
✨Masa lalu✨
Pak satpam membenarkan posisi duduknya menjadi tegak. Lalu menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Ditatapnya Nanda dan Idris bergantian sebelum berkata.
"Bisa dimulai pak?" tanya Idris memastikan.
"Bisa..." jawab pak satpam.
Pak satpam mulai menceritakan kisah pak Harto dan bu Laras dua tahun yang lalu. Satu hal yang membuat Nanda dan Idris terkejut adalah ketika mendengar bahwa pak Harto sempat menjadi gila. Semua itu bermula dari hutang yang terus menumpuk. Membuatnya setres dan akhirnya gila.
"Selama beberapa bulan pak Harto berada di rumah sakit jiwa... Suatu hari nyonya mendapat kabar kalau pak Harto hilang dari rumah sakit... Sudah tiga hari pak Harto dicari oleh pihak rumah sakit dan polisi tetapi hasilnya nihil..." cerita pak Harto.
"Terus bagaimana kelanjutannya pak?" tanya Idris penasaran.
"Pak Harto ditemukan dipinggir jalan sudah tidak bernyawa..." lanjut pak satpam.
"Inalillahi wa innailaihi Raji'un..." ucap Nanda dan Idris bersamaan.
"Mas..." ucap Nanda yang sudah tak tahan lagi.
"Kamu yang sabar yah..." ucap Idris menguatkan sang istri.
Air mata Nanda pun kembali mengalir. Ia sudah tak bisa lagi membendung air mata di pelupuk matanya. Ternyata masa lalu sang ayah lebih kelam dari dirinya.
"Apakah bapak bisa memberitahu kami dimana makamnya?" tanya Idris.
"Bisa... Akan saya tulis dulu di kertas yah... Saya ngga punya hp soalnya..." jawab pak satpam malu-malu.
"Iya pak..." balas Idris.
Setelah itu pak satpam mengambil selembar kertas dari pos jaga. Lalu menulis alamat yang sudah ia hapal. Sedangkan Nanda masih menangis dalam pelukan suaminya di sofa. Sungguh menyedihkan mengingat cerita masa lalu sang ayah.
"Udah... Udah... Jangan nangis lagi... Kasihan anak kita kalau kamu nangis terus..." ucap Idris mengelus lengan Nanda dengan lembut.
"Aku sedih denger kisah ayah..." balas Nanda sembari mengusap air matanya.
"Ini alamatnya..." ucap pak satpam memberikan selembar kertas berisi alamat.
"Terima kasih pak... Semoga bu Laras cepat sembuh..." ucap Idris menerima lembaran tersebut lalu bangkit dari sofa.
"Sama-sama... Amin..." balas pak satpam.
"Kami pamit pak... Assalamualaikum..." ucap Idris ketika keluar dari rumah.
"Waalaikum salam..." balas pak satpam dengan anggukan kepala.
Nanda dan Idris keluar dari gerbang rumah lalu masuk ke dalam mobil. Dilihatnya alamat yang tadi ditulis oleh pak satpam dengan teliti. Ternyata pemakaman itu tak jauh dari perumahan.
"Kamu masih kuat kan?" tanya Idris sebelum melanjutkan perjalanan.
__ADS_1
Nanda hanya membalas dengan anggukan. Suaranya habis karena terus menangis. Hidungnya pun mulai memerah bersama air mata yang terkadang mengalir begitu saja.
"Kamu yakin? Kalau ngga kita pulang aja... Besok kita bisa ke pemakaman..." tanya Idris memastikan.
"Yakin... Aku pengen banget liat makam ayah..." ucap Nanda dengan mata berair.
"Iya udah... Kita lanjut yah..." ucap Idris lalu menyalakan mesin mobil dan melajukannya.
Lima menit akhirnya mereka sampai di pemakaman. Dengan segera Idris menggandeng sang istri dan melangkah bersama memasuki area pemakaman. Di sana terdapat penjaga makam yang sedang membersihkan rumput-rumput liar yang tumbuh di atas makam. Idris pun menghampiri penjaga tersebut.
"Assalamualaikum pak..." ucap Idris ketika mereka sudah dekat.
Penjaga makam menoleh ke arah sumber suara.
"Waalaikum salam..." balas penjaga makam.
"Maaf pak sebelumnya, kami mau tanya, apa bapak tau makamnya pak Harto?" tanya Idris.
"Iya saya tau... Kalian ingin ziarah?" jawab penjaga makam sembari bertanya.
"Iya pak..." jawab Idris dengan cepat.
Kemudian penjaga makam yang berusia sekitar lima puluh tahunan itu melangkah ke sebuah makam yang tak terlalu jauh dari tempat tadi. Sampailah mereka dikuburan yang bertuliskan Harto Tarigan di batu nisannya.
Seketika Nanda langsung berlutut didepan makam dan memeluk nisan sang ayah dengan erat. Idris pun ikut berlutut sambil memegang pundak istrinya. Si penjaga makam tertegun melihat pemandangan dihadapannya saat ini.
"Kalau boleh tau, kalian berdua siapanya pak Harto?" tanya penjaga makam yang membuat Idris menoleh.
