
✨Rela✨
Idris...
Dilorong yang lumayan sepi aku berjalan mondar-mandir menunggu pintu terbuka. Tak lama setelah itu pintu pun terbuka bersamaan dengan munculnya seorang dokter wanita dari dalam ruangan.
"Apa bapak suami dari pasien?" tanya dokter wanita itu yang bernama Via.
"Iya dok saya suaminya..." jawab ku dengan cepat.
"Pasien akan segera dipindahkan ke bangsal... Dan bapak mari ikut ke ruangan saya sebentar..." ucap dokter Via sambil menunjuk ruang kerjanya.
"Baik dok... Mari..." balas ku lalu mengikuti langkah doker Via hingga sampai diruang kerjanya.
Dokter Via pun duduk sambil membenarkan jas putihnya. Aku pun ikut duduk setelah dipersilahkan. Suasana didalam ruangan begitu sejuk dengan AC yang menempel di dinding.
"Jadi bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya ku yang merasa khawatir dengan keadaan Nanda.
"Pasien harus dirawat intensif beberapa hari dirumah sakit... Saya ingatkan pak bahwa pasien harus selalu menjaga jam makannya dan juga jangan sampai membuatnya frustasi... Itu sangat mengganggu kesehatan pasien... Dan bapak harus sering mensupport pasien agar kondisinya cepat membaik... Itu saja yang ingin saya katakan..." jelas doker Via dengan jelas.
"Baik dok... Terima kasih atas informasi dan sarannya..." ucap ku ketika doker Via selesai menjelaskan.
"Apa ada yang ditanyakan lagi pak?" tanya dokter Via kembali.
"Tidak ada dok..." jawab ku.
"Baiklah sekarang bapak boleh menemui pasien di bangsal..." ucap dokter Via sopan.
"Baik dok... Saya pamit keluar... Assalamualaikum..." ucap ku lalu bangkit dari kursi dan berjalan keluar ruangan.
"Waalaikum salam..." balas dokter Via.
Keluar dari ruang kerja dokter Via segera ku langkahkan kaki ini menuju kasir. Semua pembayaran sudah ku lunasi. Setelah itu perawat memberitahu dimana bangsal tempat Nanda dipindahkan tadi.
"Lantai 4 bangsal VVIP Teratai no. 3 pak..." ucap perawat sambil menyodorkan struktur pembayaran.
"Terima kasih sus..." balas ku lalu pergi menuju lantai 3 setelah menerima struktur pembayaran menggunakan lift agar lebih cepat sampai.
Tak butuh waktu lama akhirnya aku sampai di bangsal Teratai no 3. Ku buka pintu dengan perlahan. Ku hampiri wanita yang terbaring lemah dengan insuf yang menempel ditangan kanannya. Dipegangnya tangan pucat itu dan ku cium dengan lembut.
"Semoga cepat sembuh..." ucap ku sambil mengusap tangan Nanda yang habis ku cium tadi.
Tok...tok...tok...
Terdengar ketukan pintu dari luar bangsal. Setelah dipersilahkan masuk oleh ku, pintu perlahan mulai terbuka. Dengan raut wajah khawatir masuklah seorang laki-laki berumur 50 tahunan.
__ADS_1
"Bagaimana dengan keadaan Nanda nak?" tanya laki-laki itu khawatir sambil membelai wajah Nanda.
"Ayah tenang dulu... Nanda hanya butuh istirahat dan makan yang cukup..." jawab ku bangkit sambil mengelus pundak ayah mertua dengan pelan.
Ya. Laki-laki itu merasa bersalah karena membuat Nanda terbaring lemah dirumah sakit. Dilihatnya kembali wajah Nanda dengan mata yang masih terpejam.
"Maafkan ayah nak..." ucap Rama menunduk.
"Ayah... Mari duduk dulu... Maaf baru memberitahu mu tadi..." ucap ku lalu menuntun Rama menuju sofa untuk duduk bersama disana.
"Tidak apa-apa..." balas Rama lalu duduk disofa berwarna abu-abu.
Selang beberapa menit ponselku berbunyi. Dengan segera ku ambil ponsel itu yang berada di saku celana. Terlihat nama pemanggilnya adalah papah.
"Yah aku keluar sebentar..." ucap ku meminta izin pada Rama.
"Iya silahkan..." balas Rama.
Setelah mendapat izin dari Rama aku segera keluar dan duduk di bangku yang kosong yang berada tak jauh dari bangsal Teratai no 3. Lalu ku tekan tombol hijau agar telepon tersambung.
"Assalamualaikum pah..." ucap ku mengawali.
"Waalaikum salam nak... Sekarang kamu dimana? Kenapa tidak berangkat ke kantor?" tanya Anton dari seberang.
"Maaf pah... Aku sedang dirumah sakit..." jawab ku sambil melihat pintu bangsal.
"Bukan pah... Nanda yang sedang sakit... Idris izin untuk beberapa hari tidak pergi ke kantor pah..." jawab ku sembari meminta izin.
"Iya sudah nanti papah dan mamah akan kesana... Kirimkan alamat rumah sakitnya yah..." ucap Anton.
