
"Apa kau akan pulang bersamaku?" Tanya Emi saat mereka berpapasan di lorong ketika hendak pulang.
"Pieter akan menjemputku. Mungkin lain waktu kita akan pulang bersama." Jawab Anna
"Baiklah, Nyonya Smith, Selamat bersenang-senang." Goda Emi lalu meninggalkan Anna
Anna hanya menggelengkan kepala karena Emi terus saja menggodanya dengan sebutan 'nyonya Smith'.
Tak berselang lama. Pieter sampai dengan mobil kesayangannya.
Anna pun berjalan menghampiri Pieter.
Seperti biasa, Pieter membukakan pintu untuk Anna.
"Kau akan mengajakku kemana?" Tanya Anna
"Kita akan menemui seseorang sebelum kita pergi makan malam." Pieter terus mengemudi dengan sangat gagahnya
Walaupun dalam keadaan sakit Pieter ingin selalu terlihat kuat di hadapan Anna.
Bahkan satu pekan sebelum melakukan transplantasi ginjal Pieter ingin menghabiskan banyak waktu bersama Anna.
"Beberapa hari ini kau terus mengajakku berpergian. Kau harus ingat dengan kesehatanmu."Ucap Anna setelah beberapa saat saling diam
"Kau tenang saja Anna. Aku baik-baik saja." Elak Pieter dengan senyuman yang terpasang di wajahnya
"Bukankan Emi sudah mengatakan kau harus banyak beristirahat sebelum melakukan operasi nanti." Anna sedikit kesal karena Pieter terus saja mengelak.
"Kau tenang saja Anna. Aku baik-baik saja selama kau ada bersamaku." Jawab Pieter lagi. Tapi kali ini Pieter menggenggam tangan Anna untuk menyakinkan bahwa dia baik-baik saja.
Pieter pun memarkirkan mobilnya di depan sebuah perkantoran.
Pieter terus menggenggam tangan Anna dan mengajaknya untuk bertemu seseorang.
Seorang pria dengan pakaian nyentrik menghampiri mereka.
"Akhirnya Anda sampai juga tuan. Apa anda ingin minum teh atau kopi terlebih dahulu?" Tawar Pria nyentrik tersebut.
"Tidak terimakasih. Sebaiknya kita langsung saja ke tujuan utama." Jawab Pieter
"Baiklah Tuan." jawab orang tersebut lalu pergi mengambil sesuatu
Anna masih cukup kebingungan.
Ia melihat-lihat ruangan untuk mengetahui tempat apa ini.
Tidak butuh waktu lama, Orang yang tadi mengobrol dengan mereka sudah kembali dengan kotak di tangannya.
"Nona apa kau bisa membentangkan kedua tanganmu sebentar?" Ucap pria tadi
__ADS_1
Anna menatap Pieter untuk memastikan ia menurut atau tidak.
Seketika Anna menurut saat Pieter menganggukkan kepala.
Anna berdiri lurus sembari membentangkan kedua tangan selama beberapa menit.
Sementara pria tersebut mengukur setiap detail lekuk tubuh Anna.
"Sudah selesai. Terimakasih atas kerjasamanya Nona." Ujar pria itu pada Anna
"Baiklah, Kami harus segera pergi. Aku percayakan hasilnya padamu." Ujar Pieter lalu pergi dari tempat tersebut.
"Apakah tadi sebuah butik? Tapi tidak terlihat seperti butik." Ucap Anna saat sudah kembali di dalam mobil.
"Ya, Dia desainer terbaik. Dia memiliki beberapa butik. Tapi yang tadi kita datangi itu kantornya." Jelas Pieter
"Apa kau memesan pakaian untukku?" Tanya Anna lagi
"Ya, Tentu saja." jawab Pieter
"Baiklah. Tapi kau akan mengajakku ke acara apa? sampai-sampai memesan baju khusus." Anna
"Yang jelas acara ini sangat penting bagiku." Jawab Pieter
Anna dan Pieter pun mendatangi sebuah restoran untuk makan malam.
Setelah selesai mengerjakan semua pekerjaannya, Anna duduk sebentar di kursi yang ada di ruangannya. Anna memejamkan mata, Ia merasa Waktu berjalan cukup cepat.
Tiga hari lagi adalah waktu untuk Pieter melakukan operasi.
Anna cukup tegang. Karena ia mendapatkan informasi kalau kemungkinan berhasil hanya Lima puluh persen. Dan sisanya tidak selamat.
Bagaimanapun Anna memiliki banyak hutang Budi pada Pieter.
Anna melihat layar ponselnya. Sejak pagi tadi Pieter sama sekali tidak menghubunginya.
Apa dia sangat sibuk? Atau terjadi sesuatu padanya.
Memang saat perjalanan mengantarkan Anna ke rumah sakit, Pieter sempat bilang kalau dia akan mengurus sesuatu yang sangat penting.
Pieter pun mengatakan kalau malam ini dia tidak bisa menjemput Anna ke rumah sakit.
Dan meminta Anna untuk pulang bersama Emi.
Karena sangat penasaran Anna mencoba untuk menghubungi Pieter.
Tapi, Anna tidak mendapatkan jawaban.
Anna pun mengirimkan pesan singkat pada Pieter.
__ADS_1
Namun tidak di baca.
Tok... Tok....
Anna di kejutkan dengan suara ketukan pintu.
"Apa kau tidak berniat untuk pulang?" Ucap Emi setelah memasuki ruangan Anna.
"Tentu saja aku akan pulang." Anna mencoba tidak terlihat sedang melamun
"Apa kau sedang memikirkan sesuatu?" Tanya Emi
"Tidak. Aku tidak memikirkan apa-apa." Anna mengelak
"Tapi aku lihat kau sedang melamun." Emi kembali bertanya
"Sudahlah Emi. Sebaiknya kita pulang." Anna meraih tasnya dan bangkit dari tempat duduknya.
"Baiklah." Emi pun mengikuti Anna yang keluar dari ruangannya
Anna ikut pulang bersama Emi.
Saat dalam perjalanan Anna terus saja melihat layar ponselnya, Dengan raut khawatir. Bagaimana tidak! Pieter sama sekali tidak membaca pesan singkat darinya.
"Ada apa?" Tanya Emi saat melihat Anna seperti khawatir
"Sejak pagi, Pieter tidak memberi kabar padaku sama sekali." Jawab Anna
Emi terkekeh mendengar ucapan Anna yang ternyata sedang mengkhawatirkan Pieter.
"Kenapa kau tertawa? Ada yang salah dengan ucapanku?" Anna
"Tidak ada yang salah dengan ucapanmu, Anna. Aku hanya merasa lucu saja. Pieter bukan anak balita Anna. Kenapa kau terlihat khawatir seperti itu?"
"Kau benar! Mungkin saja dia sedang sibuk." Anna
"Kau tenang saja Anna. Pieter tidak akan pernah berpaling dengan perempuan manapun. Cintanya sudah benar-benar bermuara padamu." Ujar Emi
"Aku tidak mengkhawatirkan tentang itu. Aku hanya mengkhawatirkan tentang kesehatannya." Jawab Anna mengelak ucapan Emi tadi.
Karena asyik mengobrol. Anna baru sadar kalau Emi melajukan mobilnya ke arah berbeda ke rumah Pieter.
"Kau akan membawaku ke mana Emi? Ini bukan jalan menuju rumah." Ucap Anna
"Antar aku sebentar. Santai sedikit Dokter Anna. Apa kau lupa kalau besok itu weekend."
"Tapi kemana?" Anna
"Sudah. Nanti kau akan tau." Emi
__ADS_1