Istri Rahasia Sang Aktor

Istri Rahasia Sang Aktor
Chapter 72


__ADS_3

Sejak beberapa hari terakhir, hubungan Alex dan Anna semakin membaik.


Anna mulai percaya kalau Alex sudah benar-benar mencintainya, Karena sikap dan ucapannya benar-benar berubah.


Alex tidak lagi merasa gengsi untuk mengungkapkan perasaan cintanya pada Anna.


Alex tidak pernah lagi memarahinya seperti dulu.


Wajah Alex kini kembali memenuhi isi kepala Anna.


Hari ini terasa sangat panjang bagi Anna.


Bagaimana tidak.


Sejak kemarin Anna belum bertemu dengan Alex, Karena Alex tidak pulang ke apartemennya.


Mungkin Alex sedang ada pekerjaan di luar kota. Pikir Anna


Dengan bersemangat Anna pergi ke rumah Pieter.


Tidak terasa satu pekan sudah berakhir.


Dan hari ini, Hari terakhir Anna menggantikan Emi merawat Pieter.


Tapi, Meskipun begitu. Anna akan sering datang menjenguk Pieter.


Bagaimanapun Pieter adalah sosok yang baik.


Dia menyayangi Anna dengan setulus hatinya.


"Besok Emi akan kembali, Tapi tidak apa-apa kan kalau aku datang untuk menjengukmu?" Ucap Anna


"Sejak kapan seorang adik harus meminta ijin untuk menjenguk kakaknya?" Jawab Pieter


"Baiklah." Anna


"Keadaanku sudah mulai membaik. Sepertinya Emi akan mengijinkan aku untuk kembali beraktivitas." Pieter


"Tapi kau tidak boleh terlalu lelah" Anna


"Malam ini Aku ijin pulang cepat." Ucap Anna lagi


"Ada apa? Apa kau ada janji dengan seseorang? Atau jangan-jangan kau akan pergi berkencan?" Ucap Pieter layaknya seorang kakak yang mengolok-olok adiknya.


"A-aku. Tidak! Aku tidak ada janji dengan siapapun." Jawab Anna terbata-bata karena gugup


"Kalau pun benar, Aku senang mendengarnya." Jawab Pieter


"Tapi itu tidak benar." Anna terus mengelak


"Yasudah. Sebaiknya kau cepat pulang, Nanti dia terlalu lama menunggu." Pieter


"Baiklah. Aku pergi sekarang." Jawab Anna


"Mintalah sopir untuk mengantarmu." Suruh Pieter


"Baiklah! Aku pergi sekarang." Pamit Anna

__ADS_1


Anna meninggalkan rumah Pieter dengan hati yang riang


Pieter Cukup lega melihat jiwa Anna sudah kembali hidup.


Walaupun ada rasa perih saat mendapati kenyataan kalau hati Anna sudah di isi kembali oleh orang lain. Dan bukan dirinya


Di tempat lain....


"Pak Aku minta di turunkan di sini saja." Ucap Anna pada sopir yang mengantarkannya


"Kenapa harus turun disini? Kenapa tidak di apartemen saja?" Jawab sang sopir


"Tidak apa-apa, Pak. Aku ingin membeli sesuatu di toko itu. Lagi pula ini sudah tidak jauh dari apartemen." Jawab Anna


"Baiklah Nona." Sang sopir pun menghentikan laju mobilnya


Anna langsung berjalan menuju toko kue yang tadi ia tunjuk.


Anna berniat membeli kue kesukaan dia dan Alex.


Walaupun mereka terpisah dalam waktu yang lama, Tapi Anna masih ingat apapun yang Alex suka.


Satu boks cake tiramisu sudah di tangan Anna.


Anna pun berjalan untuk Langsung pulang ke apartemennya.


Anna tidak sabar untuk menyantap Cake tiramisu bersama Alex.


Sepanjang jalan menuju kamarnya Anna berharap Alex sudah menunggunya di depan pintu, Seperti yang dilakukannya beberapa hari lalu.


