Istriku Seorang CEO

Istriku Seorang CEO
Episode 93


__ADS_3

✨ Kesedihan terdalam✨


Pagi itu adalah pagi yang paling Nanda benci. Ia merasa sedih dengan kepergian orang yang paling ia sayangi. Orang yang selalu mengerti akan perasaan Nanda dikala sedih maupun senang. Dan sekarang orang tersebut telah pergi untuk selamanya.


"Bi, titip Ainin yah..." ucap Idris pada Bi Anik.


"Iya tuan..." balas Bi Anik menerima Ainin yang tengah tertidur.


Suara tangisan dimana-mana membuat bayi mungil yang sedang tertidur lelap itu terbangun. Ainin ikut menangis dengan kencang. Tangis Ainin pun lebih kencang dari biasanya. Membuat Bi Anik dan Mak Ijah kewalahan untuk membuat Ainin tenang.


"Biar kita bawa aja keatas bi..." usul wanita yang sudah pasti Bi Anik dan Mak Ijah hapal.


"Ayo nyonya..." balas Bi Anik dengan anggukan kepala.


Ainin dibawa ke kamar Nanda dan Idris. Tangis yang semula kencang perlahan mereda ketika Naya menggendongnya. Bi Anik yang melihat hal tersebut merasa salut dengan nyonya mudanya itu.


"Kamu ngga boleh nangis yah cantik... Kasian bunda kalau kamu nangis terus..." ucap Naya pada Ainin dengan senyum terukir dibibirnya.


Sedangkan Nanda tak henti-hentinya menangis. Idris merasa tak tega jika harus melihat Nanda seperti itu. Mungkin rasa kehilangan yang besar membuat Nanda berubah.


"Sayang kamu harus kuat... Ikhlaskan kepergian Omah... Omah bakal lebih tenang jika kamu ngga menangisi dia lagi..." nasihat Idris sembari memeluk Nanda.


"Mas... Omah udah pergi selamanya..." ucap Nanda di pelukan Idris.


Jenazah Omah dimakamkan di samping Opah. Jam menunjukkan pukul sebelas siang. Semua orang bubar dengan sendirinya setelah pemakaman selesai. Tinggalah kelurga Firma disana.


"Omah... Maafin Nanda yang selalu buat Omah susah... Dan terima kasih untuk semuanya... Omah adalah wanita terbaik yang pernah Nanda temui... Jasa-jasa Omah ngga akan Nanda lupakan seumur hidup..." ucap Nanda dengan memeluk nisan Omah.

__ADS_1


Ayah Rama ikut bersedih melihat anaknya menangis kehilangan seseorang yang selalu ada disampingnya. Dari dulu memang Omah selalu menyayangi Nanda, walau pada hakikatnya Nanda bukanlah cucu kandungnya.


"Ayo nak kita pulang..." ajak ayah Rama dengan lembut pada Nanda.


Nanda mencium nisan Omah lalu bangkit dengan bantuan Idris. Ia berjalan menunduk. Kesedihan masih menjalar ditubuh Nanda. Idris pun bersikeras membuat Nanda tersenyum seperti biasanya. Karena seseorang yang larut dalam kesedihannya pasti berujung tak baik untuk kesehatan dirinya sendiri.


"Kamu mandi terus tidur..." ucap Idris pada Nanda ketika mereka sampai di rumah.


Nanda mengangguk tanpa menjawab. Ia segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang kotor. Sepuluh menit sudah Nanda menghabiskan waktunya di dalam kamar mandi. Ia keluar dengan handuk yang menutupi rambutnya. Keramas.


"Lebih baik kamu tidur... Jangan larut dalam kesedihan itu ngga baik..." ucap Idris lalu meninggalkan Nanda yang tengah duduk di kursi didepan cermin.


Naya yang sedari tadi bersama Ainin segera kembali ke kamar. Ia juga ingin menemui kakaknya yang pastinya sedang dalam keadaan sedih. Perlahan Naya mengetuk pintu kamar. Tak berapa lama pintu terbuka.


