Istri Rahasia Sang Aktor

Istri Rahasia Sang Aktor
chapter 52


__ADS_3

Sudah beberapa hari Anna terkurung di kamar ini.


Wajahnya pucat karena Anna benar-benar tidak memakan apapun.


Anna selalu membuangnya setiap kali Pieter memberikannya makanan.


Anna selalu duduk di balik pintu berharap siapapun dapat mengeluarkannya dari tempat ini.


Tapi semuanya nihil. Bahkan penjaga yang bertugas mengawasi Anna di luar kamarnya seolah tidak pernah menghiraukan teriakannya.



Anna sudah putus asa, karena ia sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk melarikan diri.


Anna di kurung dalam kamar tanpa jendela yang ada di lantai paling atas rumah ini. Ia hanya dapat melihat suasana luar dari dinding kaca tebal yang terpasang di sana.


Pemandangan para penjaga di luar pun jelas terlihat olehnya.


"Tuan Alex. Apakah kau tidak mencariku? Apakah memang kau tidak mencintaiku sehingga kau tidak perduli padaku." Ucap Anna dengan suara lirih dan hampir tidak terdengar.


"Tuan. Aku ada disini. Aku ingin pulang." Anna terus bergumam di sisa-sisa tenaganya.


Tidak berapa lama, Pieter pun kembali menemui Anna.


Ia mulai khawatir dengan kondisi Anna yang tidak makan selama beberapa hari terakhir.


Pieter duduk di ranjang Anna Karena ia sedang menyuruh seorang maid untuk membersihkan kamar Anna.


Sementara Anna Hanya terdiam lemas di dekat pintu.


"Sampai kapan kau akan menyiksa diri seperti ini. Makanlah! Jika kau ingin sesuatu katakan saja. Kau ingin baju bagus akan aku belikan, Dan jika kau ingin perhiasan mahal akupun akan memberikannya." Ucap Pieter seolah membujuk Anna.


"Aku hanya ingin keluar dari kamar Ini" Jawab Anna lirih.


Pieter pun di buat frustasi dengan kelakuan Anna.


Anna hanya duduk diam di tempat. Tepatnya di dekat pintu.


Anna mencoba mengumpulkan tenaga saat melihat pintu terbuka lebar, Ia pun segera bangkit dan berusaha untuk melarikan diri.


Tapi tubuh Anna terlalu lemah dan Ia pun kalah cepat, sehingga Pieter dapat meraih tangannya.


Anna meronta-ronta sekuat tenaga hingga tanpa sengaja Dahinya terbentur dinding tanpa sengaja.


Darah segar mengucur di dahi Anna.


Dalam hitungan menit Anna pun terkulai tidak sadarkan diri.


Pieter pun sedikit panik. Ia segera menghubungi dokter pribadinya untuk mengobati Anna.

__ADS_1


Tak perlu waktu lama.


Dokter pun datang dan mengobati luka Anna.


Sang dokter pun memasang infus, karena Anna juga mengalami dehidrasi.


"Periksa seluruh tubuhnya. Aku tidak ingin terjadi apapun padanya." Suruh Pieter


Pieter tidak perlu membawa Anna ke rumah sakit.


Di rumahnya sudah di lengkapi ruang kesehatan. Dan tak lupa dokter pribadi yang siap datang kapanpun.


Pieter tidak melepaskan pandangannya dari Anna. Bahkan saat dokter memeriksanya.


"Apa gadis ini sedang mengandung?" Ucap dokter perempuan paruh baya itu saat memeriksa perut Anna.


"Apa maksudmu?" Pieter balik bertanya.


Dokter pun mengambil sebuah alat untuk memastikan apakah gadis yang sedang di tanganinya benar-benar sedang mengandung.


Perlahan dokter menempelkan benda tersebut di perut Anna.


Ternyata benar, Ada detak jantung di dalam rahim Anna.


"Ternyata benar, Gadis ini sedang mengandung." sambung sang dokter.


Pieter cukup terkejut sekaligus kesal Saat tahu kalau Anna sedang mengandung bayi dari Alex.


"Baiklah. Kau bisa pergi! Dan akan ku hubungi lagi saat di perlukan." Jawab Pieter.


Pieter pun berjalan mendekati Anna saat sang dokter sudah tidak ada di ruangan tersebut.


Pieter mengusap pipi Anna.


"Kenapa kau melakukan perlawanan sekeras ini. Padahal Aku akan melimpahkan kebahagiaan untukmu kalau kau bersedia hidup bersamaku." Ucap Pieter pada Anna yang masih belum sadarkan diri.



Pieter menatap Anna sesaat lalu mengecupnya.


Sudah ada ketertarikan dalam hati Pieter saat mereka bertemu untuk pertama kalinya di kota xx waktu itu.


Pieter pun dengan setia menemani Anna di kamar rawat.


Ia berbaring di sofa yang tidak jauh dari ranjang Anna.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_1


Satu pekan setelah kepergian Anna Alex masih belum bisa meredam amarahnya.


Alex enggan untuk pergi kemanapun saat ini.


bahkan beberapa pekerjaan pun ia abaikan.


Akhirnya apa yang dia takutkan pun terjadi.


Yaitu di khianati setelah ia benar-benar sudah mencintai.


Tembok akan menjadi sasaran tinjauannya saat perasaan terhianati itu muncul lagi.


"Ayah memintamu untuk menemuinya." Tiba-tiba terdengar suara Jose.


Alex pun diam dan tidak menghiraukan kedatangan Jose.


"Entah kenapa perasaanku mengatakan hal buruk sedang menimpa Anna." Jose kembali berbicara.


******Prrraanngggg******!!!....


Sebuah pot bunga hampir saja mengenai pelipis Jose.


"Jangan pernah sebut nama itu lagi di hadapanku." Ujar Alex setelah melemparkan pot.


"Aku tidak mengerti apa yang kau pikirkan." Ucap Jose Sebelum pergi meninggalkan Alex


Alex Berjalan menuju ranjang, Ia kembali frustasi dan mengacak rambutnya sambil berteriak-teriak.


Kenapa kepergian Anna begitu berpengaruh untuk dirinya.


Padahal selama ini ia tidak pernah mengungkapkan perasaannya pada Anna.


Apakah Anna sudah sangat berarti untuk hidupnya.


Alex berbaring. Pikirannya di penuhi tentang Anna.


Apakah Anna sering menemui pria itu saat aku tidak di rumah?


Apakah bayi itu bukanlah bayinya?


Kalau benar Anna dalam keadaan tidak baik-baik saja. Ia tidak mungkin pergi bersama laki-laki lain apalagi ia terlihat sangat bahagia saat hendak pergi bersama laki-laki itu.


Sebenarnya apa yang terjadi?


Pikiran Alex benar-benar kacau.


Bersambung.....


Buat yang baca ini komen ya.

__ADS_1


Biar aku tambah semangat....


__ADS_2