Tapi sayang.


Kemana dia? Apa dia masih di luar kota? Batin Anna


Anna pun langsung masuk dan meletakkan kue yang di bawanya di atas meja ruang tamu.


Apa mungkin Alex ada di apartemennya? Anna bertanya-tanya dalam hati


Anna pun mengambil kuenya dan berniat menemui Alex di apartemennya.


Anna kembali menaiki lift untuk turun ke apartemen Alex.


Anna berjalan menuju kamar Alex.


Hingga akhirnya Anna sudah berdiri di depan pintu apartemen Alex.


Beberapa kali Anna menekan bel, Tapi tidak ada jawaban. Tapi, Anna ingat kalau Alex pernah memberi tau kode pintu apartemennya.


Anna pun membuka pintunya dengan kode yang di berikan Alex.


"Alex? Apa kau ada di rumah?" Panggil Anna


Tetap tidak ada jawaban.


Mungkin Alex Belum pulang? Pikir Anna


Ia pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya.

__ADS_1


Tapi Anna mendengar teriakkan, Mungkin tepatnya rintihan dari kamar Alex


Apartemen Alex dua kali lipat lebih luas dari apartemen milik Anna, Jadi Anna sedikit mencari-cari sumber suara itu.


Anna melihat ke satu kamar. Tapi kosong


Hingga akhirnya Anna mendengar suara gemericik air.


Ia pun mendekat ke arah kamar mandi.


Anna tidak pernah menduga, Ia akan menyaksikan secara langsung. Saat Alex sedang bercinta dengan Cassandra di bawah guyuran air shower.


Anna sangat syok. Sehingga kue yang di bawanya pun terjatuh dan menimbulkan suara yang mengejutkan Alex dan Cassandra.


"Anna?" Alex terkejut.


"Kau! Apa yang kau lakukan disini?" Cassandra pun lebih terkejut


Tubuh Anna seketika lemas. Tangannya pun sampai bergetar.


Anna menyeret kakinya dengan seluruh kekuatan.


Ia masih syok.


"Alex, Cassandra. Jadi mereka belum berpisah? Jadi selama ini Alex berbohong?"Dengan tatapan kosong Anna terus berjalan sambil bergumam Seperti orang tidak waras.


Anna benar-benar tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini.


"Alex, Apa ini? Apa lagi ini?" Anak Terus bergumam.


Tangan Anna masih gemetar saat ia hendak menekan tombol kunci apartemennya.


Anna langsung kembali mengunci pintu dan langsung masuk ke kamarnya.


Anna terduduk lemas di sofa kamarnya.


Anna benar-benar masih syok.


"Bodoh! Bodoh! Bodoh." Teriak Anna sambil menampar wajahnya sendiri.


"Kau bodoh Anna! Kenapa bisa kau terperangkap lagi?" Anna terus menampar pipinya sambil terus berteriak.


"Alexandre Abraham!!!! Aku benci padamu! Aku sangat membencimu!" Anna mengamuk sambil berteriak-teriak.


Anna melempar vas bunga yang ada di atas meja, Sampai hancur.


Anna menjambaki dirinya, Entah kenapa ia menjadi sangat jijik pada dirinya sendiri.


Dengan wajah yang sudah di penuhi air mata Anna berjalan gontai mendekati cermin.


Anna menatap pantulan dirinya yang sangat berantakan.


"Dasar perempuan murahan! perempuan bodoh!" Teriak Anna Sambil memukuli pantulan dirinya di dalam cermin. Hingga tangannya terluka karena pecahan dari cermin.


"Kau begitu menjijikan, Alexander Abraham!!!." Anna menghamburkan semua benda-benda yang tersusun rapi di meja riasnya.


"Kau menjijikan." Anna kembali terkulai lemas

__ADS_1


Anna tidak menghiraukan darah yang mengucur di punggung tangannya.


Rasa sakit di batinnya benar-benar membuat Anna tidak merasakan sakit pada tubuhnya yang terluka.


__ADS_2