
Hari sudah mulai larut, Tapi Anna tidak bisa tidur.
Pikirannya masih terganggu oleh Pieter.
Bagaimana bisa Pieter tidak pulang, sementara besok adalah weekend, Dimana biasanya Pieter akan menghabiskan waktu di rumah bersama dirinya dan Alicia.
"Apakah dia akan menghabiskan waktu bersama gadis-gadis di lokasi syuting? Aku yakin gadis-gadis di sana sangat cantik-cantik." Anna benar-benar sedang di kuasai pikiran buruk
"Sepertinya aku harus memastikan kalau Pieter tidak pergi bersama gadis lain." Ucap Anna
Anna pun bergegas mengganti piyamanya dengan celana jeans dan kaos. dia pun tidak lupa memakai jaket Karena ini sudah malam dan udara pun cukup dingin.
Anna meminta sopir untuk mengantarnya ke lokasi dimana Pieter berada.
Jarak menuju lokasi syuting ternyata cukup jauh, karena berada di pinggir kota.
Hampir dua jam Anna baru sampai di lokasi syuting Pieter.
"Apa aku menunggu nona?" Tanya sopir saat mereka sampai di lokasi syuting Pieter
"Kau pulang saja. Aku titipkan Alicia pada kalian." Jawab Anna
"Baik, Nona. Kalau begitu aku pergi dulu." Pamit sang sopir
Anna pun berjalan menghampiri crew yang ada di sana.
"Permisi! Apakah Pieter Smith syuting di tempat ini?" Tanya Anna pada seorang Crew film.
"Ya, Tuan Smith sedang melakukan take." jawab Crew tersebut
"Apakah kau bisa membantuku untuk menyampaikan pesan bahwa aku menunggunya disini?"
"Baiklah, Nona Smith. Aku akan menyampaikannya." Crew tersebut pun pergi menemui Pieter.
Anna berdiri di antara orang-orang yang sedang sibuk dengan syuting.
Ia hanya diam sembari melihat-lihat.
Tidak lama Crew yang ia mintai tolong pun kembali menghampirinya.
"Aku sudah menyampaikan pesan darimu, Nona. Tuan Smith akan menghampirimu saat selesai take." Ujar Crew tersebut
"Baiklah. Terimakasih atas bantuanmu." Anna
Anna kembali menunggu, Dia pun melihat banyak Artis cantik di sana.
"Pantas saja Pieter tidak tergoda padaku. Ternyata dia terbiasa melihat gadis yang jauh lebih cantik dariku." Anna mulai tidak percaya diri.
Tidak lama Pieter menghampiri Anna dengan senyuman merekah di wajahnya.
Pieter selalu tersenyum saat ia melihat Anna.
"Anna, Aku terkejut sekali melihat kau datang ke lokasi syuting." Ucap Pieter dan menghampiri Anna
"Eumm... Aku-, Aku hanya rindu dengan suasana syuting. Jadi aku memutuskan untuk mendatangi lokasi syuting-mu." Jawab Anna sedikit gugup.
"Tapi ini sudah larut malam. Seharusnya kau beristirahat di rumah." Pieter mengajak Anna berjalan menuju mobilnya
"Apa kau tidak suka, Aku datang?" Anna balik bertanya
"Tentu saja aku suka. Tapi Kau pasti lelah, Karena menempuh perjalanan cukup jauh." Pieter
"Maaf, Kalau aku mengganggu pekerjaanmu." Anna
"Tidak, Aku sudah selesai. Apa kau mau memakan sesuatu? Kebetulan aku belum makan malam" Ajak Pieter
"Aku temani kau makan malam saja."Jawab Anna.
Pieter pun mengajak Anna untuk mencari makanan, Sebelum mereka pergi mencari penginapan untuk tidur.
Pieter mengajak Anna ke restoran siap saji yang buka dua puluh empat jam.
Mereka pun makan bersama-sama.