"Ainin tidur kak..." lirih Nanda sembari memberikan Ainin pada Nanda.


"Makasih..." balas Nanda sembari menerima Ainin dengan hati-hati.


"Kak... Jangan larut dalam kesedihan... Kasian Ainin... Dia butuh kakak..." lirih Naya yang dibalas senyuman terpaksa oleh Nanda.


Naya berjalan menuruni anak tangga menuju lantai satu. Di ruang tamu, Alex sedang duduk menunggunya. Wajah murung Naya membuat Alex bertanya-tanya dalam hatinya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Alex menghampiri Naya.


"Ngga papa kok... Yuk pulang..." jawab Naya.


Akhirnya Naya dan Alex pulang ke kediaman. Sekarang rumah baru Nanda dan Idris menjadi sepi. Nanda meletakkan Ainin di ranjang kecil seperti biasa. Lalu ia mengenakan pakaiannya dan duduk di tepi ranjang.

__ADS_1


Idris keluar dari kamar mandi dan mengenakan pakaian yang telah Nanda siapkan. Didekatinya Nanda yang tengah melamun.


"Sayang... Kamu terus bersedih... Memang kalau orang bersedih itu wajar... Tapi kamu jangan sampai larut dalam kesedihan itu... Ada Ainin yang butuh kamu..." lirih Idris yang membuat air mata Nanda mengalir begitu saja.


"Aku sedih mas... Omah pergi secepat itu..." lirih Nanda di pelukan Idris.


"Kematian ada di tangan Allah... Kita ngga tau kapan Allah akan memanggil hambanya kan? Yang perlu kita lakukan sekarang adalah mengikhlaskan kepergiannya... Doakan dia agar tenang disana... Jangan larut dalam kesedihan yang mendalam karena semua itu akan percuma... Kalau Omah tau kamu kaya gini dia bakal sedih disana..." ucap Idris sembari mengusap rambut Nanda dan mengecupnya.


Nanda terdiam dengan semua perkataan yang baru saja ia dengar dari bibir suaminya. Ia bahagia karena mempunyai orang seperti suaminya yang selalu tau apa isi hatinya. Ia sadar jika saat ini bukanlah waktu untuk bersedih lagi. Melainkan untuk belajar mengikhlaskan apa yang sudah digariskan.


"Kamu sayang Ainin kan?" tanya Idris yang membuat Nanda mendongak. Menatap wajah tampan suaminya.


"Sayang banget... Melebihi apapun..." jawab Nanda.


"Jadilah ibu yang kuat di depan Ainin... Ia juga merasa sedih ketika kamu sedih... Jadi ku mohon kamu ngga boleh sedih lagi sekarang... Doakan yang terbaik buat Omah..." ucap Idris sembari mengusap air mata Nanda yang mengalir.


"Iya mas... Aku bakal coba..." balas Nanda lalu kembali memeluk Idris dengan erat.


Satu-satunya sandaran yang tepat adalah suaminya. Idris adalah lelaki yang peka terhadap lingkungan sekitarnya. Maka dari itu, Nanda merasa sangat bersyukur memilih suami seperti Idris. Bahan disaat sedih pun Idris berhasil menghibur hati Nanda.


"Aku bakal jadi ibu yang kuat didepan Ainin... Aku ngga mau Ainin ikut sedih juga..." lirih Nanda yang didengar oleh Idris.


Idris hanya membalas dengan kecupan di pundak kepala Nanda. Ia juga mengeratkan pelukannya agar bisa memberikan kehangatan.


✨Hallo👋✨


Gimana nih sampai sini?. Lanjut ngga?. Jangan lupa like and vote sebanyak-banyaknya yah. Biar Author tambah semangat donk. Makasih buat kalian yang udah setia baca sampai episode ini. Dan maaf juga kalau banyak kata yang kurang atau pun salah. Mohon dimaafkan karena Author juga masih banyak belajar.

__ADS_1


Semoga terhibur.


✨Sampai ketemu di episode selanjutnya 👋✨


__ADS_2