggak boleh begini padamu. Kita harus melakukannya dengan kesadaran dan keikhlasan." ucap Rahman disela-sela ia mengatur nafas.


Tapi Nurul yang telah dibawah pengaruh obat, tidak bisa lagi menahannya. Ia bangun dan mengungkung Rahman yang tengah telentang. Ia merobek baju yang Rahman kenakan. Ia mulai ******* kembali bibir Rahman dengan penuh hasrat. Rahman terkejut dan tak bisa menghindar. "Tapi jika ini tidak diatasi, akan bahaya bagi Nurul. Maafkan aku sayang," Rahman bergumam dalam hati.


Rahman pun mulai membalikkan tubuh Nurul dan mengungkungnya kembali. Ia mulai menanggalkan pakaiannya. Hingga akhirnya mereka melakukannya dimalam yang panjang itu. Melepaskan hasrat yang sudah menjadi hak milik setiap insan. Dan halal bagi setiap pasangan suami istri.


Hingga pagi mulai menjelang. Rahman terbangun dari tidurnya dengan posisi memeluk erat sang istri. Nurul masih tertudur lelap. Ia kelelahan setelah pertempuran panjang yang terjadi entah berapa kali malam tadi. Rahman mengamati wajah istrinya. Mengusap perlahan rambut hitamnya yang sedikit berantakan. "Maafkan aku sayang, aku seharusnya meminta izin padamu saat akan melakukannya. Meskipun itu sudah menjadi hak-ku, tapi tak seharusnya aku melakukannya saat kamu sedang dalam pengaruh obat, yang aku yakin kamu pun tak tahu. Semoga kau tak marah padaku, I love you baby," sebuah kecupan mendarat di kening Nurul.

__ADS_1


Rahman perlahan turun dari ranjangnya. Ia memunguti pakaiannya yang berserakan dibeberapa tempat. Ia lantas membersihkan diri. Setelah itu ia langsung keluar dari kamar. "Bukankah tadi malam pintunya terkunci?" Rahman mengingat-ingat kejadian tadi malam. Ia pergi ke ruang kerjanya. Rumah masih sangat sepi, karena semua orang masih tertidur. "Aku harus interogasi Fatimah! Aku yakin, dia tahu tentang yang terjadi pada Nurul." Rahman lantas pergi ke mushola kecil di rumahnya. Mengadu pada Sang Kuasa dan menenangkan hatinya.


__ADS_2