
✨Di balik sebuah arti✨
Hari demi hari Idris dan Nanda lewati seperti biasa. Tepat hari ini adalah enam bulan pernikahan mereka. Tentu saja keduanya merasa bahagia. Tak terasa sudah setengah tahun hidup bersama dengan canda tawa dan juga tangis yang ikut mewarnai.
"Mas... Kamu nggak lupa kan?" tanya Nanda dengan senyum manis di bibirnya.
"Soal apa?" tanya Idris balik.
"Pernikahan kita..." jawab Nanda.
"Aku nggak akan pernah lupa... Sampai kapanpun..." ucap Idris yang ikut tersenyum.
Kemudian keduanya saling berpelukan dengan erat. Seakan keduanya tak ingin kehilangan satu sama lain. Selalu ada kapanpun itu. Susah dan sedih sudah pernah keduanya lewati bersama.
"Hari ini aku mau santunan ke anak yatim di panti asuhan..." ucap Idris sambil menangkup wajah cantik Nanda.
"Aku ikut..." ucap Nanda.
"Udah kamu di rumah aja... Ini cuma sebentar kok... Niat ku santunan buat syukuran pernikahan kita..." ucap Idris dengan begitu lembut.
"Iya udah deh... Aku tunggu kamu yah... Jangan lama-lama..." ucap Nanda dengan anggukan.
"Paling jam sembilan malam aku udah pulang... Kamu dirumah jaga diri baik-baik yah... Jangan lupa tersenyum..." ucap Idris mencubit pipi istrinya.
"Iya... Aku bakal selalu tersenyum buat kamu..." balas Nanda dengan menampilkan senyum semanis mungkin.
"Iya udah... Aku berangkat dulu yah... Assalamualaikum..." ucap Idris.
"Waalaikum salam... Hati-hati dijalan..." ucap Nanda sambil mencium tangan Idris. Idris pun membalas dengan mencium kening Nanda.
Kemudian Idris mengambil tas kerjanya dan keluar dari kamar. Sebelum keluar, Idris melambaikan tangan seraya tersenyum manis disana. Nanda pun membalas lambaian itu dan ikut tersenyum. Lalu pintu tertutup.
Sedangkan Nanda duduk sambil melihat buku yang berisi tanggal menstruasinya. Sudah seminggu Nanda telat datang bulan. Tentu saja Nanda bertanya-tanya dalam hatinya. Apakah dia harus melakukan tes untuk memastikan bahwa dia hamil?. Pikir Nanda.
"Apa aku harus tes aja yah... Biar nggak kepikiran terus..." gumam Nanda.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Nanda bangkit. Kemudian keluar dari kamar menuju lantai satu. Disana ada bu Maryam dan juga Omah tengah berbincang dengan secangkir teh hangat didepannya.
"Kamu mau kemana sayang?" tanya Omah.
"Nanda mau ke apotek sebentar Omah..." jawab Nanda.
"Kamu sakit sayang?" tanya bu Maryam khawatir.
"Ngga bunda... Nanda cuman mau beli testpack..." jawab Nanda jujur agar bunda dan Omahnya tidak khawatir.
"Memangnya kenapa? Kamu mual?" tanya Omah bergantian.
"Ngga Omah... Nanda cuman mau pastiin aja soalnya udah satu Minggu Nanda telat datang bulan..." jawab Nanda menjelaskan.
"Oh... Ya udah hati-hati dijalan..." ucap bu Maryam sambil menganggukkan kepalanya.
"Iya udah Nanda pergi dulu ya bunda... Omah... Assalamualaikum..." ucap Nanda lalu mencium tangan bu Maryam dan Omah.
"Waalaikum salam..." balas bu Maryam dan Omah bersama.
__ADS_1
Kemudian Nanda masuk ke dalam mobil milik ayah Rama. Karena mobilnya di pakai oleh Idris untuk pergi ke kantor. Walau mempunyai banyak pembantu dirumah, tetapi Nanda berusaha untuk belajar mandiri. Seperti halnya sekarang, ia pergi ke apotek yang tak jauh dari kediaman tanpa seorang supir. Lebih tepatnya mengendarai mobil sendiri.
"Semoga yang aku inginkan terkabul..." gumam Nanda saat mengendarai mobil dijalan raya.
