
✨ Insting✨
Selepas pulang dari kantor, Idris mengajak Nanda untuk ikut pergi ke suatu tempat. Dimana tempat itu adalah tempat yang paling berkesan di kehidupan Idris. Hidup yang penuh dengan liku-liku dan perjuangan Idris dapatkan dari tempat tersebut. Dan sekarang semua itu tinggalah sebuah kenangan.
"Kita mau kemana?" tanya Nanda sambil memasang sabuk pengaman.
"Rahasia..." jawab Idris meledek.
"Mulai lagi?" tanya Nanda dengan wajah yang menggemaskan.
"Iya donk... Biar seru..." jawab Idris dengan tawa kecil diakhirnya.
"Udah ah. Ayo jalan..." ucap Nanda sambil menghadap ke depan menatap jalanan.
"Oke bos..." ucap Idris lalu menancap gas.
Mobil mulai berjalan meninggalkan lobi kantor. Membelah jalan raya yang lumayan ramai seperti biasa. Beberapa kali berhenti akibat lampu merah tak membuat Idris menyerah. Justru sekarang Idris sangat senang apalagi dengan adanya Nanda disampingnya.
Perjalanan yang membutuhkan sekitar satu jam akhirnya tuntas. Mobil mulai memasuki gerbang dengan tulisan yang melengkung diatasnya. Wajah Nanda terlihat bingung sekaligus penasaran ketika mobil berhenti tepat diparkiran yang hanya diisi oleh beberapa mobil dan beberapa motor.
"Sebenarnya ini dimana?" tanya Nanda ketika mesin mobil dimatikan.
"Tempat dimana aku berjuang mencari ilmu..." jawab Idris sambil melepas sabuk pengaman.
"Maksud kamu pesantren?" tanya Nanda.
"Betul sekali..." jawab Idris.
Mereka berdua turun dari mobil. Sahabat Idris yang sudah paham dengan plat nomor mobil, langsung menghampiri mereka berdua. Dan menyapanya dengan ramah.
"Hallo bro... Akhirnya bisa bertemu kembali yah? Eh ini istri kamu?" tanya Iskan sambil berjabat tangan dengan sahabatnya.
"Iya... Ini istri aku... Kenalin Nda, ini sahabat aku Iskan.... Dan Iskan kenalin ini Nanda..." jawab Idris memperkenalkan sambil membalas jabatan tangan sahabatnya.
"Salam kenal yah..." ucap Iskan.
"Iya..." balas Nanda.
"Oh ya Is, Abah ada dindalem?" tanya Idris yang mengingat tujuan awalnya kemari.
"Iya ada... Kamu masuk aja... Kaya nggak biasanya..." ucap Iskan meledek.
"Hehe... Iya udah yah aku ke ndalem dulu..." ucap Idris menggandeng tangan Nanda.
"Iya..." balas Iskan lalu kembali ke pos jaga seperti biasanya.
Idris membawa Nanda ke ndalem dengan tangan yang saling menggandeng. Sesampainya didepan ndalem Nanda mencegah Idris agar tak masuk terlebih dahulu.
"Kenapa?" tanya Idris heran.
"Nggak papa aku pakai pakaian kaya gini?" tanya Nanda balik karena menurutnya pakaian yang ia kenakan saat ini tak pantas.
"Sayang... Yang penting kamu udah pakai pakaian yang tertutup... Jadi nggak papa..." jawab Idris dengan lembut membuat senyum manis terukir jelas dibibir istrinya.
"Terima kasih..." balas Nanda yang sekarang sudah merasa percaya diri.
"Sama-sama... Yuk masuk..." ajak Idris yang diangguki oleh Nanda.
Seperti biasa Idris akan mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk. Tak berapa lama seorang wanita cantik dengan balutan gamis keluar dari ndalem ketika pintu terbuka.
"Assalamualaikum Ning..." ucap Idris yang membuat Ning Rekha gugup.
__ADS_1
"Waalaikum salam mas Idris... Silahkan masuk..." ucap Ning Rekha mempersilahkan.
