Istriku Seorang CEO

Istriku Seorang CEO
Episode 38


__ADS_3

✨ Penyelidikan part 2 ✨


Dengan segera Naya keluar dari kamar meninggalkan Gilang yang tengah berdiri disana. Tak habis pikir tentang semuanya. Apa sebenarnya yang terjadi?. Kenapa Om Gilang andil dalam masalah ini?. Apakah ada tujuannya?. Tanya Naya dalam hatinya hingga sampai dikamar.


Untuk saat ini Naya belum berani jujur pada kekasihnya tentang Gilang. Karena hal itu akan membuat ayahnya, kakaknya dan tentu saja dirinya dalam bahaya.


"Apa yang harus aku lakukan untuk menyelamatkan ayah dan kakak?" tanya Naya dengan gelisah sambil menggigit ujung jarinya dengan terus berjalan mondar-mandir.


Tok...tok...tok...


Kaki yang tadinya terus berjalan berhenti ketika ada suara ketukan. Naya berjalan ke arah pintu lalu membukanya. Terlihat Rini yang tengah berdiri disana dengan tatapan kosong.


"Ibu ngapain disini?" tanya Naya.


"Boleh ibu masuk?" tanya Rini balik.


"Iya udah ibu masuk aja..." jawab Naya membuka pintu lebar-lebar.


Setelah mendapat jawab dari sang anak, Rini segera masuk ke dalam kamar dan duduk ditepian ranjang. Naya menutup pintu lalu menyusul Rini dan duduk disebelahnya.


"Tumben ibu kesini?" tanya Naya.


"Nak..." ucap Rini sambil memeluk Naya dan menangis disana.


Naya mengernyitkan dahinya bingung dengan sikap sang ibu yang berbeda. Naya membalas pelukan itu dan mengusap punggung sang ibu dengan lembut.


"Ibu kenapa menangis?" tanya Naya disela-sela gerakannya mengelus punggung sang ibu.


"Maafkan ibu yah nak... Ibu sudah semuanya... Ibu salah besar..." jawab Rini melepas pelukannya dan menghapus air matanya.


"Maksud ibu?" tanya Naya yang tak paham.


"Waktu itu kakak kamu bilang supaya ibu jangan menikah lagi... Dan bilang bahwa kamu sudah dinodai oleh Gilang... Tapi ibu nggak percaya dan sekarang ibu menyesal... Ternyata semua itu benar... Maafkan ibu yah nak... Ibu salah..." jawab Rini menjelaskan semuanya.


Rasa salahnya terhadap sang putri hinggap di dadanya. Ternyata perkataan Nanda dulu adalah benar. Sekarang semuanya sudah terungkap cepat atau lambat.


"Ibu tau dari siapa?" tanya Naya.

__ADS_1


"Ibu tadi mendengar percakapan mu dan Gilang sayang... Dan ibu tau semuanya..." jawab Rini menunduk.


"Ja-jadi ibu udah tau semuanya?" tanya Nanda ulang.


Rini menganggukkan kepalanya. Senyum dibibir Naya muncul sekilas. Dipeluknya kembali sang ibu karena merasa senang.


"Apa Naya boleh minta sesuatu sama ibu?" tanya Naya disela pelukannya.


"Apapun itu nak yang penting kamu bahagia..." jawab Rini.


"Kembalilah bersama ayah dan Kak Nanda bu... Demi Naya..." ucap Naya dengan wajah memelas.


"Tapi itu sangat sulit nak..." balas Rini memegang tangan Naya dengan erat.


"Kita coba bersama bu..." ucap Naya yang ikut memegang tangan Rini untuk memberinya semangat.


Rini mengangguk. Rasa bersalah terhadap sang suami dan juga anak angkatnya itu begitu besar. Dan sekarang Rini bertekad untuk meminta maaf kepada keluarga kecilnya dengan caranya sendiri.


Kini Rini mulai menyadari kesalahannya menikah dengan orang yang salah. Rini tau jika Rama sangat mencintainya hingga sekarang. Sifat yang selalu mengalah, lembut dan perhatian membuat Rini teringat ketika dia masih memiliki ikatan sah dengan Rama. Tapi semua itu sudah berubah ketika ia melepas ikatannya. Rama pernah berkata.


Disisi lain Nanda sedang duduk diatas ranjang dengan Al-Qur'an yang berada diatas tangannya. Perubahan tersebut dapat dirasakan baik Nanda maupun Idris. Begitupun dengan Omah yang melihat perubahan pada diri Nanda yang dibilang drastis.


