
✨Kisah Ali dan Hana part 3✨
Beberapa hari kemudian...
Pagi cerah menyambut manusia yang tengah terlelap dalam tidurnya. Dengan pancaran sinarnya yang membuat berpasang-pasang mata pun terbuka.
Terlihat Ali yang tengah tertidur dimeja kerjanya sambil memeluk Al-Qur'an. Jam menunjukkan pukul tujuh pagi. Hari ini adalah hari yang paling mendebarkan bagi Ali dan juga Bagas. Pasalnya mereka sudah sepakat dengan orang tua Bagas untuk menemani mereka melamar Hana dan Hani.
Kring...kring...kring...
Ali yang mendengar suara jam segera terbangun dari tidurnya. Kemudian membaca doa bangun tidur yang tak pernah ia lewatkan. Dengan segara Ali bangkit dari kursi menuju kamar mandi setelah meletakkan Al-Qur'an atas dimeja kerjanya.
Bagas...
"Bu... pak... Bagas sudah siap..." ucap Bagas memakai peci sambil berjalan keluar dari kamar.
"Kamu semangat banget si..." ucap Ibu Bagas yang melihat anaknya sudah berpakaian rapi.
"Alhamdulillah Bu... Tapi ini juga deg-degan..." balas Bagas lalu mencium tangan kanan ibunya.
"Bismillah... Semoga dilancarkan dan dimudahkan yah..." ucap Ibu Bagas sambil memegang pundak Bagas.
"Amin Bu..." balas Bagas.
"Maaf ibu ngga bisa ikut..." ucap Ibu Bagas merasa bersalah.
"Ngga papa Bu... Yang penting ibu sehat yah..." ucap Bagas yang membuat ibunya tersenyum.
Beberapa menit kemudian Bapak Bagas pun datang dari arah belakang. Setelah meminta restu dari ibunya Bagas pun meminta restu pula pada bapaknya.
"Hati-hati dijalan yah le... Semoga dimudahkan segala urusannya..." ucap Bapaknya Bagas sebelum Bagas keluar dari rumah.
"Iya pak... Amin... Ya udah Bagas pamit dulu yah Pak... Bu... Assalamualaikum..." ucap Bagas kembali mencium kedua tangan orangtuanya.
Bagas pun segera keluar dari rumah menuju tempat motornya berada. Setelah itu Bagas langsung menancap gas agar bisa segera sampai di rumah Ali.
Ali...
"Pak... Bu... doain Ali yah... Semoga lancar..." ucap Ali tersenyum melihat foto bapak dan ibunya yang dibingkai.
Tak berapa lama suara ketukan terdengar dari luar rumah membuat Ali segera berjalan ke arah pintu depan.
Bagas pun tersenyum ketika pintu terbuka. Setelah semuanya siap mereka segera pergi ke alamat yang sudah mereka hapal walaupun baru sekali pergi ke alamat tersebut.
__ADS_1
Tak seperti biasa Bagas pun memberhentikan motor kesayangannya di sebuah toko buah yang cukup ramai. Ali yang tidak tau maksud Bagas pun ikut turun dari motor.
"Kita mau apa kesini Gas?" tanya Ali yang tidak mengerti.
"Beli buah buat oleh-oleh..." jawab Bagas berlalu meninggalkan Ali yang masih berdiri di samping motor.
Beberapa menit kemudian mereka berdua keluar dengan membawa 2 parsel yang berisi buah-buahan segar didalamnya.
"Ya udah yo kita lanjutin perjalanan... Itu parsel biar aku aja yang bawa..." ucap Ali lalu sebelum naik ke atas motor.
"Iya udah kamu naik dulu..." balas Bagas yang diangguki oleh Ali.
Dengan sisa perjalanan yang membutuhkan waktu 20 menitan akhirnya mereka sampai di gerbang rumah yang 3 hari lalu telah mereka kunjungi.
Kemudian mereka berdua berjalan dan kebetulan bertemu dengan pak Tono yang sedang menyiram tanaman di taman.
"Assalamualaikum pak Ono..." ucap Ali dan Bagas bersamaan.
"Waalaikum salam..." balas Pak Tono yang kemudian membalikkan badannya.
"Permisi pak Ono... Apa Hana dan Hani ada dirumah?" tanya Ali setelah pak Tono meletakkan selang diujung taman.
"Iya cah bagus... Kebetulan juga Tuan dan Nyonya ada dirumah..." jawab pak Tono antusias.
"Oh terima kasih pak... Bisa antarkan kami ke dalam?" ucap Bagas yang terlihat sangat bersemangat.
Rumah Hana dan Hani...
"Sebentar yah saya panggilkan den ayu dulu..." ucap pak Tono dengan sopan lalu masuk kedalam rumah.