Nanda melihat pakaian Ning Rekha membuatnya tak percaya diri. Genggaman tangannya lebih erat dari sebelum mereka berdua masuk ke ndalem. Idris yang mengetahui hal tersebut ikut mempererat genggamannya juga.
Sedangkan Ning Rekha yang melihat Idris datang seorang wanita, membuat hatinya terasa terbakar. Walau berusaha melupakan, tapi tidak dengan kenyataan. Bagi Ning Rekha melupakan Idris adalah hal yang mustahil.
"Sebentar yah mas Idris... Rekha panggil Abah dulu..." ucap Ning Rekha sembari mencuri pandang terhadap Nanda.
Selepas kepergian Ning Rekha dari ruang tamu, Nanda segera memeluk Idris. Entah kenapa ia merasa jika Ning Rekha menyukai suaminya. Terlihat dari cara pandangnya dan juga bicaranya.
"Kamu nggak papa kan?" tanya Idris khawatir.
"Aku cuman takut..." jawab Nanda yang langsung dimengerti oleh Idris.
Selang beberapa menit, Abah dan Ning Rekha muncul. Abah tersenyum ketika melihat Idris yang sedang duduk disofa bersama dengan seorang wanita cantik disampingnya.
Lantas Idris mencium tangan Abah sebanyak tiga kali setelah Abah duduk disofa. Lalu kembali duduk disamping Nanda. Pandangan Ning Rekha tak lepas dari Idris dan Nanda.
"Ini istri kamu Idris?" tanya Abah.
"Iya Abah... Namanya Nanda..." jawab Idris sambil melihat ke arah Nanda.
"Assalamualaikum Abah..." ucap Nanda dengan tangan mengatup didepan dada.
"Waalaikum salam..." balas Abah dengan anggukan kepala.
Ning Rekha yang sudah tak kuat untuk membendung air matanya, langsung pergi dari ruang tamu menuju kamarnya. Para khadimah (abdi ndalem) yang melihat hal tersebut pun ikut bertanya-tanya.
"Jadi maksud Idris kemari mau silaturahmi Abah..." ucap Idris mengawali.
"Iya iya... Alhamdulillah kamu tidak lupa..." balas Abah meledek.
"Idris juga mau minta doa sama Abah, semoga pernikahan kami sakinah mawadah warahmah..." ucap Idris lagi.
"Amin... Abah doakan semoga kalian cepat dapat momongan yah..." balas Abah yang membuat pipi Nanda bersemu.
Setelah berbincang cukup lama hingga jam menunjukkan pukul lima sore, Idris memutuskan untuk pulang. Nanda pun sama, ia hanya menuruti perkataan suaminya.
"Abah karena udah sore jadi Idris pamit pulang..." ucap Idris dengan sopan.
"Iya iya... Ngga terasa udah sore..." balas Abah sambil melihat jam dinding.
"Hehe iya Abah..." balas Idris.
Kemudian Idris membantu Abah bangkit dari sofa dan mengantarkannya ke kamar. Karena Ning Rekha tak kunjung datang sehingga harus Idris lah yang membantu. Sedangkan Nanda menunggu dengan setia diruang tamu.
"Udah?" tanya Nanda ketika Idris kembali.
"Udah... Yuk kita pulang..." jawab Idris sekaligus mengajak.
Nanda dengan senang hati bangkit dan berjalan disamping Idris. Hingga sampai diparkiran, Iskan kembali menghampiri.
"Pamit pulang yah bro..." ucap Idris.
"Iya... Hati-hati dijalan... Bawa bidadari lagi kan bahaya..." balas Iskan yang seperti biasa selalu meledek.
"Kamu ada-ada aja..." balas Idris lalu membuka pintu mobil untuk Nanda.
"Assalamualaikum..." ucap Idris sambil masuk ke dalam mobil.
"Waalaikum salam..." balas Iskan.
__ADS_1
Idris segera menjalankan mobilnya keluar dari area pesantren. Kembali membelah jalan raya yang sudah ramai dengan kendaraan. Mobil berhenti ketika lampu merah, lalu kembali berjalan ketika lampu berubah menjadi hijau.
