
✨Maaf✨
Sesampainya di rumah, Nanda segera mencari suaminya. Para pelayan yang melihat Nanda berlari saling bertatap bingung. Omah yang juga sedang di ruang tamu melihat cucunya berlari pun ikut bertanya-tanya didalam hatinya.
Bruk.
"Kamu kenapa nak?" tanya ayah Rama yang melihat putrinya gelisah.
"Ah tidak ada apa-apa ayah..." jawab Nanda sambil menyembunyikan wajahnya dengan menunduk.
"Iya sudah hati-hati..." ucap ayah Rama memperingati.
"Iya ayah... Nanda pergi ke kamar dulu..." balas Nanda lalu kembali berjalan hingga akhirnya sampai didepan pintu kamarnya.
Ayah Rama yang melihat anaknya seperti itu hanya menggelengkan kepalanya. Lalu turun ke lantai 1 dan duduk disebelah ibunya.
"Mas Idris..." panggil Nanda ketika ia membuka pintu kamar.
Sepi.
Tak ada jawaban. Hanya suara gemericik air didalam kamar mandi yang menyahut panggilan Nanda.
"Oh dia sedang mandi..." ucap Nanda merasa lega sambil duduk dipinggiran ranjang.
Karena kelelahan menunggu, Nanda tertidur masih dengan menggenakan baju kerjanya. Pintu kamar mandi terbuka memperlihatkan pria dengan rambut yang basah. Sambil mengeringkan rambutnya Idris duduk disofa lalu membuka ponselnya.
Dalam hatinya Idris merasa kasihan melihat Nanda terbaring seperti itu. Tapi rasa kasihan itu hilang seketika mengingat rasa sakit yang baru saja ia peroleh dari orang yang dicintainya.
"Mas..." panggil Nanda sambil mengucek matanya.
"Hmmm" balas Idris tanpa melihat ke arah Nanda sedikit pun.
"Kamu udah makan?" tanya Nanda bangkit dari ranjang.
"Belum..." balas Idris dingin.
"Aku buatin yah..." ucap Nanda bersemangat.
"Ngga usah..." ucap Idris yang membuat langkah kaki Nanda terhenti.
Perlahan Nanda mendekati Idris yang fokus dengan ponselnya. Lalu duduk disampingnya sambil menahan air matanya yang siap mengalir.
__ADS_1
"Mas... Aku mohon... Jangan diemin aku... Maaf buat semuanya... Maaf..." ucap Nanda bersamaan dengan lelehan air mata.
Bibir Idris tak menanggapi ucapan dari Nanda. Hatinya masih sakit. Sangat sakit. Satu yang Idris mau, ia ingin Nanda berkata jujur tentang semuanya. Semua tentang dirinya.
Setelah menguatkan hatinya Idris mematikan ponselnya dan bangkit dari sofa. Tangan Nanda mencekal lengan Idris berusaha untuk menahannya agar tak pergi.
"Mas..." ucap Nanda ikut bangkit dari sofa.
"Aku bilang lepas..." ucap Idris dingin.
"Ngga mas... Tolong jangan kaya gini..." ucap Nanda semakin kuat mencekal lengan Idris.
"Nda lepas..." ucap Idris lagi.
"Ngga mau..." balas Nanda.
Tangan Idris terangkat untuk melepas cekalan itu. Walau didalam hatinya masih ada rasa kasihan. Tapi tetap saja. Nasi sudah menjadi bubur.
"Aku ingin sendiri... Koreksi kesalahan masing-masing..." ucap Idris seraya pergi dari kamar meninggalkan Nanda yang berdiri mematung.
Setelah pintu tertutup Nanda menangis sekencang-kencangnya. Bahu Nanda bergetar hebat. Sedangkan Idris keluar dari kamar menuju ruang kerjanya yang berada disamping kamar. Tak lupa juga Idris mengunci pintunya agar suasana didalam ruangan lebih tenang.
Tok...tok...tok...
Nanda menangkup wajahnya menahan air mata yang sedari tadi mengalir deras. Omah segera memeluk cucunya itu.
"Sudah... Jangan menangis lagi..." ucap Omah sambil mengelus punggung Nanda dengan lembut.
"Omah apa sebegitu sakitnya sampai mas Idris menjauhi Nanda?" tanya Nanda dengan mata sembabnya pada Omah.