"Kita harus mencari penginapan di dekat sini. Aku sengaja tidak pulang karena aku tau aku akan bekerja sampai larut malam. Dan besok pagi harus melanjutkan syuting."
"Aku ikut saja." Jawab Anna yang sedikit murung
sebuah penginapan bernuansa private pun menjadi pilihan Pieter. Selain karena penginapan ini nyaman karena memiliki nuansa alam dan privasi, Penginapan ini juga memiliki jarak cukup dekat dengan lokasi syuting Pieter.
"Kau bisa beristirahat. Aku akan membersihkan diri terlebih dahulu." Kata Pieter saat mereka sudah di dalam kamar penginapan.
Anna memilih berdiri di jendela untuk menikmati pemandangan alam dari jendela kamar mereka.
"Kau sedang apa? Kenapa tidak beristirahat?" Tanya Pieter yang baru keluar dari kamar mandi.
"Aku hanya sedang melihat pemandangan yang cantik di luar sana." Jawab Anna
"Pemandangan malam hari memang memiliki keindahan tersendiri." Jawab Pieter yang mendekati Anna
"Kau pasti sudah terbiasa dengan keindahan." Celetuk Anna sambil terus memandangi langit.
"Apa maksudmu, Anna? Bukan semua manusia menyukai keindahan." Pieter tidak mengerti dengan ucapan Anna
"Tidak apa-apa. Aku lihat Artis-artis yang bermain film denganmu sangat cantik-cantik. Sangat jauh kalau dibandingkan denganku." Ucap Anna sembari berjalan menuju kasur.
Pieter pun berjalan menghampiri Anna yang terlihat cemberut
"Bagiku keindahan di dunia ini sudah ada padamu, Jadi jangan pernah membandingkan dirimu dengan siapapun."Jawab Pieter
__ADS_1
Anna mencoba menghindari Pieter saat Pieter mendekatinya, Tapi kali ini Pieter mencegahnya.
"Apa yang terjadi padamu?" Pieter menangkup wajah Anna dengan kedua tangannya.
Anna tidak menjawab apapun, Ia hanya menundukkan kepalanya.
"Katakan saja jika kau memiliki pertanyaan. Atau apapun yang ingin kau tau dariku." Ucap Pieter sembari menatap lekat wajah Anna
"Lupakan saja, Mungkin aku hanya sedang dikuasai oleh pikiran buruk." Anna kembali berusaha menghindari Pieter
Tapi, Pieter menggenggam tangan Anna kuat-kuat.
"Apa kau sedang merasa cemburu?" Ucap Pieter di telinga Anna
Anna memalingkan wajahnya agar ia bisa mengelak ucapan Pieter tadi.
"Katakan padaku, Kalau kau takut kehilanganku." Pieter menempelkan dahinya dengan dahi Anna
"Aku hanya takut kau tergoda oleh gadis cantik yang berada di sekelilingmu." Akhirnya Anna berbicara
Pieter pun tersenyum senang.
Akhirnya Anna mengakui kalau dirinya takut kehilangan Pieter.
"Itu tidak akan pernah terjadi, Anna. Bagiku kau sudah lebih dari cukup." Pieter mengangkat wajah Anna sehingga kini mereka saling menatap.
Pieter memegangi tengkuk leher Anna.
Perlahan-lahan ia pun mendekatkan wajahnya pada wajah Anna.
Mata Anna seketika terpejam saat Pieter menyatukan bibir mereka.
Pieter menyesap bibir Anna perlahan-lahan, lalu sesekali menciumi wajah Anna.
Pieter pun mengangkat tubuh Anna, Sehingga kini mereka hanyut dalam ciuman yang semakin dalam, Karena Anna membalas ciumannya.
"Kau tau Anna. Semalam Aku hampir gila karena harus mengendalikan hasratku saat melihat tubuhmu." Pieter terus saja membisikan kata-kata vulgar di telinga Anna
"Tapi kau tidak menyentuhku, Aku pikir kau tidak menyukainya." Jawab Anna
"Percayalah Anna, Aku takut tidak bisa mengendalikan diriku dan menyakitimu." Pieter kembali menciumi telinga Anna.
