Istriku Seorang CEO

Istriku Seorang CEO
Episode 39


__ADS_3

✨ Penyelidikan part 3✨


Hari ini adalah hari ketiga penyelidikan hilangnya Rama. Namun pihak kepolisian masih belum juga menemukan bukti-bukti yang akurat.


Dengan keberanian yang ada Rini menelfon orang kepercayaannya yaitu Nauval. Selang berapa lama telepon pun tersambung.


"Hallo Nauval? Aku ingin memberikan tugas baru untukmu... Waktunya sudah tidak banyak kamu harus bergerak cepat sebelum semuanya terlambat..." ucap Rini diawal pembicaraannya.


"Iya hallo Nyonya... Tugas seperti apa Nyonya? Apakah tugas untuk menghabisi Rama?" balas Nauval diseberang telepon.


"Bukan. Temukan tempat penyanderaan Rama segera... Dan buntuti kemana pun Gilang pergi... Hari ini juga tugas itu harus selesai... Dan temui aku jam 10 ditempat biasa..." jawab Rini yang membuat Nauval terkejut.


"Apa Nyonya tidak bercanda? Tuan Gilang itu suami baru Nyonya bukan? Dan apa tujuan Nyonya mencari tempat penyanderaan Rama?" tanya Nauval bertubi-tubi.


"Dengar Nauval! Aku tidak sedang bercanda... Cepat atau lambat kamu pasti akan tau semuanya... Laksanakan saja perintah ku... Kamu mengerti?" jawab Rini dengan tegas membuat Nauval tak berani bertanya lebih.


"Baiklah Nyonya akan saya laksanakan segera perintah anda..." balas Nauval.


Sambungan pun terputus ketika Rini memencet tombol berwarna merah. Setelah itu Rini masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan bersiap bertemu dengan orang kepercayaannya itu.


Di rumah sakit Nanda tengah bersiap untuk pulang ke kediaman Firma. Tubuhnya sudah pulih tapi masih sedikit lemas. Dokter Via sudah selesai memeriksa Nanda sebelum pulang ke rumah.


"Jangan lupa minum obatnya dan jaga pola makan dan tidurnya yah... Kalau ada apa-apa bisa hubungi saya..." ucap dokter Via sambil membenarkan jas putihnya.


"Iya dok terima kasih..." balas Nanda dengan senyuman.


"Baiklah kalau begitu saya pamit keluar... Hati-hati dijalan..." ucap dokter Via dengan sangat sopan.


"Iya dok terima kasih..." gantian Omah yang membalas perkataan dokter Via.


"Assalamualaikum..." ucap dokter Via lalu meninggalkan bangsal dengan diikuti asistennya dibelakang.


"Waalaikum salam..." balas Omah dan juga Nanda.


Tak lama dari itu Idris kembali setelah membayar semua admistrasi di kasir yang terletak dilantai 1.


"Sudah selesai?" tanya Omah ketika Idris masuk kedalam bangsal.


"Sudah Omah... Mari kita pulang... Semua barang-barang sudah dipindahkan ke bagasi mobil..." jawab Idris mendekat ke arah ranjang.


"Ayo..." ucap Omah membantu Nanda berjalan.


Didalam hatinya Nanda merasa senang bisa pulang kembali ke kediaman Firma. Bersama dengan Idris dan juga Omah tentunya. Tapi masih tetap saja ada yang kurang yaitu pemilik rumah. Rama Firmadana. Ayah angkatnya. Kapan mereka semua bisa berkumpul kembali seperti dulu?. Tanya Nanda didalam hatinya.

__ADS_1


"Silahkan masuk..." satpam membukakan pintu mobil ketika mobil milik Nanda berhenti tepat didepan lobi dengan Idris yang menyetir.


Nanda duduk disamping Idris sedangkan Omah menggunakan mobil pribadinya. Mobil mulai bergerak menjauhi rumah sakit dengan mobil hitam mewah dibelakangnya.


Tak berapa lama ponsel Nanda berdering. Idris menoleh ke arah Nanda sekilas sembari bertanya :


"Siapa yang menelpon?" fokus mengemudi.


"Alex..." jawab Nanda lalu mengangkat teleponnya.


"Hallo Nyonya? Saya punya kabar baik tentang tuan Rama... Polisi diberitahu oleh seseorang tentang keberadaan tuan Rama... Jadi kami akan kesana sekarang... Apa Nyonya juga bisa kesana?" tanya Alex memberitahu. Tak mungkin ia memberitahu Nanda bahwa sebenarnya. Takutnya Nanda akan berpikiran bahwa dalang dari semua ini adalah Rini. Padahal dialah yang ikut membantu.


"Kirim alamatnya sekarang Alex... Kami akan langsung ke tempat kejadian..." jawab Nanda dengan senyum yang mengembang disana.


"Baik Nyonya..." balas Alex.


Sambungan pun terhenti dengan senyum yang mengembang dibibir Nanda. Tak lama alamat dari Alex pun sampai di ponselnya.


"Kita harus ke alamat ini sekarang..." ucap Nanda sambil menyodorkan ponselnya pada Idris.


"Untuk apa?" tanya Idris.


"Tempat keberadaan ayah..." jawab Nanda.


"Tidak apa-apa... Jangan khawatir..." jawab Nanda dengan senyumnya agar Idris tak khawatir lagi.