"Mas berhenti!" ucap Nanda yang membuat Idris segera mengerem mobil.
"Ada apa?" tanya Idris khawatir.
"Ayo kita turun..." ucap Nanda yang langsung dicegah oleh Idris.
"Kamu mau kemana?" tanya Idris.
"Ayo kamu ikut... Nanti juga bakal tau..." jawab Nanda yang kemudian diangguki oleh Idris.
"Iya udah aku parkir dulu mobilnya..." ucap Idris.
Setelah mobil terparkir, Nanda dengan segara keluar dari mobil. Idris pun langsung keluar menyusul Nanda yang berjalan cepat menuju kerumunan.
Tidak tau kenapa Nanda merasa jika ia mempunyai ikatan batin dengan seseorang yang sedang dikerumuni itu. Dan tepat saat Nanda sampai, ia melihat seorang wanita tua tengah meminta ampun pada warga.
"Ada apa ini?" tanya Nanda to the point.
"Ini nih orang gila... Main curi aja..." jawab salah satu warga yang diketahui adalah pedagang.
"Berapa harganya?" tanya Nanda.
"10 ribu..." jawab si pedagang.
"Oke saya akan bayar... Tapi tolong lepaskan wanita ini..." ucap Nanda sambil merogoh tasnya untuk mengambil dompet dan uang.
"Ini pak..." ucap Nanda menyodorkan uang berjumlah 50 ribu.
"Terima kasih..." balas si pedagang dengan senang hati sambil mencium uang 50 ribu yang baru saja Nanas berikan.
Nanda hanya menggelengkan kepala melihat hal tersebut. Lalu para warga mulai bubar meninggalkan Nanda bersama dengan wanita tua yang sedang menunduk sambil memegang roti ditangannya.
"Ibu nggak papa?" tanya Nanda dengan lembut.
Wanita tua itu hanya menggelengkan kepalanya. Tak berapa lama Idris datang dengan napas terengah-engah. Idris pun bertanya-tanya ketika melihat Nanda bersama dengan wanita tua dipinggir jalan.
"Ada apa Nda?" tanya Idris.
"Aku cuman mau nolong ibu ini... Kasihan mas..." jawab Nanda dengan jujur.
"Harusnya kamu tadi bilang... Bikin aku khawatir aja..." balas Idris lalu ikut berjongkok disamping istrinya.
"Iya iya maaf..." balas Nanda.
"Ibu nggak papa?" tanya Idris.
Hanya gelengan yang Idris peroleh seperti Nanda. Setelah itu Idris mengajak Nanda agar menjauh sebentar dari wanita tua itu. Satu yang Idris mau yaitu Nanda menceritakan kejadian yang terjadi.
"Jadi aku tadi lihat ibu itu lari-lari dikejar sama warga... Nggak tau kenapa insting aku suruh berhentiin mobil gitu... Dan pergi buat nolongin dia..." ucap Nanda menceritakan.
"Ya udah deh... Sekarang kamu udah nolongin dan sekarang ayo kita pulang..." ucap Idris.
Nanda dan Idris terkejut ketika tak mendapati wanita tua yang tadi tak jauh dari mereka. Setelah berusaha mencari tapi tetap tak ada, akhirnya Nanda pergi menuju mobil. Idris pun langsung masuk ke dalam mobil dan menjalankannya karena hari sudah semakin sore.
✨Gaessss👋✨
Selamat hari sumpah pemuda yah... Jangan lupa donk baca novel ini terus setiap harinya... Tinggalkan jejak pula di novel ini biar banyak kenangan. Wkwkwk 😅 Like dan Vote juga koment deh... Sebagai tanda bahwa kalian adalah pembaca setia novel Istriku Seorang CEO... Oke deh sampai sini dulu yah... Tunggu terus kelanjutan ceritanya... Dahhhh👋👋
✨Selamat hari sumpah pemuda 💙✨
__ADS_1