"Apa saya tidak salah dengar? Bukannya pak Harto cuman punya dua anak laki-laki?" tanya penjaga makam yang ikut berlutut dibelakang Idris.
"Pak Harto hanya memiliki satu anak dan itu adalah istri saya... Dua anak laki-laki itu bukan anak kandung pak Harto pak..." jawab Idris menjelaskan.
"Pantas saja sikap pak Harto pada kedua anaknya sedikit berbeda..." ucap penjaga makam yang teringat dengan suatu kejadian.
"Memangnya kenapa pak?" tanya Idris.
"Dulu saya pernah melihat pak Harto habis mabuk... Waktu pulang kedua anaknya langsung dipukul... Itu kejadian sudah lama... Jadi lupakan saja..." jawab penjaga makam.
"Memang pak Harto sering mabuk pak?" tanya Idris yang merasa penasaran.
"Iya dulu... Makanya waktu uang simpanannya habis, dia gila... Mengingat jumlah hutang yang begitu besar membuat bu Laras juga ikut setres dan akhirnya jadi pesakitan..." jawab penjaga makam dengan jujurnya.
Tiba-tiba tubuh Nanda tersungkur ke atas makam membuat Idris dan penjaga makam terkejut. Padahal tangis Nanda tadi masih terdengar. Dengan segera Idris menggoyangkan tubuh istrinya itu. Tetapi hasilnya tetap sama. Nanda pingsan.
"Sebaiknya kamu bawa istrimu keluar dari area makam..." saran penjaga makam.
"Baik pak..." balas Idris.
Idris pun menggendong tubuh Nanda dan keluar dari area pemakaman seperti yang penjaga makam perintahkan. Tubuh yang lemas itu Idris tidurkan di kursi belakang. Tubuh Nanda terasa dingin dan matanya pun bengkak akibat menangis.
__ADS_1
"Sayang... Ayo bangun..." ucap Idris mengoles minyak angin yang tersedia di dashboard mobil.
"Nanda..." ucap Idris dengan khawatir.
Kemudian Idris masuk ke dalam mobil dan melajukannya menuju klinik terdekat. Beruntungnya ada klinik yang tak jauh dari area pemakaman hanya butuh beberapa menit saja. Mobil masuk ke area parkiran dan ikut berjejer dengan rapi disana. Nanda masih memejamkan matanya membuat Idris semakin khawatir.
Idris keluar dari mobil lalu menggendong Nanda masuk ke dalam klinik. Para penjaga klinik segera membantu Idris. Nanda dibawa ke sebuah ruangan yang tidak terlalu mewah. Idris menunggu di depan ruangan dengan terus berdoa. Semoga tidak terjadi apapun dengan istrinya dan juga bayinya.
"Apakah bapak suaminya?" tanya seorang wanita dengan baju berwarna putih.
"Iya betul..." jawab Idris dengan cepat.
"Silahkan masuk... Istri anda sudah sadar..." ucap wanita itu dengan ramah.
Dengan segera Idris masuk ke dalam ruangan. Dia mendapati Nanda sedang memijit kepalanya yang tertutup oleh hijab.
"Mas..." panggil Nanda.
"Kamu ngga papa?" tanya Idris khawatir.
"Aku cuma pusing aja..." jawab Nanda sembari duduk dengan bantuan Idris.
Dokter tersenyum di samping Nanda.
"Nyonya jangan sampai kelelahan lagi... Itu tidak baik bagi kesehatan anda dan si bayi..." ucap dokter wanita.
"Baik dok..." balas Nanda menunduk. Ia merasa bersalah karena ceroboh.
"Dan jangan terlalu banyak pikiran... Itu juga akan mempengaruhi kesehatan si bayi..." lanjut dokter.
"Terima kasih dok..." ucap Idris.
Setelah itu Nanda dan Idris keluar dari ruangan pemeriksaan. Idris membayar semua yang harus ia bayar. Lalu keluar dan masuk ke dalam mobil.
"Mas... Maafin aku..." ucap Nanda merasa bersalah.
"Aku ceroboh... Ngga mau dengerin saran kamu..." ucap Nanda lagi.
Idris menghela napas. Lalu ia menatap wanita yang tadi membuatnya begitu khawatir.
"Kamu marah?" tanya Nanda.
"Aku ngga bakal marah... Justru aku khawatir sama keadaan kamu dan bayi kita... Aku nggak mau kalian kenapa-kenapa... Jangan diulangi lagi yah..." jawab Idris dengan diakhiri senyuman yang manis.
"Makasih mas... Aku janji nggak akan mengulangi kesalahan yang sama..." ucap Nanda lalu memeluk Idris dengan erat.
Nanda merasa bersyukur karena memiliki suami yang begitu perhatian seperti Idris. Ia tidak akan pernah menyia-nyiakan apa yang ia miliki sekarang. Ia akan selalu menjaga dan mempertahankan agar mereka tetap bersama. Itu yang Nanda mau.
✨Gaes👋✨
__ADS_1
Alhamdulillah bisa up walau malam-malam. Jangan lupa tinggal kenangan yah. Like dan Vote sebanyak-banyaknya donk. Biar Author tambah semangat buat nulisnya. Sampai bertemu di episode selanjutnya.
✨Semoga terhibur 😊✨