"Baiklah ayo kita kesana..." balas Idris sambil melirik alamat di ponsel Nanda.


Diwaktu yang sama Naya juga bergegas ke alamat yang diberikan oleh kekasihnya beberapa saat yang lalu. Naya juga tidak tahu tentang rencana Rini yang membantu mencari keberadaan Rama.


Alex dan polisi sudah bersiap menuju lokasi. Ternyata lokasinya berada disebuah bukit yang jarang sekarang sekali ada yang kesana. Kecuali jika ada wisata disana. Sunyi. Angin berhembus kencang. Hanya suara kicauan burung yang terdengar saat itu.


Ada dua mobil berwarna hitam terparkir dipinggir jalan. Mobil polisi dan Alex parkir tak jauh dari dua mobil itu. Beberapa polisi ditugaskan untuk menyelidiki dua mobil hitam itu dan berjaga.


Idris dan Nanda pun sampai ditempat tujuan. Mobil milik Omah pun mengikuti kemana mobil Nanda berjalan. Semua orang berkumpul dipinggir jalan untuk membuat setrategi sebelum masuk ke dalam hutan. Hanya ada satu jalan setapak yang cukup panjang yang menghubungkan jalan dengan tempat yang dijadikan sebagai penyanderaan.


Rini dan Nauval sudah sampai di bukit terlebih dulu. Mereka sekarang berada ditengah hutan lebih tepatnya tak jauh dari gudang tempat penyanderaan Rama.


"Cepat tanda tangani surat peralihan ini!" gertak Gilang sambil meninju wajah babak belur Rama.


"Tidak akan pernah..." balas Rama dengan suara yang tersisa.


"Dasar pria tua!" ucap Gilang dengan emosi yang menggebu-gebu.

__ADS_1


Diambilnya pisau yang sudah dipersiapkan oleh anak buahnya. Merasa sangat kesal akhirnya Gilang mengambil pisau itu untuk membunuh Rama.


Gilang bersiap menancapkan pisau itu ditubuh Rama. Satu, dua... Dan


Dor!


"Turunkan senjata!" ucap polisi dengan pistol yang sudah siap ditangannya.


Gilang menjatuhkan pisau itu dan berbalik. Semua bodyguardnya sudah tertangkap oleh puluhan polisi. Sekarang hanya dia yang belum tertangkap.


Dengan akal liciknya ternyata Gilang membawa pistol dibalik jas hitamnya. Mengelabui polisi sudah sering Gilang lakukan. Dan sekarang itu yang akan dia lakukan lagi untuk menyelamatkan diri.


"Hahahaha..." tawa Gilang yang membuat orang yang ada di gudang bertanya-tanya.


"Waw! Hebat sekali kalian..." ucap Gilang tanpa ada rasa takut.


"Menyerahlah!" ucap Alex dengan pistol yang tertodong.


"Ups! Menyerah? Itu tidak akan pernah ada dalam kamus ku..." balas Gilang dengan sinis.


Tak disangka Rini datang dari belakang Gilang dan melepaskan ikatan yang ada di kaki dan tangan Rama sebelum Gilang menyadari. Semua tali terlepas dari kaki dan tangan Rama. Dengan cepat Rini membawa Rama keluar dari gudang. Tapi naasnya Gilang yang licik itu mengambil pistolnya yang berada di balik jas hitam. Lalu mengarahkannya pada Rama dan Rini yang sedang berjalan ke arah salah satu pintu gudang.


"Berhenti!" teriak Gilang yang membuat Rama dan Rini menoleh.


"Turunkan senjata! Atau kami akan tembak!" ucap Dana selaku ketua polisi.


"Satu tembakan akan membuat 2 nyawa melayang..." ancam Gilang yang sudah siap menembak Rama.


Nanda, Naya, dan Omah yang melihat hal tersebut menjadi merinding. Gilang tak pernah main-main dengan ucapannya. Kedua orangtuanya dalam bahaya sekarang. Tapi mereka tak bisa berbuat apapun.


Tanpa aba-aba pistol yang berada ditangan Dana berbunyi. Pertanda satu peluru terlepas ke arah Gilang. Gilang yang menyadari hal itu ikut melepaskan peluru yang ada di pistolnya juga. Tepat ketika peluru Dana mengenai tangan Gilang satu peluru Gilang pun mengenai tubuh seseorang.


Rama berdiri mematung menyaksikan pengorbanan wanita yang ia cintai. Wanita itu memeluknya dengan sangat erat ketika salah satu peluru menuju ke arahnya.


"Mamah! Ibu!" teriak Nanda dan Naya bersamaan.


Tubuh Rini ambruk di pelukan Rama. Tak ada yang menyangka hal tersebut akan terjadi. Gilang pun terduduk dengan memegang tangannya yang berlumuran darah akibat dari satu peluru yang masuk ke tangannya.


"Aku mencintaimu..." ucap Rini yang langsung menutup matanya dengan keadaan memeluk Rama.


✨Selamat malam✨


Selamat membaca yah gaes... Asal kalian tau aku nulis ini sampai nangis... Aduh aku jadi terharu... Semoga aja kalian kaya aku yah... Jangan lupa Like, koment dan Vote yah... Buat Author lebih semangat lagi... Sampai jumpa di episode selanjutnya... Yang setia yah... Hehehe...

__ADS_1


✨See you 👋✨


__ADS_2