
"Kalau dalam satu bulan ini kau tidak juga mendapatkan berita yang bisa menaikkan rating perusahaan, Dengan terpaksa kami memutus kontrak kerja para jurnalis yang selalu makan gaji buta seperti dirimu. Karena perusahaan akan merugi jika terus memiliki pegawai sepertimu." Kata-kata dari atasannya terus terngiang-ngiang di kepala Alana Zesa.
Hingga pukul dua dini hari ia belum bisa tidur.
Alana Zesa Seorang jurnalis muda yang hidup seorang diri di sebuah rumah kecil yang terbilang kumuh.
Sudah satu Minggu ini dia terus berusaha mencari berita tentang para aktor ataupun orang terkenal untuk di angkat ke media.
Tapi kali ini perusahaan menginginkan beritahu besar yang bisa mendongkrak elektabilitas perusahaan mereka.
Alana pun memutuskan mengambil kameranya dan pergi ke luar Ia berjalan tanpa tujuan, Mungkinkah dengan menikmati kesunyian malam akan membuat dirinya sedikit terbebas dari stres yang sedang di alaminya saat ini.
Alana berjalan di tepi jalan yang terbilang sunyi.
Hingga akhirnya ia pun duduk di depan sebuah bangunan tempat hiburan malam.
Hatinya sangat kacau, Bagaimana tidak.
Kalau sampai ia benar-benar di keluarkan dari perusahaan, itu akan menambah kesulitan hidup yang sedang di alaminya.
Alana masih terbilang amatir dalam bidang jurnalistik yang di jalaninya. Sehingga perusahaan memberikan gaji yang terbilang kecil untuk kehidupan di kota besar ini.
Anna mengarahkan kameranya ke arah langit untuk memotret pemandangan malam di atas sana.
Hingga datanglah tiga pria besar yang sedang memukuli seorang pria.
Sepertinya pria yang di pukuli itu membuat kegaduhan di dalam sana, Sehingga ia di usir paksa dari dalam klub malam.
Alana tidak bisa berbuat apa-apa saat melihat pria itu di pukuli.
Tiga pria itupun pergi meninggalkan pria yang mereka pukuli sampai pingsan.
Awalnya Alana tidak ingin ikut campur dengan permasalahan orang lain.
Permasalahan hidupnya pun sudah banyak. Pikir Alana
Tapi sudah hampir Lima belas menit pria yang di pukuli itu tidak kunjung bangun.
__ADS_1
"Apa dia benar-benar sudah mati?" Hati Alana mulai tergerak
Setelah beberapa saat, Alana pun mendekati Pria yang sedang terkapar itu.
Perlahan-lahan Alana membalikkan tubuh pria itu yang tengkurap.
Alana pun memeriksa apa pria ini masih hidup atau tidak!. Ternyata pria tersebut masih bernafas.
"Kenapa wajah pria ini seperti tidak asing" Batin Alana saat melihat wajah pria itu dalam cahaya remang-remang.
Alana pun menyalakan baterai di ponselnya untuk melihat dengan jelas wajah pria tersebut.
"Oh my God. Wajahnya mirip sekali dengan Alexander Abraham." Alana sangat terkejut
"Tapi tidak mungkin ini Alexander Abraham. Bukankah di media dia sedang pergi ke luar negeri untuk beberapa bulan kedepan." Ucap Alana
Karena sangat penasaran, Alana pun mencoba mencari dompet pria tersebut, Untuk mencari identitasnya.
Setelah merogoh saku celana pria itu, Alana pun menemukan dompetnya.
Ia segera membukanya untuk melihat identitas pria tersebut.
ALEXANDER ABRAHAM Tertera jelas nama tersebut di kartu identitas tersebut.
Alana pun menjadi kebingungan.
Ide cemerlang pun muncul di kepalanya.
Alana langsung memotret Alex yang masih terbaring tidak sadarkan diri di tepi jalan.
Ini akan menjadi berita besar, Pikir Alana.
Seorang aktor ternama, Alexander Abraham di temukan dengan keadaan yang sangat menghawatirkan di tepi jalanan.
Alana terus memotret, Untuk mendapatkan foto yang pas untuk di pasang di kolom beritanya.
Selesai memotret, Alana pun bingung harus berbuat apa? Tidak mungkin ia membiarkan Alex terbaring begitu saja. Ia bisa benar-benar mati.
__ADS_1
Entah mendapatkan Ilham dari mana, Alana memilih untuk membawa Alex ke rumahnya.
Alana menghentikan taksi untuk pulang Walaupun jarak ke rumahnya tidak terlalu jauh.
Karena tidak mungkin Alana menggendong Alex untuk pulang.
"Pak, Apakah kau bisa membantuku?" Ucap Alana pada sopir taksi
Alana meminta sopir taksi untuk membantunya memasukan Alex kedalam mobil.
Lalu Alana membawa Alex kerumahnya.
Lagi-lagi Alana meminta sopir taksi tersebut untuk membantu membawa Alex kedalam rumahnya yang berada di dalam gang kecil.
Alana pun merogoh sakunya dan membayar sopir taksi tersebut.
Alana tidak lupa memberikan uang lebih karena sopir tersebut telah membantu mengangkat Alex.
Alana segera mengunci pintu rumahnya.
Ia pun bergegas mencari kotak obat untuk mengobati luka-luka di wajah Alex.
Dengan hati-hati Alana mengobati Alex.
Alana membukakan sepatu Alex dan memberikan selimutnya pada Alex yang berbaring di kursi rumahnya.
Ya , Rumah Alana hanya memiliki satu kamar. Dan tidak mungkin ia membiarkan orang lain menempati kamarnya.
Setelah selesai mengobati dan menyelimuti Alex, Alana pun kembali ke kamarnya.
Alana segera berbaring di ranjang kecilnya.
Matanya pun mulai terpejam.
Tapi Alana bangun secara tiba-tiba.
"Alana, Apa yang kau lakukan? Kenapa kau bawa pria itu kerumah ini?" Batin Alana tiba-tiba.
__ADS_1
"Kau bodoh Alana. Masalah hidupmu sudah cukup banyak! Kenapa kau menambahkannya lagi. Bagaimana kalau Alexander Abraham itu mati di rumah ini." ucap Alana yang terus bermonolog dan merutuki dirinya sendiri.