Dengan jantung yang berdebar mereka menantikan wanita idaman masing-masing. Akhirnya sang tuan rumah pun datang membuat jantung Ali dan Bagas berdegup lebih cepat dari sebelumnya.
"Assalamualaikum..." ucap Ali dan Bagas bersamaan.
"Waalaikum salam... Silahkan masuk cah bagus..." ucap uminya Hana/i dengan sopan.
Dengan mantap Ali dan Bagas pun memasuki rumah mewah sambil membawa parsel ditangan masing-masing.
"Ayo duduk dulu... Mau minum apa?" tanya abinya Hana/i.
"Air putih aja om..." jawab Ali dana Bagas bersamaan.
Setelah dipersilahkan duduk mereka berdua memberikan parsel yang tadi dibeli di toko buah. Dengan senang hati uminya Hana/i menerimanya dengan senyum yang terkesan tulus.
__ADS_1
"Maaf om... tante... Kenalkan nama saya Ali dan ini teman saya Bagas..." ucap Ali lalu mencium tangan abi dan uminya Hana/i bergantian dan diikuti oleh Bagas juga.
"Saya abinya dan ini uminya Hana/i..." ucap abinya Hana/i yang ikut tersenyum.
"Maaf sebelumnya om... tante... Pertama niat kami datang kesini untuk silaturahmi... Kedua... untuk melamar putri om dan tante..." ucap Ali dengan tegas yang membuat abi dan uminya Hana/i saling pandang dan akhirnya mereka tersenyum.
"Alhamdulillah... Saya senang ada laki-laki yang seberani kalian datang kesini... Berani datang dan meminta restu dari orangtuanya untuk melamar putrinya..." balas uminya Hana/i yang diangguki oleh suaminya.
Kemudian Hana dan Hani pun datang dengan membawa nampan yang berisi minuman dan juga cemilan. Setelah menyajikan nya Hana dan Hani pun duduk disamping uminya dengan kepala yang tertunduk.
"Apa yang menjadikan kalian ingin menikahi putri kembar kami?" tanya abinya Hana/i memastikan.
"Karena akhlak nya om..." jawab Ali dan Bagas dengan tegas.
Abinya Hana/i pun mengangguk mendengar jawaban dari calon menantunya.
"Jadi apa om dan tante mau menerima lamaran dari kami?" tanya Bagas sambil melirik Hani yang masih tertunduk.
"Semua tergantung Hana dan Hani yang akan menjalani nya... Apakah kalian mau menikah dengan nak Ali dan Bagas ndu?" jawab abinya Hani/i yang langsung menanyakannya pada putri kembarnya.
Hana dan Hani pun saling pandang sebelum menjawab karena menikah bukanlah hal yang sepele. Jadi mereka berdua ingin memantapkan hatinya dulu sebelum memutuskan sesuatu yang sangat berpengaruh dimasa depannya nanti.
Dengan hembusan napas akhirnya Hana dan Hani mengangkat kepalanya lalu mengangguk tanda iya. Ali dan Bagas pun tersenyum senang karena keputusan dari Hana dan Hani yang berarti menerima lamarannya.
"Alhamdulillah... Terima kasih..." ucap Ali sambil memandang wajah cantik Hana.
"Iya alhamdulilah... Seminggu lagi kalian akan menikah bagaimana?" tanya abinya Hana/i karena tau jika lebih cepat itu lebih baik.
"Insya Allah om... Kami sanggup..." balas Ali dan Bagas dengan mantap.
Hari pernikahan...
"Sah?" tanya penghulu kepada saksi yang hadir.
"Sah!!!" jawab para saksi yang membuat Ali tersenyum sambil memandang Hana yang menundukkan kepalanya.
"Silahkan kalian berdua memakaikan cincin ke jari pasangan masing-masing..." ucap penghulu yang lalu dilakukan oleh Hana dan Ali dengan perasaan bahagia.
Hana pun kemudian mencium tangan Ali yang sekarang sudah sah menjadi suaminya. Dan Ali pun membalas dengan mencium puncak kepala Hana dengan tangan yang ikut menyentuhnya juga.
Setelah Ali selesai ijab qobul, dilanjutkan dengan Bagas dan juga Hani selaku adik dari Hana. Bagas pun merasa sangat senang karena telah menikah dengan wanita yang selalu ia sebut didalam doanya. Begitu juga dengan Ali yang merasa berhasil mendapatkan wanita yang selalu menjadi impiannya dari dulu.
"Alhamdulillah kita udah sah..." ucap Ali pada istrinya.
__ADS_1
"Iya mas... Alhamdulillah..." balas Hana dengan malu-malu.
Flashback off...