Anna pun sudah mulai terbuai dengan sentuhan Pieter.
"Aku akan menikmati rasa sakit itu Pieter." Ucap Anna dengan suara lirih
Pieter mulai melepaskan jaket yang di kenakan Anna.
Lalu kaos yang menempel di tubuh Anna pun seketika terlepas.
Pieter sudah di puncak hasratnya, Terlebih ia sudah mendapatkan lampu hijau dari Anna.
Pieter tak membuang waktu, Ia segera menarik tali yang terikat di punggung Anna.
Sehingga benda kenyal itupun kini terlihat jelas tanpa penutup.
Anna yang merasa malu karena Benda kenyalnya terpampang di hadapan Pieter pun membalikkan badannya.
"Kenapa Anna? Bukankah semalam kau sengaja memamerkannya padaku?" Pieter kembali berbisik
"Malam ini aku tidak akan melepaskanmu, Anna." Pieter kembali memutar tubuh Anna sehingga menghadap padanya.
Pieter mengangkat Anna lagi, Lalu ia dudukan di meja yang ada di kamar tersebut.
Tangan Pieter pun perlahan-lahan menyentuh dada Anna.
Ia pun memilin lembut pucuk dada Anna yang berwarna merah muda tersebut.
Anna melenguh saat Pieter tiba-tiba melahap benda kenyalnya secara bergantian.
Pieter menyukai ekspresi wajah Anna saat ia menyentuh tubuh Anna.
Tapi tiba-tiba Pieter berhenti menyentuh Anna, Membuat Anna kembali membuka matanya.
"Ada apa?" Tanya Anna saat Pieter berhenti menyentuhnya
"Aku tidak bisa melakukannya Anna, Aku takut menyakitimu." Jawab Pieter
"Baiklah, Jika kau tidak bisa melakukannya. Biar aku saja yang melakukannya." Kata Anna sembari berdiri di hadapan Pieter.
Di hadapan Pieter Anna membuka celana jeans dan lingerie yang di pakainya.
Dengan tubuh polos tanpa sehelai benangpun, Anna berjalan mendekati Pieter.
Anna menempelkan dadanya di dada Pieter yang juga tanpa pakaian.
Anna mengusap dada Pieter dengan sangat lembut.
Pieter pun memejamkan matanya untuk menahan segala hasrat yang semakin menggelora saat Anna membuka kancing celana jeans-nya.
Pieter membiarkan Anna melakukan apapun yang dia inginkan.
Bahkan ketika Anna sudah berhasil melepaskan celana jeans dari tubuhnya.
Pieter pun menahan tangan Anna saat Anna hendak melepaskan pakaian dalamnya.
Pieter meraih tangan Anna dan membangunkan Anna yang semula berjongkok di hadapannya.
"Apa kau yakin untuk melakukan ini?" Pieter bertanya kepada Anna
"Tentu saja, Jadi biarkan aku melakukannya" jawab Anna yakin
__ADS_1
Pieter pun kembali menciumi Anna. Dari wajah, leher hingga dada Anna tidak terlewatkan oleh kecupan Pieter.
"Lakukanlah, Anna." Bisik Pieter
Anna pun memberanikan diri untuk membuka satu-satunya pakaian yang menutupi keperkasaan Pieter.
Anna pun sangat terkejut ketika melihat milik Pieter yang kini terpampang di hadapannya.
Anna terdiam sesaat.
"Ada apa?" Tanya Pieter saat melihat Anna seperti terkejut
"Apa dia akan masuk di tempatku?" Anna bertanya dengan sangat polosnya.
"Kenapa? Apa kau takut? Kalau begitu kita hentikan saja sampai disini." Jawab Pieter
"Tidak. Aku akan tetap melakukannya." Anna tetap bersikeras walaupun ada rasa takut dalam hatinya.
