
Sore hari Pieter duduk termenung seorang diri di taman belakang rumahnya. Dengan secangkir teh ia mengingat kembali kenangan bersama Anna.
Sudah satu pekan Pieter tidak pergi beraktivitas, karena sedang mengalami gangguan kesehatan.
Tidak terasa Sudah satu tahun Anna meninggalkan rumahnya. Tapi aroma harum tubuh Anna seolah masih tercium oleh Pieter.
Walaupun Pieter sudah berhasil membiayai Anna sampai jadi dokter, Tapi rasa bersalahnya belumlah pudar.
Ya. Pieter menyadari hidup Anna hancur karenanya.
Karena dia sudah memisahkan Anna dan Alex.
Pieter sempat berpikir, Anna perlahan akan jatuh cinta padanya. dengan kasih sayang yang Pieter berikan saat mereka tinggal satu rumah.
Tapi nyatanya lima tahun tidak menggoyahkan hati Anna sedikitpun.
Bahkan setiap bulan Pieter mendapatkan notifikasi pengiriman uang dari Anna.
Anna seolah benar-benar tidak ingin memiliki hutang Budi pada Pieter.
Karena udara semakin dingin. Pieter pun memutuskan untuk memasuki rumah.
Pieter tidak pergi ke kamarnya, melainkan pergi ke kamar Anna.
Walaupun ia tidak mendapati Anna di sana. Tapi setidaknya ia bisa menikmati hangatnya aroma tubuh Anna.
Pieter menciumi selimut yang biasa digunakan Anna, Tanpa terasa air matanya luruh seketika.
Pieter meminta pada maidnya untuk tidak mengganti semua yang ada di kamar ini, termasuk sprei dan selimut yang di gunakan Anna Sebelum ia pergi meninggalkan rumah Pieter.
Sebenarnya Pieter sangat tersiksa dengan perasaan cintanya ini.
Perasaan yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
Karena Awalnya ia ingin membalaskan rasa sakit hati atas kematian adiknya dengan mengambil Anna dari Alex.
Tapi kenyataannya kini malah Pieter yang tersiksa oleh perasaannya.
Pieter pun memutuskan kalau malam ini ia akan tidur di kamar Anna, seperti malam sebelumnya.
🍂🍂🍂🍂🍂
Suara ketukan sepatu pantofel terdengar nyaring. saat Anna berlari menuju lift yang akan tertutup.
Tapi tidak sia-sia Anna berlari, karena ia berhasil memasuki lift Sebelum tertutup.
Dengan nafas tersengal. Anna berdiri di dalam lift.
Tapi tiba-tiba Anna terkejut saat seseorang di belakangnya bertepuk tangan.
Anna pun menoleh.
Seorang pria dengan topi yang menutupi wajahnya berdiri sambil terus bertepuk tangan.
"Siapa kau?" Ujar Anna sedikit takut
Pria itupun membuka topi yang dikenakannya.
"Apa kau sudah mengenaliku? Wanita ******!"
Ujar pria yang ada di hadapannya.
"Alex? Apa yang kau lakukan di tempat ini? Dan apa maksudmu memanggilku ******?" Jawab Anna
"Lalu panggilan apa yang bisa menggambarkan betapa menjijikkannya Seorang perempuan yang pergi dengan laki-laki lain saat ia terikat Dengan sebuah pernikahan." Ujar Alex
"Apa maksudmu?" Anna tidak mengerti
"Apa kau lupa? Kau pernah menyerahkan tubuhmu saat kita kedinginan di hutan waktu itu?" Ujar Alex sembari mengusap pipi Anna dengan telunjuknya seolah sedang mengejek.
Anna langsung menepis tangan Alex.
"Jangan pernah menyentuhku, Laki-laki pengecut!" Bentak Anna
"Oh! Ternyata ****** kecilku sudah menjelma menjadi gadis dewasa." Alex terus mengolok Sambil terus mencoba menyentuh Anna.
"Berhenti memanggilku ******. Pria menjijikan!." Anna terus melawan saat Alex terus mendekatinya.
Alex sangat senang saat Anna memberontak.
Tidak lama pintu lift terbuka. Anna langsung pergi ke luar walaupun ini bukan lantai menuju kamarnya.
Anna berlari untuk menjauhi Alex.
Tapi Alex tidak berhenti mengejar Anna.
__ADS_1
"Kau mau pergi kemana ****** kecil?" ucap Alex saat berhasil menangkap Anna.
"Lepaskan aku!" Anna terus memberontak
"Apa kau tau? kau telah berlari mendekati sarang serigala." Alex mencengkram erat pergelangan tangan Anna.
