Istri Rahasia Sang Aktor

Istri Rahasia Sang Aktor
Chapter 57


__ADS_3

Pieter terus memperhatikan Anna dari jauh.


Ia mulai resah saat melihat Anna di tarik paksa keluar oleh dua petugas.


"Lepaskan dia!" Suruh Pieter pada dua petugas itu


Dua petugas itupun langsung melepaskan Anna sehingga Anna jatuh tersungkur.


Karena tidak terima melihat Anna di perlakukan seperti itu, Pieter langsung membantu Anna untuk berdiri dan langsung menghantam wajah kedua petugas itu dengan kepalan tangannya.


"Apa kalian tidak pernah di ajarkan cara menghormati wanita!" Ujar Pieter sembari terus memukuli kedua petugas tersebut


Keributan pun tidak dapat di cegah.


Acara pertunangan terhenti karena keributan itu.


Karena Pieter terus memberikan pukulan pada dua petugas yang membuat Anna tersungkur.


Petugas lainpun ikut memukuli Pieter, Sehingga Pieter pun mendapatkan pukulan hingga menyebabkan lebam di wajahnya.


Anna meminta Pieter untuk berhenti memukul, Tapi Pieter tidak mengindahkan ucapan Anna.


Alex dan Cassandra pun menghampiri pusat keributan.


"Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian membuat keributan di pesta-ku?." Ujar Cassandra tidak suka


Sementara Alex tidak bereaksi apapun.


Anna menatap Alex.


Pandangan mereka pun sempat bertemu, Tapi Alex segera mengalihkan pandangannya seolah enggan melihat wajah Anna.


Anna benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi.


"Pergilah! Jangan membuat kekacauan di sini." Alex pun membuka suara sembari melihat ke arah Anna.


Hati Anna benar-benar remuk mendengar apa yang Alex Ucapkan tadi.


Air mata Anna seketika luruh dan mengalir dari matanya.


Bagaimana Alex benar-benar melupakannya secepat ini.


Dengan perasaan pedih Anna berjalan gontai menjauhi Alex.


Anna berjalan keluar dari gedung meninggalkan keramaian tersebut.


Pieter segera meninggalkan pesta dan menghampiri Anna.


Pieter segera memegang tangan Anna.


"Ikutlah lagi denganku. Keadaanmu sedang tidak baik-baik saja." Ujar Pieter


Anna tidak bereaksi dan hanya menurut.


Pieter pun membawa kembali Anna ke rumahnya.


Sepanjang perjalanan Anna benar-benar diam dengan Air mata yang terus mengalir. Pieter pun tidak berani mengatakan apapun karena Ia tau kalau Anna benar-benar syok dengan apa yang baru saja terjadi.


"Turunlah!" Ucap Pieter saat mereka sudah sampai di rumah Pieter lagi.


Dengan tatapan kosong Anna mengikuti perintah Pieter untuk kembali masuk di rumahnya.


Pieter pun kembali membawa Anna ke kamar dimana sebelumnya Anna tinggal.


"Minumlah. Dan lupakan apa yang terjadi." Ucap Pieter sembari menyodorkan segelas air.


Bukannya menerima Air yang Pieter berikan, Anna malah memeluk Pieter dan menangis histeris dalam dekapannya.


__ADS_1


Pieter pun balas mendekap Anna tanpa berkata apapun. Pieter membiarkan Anna menangis sejadi-jadinya agar sesak di dadanya mereda.


Pieter mengusap-usap kepala Anna untuk sedikit menenangkan.


Setelah beberapa saat, Tangis Anna pun mereda.


Anna melepaskan pelukannya pada Pieter.


"Sekarang apa yang kau inginkan?" Tanya Pieter


"Aku tidak tau!" Jawab Anna lirih


"Kalau begitu, Kau tenangkan dirimu disini. Jangan terlalu stress karena itu akan mempengaruhi bayimu." Ucap Pieter.


"Jangan terlalu bersedih untuk laki-laki seperti dia. Bahkan kau mati pun dia tidak akan perduli." Sambung Pieter


"Apa kau sangat membencinya?" Tanya Anna


Pieter bungkam sesaat.


"Sudahlah, Sebaiknya kau istirahat. Mulai saat ini aku tidak akan mengunci kamarmu." Pieter mengalihkan pembicaraan


"Baiklah." Jawab Anna


"Kalau kau mau. Kau bisa turun dan makan di bawah. Tapi kalau kau ingin di sini juga tidak apa-apa. Buatlah dirimu nyaman disini" Ucap Pieter Sebelum meninggalkan kamar Anna.


Pieter keluar dari kamar Anna dan pergi ke kamarnya.


Pieter membasuh wajahnya dan Luka di pipinya mulai terasa sakit.


