Istri Rahasia Sang Aktor

Istri Rahasia Sang Aktor
Chapter 82


__ADS_3

Anna meremas surat dari Pieter.


Anna menangis tanpa suara.


Ia merasa sangat menyesal, Ia terlalu di buatkan oleh rasa cintanya kepada Alex. Sehingga ia tidak bisa melihat dan merasakan cinta Pieter yang luar biasa.


Dengan sisa tangisan, Anna berjalan mendekati ranjang Pieter.


Anna duduk di sisi Pieter dan menggenggam tangan Pieter.


"Pieter, Maafkan aku. Maafkan aku karena terlalu bodoh." Ujar Anna, yang menangis sesenggukan.


"Bagaimana bisa, Aku mengabaikan cinta yang begitu tulus." Sambung Anna


Anna menyeka air matanya, Lalu menaruh tangan Pieter di atas kepalanya.


"Pieter, Aku yakin kau bukan seorang pengecut yang akan mengingkari janjinya. Berjanjilah untuk kembali, Berjanjilah untuk terus menjagaku. Bukankah kau sudah berjanji akan terus melindungi aku?" Anna kembali menundukkan kepalanya dan tersedu-sedu Karena Pieter tidak bereaksi sama sekali.


Anna kembali mengusap air matanya dan meyakinkan Pieter.


"Baiklah. Jika kau tidak ingin berjanji padaku, Biarkan aku yang berjanji padamu. Aku berjanji! Jika kau kembali, Aku akan memberikan malam pertama yang tidak akan pernah kau lupakan seumur hidupmu. Bahkan kita akan melakukannya di setiap malam di sepanjang hidup kita. Aku berjanji Pieter, Percayalah padaku!" Anna mengguncang tangan Pieter agar segera bereaksi.


Ternyata tidak seperti yang terjadi di film.


Pieter tetap tidak bereaksi apapun.


Anna pun menyerah, Ia kembali berjalan gontai menuju sofa yang ia duduki sebelumnya.


Anna menghempaskan tubuhnya di sofa tersebut.


Tapi tiba-tiba, Ketiga anak buah Pieter kembali datang sembari membawa bayi yang di titipkan.


"Nona, Sejak semalam Bayi ini terus saja menangis. Kami sudah berusaha mendiamkannya dengan memberikan susu dan mainan. Tapi bayi ini terus menangis." Ujar salah satu anak buah Pieter


Anna mengusap wajahnya yang sembab.


Ia pun segera memangku Bayi perempuan itu.


"Biarkan dia bersamaku" Ucap Anna sembari memangku sang bayi


"Tolong hubungi Kuasa hukum Pieter Dan minta dia untuk datang kesini." Suruh Anna


"Baik, Nona." Jawab anak buah Pieter


"Kalian jaga Pieter sebentar. Aku akan keluar sebentar." Ucap Anna lalu keluar dari ruangan Pieter sembari menggendong bayi yang di titipkan Pieter padanya.


Secara kebetulan Anna berpapasan dengan kuasa hukum Pieter saat hendak keluar.


"Nona, Apakah anda yang meminta saya untuk datang?" Ujar sang kuasa hukum.


"Ya." Jawab Anna


"Apakah Anda hendak memberikan berkas yang saya berikan semalam? Apakah anda sudah menandatangani-nya" Tanya kuasa hukum


"Tidak. Aku tidak memintamu datang untuk itu" Jawab Anna lagi.

__ADS_1


"Lalu, Untuk apa nona?"


"Antar saya ke perusahaan ice krim milik Pieter." Ujar Anna.


"Baiklah Nona. Dengan senang hati."Jawab sang kuasa hukum.


Mereka pun segera pergi ke perusahaan ice krim tersebut.


"Sejak kapan Pieter mendirikan perusahaan ice krim ini?" Anna bertanya saat dalam perjalanan.


"Sekitar lima tahun lalu." Jawab sang kuasa hukum


Anna berpikir sesaat.


Lima tahun Lalu adalah dimana Anna sedang mengalami depresi berat karena kehilangan bayinya. Saat itu Anna selalu menolak saat di suguhi makanan. Tapi Anna akan memakan jika Pieter memberikan ice krim padanya.


"Kenapa Nona? kenapa anda jadi melamun seperti itu?" Ucap sang kuasa hukum.


"Ti- Tidak apa-apa." Jawab Anna


"Tidak jauh dari perusahaan ice krim Pieter juga memiliki beberapa toko kue."


