Istri Rahasia Sang Aktor

Istri Rahasia Sang Aktor
Chapter 81


__ADS_3

"Nona, Anna." Panggil seseorang


Anna mendongakan kepala untuk melihat siapa yang memanggilnya.


Terlihat seseorang yang memakai pakaian sangat rapi dan sebuah koper kecil di tangannya.


"Saya adalah kuasa hukum tuan Pieter. Bolehkah kita berbicara sebentar." Pria tersebut langsung menjulurkan tangannya kepada Anna.


"Baiklah." Anna pun membiarkan pria tersebut untuk duduk di sebelahnya


Pria tersebut langsung membuka koper yang di bawanya.


Satu Minggu yang lalu, Tuan Pieter membuat surat kuasa ini. Dan berpesan agar langsung memberikannya pada Anda jika terjadi sesuatu padanya" Pria itu menyerahkan beberapa lembar kertas pada Anna.


"Tuan Pieter menyerahkan seluruh harta miliknya kepada anda sebagai istrinya. Termasuk perusahaan ice krim dan beberapa toko roti miliknya." Sambung kuasa hukum itu


Anna hanya diam sembari memperhatikan lembar demi lembar kertas tersebut.


"Anda bisa membacanya dan menandatanganinya, Lalu menyerahkannya lagi Kepada saya untuk segera di urus."


"Dan satu lagi. Tuan Pieter juga menitipkan surat ini untuk anda." lanjut sang kuasa hukum


Anna pun menerima amplop berwarna putih tersebut.


"Kalau begitu, Saya pamit. Semoga keadaan tuan Pieter segera membaik." Pamit pria tersebut.


Anna belum berminat untuk membaca kertas dan surat yang ada di tangannya.


Ia lebih fokus pada keadaan Pieter.


Setelah beberapa jam operasi pun selesai di lakukan.


Emily dan dokter lainnya keluar dari ruangan operasi.


"Bagaimana, Emi?" Anna langsung menghampiri Emi


"Operasi berjalan lancar, Tapi Pieter masih belum sadarkan diri, Semoga saja dia bisa segera sadar." Jawab Emi yang ikut duduk di samping Anna


"Besok dia akan di pindahkan ke ruangan lain. Jadi kau bisa menunggunya secara intens." Sambung Emi


Anna hanya diam, mendengar ucapan Emi.


"Apa kau sudah makan? Sejak pagi kau sudah di sini." Kata Emi


Anna hanya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Kalau begitu, Kita pergi makan sebentar. Setelah itu kembali lagi kemari." Emi


"Tidak, Emi. Aku tidak lapar." Tolak Anna


"Kau harus menjaga kesehatanmu, Anna." Emi terus memaksa Anna


Setelah di paksa, Anna pun mengiyakan ajakan Emi.


Sembari membawa berkas yang di berikan kuasa hukum Pieter, Anna pergi ke restoran cepat saji yang ada di dekat rumah sakit.


"Makanlah, Anna." Suruh Emi saat Anna tidak menyentuh makanannya


Anna pun mengunyah makanannya perlahan-lahan.


"Kau membawa surat apa?" Tanya Emi saat melihat Anna terus memegangi sebuah amplop besar.


"Tadi, Kuasa hukum Pieter memberikan ini padaku." Jawab Anna


Emi hanya mengangguk. Ia tidak ingin bertanya terlalu banyak tentang urusan yang terlalu privasi.


Selesai makan Emi dan Anna pun segera kembali ke rumah sakit.


"Aku akan menemanimu sampai Pieter berganti ruangan." Ucap Emi.


Pagi hari, Pieter di pindahkan ke ruang ekslusif. Dimana ruangan tersebut cukup aman untuk Anna yang akan terus menemani Pieter.


"Maaf, Anna. Aku tidak bisa menemanimu. Aku harus pulang." Pamit Emi.


"Tidak apa-apa." Jawab Anna


"Kau juga harus beristirahat, Anna. Jangan sampai kau ikut sakit." Kata Emi lalu pergi


Anna duduk bersandar di sofa yang ada di ruangan Pieter.


Tapi dia ingat dengan berkas yang di berikan oleh kuasa hukum Pieter.


Anna segera mengambil berkas tersebut lalu membacanya satu persatu.


Anna melihat berkas pertama, Yang isinya sebuah surat kuasa bahwa Pieter menyerahkan seluruh hartanya kepada Anna.


Anna pun membaca berkas lainnya yang berisi beberapa dokumen kepemilikan beberapa perusahaan yang dimiliki oleh Pieter.


Setelah selesai membacanya Anna kembali memasukkan berkas tersebut kedalam amplop besar.


Kini tinggal sebuah surat yang di bungkus amplop berwarna putih.

__ADS_1


Anna membuka lembaran kertas tersebut dan membacanya.


*Hai, Anna.


Aku tau, hari ini pasti akan terjadi. Hari dimana aku dalam keadaan tidak baik-baik saja, Bahkan mungkin aku sudah tiada saat kau membaca surat ini*.


Mata Anna mulai berkaca-kaca saat baru beberapa baris ia membaca surat dari Pieter.


*Sebelumnya, Maafkan aku untuk acara pernikahan yang aku rencanakan secara sepihak. Aku terpaksa mempercepat pernikahan kita, karena kau akan kuat sebagai ahli waris jika kau sudah menjadi istriku.


Terimalah semuanya Anna. Mungkin dengan memberikan ini aku bisa pergi dengan tenang. Karena aku bisa memastikan kau tidak akan kekurangan apapun.


Dan aku titipkan bayi kecil yang di titipkan sahabatku.


Rawatlah dia, Anna.


Walaupun nanti ginjal milik orang tuanya tidak menyelamatkanku. Tapi kau harus tetap mengurus dan menyayanginya.


Kau tau Anna, Aku selalu berharap bisa hidup lebih panjang. Agar aku bisa menatapmu di setiap malam sebelum aku tertidur, dan setiap pagi saat aku terbangun.


Mungkin itu harapan yang berlebihan untuk seorang kakak untuk adiknya.


Tapi percayalah. Di balik peranku sebagai kakakmu aku menyimpan perasaan seorang pria pada wanita.


Perasaan ingin memiliki.


Bahkan aku menginginkan keinginan kecil.


Yaitu menikmati malam sebagai suamimu.


Aku ingin sekali saja menyentuhmu.


Tapi kau tenang saja. Mungkin Aku sudah tiada saat sebelum aku berhasil menyentuhmu.


Cintaku tidak akan pernah memaksamu Anna.


Jaga dirimu baik-baik.


Ijinkan aku untuk mengungkapkan perasaanku yang selama bertahun-tahun aku pendam padamu.


Ijinkan aku untuk mengucapkan kalau aku mencintaimu.


Aku sangat mencintaimu, Anna.


Pieter*

__ADS_1


__ADS_2