Istri Rahasia Sang Aktor

Istri Rahasia Sang Aktor
Chapter 59


__ADS_3

Pieter berjalan tergesa-gesa saat sampai di rumah sakit.


Pieter sangat panik melihat Anna mengeluarkan darah semakin banyak.


Pieter segera membaringkan Anna di brangkar dan meminta dokter untuk segera menangani Anna.


Dokter pun dengan sigap membawa Anna ke ruang tindakan.


Dengan pakaian penuh darah Pieter menunggu Anna di luar ruangan.


Pieter tidak menyangka kalau niatnya untuk membuat Anna senang malah berakhir seperti ini.


Saat di restoran pizza Pieter merasa khawatir karena Anna terlalu lama di toilet.


Hingga akhirnya ia nekat memasuki toilet wanita dan melihat Anna sudah tidak sadarkan diri dengan pakaian penuh darah.


Pantas saja tidak ada yang datang ke toilet tersebut.


Ternyata di pintu toilet itu terpasang tulisan TOILET RUSAK.


Saat sedang panik tiba-tiba seorang suster menghampiri Pieter.


"Maaf tuan. Kami membutuhkan surat persetujuan untuk melakukan operasi. Karena pasien harus segera mendapatkan penanganan cepat." Ujar sang suster.


Tanpa banyak bicara Pieter langsung menandatangani surat persetujuan.


Pieter menunggu Anna seorang diri.


Ia tidak perduli dengan pakaiannya yang di penuhi darah.


Pieter sangat frustasi, karena sebelumnya Pieter pernah ada di Keadaan ini.


Dimana ia dalam keadaan pakaian penuh darah dan cemas menunggu adiknya yang di operasi karena Mencoba melakukan tindakan bunuh diri.


Pieter sangat takut kalau Anna tidak selamat seperti adiknya.


Setelah beberapa jam operasi pun selesai di lakukan.


Pieter segera menghampiri Anna yang masih belum sadarkan diri.


"Maaf tuan. Kami sudah berusaha semampu kami. Tapi kami tidak bisa menyelamatkan putri anda." Ujar dokter


Pieter sangat terkejut saat mendengar ucapan dokter tadi.


Ia sangat takut melihat reaksi Anna nantinya.


Ia tidak bisa membayangkan bagaimana frustasinya Anna nanti.


"Tapi bagaimana keadaan dia?" Pieter menghampiri Anna.


"Istri Anda sudah melewati masa kritisnya. Tapi istri anda memerlukan banyak darah untuk menggantikan darahnya yang keluar terlalu banyak." Jawab dokter


"Berikan dia darah yang banyak. Berapapun akan aku bayar. Kalau perlu aku akan membayar langsung siapapun yang mendonorkan darahnya pada dia." Ujar Pieter


"Baiklah. Sebaiknya jangan langsung beritahu istri anda tentang bayinya. Karena saya takut dia akan syok berat." Kata dokter.


"Baiklah." Jawab Pieter


"Kami akan memindahkan istri anda ke ruang rawat inap." Kata dokter lagi.


Para perawat pun membantu dokter untuk memindahkan Anna ke ruang rawat.


Tentu saja Pieter memilih ruangan yang bagus untuk Anna.


Pieter duduk di samping Anna.


Ia sangat takut Anna akan langsung menanyakan bayinya saat ia sadar nanti.


"Kasihan sekali kau." Ucap Pieter sembari mengusap rambut Anna


Setelah Beberapa jam Anna pun sadar. Tapi Anna belum bereaksi apapun.


Sepertinya ia belum sepenuhnya sadar.


Mungkin pengaruh obat biusnya masih tersisa.

__ADS_1


Anna sesekali membuka matanya lalu terpejam lagi.


Pieter duduk sembari menatap wajah Anna lekat-lekat.


Ia merasa iba. Bagaimana gadis seperti Anna di perlakukan seperti ini.


"Kau sudah bangun?" Ucap Pieter ketika Anna benar-benar sudah membuka matanya.


"Ya." jawab Anna yang menandakan bahwa ia sudah sadar sepenuhnya.


Anna mengusap perutnya yang terasa nyeri.


Tapi dia terkejut saat mendapati perutnya sudah mengecil.


"Dimana Bayiku? Apa Bayiku sudah lahir? Dimana Bayiku?" Tanya Anna.


Pieter terdiam. Ternyata apa yang ia takutkan benar-benar terjadi.


"Jawab Aku tuan! Dimana Bayiku?" Anna semakin mendesak.


"Kau sudah sadar Nona. Maafkan kami karena kami tidak bisa menyelamatkan bayi anda. Kondisi bayi dalam kandungan anda sangat lemah, sehingga ia tidak bisa kami selamatkan." Jawab dokter yang baru saja memasuki ruangan Anna.


Anna diam mematung. Anna benar-benar syok.


Pieter pun mendekati Anna Mencoba untuk menguatkan.


"Tuan. Katakan padaku kalau Bayiku sudah lahir dengan selamat. Katakan padaku tuan!" Anna mulai histeris.


Tapi Pieter tetap diam. Membuat Anna semakin histeris.