"Apa maksudmu?" Anna terus meronta-ronta
Alex berjalan sambil menarik paksa lengan Anna.
Ia pun mengeluarkan sebuah card dan membuka salah satu pintu apartemen yang ternyata miliknya.
Alex menarik Anna dan membawanya masuk ke apartemennya.
"Lepaskan aku! Kenapa kau membawaku kesini?" Anna mendorong Alex yang terus saja mendekatinya
"Aku akan membayarmu berapapun kau mau." Alex kembali mendekati Anna sembari membuka pakaiannya.
"Jangan mendekat! Keluarkan aku dari tempat ini." Teriak Anna.
Bukannya mendengarkan Anna. Alex semakin bersemangat mendekati Anna.
Dengan bertelanjang dada, Alex mendekati Anna dan memeluknya. "Apa kau tidak merindukanku? Apa kekasihmu itu benar-benar membuat kau melupakan aku yang dulu masih menjadi suamimu." Ujar Alex dengan suara keras sembari terus memeluk Anna.
Anna pun kembali mendorong Alex dan berusaha berlari menuju pintu.
Dengan refleks Alex menarik kemeja yang di kenakan Anna, Sehingga beberapa kancingnya terlepas dan memperlihatkan penutup dada Anna.
Anna berlari menuju pintu keluar. Tapi Alex sudah menguncinya, Sehingga Anna tidak bisa keluar.
"Kenapa terburu-buru sekali? Nikmati saja dulu waktu denganku." Lagi-lagi Alex mendekat
"Jangan lakukan ini padaku Alex. Aku mohon, biarkan aku keluar dari tempat ini." Ucap Anna memelas sembari menutupi dadanya yang tidak tertutup pakaian
Alex hanya tersenyum smirk dan tidak memperdulikan ucapan Anna
Dengan satu tangannya Alex memegangi kedua tangan Anna yang terus menerus memberontak.
Alex pun memegangi tengkuk leher Anna dan mendekatkan bibirnya pada bibir Anna.
"Jangan lakukan itu Alex, Jang--," Belum selesai Anna berucap Alex sudah lebih dulu membungkam bibir Anna dengan bibirnya.
Alex ******* paksa bibir Anna, dan mendorong tengkuk leher Anna saat mencoba menghindar.
Alex membuka paksa kemeja Anna. Hingga penutup dada Anna terpampang di depannya.
Tanpa aba-aba Alex langsung menyeret tubuh Anna dan membawanya ke kamar.
Alex mendorong Anna ke kasurnya.
Tapi Anna tidak tinggal diam, Anna terus memberontak hingga ranjang yang semula tertata rapi menjadi sangat berantakan.
Tapi entah mendapatkan kekuatan dari mana. Alex selalu dapat menguasai Anna yang terus memberontak.
Hingga Alex berhasil mengunci kedua tangan Anna.
Anna pun tidak berkutik ketika Alex melepaskan satu persatu pakaiannya.
Setelah bertahun-tahun akhirnya Alex kembali menatap tubuh mungil yang selalu menggoda birahinya.
Alex pun menciumi setiap lekukan tubuh Anna
Entah kenapa? saat melihat tubuh Anna polos tanpa sehelai benang hasrat Bercinta Alex meningkatkan berjuta-juta kali lipat.
Karena Anna terus mencoba menghindari cumbuan darinya, Alex pun melakukan penyatuannya dengan cukup kasar.
Alex benar-benar sudah di luar kendali.
Jeritan dan tangisan Anna seolah tidak terdengar di telinganya.
Bahkan di saat Anna sudah terkulai lemas, Birahi Alex tak kunjung memudar.
Dengan penuh kemarahan Alex terus menghujam Anna, seolah sedang mengungkapkan kerinduan segaligus kekecewaannya kepada Anna.
Beberapa jam Alex memberikan hukuman pada Anna, sehingga tubuh Anna benar-benar tidak berdaya. Dengan deraian air mata Anna pun membiarkan tubuh polosnya tergeletak begitu saja.
Begitu pun Alex.
Dengan tubuhnya yang masih polos tanpa pakaian, Alex ikut berbaring d samping Anna.
Alex memandangi langit-langit kamarnya.
Suasana yang semula di penuhi dengan rintihan Anna dan ******* Alex, kini menjadi senyap.
Mereka saling terdiam satu sama lain.
