Istri Rahasia Sang Aktor

Istri Rahasia Sang Aktor
Chapter 74


__ADS_3

"Beristirahatlah. Dan minta cuti untuk beberapa hari." Suruh Pieter


Anna hanya mengangguk, Lalu berbaring.


Pieter pun menutup tubuh Anna dengan selimut.


"Tidurlah. Kalau kau butuh sesuatu aku ada di kamarku" Ucap Pieter sebelum pergi.


Setelah mematikan lampu kamar Anna, Pieter kembali ke kamarnya.


Ia merasa sangat geram pada Alex.


Pieter berpikir, Ia benar-benar harus mempercepat pernikahannya. Agar Alex tidak terus menerus menyakiti Anna.


Anna seorang gadis yang baik, hanya saja ia di buat bodoh oleh rasa cintanya pada Alex.


Pieter memejamkan matanya. Ia meminta Tuhan untuk membantunya.


Ia berharap, Ginjal yang akan didonorkan sahabatnya cocok dengannya.


Sehingga ia dapat melanjutkan hidup.


🍂🍂🍂


Di sebuah klub malam, Alex sudah dalam keadaan mabuk berat.


Entahlah sudah gelas ke berapa yang ia teguk.


Pikiran Alex sangat kalut.


Ia kehilangan Anna dan Cassandra secara bersamaan.


"Ambilkan aku satu botol lagi." Kata Alex Kepada waiters dengan keadaan mabuk berat


_________


Sementara Anna, Matanya masih enggan untuk terpejam.


Ia benar-benar tidak habis pikir pada dirinya sendiri.


Bagaimana ia bisa berpikir kalau Alex sudah berubah. Dan benar-benar mencintainya.


Anna kembali menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya.


Ia bangkit dari tempat tidur.


Anna menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan-nya

__ADS_1


Perempuan malang itu berpikir untuk pergi dari rumah Pieter. Ia tidak ingin lagi memiliki hutang Budi pada Pieter.


Pieter sudah terlalu banyak menolongnya.


Anna keluar dari kamar dan berjalan pelan-pelan, Agar tidak ada yang mendengar langkah kakinya.


Anna menuruni anak tangga perlahan-lahan hingga di dekat pintu.


Tapi Anna kesulitan saat hendak membuka pintu.


"Apa kau membutuhkan ini?" Tiba-tiba terdengar suara Pieter


Pieter berdiri sambil menunjukkan kunci pintu pada Anna.


"Aku...," Ucap Anna ragu-ragu


"Ini sudah malam. Kau akan pergi kemana?" Tanya Pieter


"Entahlah. Tapi Aku harus pergi, Aku sudah terlalu banyak merepotkanmu." Jawab Anna


"Tidak Anna. Ini sudah terlalu larut, bahaya kalau kau berada di luar." Jawab Pieter sambil duduk di sofa.


Anna hanya diam sambil tertunduk. Ia seperti anak kecil yang sedang di marahi ayahnya.


"Kemarilah!" Suruh Pieter sembari menepuk sofa di sampingnya


"Anna! Lihatlah Aku." Pieter mengangkat wajah Anna untuk menatap wajahnya.


"Apa tidak ada tempat sedikit saja di hatimu untukku?" Kata Pieter lagi


"Bukan begitu. Hanya saja aku terlalu menjijikan untukmu. Kau berhak mendapatkan pasangan yang layak untuk di jadikan teman hidupmu" Jawab Anna Sambil tertunduk


"Kau harus tau Anna. Hanya aku yang tau mana yang layak atau tidak untuk di jadikan teman hidupku." Pieter


"Dan aku pikir kau yang layak untuk itu." Sambung Pieter


"Apa yang kau harapkan dari perempuan murahan sepertiku, Alex sudah mengoyak seluruh harga diriku." Bulir bening kembali terjun dari pelupuk mata Anna


"Anna dengarkan Aku. Berjanjilah untuk melupakan semua yang terjadi. Jadilah manusia yang baru bersamaku."Kata Pieter dengan sangat lembut.


Anna menatap Pieter.


Ia berpikir, Apakah Pieter benar-benar seorang manusia. Bagaimana bisa seorang manusia memiliki hati yang begitu lembut.


"Ada apa Anna? Apa kau bersedia untuk menjadi pendampingku?" Ucap Pieter


"Apa kau ingin menikahiku karena merasa sangat iba kepadaku? " Anna

__ADS_1


"Entahlah! Tapi hatiku menginginkan kau untuk menjadi teman hidup sampai akhir hayatku nanti" Jawab Pieter sembari menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.


Anna pun ikut diam. Ia tidak tau harus menjawab apa.


"Bagaimana?" Pieter kembali meminta jawaban


Anna kembali menoleh, Ia melihat wajah Pieter yang masih sedikit pucat.


"Baiklah." Jawab Anna pelan.


"Benarkah?" Pieter masih tidak percaya


"Ya." Anna kembali menjawab


"Terimakasih Anna." Kata Pieter sembari Memeluk Anna.


Anna pun mengangguk sembari membalas pelukan Pieter.


"Wajahmu terlihat pucat. Beristirahatlah, Aku berjanji tidak akan pergi." Kata Anna


"Tidak Anna. dini hari nanti aku harus pergi." Jawab Pieter


"Pergi kemana?" Tanya Anna


"Aku Akan menjenguk anak dari sahabatku, dia yang mendonorkan ginjalnya untukku" Jawab Pieter


"Apakah yang mendonorkan ginjal untukmu adalah sahabatmu sendiri?" Anna sedikit bingung


"Ya. Dia dan istrinya sudah tiada karena kecelakaan berat yang mereka alami kemarin malam. Sebelum dia menghembuskan nafas terakhirnya, Temanku menitipkan anaknya, dengan imbalan memberikan ginjalnya untukku."


"Aku sudah menolaknya, Karena Aku akan tetap merawat anaknya Walaupun tampa menerima donor ginjal darinya. Tapi dia tetap memaksa, Dia bilang ijinkan satu anggota tubuhnya tetap hidup untuk menemani Putrinya." jelas Alex menyambung ucapannya


"Kalau begitu ijinkan aku ikut denganmu." Anna


"Sebaiknya kau beristirahat Anna." Pieter


"Tidak. Aku akan ikut denganmu. Sebelum aku pergi ke rumah sakit."Jawab Anna


"Sebaiknya kau cuti saja Anna." Pieter


"Tidak. pekan kemarin aku sudah cuti beberapa hari, Jadi aku tidak mungkin cuti lagi."Jawab Anna


"Apa kau yakin?" Tanya Pieter lagi


Setelah hari mulai pagi, Pieter dan Anna pun pergi ke sebuah rumah sakit yang merawat anak sahabatnya itu.


"Bagaimana dengan luka di tanganmu? Apa masih sakit?" Tanya Pieter saat mereka dalam perjalanan

__ADS_1


"Sepertinya sudah membaik." Jawab Anna sembari melihat punggung tangannya yang di bungkus plester


__ADS_2