Anna berteriak sejadi-jadinya.


Kalau semula hatinya yang hancur kini hidupnya pun sudah terasa hancur tak berguna.


Pieter mencoba menenangkan dengan terus memeluk Anna.


Dokter pun tidak bisa berbuat apa-apa, dan membiarkan Anna meluapkan kesedihannya.


Di tempat lain....


Ia pun memilih untuk tetap di rumah.


Ia bersantai sejenak sambil menikmati secangkir kopi.


Jose pun membuka gawai-nya untuk sekedar melihat berita di sosial media.


Dan dia pun terkejut dengan berita utamanya.


Yaitu tentang pertunangan Alex. Tapi bukan pertunangan Alex yang membuat Jose terkejut.


Melainkan berita tentang seorang wanita tidak waras yang membuat kekacauan di acara pertunangan Alex dan Cassandra.


Ya. Foto Anna dengan perut membuncit terpampang jelas di layar ponselnya.


Jose pun memutar video saat Alex mengusir Anna.


"Kenapa dia? Bagaimana dia mengusir Anna yang jelas-jelas sedang mengandung anaknya." Gumam Jose.


Jose mulai geram dengan kelakuan kakaknya itu.


Dia pun langsung mencoba menghubungi Alex.


Tapi ponsel Alex tidak bisa di hubungi.


Jose pun bergegas mengambil kunci mobilnya di kamar untuk segera mendatangi kediaman Alex.


Saat keluar dari kamar dengan tergesa-gesa Jose pun berpapasan dengan Livia yang membawa nampan berisi camilan.


Ya. Tadi Jose meminta Livia untuk membawanya camilan.


Karena Jose berniat untuk bersantai sambil menikmati teh dan camilan.


"Kau mau kemana tuan? Bukankah kau memintaku untuk mengambil camilan ini?" Ucap Livia.


"Simpan saja dulu. Aku ada urusan sebentar." Jawab Jose sembari berlalu.

__ADS_1


Jose segera pergi menuju rumah Alex dengan perasaan kesal.


Selama ini Jose memang tidak suka dengan kelakuan Alex yang sering mempermainkan perempuan.


Tapi Jose tidak pernah ikut campur karena itu urusan pribadi Alex.


Lagi pula ex selalu bilang kalau gadis-gadis itulah yang mengejarnya.


Tapi kali ini Jose tidak ingin tinggal diam karena Anna adalah istrinya.


Walaupun pernikahan mereka belum tercatat di buku negara tapi mereka sudah mengucap janji suci pernikahan.


Jose memacu mobilnya lebih cepat lagi untuk segera sampai di rumah Alex.


Jose segera turun dan membanting pintu mobilnya.


Ia segera mengetuk pintu rumah Alex.


Tapi Jose Belum beruntung. Karena Alex sedang tidak berada di rumah.


"Sialan! Alex pasti sedang bersama wanita itu." Jose menggerutu.


Karena Jose tidak mendapati Alex di rumahnya, Jose pun mencoba menghubungi Alex kembali.


Tapi lagi-lagi Ponsel Alex tidak bisa di hubungi.


Jose pun memutuskan untuk kembali ke rumah.


"Kenapa cepat sekali?" Tanya Livia saat melihat Jose sudah kembali dengan raut wajah yang tak biasanya.


Ya. Yang Livia tau. Jose adalah sesosok yang ceria dan jarang sekali marah.


Tapi kali ini Livia Melihat Jose seperti sedang menahan amarah.


Setelah menaruh piring ke dapur Livia berinisiatif membuat orange jus untuk Jose.


Ya. Livia baru saja selesai menyuapi tuan Abraham.


Livia berjalan mendekati Jose yang duduk di sofa ruang tengah.


"Aku membawakan jus untukmu." Ucap Livia hati-hati.


Jose tidak menampakkan kemarahan pada Livia.


Jose segera menerima jus pemberian Livia.


"Terimakasih!" Ucap Jose dan meminum jus tersebut.


"Apa aku boleh duduk di sini?" Ucap Livia


"Ya." Jawab Jose


Livia pun duduk di dekat Jose, Tapi tetap di sofa yang berbeda.


"Apa kau sedang ada masalah?" Livia mencoba bertanya


Jose tidak menjawab ucapan Livia


"Baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu." Ucap Livia karena tidak mendapatkan respon dari Jose.


"Kau mau kemana? Duduk saja. Aku tidak apa-apa, Aku hanya sedang merasa kesal saja." Akhirnya Jose pun menjawab.


Livia pun mengangguk. Tapi tidak berani bertanya lagi.


"Apakah Ayah sudah minum obat?" Tanya Jose


"Ya. Setelah mengajaknya berkeliling sebentar, Aku menyuapinya dan memberikan obat." Jawab Livia.


"Baguslah!" Jawab Jose sembari menenggak sisa jus di gelas.


"Kalau begitu aku pamit dulu." Kata Livia.


"Mau kemana? Sudah duduk saja di sini, Dan temani Aku." ucap Jose.


Livia pun menurut. Ia duduk terdiam sembari sesekali melihat ke arah Jose yang masih terlihat kesal

__ADS_1


__ADS_2