
Sudah seminggu sejak melakukan operasi.
Kini Pieter sudah kembali ke rumah, Untuk pemulihan Pieter di perbolehkan tinggal di rumah. Dan memeriksa kesehatannya setiap Minggu.
Pagi-pagi sekali Anna sudah membuatkan bubur untuk Pieter.
Walaupun ada maid di rumah, Anna memilih membuatnya sendiri.
"Hari ini aku buatkan krim soup untukmu." Anna memberikan masakannya kepada Pieter
"Ini kali pertama Aku membuatnya, Semoga rasanya tidak terlalu buruk." Ucap Anna lagi
"Dari penampilannya cukup menarik. Aku pikir rasanya pun akan enak." Pieter mulai menyendok soup buatan Anna
Anna melihat raut wajah Pieter untuk memastikan apakah soup buatannya enak.
Suapan pertama sudah mendarat di mulut Pieter, Tapi Pieter tidak bereaksi apapun. wajahnya tidak mengekspresikan makanan itu enak atau tidak.
Hingga suapan ketiga pun masih sama.
Dan ketika Pieter hendak menyuap lagi Anna seketika menghentikan Pieter.
"Tunggu! Kalau makanannya tidak enak jangan di makan lagi." Anna memegangi tangan Pieter yang memegangi sendok
"Kenapa? Biarkan aku memakannya. Ini hasil kerja kerasmu, Tidak mungkin aku menyia-nyiakannya." Kata Pieter
"Tapi sepertinya kau tidak menyukai makanannya." Jawab Anna
__ADS_1
"Aku tidak bilang begitu." Jawab Pieter
"Tapi wajahmu tidak menunjukkan rasa nikmat." ucap Anna lagi.
"Tidak lama lagi, kau akan lihat bagaimana ekspresi wajahku kalau sedang merasakan sesuatu yang nikmat." Jawab Pieter
"Apa maksudmu?" Anna tertunduk malu, Karena ucap Pieter begitu ambigu di telinganya
Dengan senyuman tipis, Pieter kembali melahap makanannya sembari melihat wajah Anna yang sedang tersipu.
"Aku akan menyimpan mangkuknya." Anna mengambil mangkuk kosong dari tangan Pieter.
"Anna" Tapi tiba-tiba Pieter memegangi tangan Anna
Anna menjadi semakin salah tingkah dibuatnya.
"Apakah saat aku sakit kau merasa takut kehilanganku?" Tanya Pieter sembari terus memegangi tangan Anna.
"Kau tau Anna, Pada saat di rumah sakit, Aku seperti sudah siap untuk pergi. Tapi tiba-tiba kau datang dan berteriak memintaku untuk tidak pergi." Sambung Pieter
Anna Masih tertunduk tanpa suara.
"Aku akan menaruh mangkuk ini." Anna beralasan, Agar bisa segera pergi karena malu jika harus mengaku kalau dirinya benar-benar kehilangan Pieter.
Tapi sayang. Tangan Pieter begitu erat memegangi tangannya.
"Dan satu lagi." Lanjut Pieter
Anna pun mendongakan kepala deh kini mereka saling menatap satu sama lain.
__ADS_1
"Saat pagi hari dan di pindah ruangan, Sebenarnya aku sudah sadar. Tapi, Mungkin Karen efek obat bius aku tidak bisa bangun dan menggerakkan tubuhku. Tapi aku mendengar semua yang kau ucap waktu itu, Anna. Aku mendengar saat kau meminta aku untuk tidak pergi." ucap Pieter
Mata Anna seketika terbelalak, Ingin rasanya ia tenggelam ke dasar bumi.
Pieter mendekatkan wajahnya ke telinga Anna dan kembali berbicara.
"Aku juga mendengar, Saat kau berjanji akan memberikan malam pertama yang tidak bisa ku lupakan seumur hidup." Bisik Pieter.
Anna benar-benar sudah di buat malu.
Anna beringsut dan pergi menjauhi Pieter.
"A-Aku akan menaruh mangkuk ini." Ujar Anna yang benar-benar kikuk.
Pieter tersenyum geli melihat bagaimana ekspresi Anna saat itu.
"Dan kita akan melakukannya setiap malam kan!" Teriak Pieter karena Anna sudah berjalan menjauhinya.
Pieter benar-benar tertawa geli saat Anna sudah pergi dari kamar.
Sementara Anna berjalan terburu-buru menuju dapur.
Anna menaruh mangkuk yang ia bawa.
Anna mengetuk-ngetuk dahinya sembari merutuki dirinya.
"Bodoh, Kenapa bisa-bisanya aku berbicara seperti itu. Apalagi aku berkata akan memberikannya setiap malam. Kau benar-benar memalukan, Anna." Anna benar-benar merutuki kebodohannya yang mempermalukan dirinya di depan Pieter.
"Ada apa Nona?" Ucap seorang maid yang melihat Anna bergerutu sendirian di dapur.
__ADS_1
"Ti-Tidak apa-apa. Tolong cucikan mangkuk ini." Ucap Anna lalu pergi ke kamar bayinya.