
✨ Kesetiaan ✨
Kebahagiaan yang baru saja Nanda rasakan langsung hancur seketika. Tak ada kebahagiaan tanpa ada sang suami yang selalu berusaha membuatnya tertawa. Sekarang dia yang selalu tersenyum manis seakan hilang begitu saja.
"Nak... Ayo makan dulu..." ucap Omah sembari mengelus pundak Nanda.
"Aku nggak mau makan sebelum mas Idris bangun, Omah..." ucap Nanda tanpa melihat ke arah Omah.
"Nak... Kamu sedang hamil... Pasti Idris akan marah kalau kamu nggak makan... Ayo makan... Kasihan kandungan kamu..." ajak Omah kembali.
Mendengar penuturan Omah membuat Nanda tersadar. Jika didalam perutnya ada nyawa yang harus ia jaga. Benar kata Omah. Jika suaminya tau ia tidak makan, pasti ia akan marah.
"Kamu makan yah..." ajak Omah sembari duduk di samping Nanda.
Nanda menganggukan kepalanya. Tangannya tak bisa lepas dari tangan Idris. Mata Nanda pun tak bisa lepas dari wajah pucat Idris. Senyum yang biasanya terukir sekarang sudah tak terlihat lagi.
Suapan demi suapan Nanda terima. Keluarga yang lainnnya pun merasa kasihan dengan keadaan Nanda. Apalagi sekarang Nanda tengah hamil muda. Seluruh anggota keluarga bersikeras memberikan semangat untuk Nanda.
"Mah... Kasihan banget yah mba Nanda..." ucap Fika ketika melihat Nanda yang terus saja memandangi wajah pucat Idris.
"Mamah nggak nyangka ini semua bisa terjadi sama kakak kamu..." balas bu Irma sambil mengusap kaca bening bangsal.
Selepas makan, Omah keluar dari bangsal. Pihak rumah sakit hanya memperbolehkan 2 orang saja yang menjaga pasien. Maka dari itu seluruh anggota keluarga Firma bergantian masuk ke dalam bangsal.
"Kamu yang sabar yah sayang..." ucap bu Maryam mengelus pundak anaknya.
Sebagai seorang ibu, bu Maryam merasa begitu khawatir. Ujian yang diberikan pada anaknya terlalu berat bagi bu Maryam. Antara kebahagiaan dan kesedihan. Itu yang dirasakan oleh Nanda. Kebahagiaan karena ia hamil dan kesedihan karena Idris mengalami kecelakaan.
"Mas... Kapan kamu sadar? Aku punya kabar gembira buat kamu..." ucap Nanda sembari mengecup tangan Idris.
Seluruh keluarga sudah tau bahwa Nanda sedang hamil. Pasalnya bu Maryam melihat hasil testpack yang jatuh di samping ranjang Nanda. Lalu bu Maryam mengatakan semuanya terlebih dahulu pada Omah kemudian kepada seluruh keluarga.
"Nak... Sebaiknya kamu pulang terlebih dahulu... Kamu butuh istirahat..." ucap bu Maryam dengan lembut.
"Aku nggak akan pernah ninggalin mas Idris, bunda..." ucap Nanda menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah kalau begitu... Jangan terlalu memaksakan diri jika kamu kelelahan yah..." nasihat bu Maryam.
"Makasih bunda..." balas Nanda sambil memeluk bu Maryam.
Tak berapa lama Ning Rekha beserta keluarga datang ke rumah sakit setelah mendapat kabar dari pak Anton. Ning Rekha ikut menangis melihat laki-laki yang ia cintai dengan keadaan yang memprihatinkan seperti itu. Bu nyai Arifah hanya mampu mengelus pundak anaknya agar bisa membuat anaknya tenang.
__ADS_1
"Semoga nak Idris cepat diberi kesembuhan pak Anton..." ucap Abah menepuk pundak pak Anton.
"Terima kasih pak kyai... Semoga doa kita terkabulkan oleh Allah..." balas pak Anton.
Hari pun berganti menjadi malam. Pakaian Nanda sudah dibawa ke rumah sakit sesuai permintaan Nanda. Idris ditempatkan di bangsal VVIP yang bertempat dilantai 4. Sangat jarang orang yang mampu menempati bangsal tersebut karena biayanya begitu mahal.
Dengan setia Nanda menemani Idris sampai-sampai ia tertidur sambil menggenggam tangan suaminya. Di dalam mimpi Nanda melihat Idris menggunakan pakaian serba putih. Cahaya terang dan menyilaukan muncul dari balik tubuh Idris. Senyuman yang tadinya hilang sekarang kembali terlihat dibibir suaminya.
"Mas..." panggil Nanda.
"Sayang..." balas Idris dengan menampilkan senyum semanis mungkin.
"Ayo kita pulang mas..." ajak Nanda.
"Ngga bisa sayang... Aku harus pergi..." balas Idris.
"Ngga bisa mas... Kamu harus pulang sama aku..." ucap Nanda berusaha meraih tangan Idris tetapi hasilnya nihil.
"Sayang lebih baik kamu pulang... Aku udah tenang disini... Kamu harus bisa mengikhlaskan aku..." ucap Idris.