Sesampainya di apotek Nanda segera turun dan membeli testpack. Lalu kembali masuk ke dalam mobil setelah mendapat apa yang ia inginkan. Mobil pun mulai melaju di jalan raya dengan kecepatan sedang.
Berbeda dengan Idris yang tengah berada di sebuah panti asuhan. Disana ia membagikan makanan dan juga uang untuk anak yatim piatu. Senyum anak yatim piatu terukir jelas di setiap bibirnya masing-masing. Idris merasa bersyukur bisa melakukan santunan yang sedari dulu ia impikan.
"Terima kasih banyak yah om... Semoga om dan tante yang ada di rumah sakinah mawadah warahmah... Dan semoga Allah selalu memberikan perlindungan pada om..." ucap seorang anak perempuan setelah menerima makanan beserta uang dari Idris.
"Sama-sama dek... Makasih yah doanya..." balas Idris mengusap kepala anak perempuan itu yang tertutup oleh hijab berwarna putih.
Selesai dengan kegiatan santunan, Idris berangkat ke kantor. Seharian dia menghabiskan waktunya berada di dalam ruang kerja. Kesibukan yang terus bertambah tak membuat Idris menyerah. Justru karena itu ia merasa lebih bersemangat sekarang.
Idris melirik jam yang ada di tangan kirinya. Ternyata sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Idris teringat jika dia akan pulang pada jam sembilan malam. Maka dari itu Idris bersiap pulang setelah membereskan berkas-berkas yang ada di mejanya.
Lalu Idris keluarkan dari ruang kerjanya menuju lantai paling dasar. Mobil yang selalu ia pakai masih terparkir dengan cantik di parkiran yang luas. Langsung saja, Idris masuk ke dalam mobil. Rasa senangnya akan bertemu dengan Nanda sudah tak bisa Idris tahan.
Tut...Tut...Tut...
Ponsel Idris berdering, membuat Idris segera merogoh saku bajunya. Ternyata istrinya yang menelpon. Dengan segera Idris mengangkat telepon tersebut.
"Assalamualaikum mas..." ucap Nanda mengawali.
"Waalaikum salam..." balas Idris.
"Kamu udah selesai lemburnya?" tanya Nanda.
"Alhamdulillah udah... Sebentar lagi aku pulang... Kamu tunggu yah..." jawab Idris.
"Iya sayang..." balas Idris.
"Assalamualaikum..." ucap Nanda.
"Waalaikum salam..." balas Idris.
Setelah sambungan terputus Idris segera melajukan mobilnya di jalan raya. Dengan santainya Idris mengendarai mobil sambil tersenyum sendiri mengingat istrinya yang tengah menunggunya dirumah. Tetapi tak lama kemudian semuanya menjadi gelap.
Brak.
Mata Idris berusaha untuk terbuka. Tapi hasilnya nihil. Rasanya seluruh tubuh Idris sangat sakit. Perlahan tapi pasti pandangan Idris mengabur. Darah mengucur dimana-mana. Tubuh yang terbalut kemeja putih itu berubah menjadi berwarna merah akibat darah.
"Mas Idris pasti senang kalau aku hamil..." ucap Nanda sambil melihat hasil testpack nya yang menunjukkan dua garis.
Tiba-tiba foto Idris yang berada di atas meja samping kasur jatuh dengan sendirinya. Membuat Nanda terkejut sampai testpack yang ia pegang terjatuh. Dengan segera Nanda mengambil foto suaminya yang tengah tersenyum manis disana. Tak sengaja ibu jari Nanda mengenai pecahan kaca yang membuat darah keluar begitu saja. Darah yang keluar dari ibu jari Nanda tak sengaja menetes ke atas foto Idris.
"Ya Allah... Ada apa ini?" tanya Nanda yang langsung merasa khawatir dengan Idris.
"Semoga mas Idris baik-baik aja dijalan... Ya Allah tolong lindungi suami ku..." ucap Nanda memeluk dan mencium foto Idris yang terdapat bercak merah di sana.
Tak berapa lama Omah dan bu Maryam masuk ke dalam kamar Nanda dengan tergesa-gesa. Bu Maryam langsung memeluk anaknya yang tengah memeluk foto Idris di samping ranjangnya. Tentu saja semua itu membuat Nanda bertanya-tanya.
"Bunda... Omah... Ada apa dengan kalian?" tanya Nanda tak mengerti.