"Iya pah... Maaf Idris baru memberitahu..." ucap ku.
"Iya tidak apa-apa..." balas Anton.
Panggilan pun terputus ketika Anton mengucapkan salam. Dan tentunya sudah aku balas dengan salam juga. Setelah itu aku kembali masuk ke dalam bangsal untuk menunggu Nanda sadar.
09.00
Nanda...
Mata Nanda dengan perlahan terbuka. Ditatapnya ke sekeliling ruangan dengan tatapan bingung. Tangannya pun ikut bergerak menyentuh kepala yang terasa sangat pening.
"Astaghfirullah..." ucap Nanda lirih menahan peningnya kepala.
Mendengar rintihan Nanda membuat Idris menoleh ke arahnya. Idris yang semula fokus dengan layar laptop dengan cepat menutupnya dan bangkit dari sofa mendekati Nanda yang tengah memegang kepalanya.
__ADS_1
"Aku ada dimana?" tanya Nanda ketika jarak antara dirinya dengan Idris dekat.
"Kamu sekarang ada dirumah sakit..." jawab Idris duduk ditepi ranjang.
"Bukannya aku dirumah..." ucap Nanda mengingat kejadian pagi tadi.
"Kamu tadi pagi pingsan... Makanya aku bawa kamu ke rumah sakit takutnya terjadi apa-apa..." balas Idris dengan lembut.
Nanda tersenyum dengan bibir pucatnya ketika mendengar penuturan dari Idris. Selama ini Nanda telah salah sangka dengan pria yang didepannya ini. Bagaimana tidak?. Idris begitu mempedulikan dirinya.
"Kamu nggak pergi ke kantor?" tanya Nanda mengingat sekarang adalah hari senin.
"Aku izin sama papah nggak pergi ke kantor untuk beberapa hari.." jawab Idris.
"Kenapa? Pekerjan kamu gimana?" tanya Nanda kembali.
"Aku akan menjaga kamu disini... Dan urusan pekerjaan aku kerjakan lewat e-mail..." jawab Idris dengan senyuman yang membuat siapapun luluh.
Senyum itu. Mungkin saja saat ini Nanda juga akan luluh tapi selalu ia tutupi karena gengsi. Sudah seharusnya Nanda bersyukur mendapatkan laki-laki yang menjadi idaman para wanita. Bahkan Idris rela tidak berangkat ke kantor hanya untuk menungguinya dirumah sakit.
"Ayo duduk dulu... Kamu belum sarapan..." ucap Idris dengan penuh perhatian.
"Apa kamu juga sudah sarapan?" tanya Nanda ketika ia berhasil duduk bersandar dengan bantuan dari Idris.
"Hari ini aku puasa sunah..." jawab Idris memelankan suaranya.
Nanda merasa tidak enak hati setelah menanyakan itu. Didalam hatinya adakah laki-laki sesabar dan selembut Idris di dunia ini?. Mungkin ada tapi tak banyak. Itu yang Nanda pikirkan sambil menerima suapan dari Idris.
"Apa ayah tadi kemari?" tanya Nanda disela-sela suapannya.
"Iya... Dia terlihat sangat khawatir dan panik ketika mendapat kabar bahwa kamu masuk rumah sakit..." jawab Idris menyendok bubur hangat dengan gula merah sebagai pemanis.
"Lalu dimana ayah sekarang?" tanya Nanda menerima suapan bubur.
"Aku memintanya untuk pulang terlebih dahulu... Awalnya ayah menolak tapi aku terus membujuknya... Akhirnya dia mau mendengarkan... Aku mengatakan ketika kamu sadar nanti akan segera ku beritahu..." jawab Idris meletakkan mangkuk bubur diatas nampan dengan perlahan.
"Ayah tidak pernah berubah dari dulu... Dia selalu mengawatirkan ku ketika sakit... Aku merasa bersalah telah membuatnya khawatir... Hiks...hiks..." ucap Nanda dengan iringan air mata yang ikut menetes.
"Sudah jangan berpikir seperti itu... Yang terpenting sekarang adalah kesembuhan mu... Jangan menangis lagi..." ucap Idris sambil memeluk istrinya dan mengusap-usap pundaknya agar merasa lebih tenang.
Pelukan itu semakin erat. Entah bagaimana perasaan Nanda saat ini. Dia begitu nyaman ketika berada didekat Idris. Semua masalah dan beban seakan hilang dalam sekejap.
Mungkin saja cinta akan datang dengan seiring berjalannya waktu. Itulah kepercayaan Idris pada Sang Maha Membolak-balikkan hati. Dia begitu yakin itu akan terjadi. Entah besok, lusa atau pun kapan akan Idris tunggu hari itu.
✨Salam Author✨
__ADS_1
Hallo semuanya... Kita ketemu lagi nih... Semoga kalian semua terhibur... Terima kasih buat yang udah setia menunggu kelanjutan kisah Idris dan Nanda... Tenang aja ceritanya masih panjang kok... Jangan bosan-bosan yah... Dan jangan lupa like, vote dan koment... Buat author lebih semangat lagi yah... Selamat weekend 😊...
✨See you👋✨