
Anna dan Pieter memasuki sebuah ruangan saat di rumah sakit.
Seorang bayi perempuan sedang terpejam tidak sadarkan diri dengan beberapa alat terpasang di tubuhnya.
Anna mengusap dahi anak perempuan tersebut dengan penuh rasa iba.
"Kau sangat cantik, Gadis kecil." Ucap Anna
Sementara Anna fokus pada gadis kecil itu, Pieter sibuk bertanya tentang perkembangan kesehatan anak itu pada dokter.
"Anda bisa lihat tuan. keadaannya masih sama seperti kemarin." Ucap dokter sembari menatap iba kepada gadis balita itu.
"Lakukanlah penanganan terbaik untuknya, dan Berapapun biayanya." Pieter
"Baik, Tuan. Saya pasti melakukan yang terbaik." Ucap dokter lalu pamit pergi
Pieter pun menghampiri Anna yang duduk di tepi ranjang balita tersebut.
"Kasihan sekali anak ini." Ucap Anna sembari menatap lekat wajah mungilnya
"Aku sudah meminta pada dokter agar memberikan penanganan terbaik. Kita harus segera pergi, bukankah kau harus masuk bekerja?" Jawab Pieter sembari mengusap lengan Anna
"Apakah kita akan meninggalkannya sendirian? Rasanya aku tidak sampai hati meninggalkannya." Kata Anna
"Kamu tenang saja. Aku sudah mengutus anak buahku untuk menjaganya, jadi kalau terjadi sesuatu mereka akan langsung menghubungiku." Pieter
Dengan berat hati Anna dan Pieter meninggalkan rumah sakit tempat anak tersebut di rawat.
Anna dan Pieter kini melaju menuju rumah sakit tempat Anna bekerja.
"Kenapa kau terlihat murung begitu?" Tanya Pieter saat dalam perjalanan
"Aku hanya teringat bayi kecil itu. Sungguh malang nasibnya." Jawab Anna
"Apakah kau akan tetap mengurusnya kalau ginjal yang di donorkan orang tuanya tidak cocok denganmu?" Sambung Anna bertanya
"Tentu saja. Dan kau yang akan merawatnya jika nanti aku mati." Jawab Pieter dengan santainya
"Kenapa kau berbicara seperti itu?" Anna sedikit merajuk
"Aku hanya sedang berbicara tentang kemungkinan. Karena kita tidak tau apa yang akan terjadi nanti." Pieter
__ADS_1
"Kalau aku mati, Tinggallah di rumahku bersama anak itu. Aku menjamin kau tidak akan kekurangan apapun." Sambung Pieter
"Sudahlah. Aku tidak suka kau berbicara seperti itu lagi." Anna semakin merajuk dan membuang pandangannya ke arah jendela.
"Jangan marah seperti itu. Aku hanya bercanda." Pieter sedikit tersenyum
Anna masih diam. Dia benar-benar tidak suka dengan perkataan Pieter tadi.
"Kita sudah sampai. Apa kau akan terus marah padaku?" Ujar Pieter saat ia sudah memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit
"Aku tidak mau kau berbicara seperti tadi lagi. Aku ingin kau tetap hidup." Ujar Anna lirih
"Baiklah Anna, Aku akan memaksa tuhan untuk menambahkan sisa usiaku jika kau bersedia menemaniku sepanjang hidup."
"Sudah. Jangan bersedih seperti itu" Pieter pun mendekap Anna
"Ayo kita turun. Nanti ada yang mengira kita sedang berbuat tidak-tidak disini." Pieter kembali menggoda Anna.
Anna pun sedikit tertawa dengan gurauan Pieter
"Apa kau akan ikut turun?" Anna
"Ya. Aku sudah ada janji dengan dokter Emily." Pieter
Sebelum pergi ke ruangannya, Anna mengikuti Pieter ke ruangan dokter Emi.
Pieter langsung di persilahkan masuk setelah mengetuk pintu
"Selamat pagi, Tuan Pieter." Siapa Emi
"Selamat pagi juga dokter Emily." Jawab Pieter
"Anna? Ada apa?" Emi terkejut Anna tiba-tiba masuk ke ruangannya saat sedang ada pasien.
"Tidak apa-apa Dokter Emi. Biarkan calon istriku masuk, Dia juga ingin tau tentang kondisiku bukan!" Ucap Pieter pada Emily
Jangan tanya bagaimana reaksi Emi.
Emily bahkan sangat terkejut, Ia membungkam mulutnya sendiri dengan telapak tangan.
Ia benar-benar tidak percaya sahabatnya akan menikah dengan pasiennya.
__ADS_1
"Kalian? Secepat ini?" Bahkan Emi tidak tau harus berbicara apa
"Tidak dokter Emi, Kami sudah saling mengenal jauh sebelum hari ini." Jelas Pieter
Emi semakin terkejut dengan pernyataan Pieter.
"Apa? Jadi kalian?" Emily benar-benar tidak bisa berkata-kata.
"Iya. Dokter Emily yang baik hati." Anna pun meng-iyakan pernyataan Pieter
"Ah,, Akhirnya.." Emi langsung memeluk Anna karena ikut bahagia
"Ekhem,,.. Baiklah, Dokter Emi. Kapan konsultasinya bisa di mulai." Ujar Pieter karena merasa di abaikan oleh dua wanita itu
"Baiklah Tuan. Maafkan saya yang sedikit terbawa suasana." Jawab Emi sembari tertawa.
Emi duduk di kursinya, Sementara Anna duduk di samping Pieter untuk mendengarkan penjelasan Emi tentang tranplantasi ginjal yang akan di lakukan Pieter.
Anna dan Pieter terlihat berbinar-binar saat dokter Emily mengatakan kalau ginjal yang didonorkan cocok dengan Pieter.
Pieter menggenggam tangan Anna sangat erat, Ia seperti mendapatkan harapan kembali.
"Kita harus banyak berdoa, Semoga operasi transplantasi-nya berjalan dengan lancar. Sehingga tidak terjadi sesuatu yang tidak di inginkan." Jelas dokter Emily lagi.
"Kau dengar Anna. Doamu untuk aku tetap hidup sudah di dengar Tuhan." Ucap Pieter pada Anna
Anna mengangguk dengan mata berbinar-binar.
Pieter pun langsung mendekap Anna.
Dua anak manusia itu terlalu larut dalam suka cita sehingga mereka melupakan ada seorang dokter di sana.
"Ekhem,,, Maaf tuan dan nyonya. Apa kalian tidak bisa sedikit menjaga perasaan wanita malang ini?" Ujar Emily
Anna pun langsung melepaskan dekapan Pieter.
Mereka terlihat malu-malu pada Emi.
"Maaf dokter Emily." Jawab Pieter
Mereka pun kembali tertawa kecil.
__ADS_1
Suasana persahabatan begitu terasa hangat di sana.