"Shodaqollahulladzim..." ucap Nanda sambil menutup lembaran suci dan menciumnya selama beberapa saat.


"Sudah selesai?" tanya seseorang yang membuat Nanda mendongak dan memandang pria didepannya saat ini.


"Sudah..." jawab Nanda.


"Sini biar aku taruh..." ucap pria itu sambil mengulurkan tangannya.


"Terima kasih..." ucap Nanda sembari memberikan Al-Qur'an.


Ditaruhnya Al-Qur'an itu di rak kecil yang tak jauh dari sofa. Lalu duduk dikursi samping ranjang Nanda.


"Besok kamu sudah boleh pulang oleh dokter Via..." ucap Idris memberitahu kabar gembira.


"Alhamdulillah... Aku ikut senang..." balas Nanda seraya tersenyum mendengar penuturan dari Idris.

__ADS_1


"Alex memberitahuku juga bahwa penyelidikan berjalan dengan baik... Tapi masih belum ada bukti-bukti selain yang ditemukan oleh warga... Jadi penyelidikan itu akan terus berlanjut..." ucap Idris kembali memberi kabar.


"Alhamdulillah kalau begitu... Semoga ayah cepat ditemukan..." balas Nanda.


Tak berapa lama Omah masuk dengan membawa keranjang buah ditangannya. Nanda dan Idris tersenyum menyambut Omah.


Omah tidur di hotel karena jarak antara hotel dan rumah sakit tak sejauh dengan jarak kediaman Firma.


"Ini buah segar buat kalian... Ayo makan..." ucap Omah sambil menaruh keranjang diatas meja.


"Terima kasih Omah..." ucap Idris dan Nanda kompak.


"Sama-sama..." balas Omah dengan senyum yang mengembang dibibirnya.


Mereka memakan buah pemberian dari Omah setelah Idris selesai mencuci dan mengupasnya. Ternyata mempunyai keluarga kecil sungguh menyenangkan pikir Nanda ketika mereka berbincang dan juga tertawa bersama. Salah satu cara agar Nanda tidak bersedih memikirkan Rama yang belum diketahui keberadaannya sampai sekarang. Itu yang ada dipikiran Omah dan juga Idris.


Dan diwaktu yang sama seorang laki-laki tengah dipukuli habis-habisan oleh orang dengan pakaian serba hitam. Wajahnya babak belur dan banyak luka di sekujur tubuhnya. Laki-laki itu sudah tidak kuat menahan sakit akibat pukulan yang terus dia dapat. Lalu tak sadarkan diri dengan tangan dan kaki yang diikat dikursi.


"Bagus kerja kalian..." ucap Gilang ketika melihat Rama tak sadarkan diri dengan wajah babak belur dan tubuh yang penuh luka.


"Ini akibat kamu terlalu menentang Rama... Akan jauh lebih mengasikkan jika kedua putri mu masuk ke dalam jebakan ku... Hahahaha..." ucap Gilang tertawa keras memenuhi isi ruangan.


"Jangan kasih dia makan dan minum! Kalian mengerti! Biarkan saja dia menderita! Sampai dia mau menandatangani surat peralihan itu!" tegas Gilang pada para bodyguard nya itu.


"Baik bos!" balas ketua bodyguard dengan tegas juga.


Gilang pergi dari gudang tersebut dengan dua orang bodyguard dibelakangnya. Meninggalkan Rama dengan para bodyguardnya disana. Tekadnya untuk mendapatkan Firma Group membutakan sisi kemanusiaan Gilang. Bagaimana tidak?.


Disuruhnya para bodyguard untuk memukuli Rama hingga dia mau tanda tangan. Tapi tetap saja Rama tidak mau menandatangani surat itu. Dan membuat Gilang kembali marah.


Bahkan Gilang akan menghabisi nyawa seseorang jika keinginannya tidak terpenuhi. Termasuk dengan Naya yang pada waktu itu sudah hampir ia nodai. Tapi Gilang urungkan karena ingin membuat permainan yang tak pernah diketahui oleh siapapun. Licik. Ya. Itulah sifat asli Gilang.


✨Hay gaes👋✨


Kita ketemu lagi nih... Jangan bosan-bosan yah nunggu kelanjutan kisah Idris dan Nanda... Dan jangan lupa kasih Love, koment dan Vote... Oke sampai jumpa di episode selanjutnya yah...


✨Dahhh👋. Sampai jumpa✨

__ADS_1


__ADS_2