Air mata Nanda mengalir begitu saja. Perkataan yang sungguh diluar dugaannya ia dengar sendiri dari mulut suaminya. Mengikhlaskan?. Sungguh semua itu begitu sulit Nanda terima.
Idris pun berbalik dan melangkahkan kakinya menuju cahaya putih. Tetapi langkah kaki Idris terhenti ketika mendengar suara anak kecil. Suara itu terdengar begitu jelas ditelinga Idris. Detik berikutnya Idris berbalik dan mendapati seorang anak kecil di samping istrinya.
"Dia siapa sayang?" tanya Idris.
"Dia anak kita..." jawab Nanda dengan menggenggam tangan mungil anak yang berada di sampingnya.
"Anak?" tanya Idris tak percaya.
"Iya mas... Dia anak kita..." jawab Nanda.
"Ayah..." panggil anak kecil tersebut.
Secara tiba-tiba Idris terduduk. Matanya tak bisa teralihkan dari anak kecil yang berada disamping Nanda. Senyum anak kecil itu mengembang begitu saja. Genggaman Nanda terlepas ketika anak kecil itu berlari ke arah Idris. Dengan cepat Idris mendekap anak kecil tersebut dengan erat dan menciumnya tanpa henti.
"Ayah jangan tinggalkan bunda..." ucap bibir mungil itu.
"Sayang... Ayah janji ngga bakal ninggalin bunda..." ucap Idris.
"Ayo kita pulang ayah..." ajak anak kecil itu.
__ADS_1
"Ayo sayang kita pulang bersama bunda..." balas Idris.
Nanda segera tersadar ketika jari-jari Idris bergerak. Mata Idris perlahan terbuka. Hati Nanda terasa sangat senang melihat hal tersebut. Suaminya telah sadar setelah tiga hari koma.
"Mas... Kamu sudah sadar?" tanya Nanda sambil mengusap air matanya.
Suster dan dokter segera masuk setelah diberitahu oleh bu Maryam. Kemudian Idris diperiksa keadaannya. Dokter yang memeriksa Idris pun merasa ada keajaiban datang. Pasalnya dokter yang menangani Idris sebenarnya sudah pasrah. Koma tiga hari dan tak menunjukkan kemungkinan untuk hidup. Tetapi Allah mempunyai rencana lain yang tidak diketahui oleh makhluknya.
"Alhamdulillah pak Idris telah berhasil melewati masa komanya setelah tiga hari... Sungguh itu adalah sebuah keajaiban..." ucap dokter Sendi.
"Alhamdulillah dok..." balas seluruh keluarga.
Nanda mencium wajah Idris beberapa kali. Senyum yang tiga hari ini tak terlihat sekarang terukir di bibir pucat Idris. Air mata kebahagiaan mengalir begitu saja membasahi pipi Nanda.
"Alhamdulillah mas kamu udah sadar..." ucap Nanda.
"Sayang..." ucap Idris untuk pertama kali setelah tiga hari koma.
Seluruh keluarga tak dapat menahan tangis kebahagiaannya. Terutama bu Irma, mendengar anaknya telah sadar dia langsung masuk ke dalam bangsal. Lalu memeluk anaknya dan mencium wajahnya juga.
"Mamah..." ucap Idris.
"Iya nak... Alhamdulillah kamu sudah sadar..." ucap bu Irma.
Tiba-tiba tubuh Nanda terasa lemas dan akhirnya tumbang. Semua orang terkejut melihat hal tersebut. Dokter Sendi yang masih berada di bangsal langsung memeriksa kondisi Nanda. Ternyata Nanda pingsan karena telat makan apalagi sekarang dia tengah hamil muda membuatnya cepat lelah dan letih.
"Bu Nanda hanya kelelahan... Seharusnya dia harus bisa menjaga kesehatannya... Apalagi sekarang dia tengah hamil muda..." ucap dokter Sendi.
"Terima kasih dok... Kami sudah berusaha membujuknya untuk makan tetapi dia tidak mau..." balas Omah.
"Iya sudah kalau begitu... Saya keluar terlebih dahulu... Jika ada apa-apa tinggal hubungi saja..." ucap dokter Sendi.
"Baik dok terima kasih..." balas seluruh keluarga.
Setelah dokter Sendi dan suster keluar dari bangsal, Omah menghampiri Nanda yang tengah tak sadarkan diri. Beberapa menit kemudian Nanda tersadar. Semua orang pun tersenyum ketika Nanda sadar.
Sama halnya dengan Idris yang sedang tersenyum mendengar Nanda tengah hamil muda. Walau bibirnya terasa kelu untuk berbicara, tetapi kebahagiaan yang Idris rasakan terlihat dari senyumnya. Senyum yang selalu membuat orang merasa sejuk dan damai.
✨Hallo semuanya 👋✨
Alhamdulillah bisa up hari ini. Gimana nih? Tambah seru nggak?. Jangan lupa tinggal kenangan. Like dan Vote yah. Biar Author tambah semangat. Sampai ketemu di episode selanjutnya.
__ADS_1
✨Semoga terhibur 😊✨