__ADS_1
"Kenapa kau tega meninggalkanku?" Alex akhirnya membuka suara
"Kalau kau menginginkan uang yang lebih banyak, Seharusnya kau katakan saja padaku. Aku akan memberikan semuanya untukmu." Sambung Alex dengan nada sendu
"Aku tidak pernah meninggalkanmu." Jawab Anna yang tidak kalah sendu
"Kau pergi dengan lelaki asing itu. Dan tidak pernah kembali."
"Aku pikir kau akan mencariku saat pria itu menculikku. Tapi ternyata kau malah menikahi Cassandra dan mengabaikan aku dan calon bayi kita."Jawab Anna dengan perasaan pedih saat harus mengingat kejadian itu.
"Bayi kita?" Alex menoleh pada Anna
"Kau ingat. Saat di pestamu aku datang dengan keadaan mengandung. Bayi itu adalah anakmu." Anna berbicara sambil tersedu-sedu.
"Tapi wajahmu terlihat bahagia saat kalian akan pergi."
"Pria itu mengatakan kau yang memintaku untuk ikut dengannya karena kau sedang mempersiapkan kejutan untukku." Jawab Anna
Alex langsung terperanjat.
"Dimana tempat tinggal pria itu? Aku akan menghabisinya." Ujar Alex dengan emosi
"Tidak, Alex. Kau tidak perlu melakukan apapun padanya. Karena berkat dia, Aku jadi sadar kalau aku hanya seorang ****** dimatamu. bukan seorang perempuan yang di cintai." dada Anna terasa Sesak saat ia mengucapkan itu
"Tidak Anna. Kau harus tau aku sudah mulai mencintaimu saat itu" Alex kembali memeluk Anna.
"Aku melakukan itu karena marah melihatmu pergi dengan laki-laki lain. Saat aku tidak mendapatkanmu di rumah, aku mencarimu kemana-mana. Bahkan aku mendatangi rumah ibumu. hingga akhirnya aku mencoba melihat CCTV dan melihat kau pergi dengan seorang laki-laki."Jelas Alex
"Semuanya sudah terjadi. Kau sudah menikah dengan Cassandra, Jadi anggaplah saja aku tidak pernah ada di dalam hidupmu.
Dan pernah menjadi ISTRI RAHASIA SANG AKTOR akan aku anggap sebagai kenangan dalam hidupku." Ucap Anna sembari bangkit dari tidurnya.
Anna mencoba turun dari tempat tidur Alex. Tapi kaki Anna masih sangat lemas.
"Aku mohon Anna. Jangan pergi lagi dari hidupku, Aku tidak bahagia hidup dengan Cassandra. Aku tidak bergairah seperti denganmu, saat bersamanya." Alex memeluk Anna dari belakang.
Alex menciumi punggung polos Anna.
"Aku membutuhkanmu Anna" Alex memelas
"Tidak, Alex. Jangan lakukan itu padaku, Jangan jadikan aku seperti ****** yang mau di tiduri lelaki beristri." Tegas Anna
Dengan langkah terhuyung-huyung karena lemas Anna memunguti pakaiannya.
Anna kembali memakai kemeja dan rok span yang tadi di pakainya.
"Dengan hanya memakai celana boxer Alex kembali mendekati Anna
"Anna tolonglah. Kembalilah padaku." Alex bersimpuh di pangkuan Anna yang hendak memakai sepatunya.
Anna menguatkan hatinya agar tidak kembali terbuai dengan ucapan manis Alex.
"Tolong biarkan aku pergi Alex." Ucap Anna.
"Aku akan mengantarmu." Alex
"Kau tidak perlu melakukan itu." Jawab Anna
"Gantilah pakaianmu. Pakaianmu sudah terkoyak." Alex memberikan kaos miliknya.
"Tidak, Alex." Tolak Anna
Anna pun menutup dadanya dengan blazer dokternya.
"Apa kau sudah menjadi seorang dokter?" Tanya Alex
"Ya." Jawab Anna singkat.
"Aku senang mendengarnya." Kata Alex lagi.
"Tolong segera bukakan pintunya." Ucap Anna dengan tegas
"Baiklah!" Alex pun membukakan pintu apartemen dan membiarkan Anna pergi
Dengan kaki yang masih lemas Anna kembali menaiki lift untuk sampai di kamarnya.
Suasana sangat sepi. Mungkin karena waktu sudah dini hari.
Saat sampai di apartemen Anna langsung melepaskan sepatu dan blazer-nya. Anna menangis tersedu-sedu di lantai. Anna memukuli dirinya yang terasa menjijikan.
Anna berteriak, ia begitu marah pada kehidupan yang seolah sedang mempermainkannya.
Bersambung.....
Terimakasih banyak Buat kalian yang udah nungguin kelanjutan cerita ini.
__ADS_1