Istri Rahasia Sang Aktor

Istri Rahasia Sang Aktor
Chapter 61


__ADS_3

Karena beberapa hari tidak memakan Apa-apa. Akhirnya Anna pun jatuh sakit.


Wajahnya pucat, Tubuhnya pun melemah.


Untuk itu Pieter menyuapi Anna agar Anna mau mengisi perutnya.


Dengan sabar Pieter menyuapi Anna. Ia ingin Anna menghabiskan makanannya agar segera pulih.


"Apa kau mau mengantarku?" Ucap Anna tiba-tiba.


"Memangnya kau akan kemana? Maksudku saat ini kau sedang sakit jadi tidak baik kalau bepergian." Jawab Pieter


Anna pun terdiam.


"Baiklah! Aku akan mengantarmu setelah kau menghabiskan makananmu." Pieter menuruti keinginan Anna saat melihat wajah Anna yang terlihat kecewa.


"Tapi aku sudah kenyang." Jawab Anna.


"Baiklah. Ganti pakaianmu, Aku menunggumu di bawah." Kata Pieter tidak lagi memaksa Anna untuk makan.


Pieter pun turun dan meminta anak buahnya untuk menyiapkan mobil yang akan Ia gunakan.


Tidak perlu menunjukkan lama. Anna pun sudah turun menghampiri Pieter.


Mereka pun pergi.


"Kita akan pergi kemana?" Tanya Pieter saat sudah mulai keluar dari kota tempat mereka tinggal.


"Kerumah Ayah dan ibuku." Jawab Anna.


Pieter pun tidak lagi banyak bertanya.


Ia hanya mengikuti maps yang di berikan Anna.


Setelah beberapa jam perjalanan Anna pun meminta Pieter berhenti di sebuah gerbang tempat pemakaman.


Mereka pun berjalan di antara makam-makam menuju suatu tempat.

__ADS_1


Lagi-lagi Pieter menurut. Walaupun banyak pertanyaan dalam benaknya Pieter memilih diam dan mengikuti Anna.


Hingga akhirnya Anna berhenti di sebuah makam.


Tepatnya di dua makam yang saling berdekatan.


Anna langsung terduduk lemas di antara dua makam tersebut Lalu menangis.


Anna memeluk kedua pusara itu bergantian.


"Ayah, Ibu Aku datang. Aku merindukan kalian. Rasanya ingin sekali aku ikut dengan kalian." Ucap Anna sambil terisak.


Mendengar ucapan Anna yang menyebut Ayah dan ibunya.


Pieter paham kalau kedua makam itu adalah kedua orang tua Anna.


Pieter pun berjongkok sejajar dengan Anna.


Pieter mengusap punggung Anna saat Anna menangis tersedu-sedu di depan pusara kedua orangtuanya.


"Bu, Anna hancur. Hidup Anna berantakan." Anna bersandar di atas tanah makam


Pieter pun tak kuasa menahan haru, Sehingga Ia mendongkakkan kepalanya agar tidak meneteskan air mata.


Cukup lama Anna berada di makam, Hingga hari sudah mulai Sore.


"Kau tau Anna. Kedua orang tuamu pasti sangat sedih melihat keadaanmu yang seperti ini."Kata Pieter sambil mengusap punggung Anna.


"Sebaiknya kita pulang karena hari sudah mau gelap." Sambung Pieter lagi


Pieter pun memapah Anna untuk berjalan menuju mobil.


"Kita mencari hotel saja. Supaya kau bisa istirahat." Ucap Pieter.


"Kita menginap di rumahku saja." Kata Anna


"Dimana rumahmu?" Tanya Pieter

__ADS_1


Anna pun memberi tau jalan menuju rumahnya.


Anna pun mengajak Pieter untuk menginap di rumahnya.


"Apa ini rumah masa kecilmu?" Tanya Pieter


"Ya. Disinilah aku di besarkan" Jawab Anna


"Baiklah. Sebaiknya kau beristirahat, Besok pagi kita kembali ke kota." Kata Pieter


"Sepertinya aku akan tinggal di sini saja." Kata Anna


"Tidak, Anna. Aku tidak akan membiarkanmu tinggal sendirian sini." Jawab Pieter


"Anna, Tinggallah denganku Sebagai adikku dan lanjutkan hidupmu." Pieter


"Dulu aku pernah mendengar sebuah ucapan. Balas dendam terbaik adalah menjadikan dirimu lebih baik dari sekarang."


"Lanjutkan pendidikanmu. Raih cita-cita yang mungkin pernah kau tunda. Hiduplah lagi dan Jadilah Anna yang baru" Sambung Pieter


Anna terdiam. Ternyata apa yang dikatakan Pieter masuk kedalam kepalanya.


Cara Pieter berbicara membuat siapapun akan nyaman saat mendengar.


Pieter adalah sosok kakak yang di idamkan banyak adik.


"Aku akan mengambil selimut untukmu." Anna pergi ke kamarnya untuk mengambil bantal dan selimut.


"Aku akan beristirahat di kamar." Pamit Anna setelah memberikan selimut untuk Pieter tidur di sofa.


Tapi. Tanpa di duga alas kaki Anna tersangkut di karpet sehingga Anna menjadi limbung.


Tapi beruntung Pieter dapat menangkap tubuh Anna dengan sigap, Sehingga Anna tidak terjatuh ke lantai.



Pieter mencoba menahan debaran dalam dadanya saat tatapan mereka beradu.

__ADS_1


Anna pun segera menjauhkan tubuhnya dari dekapan Pieter dan pergi ke kamarnya.


Sementara Pieter hanya mampu menatap Anna yang berjalan meninggalkannya.


__ADS_2