Ia benar-benar marah pada Alex.


Bagaimana pria seperti Alex terus mendapatkan cinta yang tulus dari perempuan.


Dulu adik Dari Pieter sangat tergila-gila pada Alex.


Sehingga ia rela menyerahkan segalanya untuk Alex.


Ya, Bagi Alex wanita hanyalah sebuah kesenangan. Tidak lebih.


Pieter pun masih terbawa emosi kalau ingat kejadian di beberapa tahun yang lalu.


Kejadian dimana adiknya melenyapkan diri karena Alex.


Pieter mengepalkan tangannya saat menahan amarahnya.


Pieter pun keluar dari kamar, dan pergi ke kamar Anna.


Ia ingin memastikan apakah Anna sudah tidur?


Pieter membuka pintu kamar Anna perlahan.


Dan di lihatnya Anna sudah terlelap dengan wajah yang sembab.


Pieter mengusap pipi Anna dan menyelimuti tubuh Anna.


''Maafkan aku Anna. karena Aku membawamu ke tempat ini. Aku hanya tidak ingin kau mengalami hal yang sama dengan adikku." Gumam Pieter


Setelah memastikan Anna sudah terlelap, Alex menutup gorden dan mematikan lampu lalu keluar dari kamar Anna.


Pagi hari.....


Pieter menggeliatkan tubuhnya saat sudah bangun dari tidurnya.


Pieter diam sesaat lalu pergi ke kamar mandi dan bersiap-siap untuk segera pergi.


Setelah merapikan rambut dan menyemprotkan parfum favoritnya Pieter bergegas turun dari kamarnya.


Tapi Langkah Pieter tertahan saat ia berada di lantai bawah.

__ADS_1


Ya, Pieter mencium bau masakan.


Biasanya tidak pernah ada yang memasak sepagi ini.


Pieter pun pergi ke dapur karena penasaran.


Ia pun terkejut ketika melihat Anna berada di sana.


"Apa yang kau lakukan? Seharusnya kau minta saja pada pelayan kalau ingin makan sesuatu." Kata Pieter


Anna menoleh.


"Aku sedang ingin memakan makanan yang ku buat sendiri." Jawab Anna Dengan raut wajah yang datar.


Pieter senang. Walaupun wajah Anna masih diliputi kesedihan setidaknya ia tidak lagi menyiksa diri dengan terus melamun dan tidak mau memakan apapun.


"Baiklah! Aku senang kau mulai menikmati semuanya." Ujar Pieter lagi


Anna pun memasukkan hasil dari masakannya pada sebuah piring.


"Aku memasak cukup banyak. Kau bisa memakannya jika kau mau." Ucap Anna tanpa menoleh.


"Tentu saja aku mau." Jawab Pieter antusias


Anna pun mengambil satu lagi piring untuk Pieter.


Pieter memegang lengan Anna saat Anna hendak membawa makanan mereka


"Biar aku saja yang bawa!." ucap Pieter


Pieter pun mengambil dua piring makanan dari tangan Anna dan membawanya ke meja makan.


"Buatkan dua jus buah." Pieter meminta kepada pelayan.


"Ini sangat enak! Aku tidak tau kau pandai memasak." Kata Pieter Setelah menyuap makanannya


Anna diam tidak menjawab.


Anna memilih menenggak jus yang baru saja di buatkan pelayan.


"Aku akan meminta pelayanan untuk berbelanja agar kau bisa memasak apapun yang kau mau." Ucap Pieter lagi sembari terus melahap makanannya.


Dari sekian banyak kata yang Pieter ucapkan tapi tetap tidak ada tanggapan dari Anna.


Anna terus menyuapkan makanannya dengan diam seribu kata.


Pieter sudah mencoba mencairkan suasana. Tapi Anna terus memilih bungkam.


"Baiklah! Aku harus pergi. Jaga dirimu baik-baik, Kalau kau ingin sesuatu minta saja pada pelayan." Kata Pieter setelah menghabiskan makanannya.


"Baiklah." Jawab Anna pelan.


Pieter pun meninggalkan Anna yang belum menghabiskan makanannya.


Anna langsung menaruh sendok dan garpu di atas makanannya.


Anna pun menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


Tangis pun tidak lagi bisa ditahan.


Anna menangis sesenggukan mengingat kejadian kemarin.


Para pelayan hanya bisa menatap. Mereka tidak berani mendekat apalagi menenangkan.


Setelah tangisannya reda Anna pun tidak melanjutkan makannya Dan hendak membereskan piring.


Tapi pelayan melarangnya.


"Nona, Biarkan kami saja yang melakukannya" Cegah sang pelayan.

__ADS_1


"Baiklah! Terimakasih." Ucap Anna dan berlalu.


__ADS_2