"Sebenarnya ada apa? Ayo ceritakan sama Omah..." jawab Omah dengan lembut.
Dari dulu Omah selalu memberi semangat pada Nanda. Walau bagaimanapun Omah merasa jika Nanda adalah cucu kandungnya. Maka dari itu Nanda yang paling dekat dengan Omah daripada Naya.
Nanda menghapus air matanya dan mulai bercerita bagaimana masalah ini muncul. Sampai Idris bersikap dingin dan menjauhinya. Omah mendengarkan seluruh cerita cucunya dengan seksama.
"Nanda harus bagaimana Omah?" tanya Nanda selesai bercerita.
"Cucu Omah sayang... Kamu harus membiarkan suamimu sendiri terlebih dahulu... Dia merasakan sangat sakit ketika kamu membohongi dirinya... Saran Omah kamu temui ibunya... Dia yang lebih tau tentang suami kamu... Dan tanyakan bagaimana cara membuat suamimu itu tak lagi bersikap dingin dan marah sama kamu..." jelas Omah panjang lebar.
"Jadi Nanda temui mamah Irma dulu dan bertanya tentang mas Idris, Omah?" tanya Nanda kembali.
__ADS_1
"Iya... Seorang ibu pasti tau semua seluk- beluk tentang anaknya..." jawab Omah dengan senyuman yang tulus.
Lalu Nanda tersenyum pada Omah dan kemabli memeluk wanita tua itu dengan erat. Omah membalas pelukan cucunya. Kemudian Omah menyuapi Nanda setelah beberapa tahun. Kenangan bersama cucunya itu selalu melekat di hati dan pikiran Omah.
Idris duduk termenung dikursi yang sering ia pakai ketika malam hari untuk bekerja. Biasanya Idris akan ditemani oleh Nanda. Dan untuk saat ini semua itu terasa berbeda. Menyendiri untuk mencari ketenangan. Pikir Idris saat dirinya benar-benar kacau.
Keesokan harinya Idris bersiap-siap pergi ke kantor. Mengambil baju kerjanya yang berada dilemari baju. Lalu memakainya dengan cepat tanpa bantuan dari istrinya.
"Kamu mau teh atau susu mas?" tanya Nanda yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Teh..." jawab Idris tak seperti biasanya.
"Tumben kamu mau teh?" tanya Nanda lagi.
"Lagi pengen..." jawab Idris sambil memakai dasi dikerja bajunya.
Nanda mendekat dan membantu memakaikan dasi. Idris hanya diam tak berkata apapun sampai Nanda selesai. Sungguh Idris rasanya tak kuat jika harus melihat tubuh Nanda yang hanya terbalut handuk saja.
"Mas!" panggil Nanda sambil mengibaskan tangannya didepan wajah Idris.
"Ya?" ucap Idris tersadar dari lamunannya.
Sebagai pria normal pastinya Idris memiliki nafsu batin. Tapi ia urungkan mengingat dirinya sedang bersikap dingin pada Nanda.
"Kamu nggak papa?" tanya Nanda lagi.
"Nggak papa..." jawab Idris lalu berjalan ke arah sofa dan duduk di sana seperti biasa.
Nanda menghela napas berat mendapati Idris yang masih bersikap dingin padanya. Tapi tak apa. Seorang Nanda akan berjuang demi orang yang benar-benar ia cintai. Apapun itu.
Hari itu Nanda diantar ke kantor seperti biasa oleh Idris. Nanda berniat ketika pulang nanti ia akan berkunjung ke rumah mertuanya. Jadi Nanda meminta Idris untuk tak menjemputnya.
"Nanti sore kamu nggak perlu jemput aku..." ucap Nanda sambil mencium tangan Idris.
"Oke..." balas Idris dingin tanpa mau melihat ke arah Nanda. Oke. Untuk saat ini Nanda yang harus bersabar.
"Terkadang, lelah dan kecewa adalah harga yang harus kita bayar untuk membeli bahagia."
By: Nanda and Idris
✨Selamat malam👋✨
__ADS_1
Terima kasih yang udah setia baca novel ini... Author doakan semoga selalu diberi kesehatan dan keberkahan di setiap hari-hari yang kalian jalani... Jangan lupa donk buat Like dan Vote karya ini... Makasih muach...
✨See you👋✨