
✨ Undangan Pernikahan ✨
Keesokan harinya, Nanda dan Idris bersiap pulang ke rumahnya. Semua perlengkapan Ainin sudah disiapkan oleh Mak Ijah dan Bi Anik setelah Nanda memberitahu bahwa dia akan pulang ke rumah. Nanda sudah selesai bersiap. Sedangkan Idris sedang menimang Ainin di balkon.
"Sayang..." ucap Idris gemas dengan Ainin yang tengah tersenyum menatapnya.
Idris membuat Ainin terus tersenyum. Ia sangat merasa nyaman dan bahagia jika sudah berada di dekat Ainin.
"Mas... Ayo aku udah siap..." ucap Nanda dengan tas baby yang sudah ia bawa.
"Iya udah yuk... Kita tinggal pamit..." ucap Idris segera membawa Ainin masuk ke dalam kamar.
Mereka segera keluar menuju ruang tamu. Disana sudah berkumpul seluruh anggota keluarga. Dari keluarga Nanda, ada ayah Rama, bu Maryam, Omah, Naya dan Alex. Sedangkan dari keluarga Idris, ada pak Anton, bu Irma, dan juga Fika. Mereka semua berkumpul karena sekarang adalah hari Minggu.
"Pagi semuanya..." sapa Nanda ketika ia sampai di ruang tamu.
"Pagi..." balas seluruh keluarga dengan senyum terukir jelas dibibir mereka.
"Aku sama mas Idris mau pamit... Makasih untuk semuanya..." ucap Nanda lalu memeluk satu persatu anggota keluarganya.
"Hati-hati dijalan nak..." ucap bu Maryam.
"Iya bunda..." balas Nanda.
Keluarga dari Idris pun berpamitan. Mereka pulang dalam waktu yang sama. Omah pun ikut pamit karena ia sekarang tinggal bersama cucunya di rumah yang berbeda.
"Assalamualaikum..." ucap Nanda ketika ia masuk ke dalam mobil.
"Waalaikum salam..." balas seluruh keluarga sambil melambaikan tangannya.
Ainin sekarang berada di gendongan Omah. Ia tak tidur karena sudah tidur beberapa jam yang lalu. Ia menikmati perjalanan dengan terus menatap wajah Omah. Sesekali Omah menghibur cicitnya agar tak bosan.
__ADS_1
"Cicit Omah tambah cantik iya?" ucap Omah yang didengar oleh Nanda dan Idris.
Hanya dalam lima belas menit, akhirnya mereka sampai di rumah yang baru. Mak Ijah segera membuka gerbang ketika mobil sudah hampir sampai. Mobil sudah terparkir cantik di sebelah mobil satunya lagi.
Nanda dan Idris turun. Lalu disusul Omah dengan Ainin yang tertidur di gendongan Omah. Nanda mendekati Omah untuk mengecek keadaan Ainin. Ternyata Ainin tertidur ketika mereka akan sampai.
"Ya Allah... Dia tidur lagi Omah..." ucap Nanda gemas dengan Ainin yang selalu tertidur jika berada di gendongan orang yang berbeda. Jika ia nyaman, maka Ainin dengan cepat akan tertidur.
"Ya udah yuk kita masuk... Kasihan Ainin..." ajak Omah yang diangguki oleh Nanda.
Idris segera menurunkan barang-barang milik Ainin yang kemarin ada di kediaman Firma. Ada dua koper milik mereka dan juga satu tas besar milik Omah. Idris membawanya ke dalam karena awan terlihat gelap. Pertanda akan hujan.
"Nyonya, ada undangan buat tuan Idris..." Bi Anik sambil memberikan selembar kertas yang ternyata adalah undangan pernikahan.
"Dari siapa bi?" tanya Nanda ketika ia menerima undangannya.
"Saya ngga tau nyonya... Katanya buat tuan Idris begitu..." jawab Bi Anik.
"Iya nyonya... Saya kembali dulu ke dapur..." balas Bi Anik.
"Oh ya bi? Tolong masakin semur ayam yah... Sama sayur kentang balado..." ucap Nanda yang langsung diangguki oleh Bi Anik.
"Baik nyonya..." balas Bi Anik.
Setelah itu Nanda naik ke lantai dua. Disana Omah tengah menimang Ainin sambil menyanyikan sholawat. Membuat hati Nanda terasa damai dan juga tenang.
Omah meletakkan Ainin di ranjang kecil di samping ranjang milik Nanda dan Idris. Setelah itu Omah kembali ke kamar. Nanda duduk diujung kamar sambil memandangi wajah Ainin yang tengah tertidur.
Tak berapa lama Idris masuk dengan dua koper besar ditangannya. Nanda segera bangkit dan menghampiri sang suami. Idris duduk karena merasa lelah.
"Kamu pasti capek yah mas?" tanya Nanda.
__ADS_1
"Ngga kok... Cukup liat wajah kamu capek aku hilang..." jawab Idris yang membuat Nanda merona.
"Oh ya mas, tadi ada undangan buat kamu kata Bijak Anik..." ucap Nanda sembari memberikan undangan yang tadi Bi Anik berikan.
"Siapa?" tanya Idris menerima undangan tersebut.
"Aku juga ngga tau... Mungkin itu teman kamu..." jawab Nanda.
Idris segera membuka undangan tersebut. Ia terkejut ketika melihat nama yang tertera di undangan. Tetapi ia juga merasa sangat senang.
"Siapa mas?" tanya Nanda penasaran.
"Dia sahabat aku yang ada di pesantren..." jawab Idris.
Nanda mengangguk. Walau ia lupa dengan namanya, tetapi ia masih ingat dengan wajah sahabat Idris. Idris memberikan undangan tersebut agar Nanda tak penasaran. Dengan segera Nanda membukanya.
Tertulis :
"Nur Iskandar Alamsyah"
**Dan**
"**Hayfa Lutfiyah**"
Idris bangkit dari sofa dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia merasa bahagia karena sahabatnya akan menikah. Tetapi ia juga tidak menyangka jika Hayfa, wanita yang dulu pernah menyimpan rasa padanya akan menikah dengan Iskan, sahabatnya sendiri.
✨Hai gaes👋✨
Alhamdulillah bisa up dua kali ini. Semoga kalian semua terhibur. Jangan lupa like and vote sebanyak-banyaknya yah. Biar Author tambah semangat buat nulisnya.
__ADS_1
✨Salam hangat dari Author 😊👋✨