"Kamu harus kuat nak..." jawab Omah dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
"Sebenarnya ada apa bunda?" tanya Nanda yang sudah tidak sabar.
"Nak... Kamu harus kuat yah..." ucap Omah yang merasa tak tega jika harus mengatakan semuanya.
"Omah... Jawab pertanyaan Nanda... Ada apa sebenarnya?" tanya Nanda ulang.
"Suami kamu... Idris... Baru saja kecelakaan..." jawab bu Maryam dengan kepala tertunduk.
Hati Nanda merasa hancur mendengar penuturan dari bundanya. Tangisnya langsung pecah. Nanda tak percaya dengan semua yang terjadi. Tak mungkin pikir Nanda.
"Nggak mungkin! Bunda jangan bercanda... Omah... Itu semua bohong kan?" tanya Nanda dengan tangis yang terdengar memilukan.
"Nak... Ini semua benar... Kamu kuat yah... Kamu harus sabar.." jawab Omah mengelus hijab Nanda.
"Nggak mungkin... Nggak mungkin... Mas Idris bilang dia bakal pulang..." ucap Nanda disela tangisnya.
"Sabar nak... Sabar..." ucap bu Maryam yang ikut memeluk anaknya.
Sedangkan Idris telah dibawa ke rumah sakit terdekat. Untungnya warga dengan cepat membawa Idris ke rumah sakit sebelum terlambat. Disana Idris segera ditangani oleh dokter di ruang IGD.
Pihak rumah sakit memberitahu pada keluarga Firma setelah salah seorang warga memberikan kartu identitas yang ditemukan di saku Idris. Tepat pada waktu itu ayah Rama yang mengangkat telepon di ruang tamu.
"Ayo kita ke rumah sakit..." ucap Nanda yang tak sabar.
Dengan segera seluruh anggota keluarga Firma pergi menuju rumah sakit. Tangis Nanda tak bisa terhenti. Sesampainya di rumah sakit, Nanda segera turun dan berlari masuk ke dalam rumah sakit.
"Dimana suami saya, sus?" tanya Nanda.
"Maksud ibu korban kecelakaan?" tanya suster balik.
"Iya betul... Kami keluarganya..." jawab Omah yang berada di samping Nanda.
"Korban sedang ditangani di ruang IGD..." jawab suster.
Mendengar hal tersebut membuat Nanda langsung berlari ke ruangan yang bertuliskan IGD. Benar saja. Nanda melihat suaminya yang tengah terbaring lemah di atas ranjang dengan berbagai alat menempel ditubuhnya.
"Mas..." panggil Nanda sambil mengusap kaca IGD.
Ternyata mimpi yang sudah Nanda lupakan beberapa bulan yang lalu terbukti sekarang. Dan sekarang benar-benar nyata. Kaki Nanda terasa lemas seketika. Tak kuat jika harus melihat suaminya dengan keadaan seperti itu.
"Nak..." ucap Omah mengelus pundak Nanda.
Sedangkan bu Irma datang bersama pak Anton dan juga Fika setelah diberi tahu oleh ayah Rama. Tentu saja bu Irma langsung pingsan ketika sampai di IGD. Melihat Idris yang tengah terbaring tak berdaya di dalamnya.
"Mamah..." ucap Fika terkejut melihat bu Irma pingsan.
Hari itu Nanda menyadari sebuah arti. Ya. Tadi pagi Idris mengatakan kepada Nanda. Jika Nanda harus selalu tersenyum. Tetapi takdir berkata lain. Justru tangis yang Nanda berikan di malam itu.
"Jika setiap alur dari hidup kita selalu indah, hati ini tidak akan pernah kenal dengan sabar dan tawakkal. Jika setiap apa yang kita inginkan begitu saja dikabulkan, kita tidak akan pernah tau nikmatnya mendekati Allah bersama dengan jutaan doa dan harapan yang kita panjatkan. Jika setiap harapan kita selalu berjalan mengikuti rencana, kita tidak akan pernah belajar bahwa kekecewaan itu menguatkan."
By : Zafran Idris.
✨Hay gaes✨
Selamat malam Minggu. Alhamdulillah Author bisa up hari ini. Jangan lupa tinggalkan kenangan. Like dan Vote. Terima kasih banyak semuanya. Sampai bertemu di episode selanjutnya.
__ADS_1
✨Semoga terhibur dan bisa bikin kalian berkaca-kaca 😊✨