"Benarkah?" Anna


"Ya. Saya akan mengantarkan anda kesana"


Setelah satu jam lebih menempuh perjalanan Mereka pun sampai di perusahaan ice krim milik Pieter.


QUINZA ICE-CREAM


Anna tidak masuk ke bagian produksi, Sang kuasa hukum hanya membawa Anna ke bagian marketing.


Sembari menggendong bayi Anna berjalan mengelilingi toko yang cukup besar.


Sang kuasa hukum mengambil beberapa ice krim dan memberikannya kepada Anna.


Anna pun mencoba satu cup ice krim rasa favoritnya, Yaitu coklat.


Tapi, Betapa terkejutnya Anna. Ketika mencoba rasa dari ice krim tersebut.


Selama bertahun-tahun tinggal di rumah Pieter ice krim ini selalu tersedia di rumah Pieter. Walaupun saat di rumah Pieter ice krim ini tidak memiliki label QUINZA ICE-CREAM


Dan ice krim ini tidak pernah habis, Walaupun Anna memakannya setiap hari.


Pieter selalu mengisinya sebelum ice krim itu habis.


"Sebaiknya kita pergi sekarang." Ajak Anna


"Baik, Nona." Jawab pria tersebut


"Apa anda tidak ingin mampir ke toko kue Nona? Tuan Pieter begitu bangga saat ia mendirikan toko ini. Katanya toko ini berdiri karena seseorang yang Pieter cintai begitu menyukai kue-kue itu." Jelas sang kuasa hukum.


Tidak butuh waktu lama, mereka pun sampai di toko kue yg di maksud kuasa hukum Pieter.


Anna cukup terkejut, Ia pikir hanya toko kue kecil yg sederhana.

__ADS_1


Ternyata toko kue ini begitu luas dengan desain mewah.


Bukan cuma itu. Ia pun dibuat tidak bisa berkata-kata ternyata toko kue tersebut bernama AnnaCake.


Anna tidak menyangka kalau Pieter melakukan hal sebesar ini untuknya.


Anna melihat-lihat kue dalam etalase. Benar saja, Kue ini pun selalu ada di rumah Pieter.


Hati Anna begitu tersentuh, Dan penyesalan pun menyelimuti hatinya.


"Kita kembali ke rumah sakit, Sekarang." Ajak Anna


Mereka pun kembali ke rumah sakit.


Anna duduk terdiam sembari memangku bayinya.


Ya. mulai saat ini, Bayi yang di titipkan Pieter akan ia anggap sebagai bayinya.


Anna duduk termenung memikirkan kebodohannya karena tidak memahami cinta Pieter untuknya.


Yang lebih membuat dada Anna semakin sesak adalah Ketika ia merasa begitu terlambat memahami cinta Pieter.


Sepanjang perjalanan Anna hanya diam termenung sembari memeluk bayinya.


Hingga mereka pun sudah kembali sampai di rumah sakit.


Anna segera kembali ke ruangan Pieter, Karena ia sudah hampir setengah hari meninggalkan Pieter di rumah sakit.


Lagi-lagi Anna di buat terkejut saat kembali ke ruangan Pieter.


Anna diam sesaat sembari menutup mulutnya dengan telapak tangan.


Anna berjalan mendekati Pieter yang kini sedang menatapnya dengan tatapan penuh cinta.


"Kau sudah bangun?" Anna langsung memeluk Pieter yang masih berbaring.


Air mata Anna kembali bercucuran saat memeluk Pieter.


"Kau tau, Aku takut. Aku pikir kau akan meninggalkanku sendirian." Ucap Anna sambil menangis tersedu-sedu sembari menggendong bayinya.


Pieter hanya tersenyum tipis sembari tangannya mengusap pelan rambut Anna.


"Sudah, Jangan menangis. Apa kau tidak senang melihatku sembuh?" Goda Pieter.


"Bodoh! Tentu saja aku senang." Jawab Anna sembari menepuk tangan Pieter.


"Pieter, Lihatlah. Bayi ini sudah sembuh. Untuk itu kau harus segera pulih, Agar kita bisa merawatnya bersama-sama.


Anna menaruh bayi tersebut di sisi Pieter


"Tentu saja, Anna. Kita akan merawatnya bersama-sama." Jawab Pieter


"Ngomong-ngomong kau dari mana? Kau tidak ada saat aku bangun?" Tanya Pieter


"Aku dari luar. Tadi aku benar-benar sedih melihat keadaanmu." Jawab Anna sedikit malu-malu.

__ADS_1


__ADS_2