
✨Terpaksa✨
Tok...tok...tok...
Suara ketukan pintu berhasil membuyarkan lamunan seorang wanita yang sedang duduk di kursi kebesarannya. Ya. Dia adalah pewaris dari perusahaan Firma Group. Anak sulung dari seorang pemilik perusahaan terbesar di negaranya.
"Masuk!" ucap wanita tersebut dengan nada dingin yang selalu menyertai nya.
Tak berapa lama masuklah laki-laki paruh baya berusia lima puluh tahunan dengan raut wajah yang ketakutan. Dengan perlahan laki-laki tersebut berjalan menghampiri wanita yang sedang duduk dikursi kebesarannya.
"Ada apa?" tanya wanita tersebut yang bernama Nanda Firmadani tanpa melihat laki-laki yang sekarang sedang berlutut dibawah nya.
"Nona... Tolong beri saya waktu untuk melunasi semua hutang-hutang nya... Saya benar-benar tidak bisa melunasinya sekarang... Sungguh..." ucap laki-laki tersebut sambil mengatupkan kedua tangannya didepan dada.
"Waktumu sudah habis Tuan... Perusahaan mu sudah menjadi milikku... Itu adalah konsekuensinya... Jadi anda harus menanggungnya. Mengerti?" ucap Nanda sambil memutar kursi kebesarannya untuk melihat laki-laki yang sekarang tengah memohon kepada nya.
"Nona ku mohon... Apapun akan saya berikan termasuk anak saya sendiri... Tolonglah Nona..." ucap laki-laki tersebut yang bernama pak Anton dengan terpaksa agar Nanda memberinya waktu untuk melunasi semua hutang-hutang dan juga tidak mengambil perusahaan yang selama ini ia perjuangkan.
"Tuan, apakah anakmu laki-laki?" tanya Nanda memastikan.
"Iya Nona... Anak pertama saya laki-laki..." jawab pak Anton.
"Apa kamu yakin dengan keputusan mu Pak Anton?" tanya Nanda seakan tak percaya jika laki-laki dihadapannya saat ini tega mengorbankan anaknya hanya demi sebuah perusahaan.
"Saya yakin Nona..." jawab pak Anton dengan mantap.
Walaupun didalam lubuk hatinya merasa sangat bersalah karena telah mengorbankan anak yang selama ini ia besarkan. Tapi apalah daya pak Anton yang terpaksa harus mengorbankan nya demi perusahaan.
Flashback on...
"Ayah tidak akan pernah mau merestui hubungan kalian..." jawab laki-laki yang tengah berdiri didepan Nanda.
__ADS_1
Rama Firmadana. Ayah kandung dari Nanda Firmadani yang merupakan CEO diperusahaan Firma Group. Dia sangat disegani dan juga dihormati oleh banyak orang terutama para petinggi negara dan juga para CEO perusahaan lainnya.
"Tapi ayah..." ucap Nanda yang langsung dipotong oleh ayah Rama.
"Tidak ada tapi-tapian nak... Akhiri hubungan kalian atau ayah akan menjodohkanmu?" ucap ayah Rama yang membuat Nanda terdiam.
"Beri Nanda waktu ayah..." jawab Nanda pasrah.
"Ayah memberimu waktu selama satu minggu... Jika kamu masih berhubungan dengan anak itu lagi maka ayah terpaksa akan menjodohkanmu..." ucap ayah Rama lalu membalikkan badannya dan pergi meninggalkan Nanda yang masih terdiam di ruang tamu.
"Aku harus punya cara agar tidak dijodohkan oleh ayah dan hubungan ku dengan Rio baik-baik saja..." ucap Nanda dalam hati.
Flashback off...
Setelah teringat dengan perkataan ayah Rama kemarin malam, Nanda pun akhirnya memutuskan untuk menerima penawaran dari pak Anton. Hanya itulah satu-satunya cara agar ia tidak dijodohkan dan hubungannya dengan kekasihnya baik-baik saja tanpa sepengetahuan ayah Rama.
"Baiklah saya terima penawaran dari anda pak Anton... Saya beri waktu anda 6 bulan untuk melunasi semua hutang-hutang nya... Dengan syarat anak anda harus menjadi suami saya untuk sementara waktu... Jika anda bermain-main dibelakang saya maka anda akan tau apa akibatnya..." ucap Nanda sambil menyilangkan kedua kakinya.
