
Sepanjang perjalanan Alex gelisah dan kalut.
Bagaimana tidak.
Anna pergi begitu saja tanpa mengabarinya sama sekali.
Alex berharap Ia mendapati Anna di rumahnya nanti.
Baru beberapa jam yang lalu. Alex merasakan debaran bahagia saat hendak mengungkapkan perasaan pada Anna.
Tapi kini ia di buat kalut tidak karuan.
"Tenang saja. Anna pasti ada di rumah ibunya." Ujar Jose, mencoba menenangkan Alex.
Sebenarnya Jose pun sangat khawatir.
Ia khawatir dengan Alex dan ayahnya jikalau Anna sampai tidak di temukan.
Hati Alex pasti akan hancur karena ini kali pertama untuk Alex mencintai seseorang perempuan.
Terlebih Anna sedang mengandung buah cinta mereka.
"Ayo tambah lagi kecepatannya. Aku ingin segera sampai." Suruh Alex pada Jose
"Ini sudah kecepatan tinggi. Sebaiknya kau tenangkan dirimu." Jawab Jose
setelah cukup lama mengemudi akhirnya Alex menunjukkan sebuah rumah sederhana.
Jose pun menghentikan mobilnya tepat di depan rumah yang di tunjuk oleh Alex.
Alex langsung turun dari mobil dan menggedor-gedor pintu rumah Anna.
"Anna! Apakah kau ada di dalam? Jika kau ada di dalam cepatlah buka pintunya." Alex berteriak sambil menggedor pintu rumah Anna.
"Sepertinya Anna tidak ada di sini." Ucap Jose setelah Beberapa kali mereka memanggil Anna.
"Bongkar saja pintunya. Aku ingin tahu apa dia ada di dalam?" Alex
"Kau serius?" Jose
"Tentu saja." jawab Alex
Mereka berdua mencoba mendobrak pintu rumah Anna.
Setelah beberapa kali gagal pintu pun berhasil di dobrak.
Alex segera berlari kedalam dan mencari Anna sambil terus memangil- mangil nama Anna.
Alex semakin putus asa saat tidak menemukan Anna di rumah ini.
__ADS_1
"Kemana dia?" Gumam Alex Sambil terduduk lemas di sofa.
Jose pun duduk sejenak di samping Alex.
"Apakah rumahmu tidak kau pasang CCTV?" Tanya Jose tiba-tiba.
"Ah, Sial. Kenapa aku sampai lupa!" Ujar Alex
"Kalau begitu kita kembali lagi ke rumahku." Sambung Alex cepat.
Jose pun tidak dapat membantah dan langsung menuruti keinginan kakaknya itu.
Hari sudah mulai pagi. Dua laki-laki ini benar-benar tidak sempat tidur malam ini.
Tanpa membuang waktu Alex segera berlari ke kamar atas untuk melihat CCTV.
Alex benar-benar lupa dengan Rasa kantuk dan lelahnya.
Alex dan Jose memperhatikannya dengan teliti tayangan CCTV pada hari itu.
Mereka sempat melihat Anna pergi tapi ia Kembali lagi ke rumah.
Hingga kemudian CCTV pun menunjukan kedatangan seorang lelaki dengan wajah yang di tutupi topi.
CCTV tidak dapat menunjukkan wajah si lelaki yang datang. Tapi Alex dapat melihat Anna pergi bersama lelaki tersebut tanpa paksaan sama sekali bahkan dengan raut wajah bahagia.
Dada Alex bergemuruh.
Bagaimana bisa Anna meninggalkannya dan pergi dengan laki-laki lain.
Alex mengepalkan tangannya.
Ada kemarahan yang ia simpan.
"Apa yang kau pikirkan? Aku berharap kau tidak berpikir kalau Anna meninggalkanmu demi laki-laki itu." Ujar Jose menerka-nerka.
"Semuanya sudah jelas, Perempuan itu pergi dengan raut bahagia dengan lelaki itu." Jawab Alex penuh kemarahan.
"Mungkin saja. Anna di culik!" Jose mencoba mengubah pemikiran Alex.
"Apa kau tidak lihat wajah perempuan itu begitu sumringah saat hendak memasuki mobil pria itu. Apa kau pikir ada manusia yang sebahagia itu saat di culik!" Alex tidak dapat lagi menahan emosinya.
Bahkan Alex seolah tidak Sudi lagi menyebut nama Anna di bibirnya.
"Tapi , Ini--!!" Belum selesai Jose bicara Alex menyuruhnya untuk pergi.
"Sebaiknya kau biarkan aku sendiri sekarang!." Alex pun berteriak pada Jose.
Jose pun tidak bicara apapun lagi dan pergi meninggalkan rumah Alex.
__ADS_1
Jose sangat paham Alex tidak akan bisa di ajak bicara saat dalam keadaan emosi seperti ini.
Alex benar-benar menumpahkan amarahnya saat Jose pergi.
Alex melemparkan semua barang yang ada di meja kamarnya.
Alex benar-benar marah.
Ia tidak menyangka gadis selugu Anna pun dapat menipunya.
Bahkan setelah ia mencintainya.
Di rumah Pieter...
_____________
Anna merasakan tubuhnya sudah sangat lemas, karena ia tidak berhenti berteriak dan memukuli pintu.
Kini, Anna hanya bisa duduk terkulai sambil menangis dan berpikir kenapa ini bisa terjadi padanya.
Apa salahnya?
Saat Anna terdiam Pieter pun kembali masuk ke kamarnya dengan nampan berisi makanan dan minum.
"Kenapa kau berhenti berteriak? Apa kau sudah kehabisan tenaga? kalau begitu makanlah, Agar kau mendapatkan kembali energi." Ucap Pieter Sambil menyodorkan nampan yang di bawanya.
Tapi dengan cepat Anna menghempaskan nampan tersebut sehingga makanan didalamnya pun berserakan di lantai.
"Kenapa kau membuangnya. Apa kau ingin mati membusuk di tempat ini?" Ujar Pieter dengan santainya.
Anna menatap Pieter dengan tatapan benci.
"Kenapa kau melakukan ini padaku? Apa salahku?" Anna mencoba bertanya.
Pieter hanya tersenyum smirk
"Kau tidak bersalah gadis cantikku." Jawab Pieter sembari mengusap pipi Anna.
Anna pun menjauhkan wajahnya dari tangan Pieter.
"Baiklah. Kalau kau tidak ingin makan. Aku akan kembali sore nanti, Jadi jaga dirimu baik-baik." Ucap Pieter Sebelum meninggalkan Anna.
Anna kembali menangis tersedu-sedu saat mengingat Alex.
Anna ingin keluar dari tempat ini. Dan memberi tahu Alex kalau dia sedang mengandung buah cintanya dengan Alex.
"Tuan Alex, Tolonglah aku. Keluarkan aku dan bayi kita dari tempat ini."
__ADS_1
"Aku ingin melewati kehamilan ini bersamamu." Anna terus menangis dan menyebut nama Alex.