Sambil memejamkan matanya Anna Mencoba menyentuh benda yang sudah mengeras tersebut dengan kedua tangannya.
Pieter pun mengangkat wajahnya sembari terpejam, ketika Anna mulai bermain dengan miliknya.
"Sudah cukup Anna. Biar aku saja yang melakukannya." Pieter pun membimbing Anna untuk berbaring di ranjang.
Pieter pun mulai memberikan rangsangan di titik sensitif Anna.
Setelah melihat Anna mulai menikmati permainannya Pieter pun meminta ijin untuk melakukan penyatuan mereka.
"Apa kau sudah siap?" Tanya Pieter pada Anna
Anna pun mengangguk
Perlahan-lahan Pieter mengarahkan miliknya pada milik Anna.
Penyatuan pun baru saja di mulai.
Baru saja setengah jalan, Anna berteriak karena rongga intinya merasa sakit.
Pieter pun tidak melanjutkan untuk memasukkan seluruh miliknya.
"Kau pegang tanganku, Dan gigit saja bahuku jika kau kesakitan." Bisik Pieter sembari menggenggam erat kedua tangan Anna.
Anna pun menurut.
Ia menggenggam tangan Pieter.
Dan Pieter pun melanjutkan memasukkan senjata tajam miliknya pada tubuh Anna yang
kecil.
Benar saja, Anna benar-benar mengigit bahu Pieter saat milik Pieter seperti memenuhi rahimnya.
Pieter pun ikut meringis ketika Anna mengigit bahunya cukup kuat.
Kini dua manusia itupun sedang menikmati rasa sakit yang mereka inginkan.
"Biarkan dia tenggelam di sana." Bisik Pieter membiarkan miliknya menyatu dengan Anna
"Tapi ini sakit." Rintih Anna
"Tunggu sebentar." Jawab Pieter yang membiarkan miliknya di dalam sana.
Anna mulai mengatur nafasnya Karena ia merasa kesakitan saat organ intinya terasa sakit, sesak dan penuh.
Pieter pun mengeratkan genggaman tangannya saat ia mulai memaju mundurkan tubuhnya.
Anna mengatupkan kedua bibirnya agar ia tidak berteriak saat rasa sakit sekaligus nikmat menjalar di rahimnya.
Anna pun tidak lagi mampu menahan rintihannya saat Pieter memacu pergerakannya menjadi semakin cepat.
"Cukup Pieter, Aku sudah tidak tahan ingin buang air kecil." Ucap Anna sambil menggelinjang tidak karuan
"Tidak Anna, Aku tidak bisa berhenti begitu saja." Pieter menolak keinginan Anna dan terus memacu tubuhnya.
"Cukup Pieter, Rasanya perutku sakit sekali." Rintih Anna lagi.
Anna pun berusaha melepaskan diri dari Pieter dan berhasil.
Tapi sayang, Anna tidak bisa menahan air seninya yang kini kini menyembur dan membasahi kasur mereka.
Anna pun menggeliat merasakan sakit di bawah sana saat ia mencapai puncaknya.
"Apa kau baik-baik saja Anna?" Tanya Pieter
"Ya." Jawab Anna sembari memegangi perut bawahnya.
Ini bukan kali pertama Anna melakukannya, Tapi entah kenapa Pieter mampu memberikan sensasi luar biasa sehingga dirinya mendapatkan skuirting hebat seperti ini.
"Kau bisa melanjutkannya." Ucap Anna yang kembali memeluk Pieter
"Apa kau yakin?" Pieter meyakinkan
"Ya, Selesaikan sampai kau selesai." Jawab Anna.
Pieter dan Anna pun melanjutkan permainan mereka.
Anna membiarkan Pieter menuntaskan hasratnya sampai selesai, Walaupun ia tak berhenti merintih kesakitan.
Bersambung.....
Jangan lupa vote ya gaesss.....
__ADS_1