"Terima kasih Nona... Saya berjanji tidak akan bermain-main pada anda Nona... Sekali lagi terima kasih... Saya akan segera memberitahu anak saya nanti..." ucap pak Anton lalu berdiri dengan perlahan.
"Baik Nona... Sekali lagi terima kasih... Saya pamit undur diri..." ucap pak Anton lalu membungkukkan badannya dan pergi meninggalkan Nanda yang masih setia duduk dikursi kebesarannya.
Pak Anton menghela napas lega ketika keluar dari ruangan milik Nanda. Dengan mantap pak Anton melangkahkan kakinya menuju lift agar bisa menuju parkiran mobil yang terletak dilantai satu dengan cepat.
Kediaman pak Anton...
"Assalamualaikum..." ucap pak Anton ketika masuk ke dalam rumahnya.
"Waalaikum salam... Tumben pulangnya lebih cepet pah..." ucap bu Irma yang datang dari dapur dengan tergesa-gesa.
"Alhamdulillah...Tolong buatkan aku kopi yah mah..." ucap pak Anton sambil menyerahkan tas kerjanya pada bu Irma.
__ADS_1
"Iya pah...Tunggu sebentar... Aku akan membuatkan kopinya..." ucap bu Irma sambil menerima tas kerja milik pak Anton setelah mencium tangan kanan suaminya.
Dengan cepat bu Irma kembali ke dapur untuk membuatkan kopi panas permintaan dari suaminya. Beberapa menit kemudian bu Irma datang sambil membawa kopi panas diatas nampan dengan hati-hati.
"Ini pah kopi panasnya..." ucap bu Irma sambil memberikam secangkir kopi panas buatannya pada pak Anton.
"Iya mah terima kasih..." balas pak Anton sambil menerima secangkir kopi panas dengan hati-hati.
Kemudian bu Irma ikut duduk disebelah suaminya. Setelah beberapa tegukan, pak Anton meletakkan cangkir kopi tersebut diatas meja.
"Aku punya kabar baik mah..." ucap pak Anton sambil memandang ke arah istrinya.
"Kabar baik apa pah?" tanya bu Irma penasaran.
"Perusahaan ku tidak jadi bangkrut tapi..." jawab pak Anton menggantung.
"Tapi apa pah?" tanya bu Irma yang semakin penasaran karena pak Anton menggantungkan ucapannya.
"Tapi... kita harus menikah kan Idris dengan Nona Nanda..." jawab pak Anton sambil menggenggam tangan bu Irma agar istrinya tidak marah dengan apa yang ia ucapkan.
"Apa!!" ucap Bu Irma tak percaya dengan apa yang baru saja suaminya katakan.
"Maafkan aku...Tapi aku terpaksa mah... Mamah mau perusahaan yang papah perjuangkan selama ini bangkrut?" ucap pak Anton meyakinkan bu Irma kalau tindakan nya adalah benar adanya.
"Tapi pah... Kasian Idris... Kan papah tau Idris belum mau menikah... Idris itu masih pengen mengabdi di pesantren pah..." ucap bu Irma yang ikut menggenggam tangan pak Anton dengan erat.
"Mamah harus ngertiin papah juga... Sekarang mamah telpon Idris supaya pulang ke rumah... Kita bicarakan ketika dia sudah pulang nanti..." ucap pak Anton lalu berdiri meninggalkan bu Irma yang masih duduk di sofa sambil menangkup wajahnya.
Dengan berat hati akhirnya bu Irma menelpon anaknya yang berada di pesantren. Dan menyuruhnya untuk segera pulang ke rumah.
✨ Assalamualaikum semuanya 👋✨
__ADS_1
Alhamdulillah kita bisa ketemu di novel ini. Author mau kasih tau sama kalian. Bahwa novel ini sedang ada perbaikan. Dimulai dari episode 1 yah. Jadi Author mohon deh, tolong hargai karya siapapun. Baik itu karya pemula maupun karya yang sudah sangat bagus. Semua itu butuh proses. Nggak bakal langsung jadi kan?. Makanya yang sabar. Dan Author beri tau lagi yah. Novel ini nggak sepenuhnya nyata. Terkadang adalah hasil dari halu nya Author. Kalau ada yang ngga sesuai. Iya itu emang halu nya Author aja. Gitu yah?. Maaf kalau kata-katanya berlebihan. Author cuma mengingatkan. Terima kasih.
✨ Wassalamu'alaikum 👋✨